BAB III ( KELONGGARAN )

1641 Words
6.Kelonggaran Beberapa hari kemudian, sebuah keputusan kecil namun bermakna diumumkan. Sebagian awak kapal Medang diperbolehkan kembali ke kapal mereka. Beberapa peti barang dagangan yang sebelumnya ditahan dikembalikan. Sebagian lainnya tetap berada di gudang pelabuhan dengan alasan administratif. Tidak ada pernyataan resmi tentang perubahan kebijakan. Tidak ada pengumuman bahwa perkara telah selesai. Namun bagi para utusan Medang, ini adalah tanda pertama bahwa pintu belum sepenuhnya tertutup. Rakryan Kanuruhan menyampaikan terima kasih kepada pejabat Sriwijaya dengan kata-kata yang sopan dan penuh kehormatan. Namun di antara mereka sendiri, para utusan Medang tahu: Ini bukan kemenangan. Ini hanya penangguhan. Malam itu, Wira bertemu Ratnaprabha di paviliun sungai. “Ini karena kau?” tanyanya pelan. Ratnaprabha menggeleng. “Bukan hanya aku. Ayahku memang ingin mencari jalan tengah. Aku hanya… mengingatkannya bahwa tamu tidak boleh dipermalukan.” “Terima kasih,” kata Wira. “Jangan berterima kasih,” jawabnya. “Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar.” Ia menatapnya lama, lalu berkata, “Tetapi jangan salah sangka. Ini bukan akhir dari perkara ini.” “Aku tahu.” “Kau akan kembali ke Medang.” “Aku harus.” “Dan mungkin suatu hari… negeri-negeri kita akan saling melukai.” Kata-kata itu jatuh seperti batu kecil ke dalam air tenang. Wira menatapnya. “Apakah itu membuatmu menyesal bertemu denganku?” Ratnaprabha menggeleng perlahan. “Justru karena itulah aku tidak menyesal.” 7. Latihan Armada Beberapa hari kemudian, para utusan Medang diundang menghadiri sebuah peragaan latihan laut di perairan lepas pelabuhan. “Latihan rutin armada,” kata pejabat Sriwijaya yang mengantar mereka. “Kebetulan waktunya berdekatan dengan masa tinggal Tuan-Tuan di sini.” Kata kebetulan itu diucapkan dengan senyum yang terlalu tenang untuk dianggap sepenuhnya kebetulan. Di kejauhan, belasan kapal perang Sriwijaya bergerak dalam formasi rapi. Lunas-lunas mereka memotong air seperti bilah pedang. Dayung-dayung bergerak serempak. Layar-layar besar dibuka dan ditutup sesuai aba-aba bendera dan terompet. Kemudian latihan berubah menjadi simulasi pertempuran. Kapal-kapal kecil berputar cepat, seolah memancing musuh masuk ke tengah, sementara kapal-kapal besar menutup jalur mundur. Anak panah dilepaskan ke sasaran terapung. Tombak-tombak dilempar ke perisai kayu yang mengapung di laut. Suara terompet, genderang, dan teriakan komando bergema di atas air. Para utusan Medang berdiri di dek kapal tamu, menatap pemandangan itu dalam diam. Tidak ada satu pun kata yang diucapkan sebagai ancaman. Namun tidak satu pun di antara mereka yang meragukan pesan yang tersirat. Sriwijaya tidak hanya menguasai jalur laut. Ia menjaga jalur itu dengan kekuatan yang siap digunakan. Di dermaga, Wira berdiri bersama Ratnaprabha, menatap formasi kapal-kapal itu. “Indah,” katanya pelan. “Ya,” jawabnya. “Indah… dan berbahaya.” 8. Dermaga yang Tak Akan Sama Langit sore di pelabuhan Sriwijaya berwarna tembaga ketika Ratnaprabha berdiri di dermaga, memandang kapal Medang yang telah bersiap berlayar. Layar-layarnya masih terikat, namun tali-tali sudah ditegangkan, dan para awak berjalan hilir mudik membawa peti dan gulungan tali. Udara dipenuhi bau garam, kayu basah, dan sesuatu yang lebih samar — bau perpisahan. Wira berdiri di sampingnya, diam. Mereka tidak berbicara. Karena beberapa hal, jika diucapkan, justru akan terasa lebih rapuh. Angin laut menyentuh wajah Ratnaprabha, dan tiba-tiba ia teringat pertama kali bertemu Wira — hari itu di paviliun pelabuhan, ketika ia sedang memeriksa daftar muatan kapal asing dan mendapati seorang ksatria Jawa berdiri canggung di bawah tiang kayu, memandang laut seolah sedang mencari sesuatu yang telah lama hilang. “Kau tampak seperti orang yang tersesat,” katanya waktu itu. “Tidak,” jawabnya. “Aku hanya belum tahu ke mana harus pergi.” Ia teringat bagaimana mereka kemudian sering berjalan menyusuri dermaga saat senja, menyaksikan kapal-kapal asing datang dan pergi, membicarakan negeri-negeri yang belum pernah mereka lihat, dan bagaimana Wira selalu bercerita tentang tanah Medang dengan nada yang tenang — bukan seperti orang yang membanggakan negerinya, tetapi seperti seseorang yang sedang merindukan rumah yang jauh. Ia teringat malam ketika hujan turun deras dan mereka berlindung di bawah atap gudang kayu, mendengar air memukul atap dan tanah, dan Wira berkata, setengah bercanda, setengah serius: “Kalau aku bukan ksatria, mungkin aku akan menjadi pelaut. Lalu aku akan berlayar tanpa tujuan, hanya mengikuti angin.” “Dan kalau kau tersesat?” tanya Ratnaprabha. “Aku akan mencari pelabuhan yang memberiku air dan nama,” katanya sambil menatapnya. “Seperti tempat ini.” Ia tidak mengatakan seperti dirimu. Namun ia mendengarnya. Ia teringat malam lain, di tepi sungai, ketika lampu-lampu perahu memantul di air gelap, dan Wira duduk di sampingnya, memandang arus. “Kadang aku takut,” katanya waktu itu. “Takut apa?” “Takut bahwa hidupku sudah ditentukan sebelum aku sempat memilihnya.” Ratnaprabha menoleh. “Lalu apa yang ingin kau pilih?” Ia diam lama sebelum menjawab. “Seseorang yang menungguku.” Ia tidak menjawab. Namun sejak malam itu, mereka tidak pernah lagi berpura-pura bahwa pertemuan mereka hanya kebetulan. Kini, semua kenangan itu berdiri di antara mereka, tak terlihat, tetapi terasa — seperti layar yang telah terbentang, meski angin belum bertiup. “Wira,” kata Ratnaprabha akhirnya, suaranya pelan. Ia menoleh. “Kalau kau tidak kembali… bagaimana aku harus mengingatmu?” Ia tersenyum kecil, tetapi matanya tidak. “Sebagai seseorang yang pernah duduk di dermaga ini bersamamu,” katanya. “Dan merasa… cukup.” Ratnaprabha menarik napas, lalu berkata, “Aku pernah berkata pada ayahku bahwa suatu hari aku ingin melihat tanah Jawa.” “Kau akan melihatnya,” jawab Wira cepat. “Aku berjanji.” Ia tersenyum tipis. “Janji siapa?” “Janji seorang ksatria,” katanya. “Dan seorang lelaki yang tidak ingin kau menjadi kenangan.” Angin laut menggerakkan rambutnya. Ratnaprabha menatapnya lama, seolah sedang menghafal wajahnya untuk hari-hari yang tidak akan memilikinya. “Kalau suatu hari negeri-negeri kita saling melukai,” katanya pelan, “apa yang akan terjadi pada kita?” Wira tidak segera menjawab. “Kalau itu terjadi,” katanya akhirnya, “aku ingin kau tahu satu hal. Aku tidak pernah memilih siapa musuhku. Tapi aku memilih siapa yang ingin kuingat.” Ia mengeluarkan tali kecil dari sakunya — anyaman serat kelapa dengan simpul khas pelaut Medang. “Aku membuat ini malam itu,” katanya. “Di gudang perahu, setelah kau bilang ingin melihat Jawa.” Ratnaprabha menerimanya, jarinya gemetar sedikit. “Apa artinya?” “Pelaut Medang membuat simpul seperti ini untuk kapal yang ingin mereka temui kembali.” “Dan kapal yang tenggelam?” “Disimpul dengan cara lain.” Ia menatap matanya. “Yang ini untuk kapal yang ingin pulang.” Ratnaprabha menggenggamnya erat. “Wira,” katanya pelan, “kalau kau kembali… aku akan menunggumu di pelabuhan ini.” “Dan kalau aku tidak kembali?” Ia menatap laut. “Maka aku akan percaya bahwa laut telah membawamu ke tempat yang tidak bisa kujangkau — tapi tidak ke tempat yang tidak bisa kuingat.” Langkah kaki terdengar di belakang mereka. Genderang kapal dipukul satu kali. Waktu telah menolak menunggu. Wira melangkah mendekat, ragu sejenak, lalu meraih tangan Ratnaprabha — bukan dengan cengkeraman, tetapi dengan sentuhan ringan, seolah takut kenangan akan pecah jika disentuh terlalu kuat. “Ratna,” katanya pelan, menggunakan nama kecilnya untuk pertama kalinya. “Aku tidak tahu bagaimana cara berjanji tentang masa depan. Tapi aku tahu satu hal… tidak ada satu hari pun selama aku di sini yang ingin kulewati tanpa mengingatmu.” Ia menatapnya, dan untuk sesaat, laut, kapal, dan dunia seolah berhenti bergerak. “Dan aku,” jawab Ratnaprabha, “tidak tahu bagaimana cara menunggu tanpa harapan. Tapi aku tahu bagaimana cara berharap tanpa menuntut.” Ia meraih tangan Wira kembali. “Jangan mati,” katanya tiba-tiba. Ia tersenyum kecil. “Itu permintaan yang berat.” “Bagi siapa pun yang ingin kembali,” katanya. Ia mengangguk. Mereka berdiri terlalu dekat, tetapi tidak cukup dekat untuk saling menyentuh lagi. Karena mereka tahu — satu sentuhan tambahan akan membuat perpisahan ini mustahil. Akhirnya Wira melangkah mundur. Satu langkah. Dua langkah. Ratnaprabha tidak mengejarnya. Karena mereka berdua tahu: cinta yang sejati kadang tidak mengejar, tetapi membiarkan. Ia berhenti di tangga kapal, menoleh sekali lagi. “Ratna,” katanya. “Ya?” “Jika suatu hari kau mendengar nama Medang disebut sebagai musuh…” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ratnaprabha mengangguk pelan. “Aku akan mengingat bahwa sebelum itu, Medang pernah mengirimkan seorang lelaki yang mengajariku bagaimana rasanya… tidak merasa sendirian di tengah dunia yang ramai.” Wira tersenyum — senyum yang lebih mirip luka daripada kegembiraan. Lalu ia naik ke kapal. Genderang dipukul dua kali. Tali dilepas. Layar mulai terbentang. Ratnaprabha berdiri di dermaga sampai kapal itu menjadi titik kecil di cakrawala. Ia tidak tahu bahwa kelak, ketika api menyala di pelabuhan-pelabuhan Sriwijaya dan panji-panji Medang terlihat di laut, simpul kecil di tangannya akan menjadi satu-satunya bukti bahwa sebelum perang, pernah ada sesuatu yang jauh lebih rapuh — dan jauh lebih berharga — daripada kemenangan. 9. Kembali ke Medang Ketika rombongan utusan tiba kembali di Medang, laporan mereka disampaikan dengan kata-kata yang hati-hati namun maknanya jelas, Sriwijaya tidak menolak. Sriwijaya tidak menyetujui. Sriwijaya menunda. Balairung kembali tenggelam dalam diam panjang. Akhirnya Rakryan Kanuruhan berkata, “Paduka, Sriwijaya tidak menutup pintu. Tetapi mereka juga tidak membuka jalan. Itu lebih berbahaya daripada penolakan terang-terangan.” Raja Dharmawangsa mengangguk pelan. “Jika jalur dunia dikunci,” katanya akhirnya, “maka Medang harus belajar membuka kuncinya.” Tidak ada genderang. Tidak ada teriakan. Tidak ada pengumuman perang. Hanya satu kalimat tenang — yang di dalamnya terkandung perubahan arah sejarah. Ia memandang Rakryan Narottama. “Mulai persiapan.” Narottama menunduk. “Perintah Paduka akan dilaksanakan.” Dan dengan itu, tanpa panji, tanpa seruan, tanpa deklarasi, roda besar mulai bergerak. Di galangan kapal, lunas-lunas baru mulai dipasang. Di gudang senjata, tombak dan perisai mulai ditumpuk. Di mandala-mandala pesisir, para adipati menerima pesan rahasia. Di kadewaguruan Resi Agastya, seorang pangeran muda terus belajar mengendalikan napas — tanpa tahu bahwa suatu hari ia akan harus mengendalikan negeri. Samudra belum bergelora. Namun jalur dunia telah dikunci. Dan Medang, perlahan, mulai menyiapkan kuncinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD