Semester Tiga: Tertangkap Basah

1105 Words
Mendengar tawaran itu Jennifer langsung membulatkan matanya dan melirik Febi yang juga sedang membulatkan matanya. Tawaran itu seperti panah cupid yang jatuh dari langit menembus ke dalam jantung Febi. “Nggak usah kak…” tolak Febi sambil malu-malu. Tapi Jennifer segera memotong kalimat Febi, “Iya! Iya kak anterin aja. Kalo ada pria yang temenin, pasti lebih aman. g**g tempat kost dia tuh sepi banget,” celoteh Jennifer agar memastikan Alwi mengantar pulang Febi sampai ke kostnya. Lalu mereka berjalan menuju ke tempat mobil Alwi diparkir. Dari jauh, Ian sedang memperhatikan mereka berbincang dan bagaimana Febi berubah sikap dan sangat menikmati kedatangan Alwi. Mengikuti Alwi dan Febi, Ian juga menuju ke tempat parkir. Baru saja Febi membuka pintu depan mobil milik Alwi, dilihatnya Ian pun sedang membuka pintu mobilnya yang diparkir tidak jauh dari mobil Alwi dan bersiap-siap meluncur. Melihat Ian mengendarai mobil sport putih yang tinggi dan besar itu, Febi mengernyitkan dahinya. Mobil itu, Febi pernah melihat mobil itu. Selama perjalanan di sebelah Alwi, pikiran Febi justru tidak tertuju pada Alwi tapi memikirkan mobil yang dikendarai Ian. Dimana mobil itu pernah dilihatnya? Sepertinya tidak asing. Gadis itu berusaha fokus mengingat dimana dia pernah melihat penampakan mobil sport putih itu. Yap! Akhirnya dia ingat. Itu mobil yang dilihatnya diparkir di ujung g**g ketika ia merasa diikuti. Mobil itu! Mobil sport putih yang bannya agak tinggi dan bodynya besar. Itu adalah mobil yang sama dengan mobil yang dikendarai oleh Ian. Febi semakin yakin bahwa pelakunya adalah Ian. Tapi setelah berita tentang foto-foto Febi itu beredar di kalangan FH, Febi tidak mengalami perasaan diikuti itu lagi. “Mungkin karena stalkingnya dah kebongkar jadi dia gak berani nguntit lagi,” ucapnya pada Jennifer sambil mengambil KHS mereka setelah musim ujian selesai. “Iya, kak Ian pasti dah gak berani nguntit lagi karena lu labrak dia. Mengerikan orang itu!” timpal Jennifer. Febi melihat KHS yang diambilnya dan ia tersenyum tapi ada satu nilai yang membuatnya agak sedih, satu nilai yang jatuh karena tugasnya mendapat nilai C. Tapi gadis itu memutuskan tidak mau langkahnya tertahan hanya karena satu nilai yang jatuh. Ia tetap akan menjalani masa kuliah yang ia idamkan ini dengan semangat. Sem. 2 Mata Kuliah: Pendidikan Agama SKS: 4 Nilai: A Sem. 2 Mata Kuliah: Hukum Perdata SKS: 4 Nilai: A Sem. 2 Mata Kuliah: Hukum Pidana SKS: 4 Nilai: A Sem. 2 Mata Kuliah: Hukum Tata Negara SKS: 3 Nilai: A Sem. 2 Mata Kuliah: Hukum dan Hak Asasi Manusia SKS: 2 Nilai: A Sem. 3 Mata Kuliah: Filsafat Ilmu Pengetahuan SKS: 4 Nilai: A Sem. 6 Mata Kuliah: Hukum Kontrak SKS: 3 Nilai: C Total SKS: 24 IPS: 3,75 Satu nilai C terekam dalam sejarah studinya dan itu tak dapat dibatalkan. Febi mencoba menerima kenyataan yang telah terjadi itu dengan mencoba terus memandang ke depan. Semester Tiga, Semester yang baru. Harapan yang tak putus. Bagi Febi, nilai akademis menentukan masa depannya. Nilai akademis yang baik berarti dapat menjalani pekerjaan dengan baik, nilai akademis yang buruk berarti masa depan suram. Hasil usaha yang baik akan menjamin masa depan yang baik. Karena filosofi inilah, gadis mungil dan polos ini berusaha keras untuk mencapai prestasi yang gemilang. Apakah prinsip ini dapat berjalan mulus dalam masyarakat? Dalam kehidupan manusia juga berlaku hukum seleksi alam, yang terkuat yang menang. Dunia seperti inilah yang belum pernah ditemui oleh Febi. Gadis naif itu melangkah cepat, lurus menuju loket akademik untuk mengambil KRS nya. Dilihatnya kertas putih yang baru saja diterimanya dari staf akademik. Sem. 3 Mata Kuliah: Bahasa Indonesia SKS: 2 Sem. 3 Mata Kuliah: Hukum Dagang SKS: 2 Sem. 3 Mata Kuliah: Hukum Acara Perdata SKS: 4 Sem. 3 Mata Kuliah: Hukum Acara Pidana SKS: 4 Sem. 3 Mata Kuliah: Hukum Administrasi Negara SKS: 3 Sem. 4 Mata Kuliah: Hukum Internasional SKS: 3 Sem. 4 Mata Kuliah: Hukum Islam SKS: 2 Sem. 4 Mata Kuliah: Etika Profesi Hukum SKS: 2 Sem. 7 Mata Kuliah: Perbuatan Melawan Hukum SKS: 3 Total SKS: 25 Hari pertama Febi memasuki suatu kelas yang telah ia daftarkan, dilihatnya Ian ada di ruangan kelas tersebut sedang duduk di barisan belakang dengan laptop yang terbuka. Melihat Febi sedang memasuki ruang kelas, Ian terus menatap gadis itu. Tapi Febi segera melempar pandangannya ke arah lain agar pandangan mereka tidak perlu bertabrakan. Menjauhi masalah, itu yang sekarang harus dijaga olehnya. Tapi dari barisan belakang, pria bermata tajam itu terus memperhatikan punggung Febi. Untuk menjauhi masalah juga, begitu kuliah selesai, Febi langsung cepat-cepat membereskan laptop dan buku teksnya dan segera keluar dari ruangan kelasnya. Seakan-akan seperti selamat dari kejaran teroris, Febi berjalan dengan cepat menuju perpustakaan agar tidak tersusul oleh psikopat yang dihindarinya. Dalam suasana perpus yang tenang, hatinya pun menjadi lebih tenang seakan-akan bahaya pasti tidak akan masuk ke dalam perpus. Ia mengambil tempat agak dekat ke jendela. Masih banyak tempat yang kosong karena ini adalah awal semester. Mahasiswa hanya membanjiri perpustakaan menjelang musim ujian. Febi terlihat begitu asyik menikmati waktunya di perpus. Gadis itu memakai earphone sehingga tenggelam dalam dunianya sendiri dan hanya fokus pada apa yang ia kerjakan di laptopnya. Sementara sedang asyik mengetik, dilihatnya Ian masuk ke dalam perpus dengan langkah cepat, semakin mendekat ke arahnya. Melihat pria itu semakin dekat, Febi jadi merasa kuatir. Gadis itu sudah tidak punya tenaga lagi untuk melanjutkan pertikaian diantara mereka. Apa lagi yang akan terjadi? Tapi ternyata pria itu hanya melewatinya. Sesaat Febi sempat kaget dan bersiap-siap untuk apa yang akan terjadi padanya. Tapi karena Ian hanya melewatinya, bahkan tidak menatapnya dengan tatapan dinginnya itu, Febi pun tidak menggubrisnya. Tak berapa lama kemudian terdengar suara, PRAAAAK! Suara keras itu berasal dari meja belakang. Febi kemudian mencopot earphone yang menempel di lubang telinganya dan menoleh ke belakang. Begitu menoleh ke belakang, ia membelalakkan matanya. Dilihatnya Robi seperti sedang ketakutan melihat Ian yang sedang menatapnya tajam. “PSIKOPAT LU!” bentak Ian pada Robi yang hanya bisa tertunduk. Apa yang terjadi? Febi sedikit penasaran tapi saat ini motto yang harus dipegangnya adalah menjauhi masalah. Sejak kapan Robi ada di meja belakang, Febi tidak menyadarinya. Tiba-tiba Ian menoleh ke arah Febi dan menatapnya tajam. DEG! Apa itu? Febi cepat-cepat membalikkan wajahnya kembali menatap laptopnya untuk menghindari segala macam masalah. Gadis itu segera memasang kembali earphonenya walaupun pikirannya sudah tidak fokus lagi pada apa yang tadi sedang ia kerjakan. Jantungnya berdegup kencang. “Jangan ada apa-apa…jangan ada apa-apa…” sambil memejamkan matanya Febi berharap tidak ada masalah dengan dirinya. Tapi tiba-tiba earphone yang menempel itu dicabut dengan kasar oleh tangan milik seorang pria. Belum sempat menoleh, tangan pria itu langsung menarik lengan Febi memaksanya berdiri dan berjalan ke meja belakang. “Kak Ian!” ucapnya dalam hati sambil gemetar ketakutan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD