Semester Tiga: Kelegaan Sejenak

1281 Words
Sementara sedang asyik mengetik, dilihatnya Ian masuk ke dalam perpus dengan langkah cepat, semakin mendekat ke arahnya. Melihat pria itu semakin dekat, Febi jadi merasa kuatir. Gadis itu sudah tidak punya tenaga lagi untuk melanjutkan pertikaian diantara mereka. Apa lagi yang akan terjadi? Tapi ternyata pria itu hanya melewatinya. Sesaat Febi sempat kaget dan bersiap-siap untuk apa yang akan terjadi padanya. Tapi karena Ian hanya melewatinya, bahkan tidak menatapnya dengan tatapan dinginnya itu, Febi pun tidak menggubrisnya. Tak berapa lama kemudian terdengar suara, PRAAAAK! Suara keras itu berasal dari meja belakang. Febi kemudian mencopot earphone yang menempel di lubang telinganya dan menoleh ke belakang. Begitu menoleh ke belakang, ia membelalakkan matanya. Dilihatnya Robi seperti sedang ketakutan melihat Ian yang sedang menatapnya tajam. “PSIKOPAT LU!” bentak Ian pada Robi yang hanya bisa tertunduk. Apa yang terjadi? Febi sedikit penasaran tapi saat ini motto yang harus dipegangnya adalah menjauhi masalah. Sejak kapan Robi ada di meja belakang, Febi tidak menyadarinya. Tiba-tiba Ian menoleh ke arah Febi dan menatapnya tajam. DEG! Apa itu? Febi cepat-cepat membalikkan wajahnya kembali menatap laptopnya untuk menghindari segala macam masalah. Gadis itu segera memasang kembali earphonenya walaupun pikirannya sudah tidak fokus lagi pada apa yang tadi sedang ia kerjakan. Jantungnya berdegup kencang. “Jangan ada apa-apa…jangan ada apa-apa…” sambil memejamkan matanya Febi berharap tidak ada masalah dengan dirinya. Tapi tiba-tiba earphone yang menempel itu dicabut dengan kasar oleh tangan milik seorang pria. Belum sempat menoleh, tangan pria itu langsung menarik lengan Febi memaksanya berdiri dan berjalan ke meja belakang. “Kak Ian!” ucapnya dalam hati sambil gemetar ketakutan. Ian terus menarik lengannya menuju tempat Robi yang sedang tertunduk. “Lihat laptopnya!” ucap Ian kepada Febi sambil melepaskan tangannya dari Febi dengan kasar menyuruh gadis yang sedang ketakutan itu untuk melihat apa yang sedang ditampilkan di laptop Robi. Belum habis takutnya pada sikap kasar Ian, dengan badan sedikit gemetar, Febi mencondongkan badannya maju untuk melihat laptop Robi. Dilihatnya foto-foto dirinya sedang berjalan di g**g sempit dan gelap menuju kostnya. Itu foto-foto stalking yang sama yang ia lihat di komputer yang ada di ruang komputer. Kemudian Ian mengambil handphone Robi dan mengutak-atik sebentar lalu menaruhnya dengan kasar di atas meja sambil berkata, “Nih!” Febi kemudian mengambil handphone itu dan apa yang dilihatnya? Foto-foto dirinya dari belakang sedang duduk di perpus. “Ini barusan diambil…” ucap Febi dengan lemas mengetahui kegilaan Robi. Bibir Febi menganga dan bergetar, tangannya menjadi dingin, lututnya terasa lemas, kerongkongannya seperti tersumbat tidak bisa berkata apa-apa. “Waktu itu aku tanya kan, kamu punya bukti atau tidak,” ucap Ian mengingatkan ketika Febi mengkonfrontasi dirinya di lobi semester lalu. “Ketika kamu bikin aku jadi tersangka, kamu harus cari bukti,” lanjut Ian yang kali ini berbicara agak panjang daripada biasanya. “Trus kenapa harus aku yang cariin bukti buat kamu!” Seisi perpus melihat ke arah mereka bertiga. Robi begitu malu sehingga ia hanya bisa menundukkan kepalanya. Dan Febi tidak mampu menjawab apapun. “Terserah mau kamu apain bukti-bukti itu!” ucapnya seraya pergi meninggalkan ruangan dalam keadaan dingin, kacau dan berantakan. Mereka semua terdiam, tidak tahu apa yang mau dikatakan. Robi terlihat ketakutan dan menyesal. “Sori, Feb …” ucap Robi pelan masih tetap menundukkan kepalanya. Febi mengangkat kepalanya melihat Robi yang sedang terhukum oleh rasa bersalahnya sendiri. “Selama ini kamu ngikutin aku dari belakang kalo aku pulang kuliah?” tanya Febi pelan karena shock dan ia sudah tidak punya energi lagi untuk meluapkan emosinya seperti yang ia lakukan pada Ian di semester yang lalu. Robi menjawab dengan menitikkan air matanya, “Iya.” Febi tidak ingin memperbesar masalah. Ia juga tidak bertanya alasan Robi melakukan hal itu. Ia tahu Robi bukan bermaksud mencelakainya. Lalu ia hanya memperingatkan agar Robi tidak melakukannya lagi. “Aku tau kamu bukan orang jahat. Tolong jangan teruskan ini…” Kemudian gadis itu pergi meninggalkan Robi yang masih mendapat tatapan sinis dari orang-orang yang ada di perpus. Karena kejadian itu, Febi urung berlama-lama di perpus. Ia segera keluar walau masih dengan pikiran kacau. Tapi di lobi ia berpapasan dengan Alwi, pria yang selalu memberinya senyum yang menenangkan hati. Begitu berbincang dengan Alwi, Febi seakan seperti disiram air dingin. Segala perasaan dramatis dan menegangkan yang barusan ia rasakan segera reda. Dan sikapnya pun berubah menjadi lembut. Diakhir perbincangan mereka, Alwi menawarkan untuk mengantarnya pulang. Hari itu Alwi lagi-lagi mengantar Febi pulang ke kostnya. Tanpa disadari Febi, Ian sedang memperhatikan dari jauh. Melihat ada yang mengantar Febi pulang, Ian pun kembali ke gedung FH. Seminggu setelah peristiwa di perpus, Febi sudah tidak lagi mendengar suara Robi yang biasa menggodanya. Gadis itu berjalan memasuki kelas dimana ia sekelas dengan Ian. Ketika memasuki kelas, dilihatnya Ian sudah siap dengan laptopnya di barisan belakang. Walaupun sudah terbukti pelaku penguntitan bukanlah Ian, tapi Febi tetap tidak bisa menghilangkan rasa terintimidasi oleh Ian. Dilihatnya di bagian depan masih banyak kursi kosong, ia pun mengambil tempat di bagian depan. Masih ada waktu 10 menit sebelum kelas mulai. Pintu kelas terbuka, dilihatnya Alwi memasuki kelas itu. Tidak salah? Kenapa Alwi masuk ke kelas ini? “Ini jam setengah sembilan kan?” pikir Febi sambil melihat jam tangannya. “Ini kelas 109. Iya bener, ini mata kuliah ‘Perbuatan Melawan Hukum’.” Febi berusaha memastikan ia ada di kelas yang benar. Tapi kenapa ada Alwi, minggu lalu Alwi tidak hadir. “Febi,” sapa Alwi begitu melihat gadis itu duduk dengan manis dan segera mengambil tempat di sebelah Febi. Ian memperhatikan sikap Febi yang kelimpungan itu dengan tatapan dinginnya. “Kak Alwi ambil kelas ini?” tanya Febi “Iya, barusan ganti matkul di KRS sih,” jawabnya menjelaskan kenapa baru hadir hari ini sedangkan minggu lalu tidak kelihatan batang hidungnya. Sementara Alwi mempersiapkan peralatannya, Febi tersenyum-senyum membayangkan bahwa selama satu semester ini ia bisa menjadi sangat dekat dengan Alwi. Bahkan hingga kuliah selesai pun, Febi masih duduk tidak beranjak dari kursinya. “Kamu ada kelas lagi di sini?” tanya Alwi melihat Febi tidak segera beranjak keluar kelas. Febi jadi bingung bagaimana menjawab pertanyaan itu, karena sebenarnya dia hanya ingin berlama-lama ada di dekat Alwi. “E…mmm…Gak sih. Lagi rapiin catetan,” jawabnya memberi alasan yang baru saja ia ciptakan. “Oke deh, duluan ya!” pamit Alwi seraya pergi meninggalkan Febi. Dari belakang Ian terus memperhatikan perbedaan sikap Febi. Padahal selama Ian ada di kelas yang sama dengannya, gadis itu selalu cepat-cepat keluar begitu kuliah sudah selesai. Tapi kali ini ia masih duduk, tidak jelas apa yang dilakukannya. Hari itu selesai kuliah, Febi menghabiskan waktunya di perpus. Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 22:00. Sekuriti mulai berjalan berkeliling menyisir setiap lorong-lorong dalam perpustakaan. “Maaf non, sudah harus tutup,” ucap sekuriti itu dengan sopan kepada Febi. “Iya pak. Dah selesai kok,” balas Febi dengan sopan sambil menenteng tas selempangnya keluar dari perpustakaan. Sebelum mencapai pintu keluar gedung, dilihatnya langit di luar begitu gelap, Febi menjadi enggan keluar. Ditahannya langkahnya, masih terbayang ada orang yang mengganggunya di g**g gelap itu, juga perasaan-perasaan takutnya ketika merasa diikuti. Tapi, harusnya sudah tidak ada lagi karena Robi sudah menghentikan perbuatannya. Lalu Febi segera keluar dari gedung. Ia berjalan menyusuri taman, dilihatnya sudah tidak ada lagi seorangpun mahasiswa di sana. Suasana begitu hening, Febi melewati pintu gerbang kampus yang hanya terbuka satu sisi. Ia meneruskan langkahnya dan berjalan di sepanjang pinggiran tanah kosong di pinggir jalan. Ian yang pada saat itu baru saja keluar dari tempat parkir dengan mobilnya, tidak sengaja melihat Febi yang sedang berjalan sendiri di malam hari. Melihat tidak ada yang mengantarnya pulang di jam selarut ini, pria kekar itu mengikuti perlahan dengan mobilnya dari belakang Febi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD