Semester Tiga: Pertolongan Yang Tak Diharapkan

1032 Words
“Maaf non, sudah harus tutup,” ucap sekuriti itu dengan sopan kepada Febi. “Iya pak. Dah selesai kok,” balas Febi dengan sopan sambil menenteng tas selempangnya keluar dari perpustakaan. Sebelum mencapai pintu keluar gedung, dilihatnya langit di luar begitu gelap, Febi menjadi enggan keluar. Ditahannya langkahnya, masih terbayang ada orang yang mengganggunya di g**g gelap itu, juga perasaan-perasaan takutnya ketika merasa diikuti. Tapi, harusnya sudah tidak ada lagi karena Robi sudah menghentikan perbuatannya. Lalu Febi segera keluar dari gedung. Ia berjalan menyusuri taman, dilihatnya sudah tidak ada lagi seorangpun mahasiswa di sana. Suasana begitu hening, Febi melewati pintu gerbang kampus yang hanya terbuka satu sisi. Ia meneruskan langkahnya dan berjalan di sepanjang pinggiran tanah kosong di pinggir jalan. Ian yang pada saat itu baru saja keluar dari tempat parkir dengan mobilnya, tidak sengaja melihat Febi yang sedang berjalan sendiri di malam hari. Melihat tidak ada yang mengantarnya pulang di jam selarut ini, pria kekar itu mengikuti perlahan dengan mobilnya dari belakang Febi. Awalnya Ian agak ragu melakukan hal ini, karena ia sempat dicurigai menguntit gadis itu. Tapi kekuatirannya akan gadis itu mengalahkan keegoisannya. Ian menjaga jaraknya agar tidak terlalu dekat dengan Febi yang sedang berjalan kaki di sisi kiri jalan. Febi terus berjalan dengan langkah yang cepat. “Kenapa Alwi gak anter?” pikir Ian setelah beberapa waktu lalu melihat kedekatan kedua orang itu. “Dia gak kapok apa ya jalan sendirian malem begini.” Lanjutnya dalam pikirannya sendiri. Ian terus memperhatikan Febi untuk memastikan gadis itu bisa pulang dengan selamat. Dari arah berlawanan, dilihatnya ada seorang pria dengan langkah gontai berjalan mendekat ke arah Febi. Melihat sosok orang yang terlihat sedang mabuk itu, Ian langsung waspada bersiap-siap menghentikan mobilnya dan keluar. Berpapasan dengan pria mabuk itu juga membuat Febi langsung waspada dan bergerak menjauh. Tapi orang mabuk itu hanya melewati Febi dengan setengah sadar. Ian sedikit bernafas lega, dan ia meneruskan mengikuti Febi dari dalam mobilnya. Tapi tiba-tiba, HAP! Pria mabuk itu memeluk Febi dari belakang membuat Febi spontan berteriak. Mendengar teriakan kencang, pria mabuk itu semakin brutal dan memukulkan botol kosong yang dipegangnya ke pundak Febi membuat lengan baju gadis itu sobek dan darah segar mengalir dari sayatan itu. “Febi!” teriak Ian dari dalam mobil. Ia segera menghentikan mobilnya dan keluar. Pria mabuk itu dengan kasar menarik baju Febi dan memukul wajah gadis itu sehingga ia jatuh ke jalan beraspal. Tubuh Febi terhempas jatuh ke paving jalanan. Siku tangannya pun cedera. Sementara itu, Ian dengan kuatir dan cepat berlari ke arah Febi. Sebelum pria kasar itu meraih baju Febi untuk memukulnya lagi, dari belakang Ian menarik baju pria itu dan segera menghantam wajah pemabuk itu dengan kepalannya. Selagi pria itu masih terhuyung-huyung, Ian segera mengambil batu dari jalanan dan memukulkannya ke tulang pipi pria itu. Setelah pukulan yang pertama diayunkan, tanpa menunggu jedah waktu, Ian segera meluncurkan pukulan yang kedua dengan batu itu, ke tempat yang sama, ke tulang pipi pria itu sehingga pria mabuk itu langsung terjatuh. Seakan belum puas dengan hal itu, Ian menunggangi tubuh pemabuk yang sedang terbaring lemas di tanah. Kepalannya sudah siap menghantam pemabuk itu. Tapi sebelum ia sempat mendaratkan tinjunya, Febi berteriak, “SUDAH! CUKUP! CUKUP!” Mendengar teriakan itu, Ian seperti tersadar dari perilaku anarkinya dan menahan tinjunya dari orang yang sudah tergeletak lemas itu. Ian kemudian menoleh dan melihat Febi yang dalam keadaan terluka lalu segera menghampirinya. Tanpa berkata apa-apa Ian hanya mengernyitkan dahinya dan melihat Febi yang juga menatapnya dengan ketakutan seperti menatap binatang buas yang tidak sadar apa yang ia lakukan tadi. Febi berusaha berdiri dengan gontai. Melihat gadis itu berdiri tidak seimbang, Ian segera memegang lengannya untuk membantunya berdiri tegak tapi gadis itu menepiskan tangan Ian, menolaknya untuk membantunya berdiri. Ian tidak terkejut melihat sikap Febi yang sedikit kasar terhadapnya. Setelah Febi bisa berdiri dengan baik, pria bertubuh tegap itu segera merunduk dan meraih tas Febi yang tergeletak di jalan. Tapi dengan gerakan tiba-tiba, Ian menyodokkan dengan keras tas itu ke d**a Febi membuat gadis itu bingung. “Kancing baju kamu kebuka,” ucapnya datar sambil menoleh ke arah lain agar tidak melihat keadaan Febi yang saat ini kurang pantas untuk dilihatnya. Badan Febi gemetar, ia masih dalam keadaan shock sehingga gadis itu hanya mengeluarkan kata, “Oh!” Dengan tangan yang bergetar ia berusaha memperbaiki pakaiannya. Mereka tidak banyak bersuara seakan-akan saling memberikan waktu untuk mengatasi rasa kaget dan shock akan kejadian tadi. Tapi tiba-tiba Febi menekuk lututnya dan jongkok di pinggir jalan itu sambil menundukkan kepalanya. Ian bingung dan tidak tahu kenapa gadis itu tiba-tiba seperti itu. “Kamu nggak papa?” tanyanya perlahan. Tidak ada jawaban dari Febi. Ian menunggu jawaban dari gadis yang mimik wajahnya tidak dapat terlihat olehnya saat ini. Tapi perlahan terdengar suara isak tangis yang sangat tipis dari arah Febi. Gadis itu sedang menangis sendiri tanpa ingin terlihat oleh Ian. Mendengar isakan yang pelan itu, Ian menjadi simpati kepadanya dan menghela nafasnya panjang. Pria bertubuh tinggi itu semakin mengerutkan alisnya dan menutup kedua kelopak matanya karena merasa pedih melihat keadaan Febi saat ini. Ian membiarkan Febi terus jongkok dan menghabiskan kepahitan dari hatinya lewat air mata yang meleleh keluar. Pria itu hanya bisa berdiri kaku menatap gadis mungil yang barusan ditolongnya itu menekuk lutut di depannya sambil menutup wajahnya dan menangis terisak. Ian menunggunya dengan sabar tanpa berusaha menyentuh gadis itu. Setelah keadaannya lebih tenang, Febi mendongakkan kepalanya dan mencoba untuk berdiri tegak. Melihat Febi yang sepertinya sudah bisa diajak berkomunikasi, Ian membuka percakapan. “Aku anterin pulang,” ucap pria itu datar tapi tegas dan tidak meninggalkan pilihan lain bagi Febi. Lalu mereka berjalan menuju mobil Ian yang ia hentikan di seberang jalan. Pria itu membukakan pintu mobilnya agar Febi masuk ke dalamnya dan mobil putih itu meluncur membelah kegelapan malam itu. Tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka berdua di dalam mobil itu. Masing-masing dalam keadaan canggung dan seakan tidak mendarat kenapa mereka saat ini bisa ada bersama-sama di dalam satu mobil. Bukankah bahkan sampai tadi siang mereka masih saling menjauhi bahkan tidak berkomunikasi satu sama lain? Kenapa Ian dengan sengaja mengikuti Febi? Kenapa Ian menolong gadis yang telah menuduhnya sebagai penguntit? Pandangan Febi menerawang ke depan menembus jalanan lurus yang ia lihat hadapannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD