Setelah keadaannya lebih tenang, Febi mendongakkan kepalanya dan mencoba untuk berdiri tegak. Melihat Febi yang sepertinya sudah bisa diajak berkomunikasi, Ian membuka percakapan. “Aku anterin pulang,” ucap pria itu datar tapi tegas dan tidak meninggalkan pilihan lain bagi Febi. Lalu mereka berjalan menuju mobil Ian yang ia hentikan di seberang jalan. Pria itu membukakan pintu mobilnya agar Febi masuk ke dalamnya dan mobil putih itu meluncur membelah kegelapan malam itu. Tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka berdua di dalam mobil itu. Masing-masing dalam keadaan canggung dan seakan tidak mendarat kenapa mereka saat ini bisa ada bersama-sama di dalam satu mobil. Bukankah bahkan sampai tadi siang mereka masih saling menjauhi bahkan tidak berkomunikasi satu sama lain? Kenapa Ian dengan sengaja mengikuti Febi? Kenapa Ian menolong gadis yang telah menuduhnya sebagai penguntit? Pandangan Febi menerawang ke depan menembus jalanan lurus yang ia lihat hadapannya. Tiba-tiba,
“Sini kan?” suara Ian membuyarkan lamunannya.
“Hh?” respon Febi yang pikirannya masih belum bisa fokus.
Mobil itu berhenti tepat di depan g**g menuju ke kostnya. Kemudian mereka berdua turun dari mobil sport putih itu dan, “Aku anter sampe ke rumah kamu,” ucap Ian tanpa menunggu persetujuan dari Febi.
“E, nggak usah kak Ian” balasnya merasa tidak enak mendapat bantuan berkepanjangan.
“It’s ok,” ucap Ian datar menatap mata Febi yang terlihat lelah dan sayu.
Febi hanya bisa menghela nafasnya karena ia terlalu lelah untuk menolak. Lalu mereka berdua berjalan bersama menyusuri g**g yang gelap dan sempit itu. Masih dalam suasana saling diam, mereka terus berjalan hingga sampai di depan kamar kost Febi. “Ini kost aku,” ucap Febi sambil menghentikan langkahnya. Pria yang terus mendampinginya sejak tadi itu menatap mata Febi dan berkata, “Masuk aja. Setelah kamu masuk dan kunci pintu, aku akan pergi.” Febi sedikit tersentak dengan sikap Ian yang begitu peduli pada keselamatannya. “O-Ok,” balas Febi sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian gadis itu berbalik dan segera membuka pintu kamarnya, masuk ke dalam. Tapi sebelum menutup lagi pintu itu, Febi berbalik dan berkata, “g**g ini gelap dan sepi sih. Cowok pun kalo sendirian juga bahaya kayaknya,” ucapnya dengan nada bergetar. Gadis itu masih melanjutkan kalimatnya. “Mm, tar kalo udah nyampe rumah kasih tau ya? Supaya aku tahu kalo kak Ian juga selamat sampai rumah.” Mendengar kalimat mengandung kepedulian yang besar akan sesama manusia itu membuat hati Ian bergetar. Hatinya yang selama ini dingin dan selalu melihat setiap orang harus survive sendiri-sendiri seakan tak percaya mendengarnya. “E-iya” jawabnya kali ini agak tersendat. Setelah bertukar nomor telepon, kemudian Febi masuk, mengunci pintunya dan Ian pun pergi meninggalkan tempat itu.
Selama perjalanan pulang mengendarai mobil, kalimat Febi terus terngiang di kepalanya. “…supaya aku tahu kalo kak Ian juga selamat sampai rumah.” Kenapa gadis itu mengucapkan hal seperti itu? Apa urusannya Ian selamat sampai rumah atau tidak? Kenapa ia harus peduli Ian juga selamat sampai rumah? Kalimat itu seperti misteri yang tidak bisa dimengerti oleh Ian. Setibanya di rumah, Ian langsung menuju kamarnya dan mengeluarkan handphonenya. Ia terus memandangi benda kecil itu, ragu apakah ia harus mengirimkan pesan kepada gadis yang tidak ada relasi apa-apa dengannya, bahwa ia sudah sampai rumah. Pesan yang sepele, tapi kenapa begitu berat untuk diketikkan. Seumur hidupnya, tidak pernah Ian mengirimkan pesan yang begitu sepele, hanya mengabarkan bahwa ia sudah sampai di rumah kepada orang lain. Kenapa pekerjaan remeh ini menjadi begitu sulit?
“…tar kalo udah nyampe rumah kasih tau ya? ...”
Perkataan yang keluar dari hati seorang gadis yang polos, tidak ada motivasi apapun di balik kalimat itu selain kepeduliannya pada keselamatan Ian. Dengan ragu pria itu mulai menggerakkan jari jemari menyentuh layar handphonenya.
[Ian] _sudah sampai_
Dikirimnya dua kata itu kepada gadis polos itu. Febi sedang bersiap-siap tidur ketika membuka pesan chat itu. Dan gadis itu tersenyum lega setelah membacanya. Karena tidak bisa segera terlelap, Febi terus terbayang peristiwa yang barusan ia alami. Bagaimana ia diserang dengan seorang pria mabuk, lalu Ian menolongnya tapi pria itu tiba-tiba terlihat begitu beringas ketika memukul pria mabuk itu. Seperti manusia yang berubah menjadi seorang werewolf yang sedang memangsa makanannya. Dan lagi, Ian mengantarnya dengan mobilnya yang berhenti tepat di sisi lain jalan itu. Kenapa ia ada disana, di jam itu? Lalu Ian bahkan mengantarnya berjalan kaki masuk ke g**g…
“Bagaimana dia bisa tahu g**g ini?” Gadis itu seperti tersadar akan sesuatu. Febi mengernyitkan dahinya. Ada sesuatu yang tidak pas. Semester lalu Febi juga pernah melihat mobil yang sama dengan mobil Ian diparkir di ujung g**g dengan posisi yang sama seperti ketika Ian menghentikan mobilnya untuk mengantar Febi masuk dalam g**g. Apa ini? Lagi-lagi perasaan takut yang tidak pada tempatnya? Ian, ada apa dengan orang itu? Pria yang selalu menebarkan aura dingin, tatapan matanya dingin dan selalu tidak ramah pada siapapun. Satu-satunya orang yang bisa berbincang dengannya adalah Rendy. Memikirkan semua peristiwa di hari ini akhirnya membuat Febi terlelap.
Keesokan harinya…
Febi berjalan dengan lunglai melewati lobi gedung FH. Otot-ototnya terasa sakit. Pundaknya pun terluka dan memar-memar karena peristiwa semalam. Masih dengan mata setengah tertutup, ia berjalan menuju ke kelas hendak mengikuti kuliah. Belum sempat membuka pintu, tiba-tiba dari belakang Alwi memegang pundaknya. Karena luka dan memar yang hebat di pundak kanannya, gadis itu spontan menjerit kesakitan ketika Alwi mendaratkan telapak tangannya di bahu kanan gadis itu.
“Kamu nggak papa?” tanya Alwi kaget dengan jeritan Febi.
“Oh, nggak papa…” jawab Febi sambil tertunduk.
“Bahu kamu sakit?” tanya Alwi lagi tidak bisa menghentikan kekuatirannya.
“Nggak kok, kemarin kesenggol aja jadi agak sakit” jawab gadis itu enggan menceritakan hal-hal yang nantinya semakin menambah kekuatiran orang lain. Tanpa mereka berdua sadari, Ian memperhatikan mereka sejak tadi dari ujung lorong menuju ke pintu kelas. Ketika mendekati gadis yang sudah ditolongnya semalam, ia tidak menyapa ataupun menegur gadis itu, tapi malah terus berjalan melewatinya dan segera masuk ke dalam kelas. Melihat Ian yang bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, Febi seakan tak percaya dan terus melihat punggung Ian yang menghilang dibalik pintu yang akhirnya tertutup. Alwi sedang berbicara tapi Febi malah terus memperhatikan sosok yang akhirnya hilang di balik pintu yang telah tertutup itu sambil berpikir apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Ian? Apa motivasi pria itu tidak menegurnya sama sekali? Kenapa Ian hanya melewati Febi?
“Feb…” ucap Alwi sambil menatap Febi seakan menunggu responnya.
“E?” jawab Febi seakan baru tersadar dari lamunannya.
“Aku ke atas dulu…” ucap Alwi seakan mengulang kalimat yang sudah pernah diucapkannya.
“Oh…Iya…iya kak” Febi seakan tidak fokus memperhatikan Alwi yang disukainya itu tapi malah memikirkan sikap Ian barusan. Apa motivasi Ian sebenarnya? Kenapa pria yang punya tatapan dingin, orang yang mampu berbuat jahat dengan strategi, orang yang tega menjatuhkan orang lain, tapi orang yang sama itu justru menolongnya? Apakah peristiwa tadi malam itu hanya kebetulan? Masih banyak pertanyaan dalam diri Febi yang belum terjawab.