Selama ini ia terus merasa diikuti.
Sikap Ian yang begitu memusuhinya dan tatapannya yang begitu dingin.
Tindakan-tindakan Ian yang tidak bisa ditebak dan keterlaluan terhadapnya.
Ian yang sengaja membuat Febi terlambat kumpul tugas sehingga dapat nilai C.
Kemarin lusa, kenapa Ian bisa pas ada di g**g itu tolongin Febi? Kalau bukan orang yang tinggal di dalam g**g itu tidak mungkin lewat situ karena itu adalah g**g buntu. Dan apakah 2 orang yang menggodanya itu benar-benar tidak ada relasi sebelumnya dengan Ian?
Yang memakai komputer itu sebelum Sandra adalah Ian.
Semua kepingan-kepingan itu merujuk kepada satu orang…IAN.
Lalu Febi mempercepat langkahnya menuju ke gedung FH. Dilihatnya Ian sedang duduk di lobi sambil membaca buku. Febi berjalan lurus ke arah Ian hendak melepaskan amarahnya. Sambil berjalan, Febi terus menatap Ian dan ia begitu yakin akan melontarkan segala emosinya yang begitu membara. Semakin dekat dengan sosok pria berkaki panjang itu, semakin amarahnya membara. Febi begitu pasti untuk mencaci maki Ian. Gadis itu dipenuhi dengan kekesalan dan kebencian terhadap seniornya itu. Tapi begitu sampai tepat di depan Ian, pria itu dengan tenang mendongakkan kepalanya dan meliriknya keatas. Semua gerakan itu dilakukan tanpa ada gejolak emosi, membuat Febi terpaku. Segala emosi dan ganjalan dalam hati yang hendak dilemparkannya kepada Ian tidak bisa keluar. Sekali lagi kerongkongannya seakan tersumbat. Dan yang terjadi hanyalah, Febi menatap Ian dengan mulut setengah terbuka, “e…” ujarnya. Ian terus melirik ke atas menatap Febi yang sedang terpaku berdiri di hadapannya. Kemudian Jennifer menyusul Febi sambil berlari-lari kecil dan segera menarik tangan Febi menjauh dari Ian.
“Kamu ngapain?” tanya Jennifer dengan nafas terengah-engah.
“Kak Ian,” jawab Febi dengan tatapan tajam kepada Jennifer.
“Hah? Apanya?” tanya Jennifer tidak mengerti apa yang dimaksudkan Febi.
“Yang stalking…kak Ian” jawab Febi masih dengan emosi yang tidak tersampaikan kepada tersangka pelaku tindakan penguntitan itu.
Jennifer tidak bisa menimpali apa-apa lagi, karena ia sendiri melihat dari rekaman cctv, siapa orang yang duduk di meja komputer itu sebelum Sandra.
“Kak Ian, selamat ya!” Terdengar suara Sandra dan ia sedang mengulurkan tangannya kepada Ian. “Kasus yang kak Ian tangani itu menang kan?” Kemudian beberapa orang juga datang mengulurkan tangannya pada Ian untuk memberikan selamat atas kasus persidangan yang berhasil ia menangkan bersama tim advokat Pak Yahya, seorang dosen yang juga berprofesi sebagai pengacara senior.
“Kemarin sidang terakhirnya kan?”
“Keren banget Ian!”
“Bisa direkrut dalam tim advokat aja dah keren, ini kasusnya menang pula!”
“Selamat ya Ian, lu keren banget.”
Berbagai macam pujian kepada Ian yang didengar Febi saat itu semakin membuatnya panas. Pria itu begitu munafik, dia tampil begitu cemerlang di depan orang-orang tapi dalam hatinya begitu busuk dan hitam. Kakak senior itu sedang memainkan sandiwara dan Febi sedang menjadi korbannya. Febi semakin tidak tahan melihat orang-orang yang begitu mengagumi pria itu. Ian sama sekali tidak tersenyum dengan ucapan selamat dan pujian yang dihadiahkan kepadanya itu. Dengan sikap dingin, pria itu berusaha menerobos keluar dari kerumunan itu. Melihat Ian keluar dari kerumunan, Febi langsung menghampirinya. Kali ini ia yakin akan tindakan frontalnya. Ia akan melakukannya. Psikopat ini harus dihentikan. Ian terus menatap Febi yang sedang berdiri di depannya dengan tatapan tajam. Jennifer begitu kuatir melihat keadaan Febi. Baru kali ini Jennifer melihat tatapan Febi yang begitu tajam siap mencurahkan segala amarahnya, gadis yang selama ini selalu menyimpan ceritanya sendiri, gadis yang selama ini selalu membiarkan lalu setiap gangguan dari orang lain, yang selalu menelan sendiri kesulitannya. Akhirnya...
“Ada apa?” tanya Ian datar yang mengakhiri tembakan-tembakan dingin diantara mereka berdua sejak Febi masuk ke lobi dan menghampirinya.
“Kak Ian yang stalking kan?” Akhirnya Febi mengeluarkan buah dari pemikirannya. “Foto-foto itu punya kak Ian kan?” serangnya lagi.
“Kamu punya bukti?” balas Ian masih dengan sikap yang tenang tapi tatapannya dingin dan tajam seakan-akan menembus ke dalam kornea mata gadis yang ada di hadapannya itu.
Febi terdiam. Ia tidak siap dengan pertanyaan itu. “A…” Hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Melihat tatapan Ian yang begitu tajam, tidak ada yang bisa keluar dari mulut Febi. Cukup lama Ian menunggu jawaban, sementara Febi hanya bisa terpaku dengan mulut yang sedikit terbuka tanpa bisa berkata apa-apa. Melihat gadis itu tak kunjung mengeluarkan pernyataan apapun, Ian berlalu dan meninggalkan Febi dalam keadaan terpaku di tempat itu. Segala ganjalan dan emosi yang tidak mampu dikeluarkan oleh gadis itu, perlahan meleleh keluar dalam wujud butiran bening dari kedua matanya dan membasahi pipinya.
“Apaan sih lu? Nuduh orang sembarangan!” Tiba-tiba Sandra datang mendekati Febi dengan marah. “Iya, gak mungkin lah orang se-level kak Ian mau nguntit orang kusut kayak lo!” Suara yang lain menimpali. Mendengar itu semua, Jennifer menjadi marah dan langsung mendorong orang-orang yang mengejek Febi. “Apa maksudlu! Emang gak mungkin kak Ian yang selama ini nguntit Febi!” bentak Jennifer. Gadis tomboy itu berusaha melindungi sahabat mungilnya itu dari serangan orang-orang yang ada di ruangan itu. Kemudian Jennifer menarik lengan Febi untuk segera pergi dari tempat itu dan berhenti di taman.
Mereka berdua duduk di kursi taman menjauhkan diri dari segala persoalan di gedung FH. Febi menangis dan terisak. Sedangkan Jennifer hanya bisa diam sambil membelai punggung sahabatnya yang sedang mengalami serangan-serangan yang mengguncangkan mentalnya. Febi terus menangis terisak seakan hendak mengeluarkan segala kekesalannya lewat air matanya. Mereka duduk berdua menenangkan diri. Setelah menangis sesenggukan, gadis itu sudah lebih tenang dari sebelumnya. Cahaya sinar matahari menimpa kepala kedua gadis itu dan semilir angin memainkan helai-helai rambut mereka seakan berusaha menunjukkan kepada Febi bahwa dunia terus berputar dan ia harus segera bangkit mengejar impiannya.
Sementara mereka sedang duduk di taman itu, seorang pria berambut cepak dan tingginya sedang, berjalan mendekat ke arah mereka. “Febi,” panggilnya lembut. Febi mendongakkan kepalanya perlahan. Gadis itu tersontak melihat sosok yang muncul di hadapannya.
“Kak Alwi…” sahutnya sambil segera berdiri.
“Kamu nggak papa?” tanyanya terlihat kuatir akan keadaan Febi. “Aku denger berita tentang foto-foto itu dan katanya kamu sering merasa ada yang ikuti waktu pulang?” lanjutnya.
“Mmmm…” Gadis itu bergumam. Febi agak enggan kesusahannya diketahui oleh pria yang ia sukai.
“Ujian kamu hari ini dah selesai semua?” tanya Alwi dengan tenang dan nada yang begitu menenangkan hati Febi.
“Iya…” jawab gadis polos itu sambil tersenyum berusaha bersikap lembut di depan Alwi walaupun matanya masih terlihat bengkak dan merah.
“Aku anterin pulang ya?” tanya Alwi.
Mendengar tawaran itu Jennifer langsung membulatkan matanya dan melirik Febi yang juga sedang membulatkan matanya. Tawaran itu seperti panah cupid yang jatuh dari langit menembus ke dalam jantung Febi. “Nggak usah kak…” tolak Febi sambil malu-malu. Tapi Jennifer segera memotong kalimat Febi, “Iya! Iya kak anterin aja. Kalo ada pria yang temenin, pasti lebih aman. g**g tempat kost dia tuh sepi banget,” celoteh Jennifer agar memastikan Alwi mengantar pulang Febi sampai ke kostnya. Lalu mereka berjalan menuju ke tempat mobil Alwi diparkir.
Dari jauh, Ian sedang memperhatikan mereka berbincang dan bagaimana Febi berubah sikap dan sangat menikmati kedatangan Alwi. Mengikuti Alwi dan Febi, Ian juga menuju ke tempat parkir. Baru saja Febi membuka pintu depan mobil milik Alwi, dilihatnya Ian pun sedang membuka pintu mobilnya yang diparkir tidak jauh dari mobil Alwi dan bersiap-siap meluncur. Melihat Ian mengendarai mobil sport putih yang tinggi dan besar itu, Febi mengernyitkan dahinya. Mobil itu, Febi pernah melihat mobil itu.