Di Balik Singgasana Sriwijaya
Di salah satu balairung batu yang tidak semegah aula penerimaan utusan asing, duduk seorang lelaki yang telah terlalu lama hidup di antara peta, segel lilin, dan rahasia.
Namanya Mahāmantrin Anantapāla.
Para bawahan menyapanya sederhana saja:
“Tuan.”
Ia tidak pernah menuntut gelar yang panjang.
Yang ia tuntut hanyalah ditaatinya perintah.
Usianya telah melewati setengah abad. Rambutnya tidak lagi hitam utuh—garis-garis keperakan menjalar dari pelipis hingga ke tengkuk. Wajahnya tidak tampan, tetapi terukir jelas oleh tahun-tahun panjang menghadapi utusan dari Jawa, Champa, Tiongkok, hingga negeri-negeri yang namanya bahkan jarang disebut di balairung istana.
Tubuhnya tidak lagi kekar seperti panglima perang.
Bahu dan lengannya ramping, hampir tampak kurus.
Namun siapa pun yang berdiri terlalu dekat akan menyadari sesuatu:
di balik kulit yang mulai mengendur itu, masih tersisa tegangan lama—urat-urat keras di pergelangan tangan, cara berdirinya yang lurus, dan tatapan yang tidak pernah benar-benar berkedip saat menilai seseorang.
Ia berpakaian sederhana.
Kain tenun gelap tanpa sulaman emas berlebihan.
Sabuk kulit polos.
Hanya sebilah keris tua terselip, gagangnya aus oleh waktu.
Tidak ada perhiasan.
Tidak ada lambang kemewahan.
Tetapi auranya…
seperti serigala lapar yang tidak perlu mengaum untuk membuat kawanan kijang gelisah.
Anantapāla bukan lelaki yang dibesarkan oleh peperangan pedang.
Ia dibesarkan oleh negosiasi yang gagal, kapal yang dibakar, perjanjian yang dikhianati, dan perairan yang berubah menjadi kuburan kayu-kayu layar.
Ia tahu “cara main”.
Ia tahu kapan harus tersenyum kepada utusan asing.
Ia tahu kapan kapal harus “ditahan untuk pemeriksaan”.
Ia tahu kapan seorang datu pelabuhan perlu diingatkan bahwa laut bukan miliknya pribadi.
Dan ia tahu satu hal yang lebih penting dari semua itu:
Kedaulatan tidak selalu dijaga dengan tombak.
Kadang dijaga dengan ketakutan yang terukur.
Ketika pembawa pesan berlutut dan berkata bahwa tawanan Medang telah dipulangkan sebagian atas perintah Datu Pelabuhan, wajahnya tidak berubah.
Hanya matanya yang sedikit menyempit.
“Tanpa perintahku?” tanyanya pelan.
“Ya, Tuan.”
Sunyi.
Ia berjalan menuju jendela batu, memandang Sungai Musi yang mengalir menuju laut luas.
She-po mulai mengirim kapal dengan nada yang berbeda. Lebih tegak. Lebih percaya diri. Dan itu tidak ia sukai.
Anantapāla bukan sekadar pejabat. Ia adalah penjaga doktrin lama Sriwijaya: bahwa semua kapal yang melintasi perairan ini tunduk pada satu kehendak.
Jika Medang dibiarkan mengirim kapal tanpa tunduk sepenuhnya, maka hari ini mereka mengirim pedagang. Besok mereka mengirim utusan.Lusa mereka mengirim armada.Ia tahu Jawa bukan negeri kecil. Dan ia tahu raja Dharmawangsa bukan penguasa yang mudah ditekan.
Justru itu sebabnya kapal itu harus disita. Bukan untuk merampas barangnya. Tetapi untuk mengirim pesan.
Surat Ancaman
Malam turun perlahan di atas Sungai Musi.
Lampu minyak menyala redup di ruang kerja Mahāmantrin Anantapāla. Di atas meja kayu ulin terbentang lembaran daun lontar yang telah diasapi dan diratakan. Di sampingnya, segumpal lilin merah dan cap perunggu bergambar cakra laut—lambang kekuasaan perairan Sriwijaya.
Anantapāla duduk tegak.
Ia tidak segera menulis.
Ia menunggu pikirannya mengendap, seperti nelayan menunggu arus berbalik sebelum menarik jala.
Seorang juru tulis muda berlutut di hadapannya.
“Tuan akan mendiktekan?”
Anantapāla menggeleng pelan.
“Tidak. Yang ini akan kutulis sendiri.”
Tangannya bergerak mantap. Tinta hitam mengalir tanpa ragu. Tidak ada goresan yang dicoret. Tidak ada kata yang diubah.
Di luar, suara air menggesek tiang-tiang dermaga.
Di dalam, sejarah sedang mengeras menjadi tuduhan.
Isi Surat
Kepada Datu Pelabuhan Bhumi Malayu,
Telah sampai kepada kami kabar bahwa tawanan serta sebagian muatan kapal dari She-po yang sebelumnya ditahan atas kebijakan pengamanan perairan telah dipulangkan tanpa musyawarah dan tanpa izin dari pusat.
Perbuatan tersebut kami nilai sebagai:
Pertama, tindakan yang tidak mematuhi perintah pusat yang telah ditetapkan demi menjaga wibawa dan ketertiban laut Sriwijaya.
Kedua, langkah yang melemahkan kebijakan kelautan kerajaan, yang selama ini menjadi sendi utama kekuatan dan kedaulatan negeri.
Ketiga, keputusan yang diambil tanpa restu Mahāmantrin yang diberi amanat untuk mengatur urusan perairan dan hubungan dengan negeri-negeri seberang.
Keempat, adanya tanda-tanda keberpihakan secara halus terhadap kepentingan asing, yang berpotensi merugikan kedudukan Sriwijaya sebagai penguasa jalur laut.
Kami mengingatkan bahwa laut bukan milik satu pelabuhan, bukan pula milik satu keluarga, melainkan milik kerajaan dan hukum yang menjaganya.
Dalam tujuh hari sejak surat ini diterima, Tuan diperintahkan menghadap langsung ke Kadatuan untuk memberikan penjelasan di hadapan kami. Apabila Tuan lalai atau tidak mampu menyampaikan alasan yang memuaskan, perkara ini akan dibawa ke Dewan Kadatuan sebagai dugaan pengkhianatan terhadap kedaulatan perairan Sriwijaya.
— Mahāmantrin Anantapāla
Anantapāla meletakkan pena.
Tidak ada kemarahan di wajahnya.
Hanya kepastian.
Ia menggulung daun lontar itu perlahan, lalu menuangkan lilin merah panas pada simpulnya. Cap perunggu diangkat—cakra laut terukir jelas pada permukaan logamnya.
Ia menekannya kuat-kuat.
Lilin itu mengeras, membekukan keputusan yang tak mudah dibatalkan.
“Antarkan secepat kau bisa,” katanya pelan.
“Ya, Tuan.”
Pembawa pesan pergi.
Anantapāla berdiri, menatap ke arah gelap sungai.
Ia tahu apa arti surat itu.
Bukan sekadar ancaman kepada seorang datu.
Tetapi garis yang mulai ditarik antara Sriwijaya dan Medang.
Dan garis yang ditarik dengan tinta hitam
sering kali berakhir dengan darah.
Telik Sandi yang Berjalan Tanpa Panji
Di Watugaluh, Wira mendatangi utusan lama yang pernah ia kawal—orang yang telah melihat Sriwijaya dari dekat dan memahami medan diplomasi.
Pertemuan mereka terjadi diam-diam di sebuah pendopo kecil di luar pusat istana Medang.
“Aku ingin kembali ke Selat,” kata Wira.
Utusan itu menatapnya lama.
“Kau ingin mencegah perang… atau memastikan perang itu menang?”
Wira tidak menjawab.
Utusan itu akhirnya berkata pelan,
“Baiklah, kau akan pergi, tapi kau tidak pergi sendiri. Dan kau bukan utusan. Kau adalah bayangan. Aku akan mengumpulkan telik sandi yang lain, kalau waktunya tiba aku akan memanggil mu.”
Pendaratan Tanpa Nama
Kabut tipis masih menggantung di atas permukaan air ketika perahu itu merapat tanpa suara—di sebuah pelabuhan tikus yang biasa digunakan para penyelundup untuk keluar masuk.
Tidak ada panji. Tidak ada warna kerajaan. Tidak ada tanda yang bisa menghubungkan mereka dengan Medang.
Yang turun dari perahu itu berjumlah tiga belas orang.
Jumlah yang tidak terlalu kecil untuk disebut rombongan, namun tidak cukup besar untuk menarik perhatian.
Mereka bukan satu kelompok.
Mereka adalah sel-sel kecil yang akan hidup terpisah.
Di antara mereka berdiri seorang lelaki berusia matang, bertubuh tegap tanpa berlebihan. Wajahnya datar, seperti batu yang terlalu lama diterpa angin.
Dialah pemimpin misi itu.
Rakryan Senāpati Antawarman.
Matanya menyapu dermaga sekali—tajam dan cepat.
“Mulai sekarang,” katanya tanpa meninggikan suara, “tidak ada yang saling mengenal.”
Tidak ada yang menjawab.
“Tidak ada Medang. Tidak ada perintah. Tidak ada nama.”
Ia berhenti sejenak.
“Hanya tugas.”
Baru kemudian ia melangkah turun.
Wira mengikuti di belakang.
Struktur yang Terpecah
Mereka dibagi menjadi beberapa sel kecil, dua orang sebagai pedagang kain, tiga orang sebagai awak kapal, dua orang sebagai ahli tulis perdagangan, sisanya menyebar sebagai pekerja pelabuhan dan pelaut lepas.
Tidak ada yang bergerak bersamaan.
Tidak ada yang tinggal di tempat yang sama.
Titik temu hanya ditentukan pada malam-malam tertentu—dan itu pun berubah-ubah.
Antawarman menetapkan satu aturan yang tidak bisa ditawar:
“Jika satu tertangkap, ia bukan lagi prajurit, bukan pula rakyat Medang. Dan tidak seorang pun bergerak untuk menyelamatkannya.”
Wira tidak menyukai itu.
“Jika kita membiarkan rekan kita mati, bagaimana kita mempertanggungjawabkannya kepada keluarganya?” katanya suatu malam sebelum mereka berpencar. “Bukankah kita seharusnya saling menjaga?”
Antawarman bahkan tidak menoleh.
“Katakan pada keluarga mereka,” jawabnya datar, “bahwa mereka gugur dalam tugas.”
Wira diam.
Sejak awal, ia tahu mereka tidak akan berjalan searah.
Hari-Hari Tanpa Gerakan
Hari-hari pertama berjalan lambat.
Seolah tidak terjadi apa-apa. Namun justru di situlah pekerjaan dimulai. Mereka hidup seperti orang biasa. Makan di tempat yang sama dengan buruh pelabuhan. Tidur di penginapan murah.Duduk di kedai tanpa tujuan yang jelas.
Dan diam-diam, mereka mulai mengurai denyut nadi wilayah Melayu di bawah kekuasaan Sriwijaya.
Wira mengamati.
Antawarman menghitung.
Yang lain menghilang di antara keramaian.
Mereka membaur. Menjadi bagian dari arus.
Ketegangan yang Tersembunyi
Pada malam keenam, mereka bertemu.
Tempatnya sebuah gudang tua.
Datangnya bergantian.
Perginya tidak bersama.
Laporan mengalir pelan:
“Galangan timur—kapal baru, ukuran besar.”
“Pergerakan logam meningkat.”
“Penjagaan lebih sering diganti.”
“Beberapa orang yang terlalu banyak bertanya… tidak terlihat lagi.”
Antawarman mendengarkan tanpa ekspresi.
“Teruskan.”
Wira memperhatikan satu hal, tidak ada satu pun informasi yang dianggap cukup. Semua harus dipastikan. Semua harus diuji.
Retakan Pertama
Hari kedelapan.
Satu anggota tidak kembali. Tidak ada tanda. Tidak ada jejak. Hanya kosong.
Wira langsung berdiri.
“Kita cari.”
Antawarman mengangkat tangan.
“Tidak.”
“Dia orang kita.”
“Dia sudah tahu risikonya sejak awal.”
Wira menatapnya tajam.
“Atau kita yang menjadi pengecut?”
Untuk pertama kalinya, Antawarman menoleh.
Tatapannya dingin.
“Kita melanjutkan tugas. Perang bukan tempat bagi orang yang ingin menyelamatkan semua orang.”
Sunyi merayapi ruangan.
“Jika kau tidak bisa menerima itu,” lanjutnya pelan, “kembali saja ke seberang.”
Wira mengepalkan tangan. Namun ia tidak menjawab.
Bayangan yang Balik Mengawasi
Hari kesepuluh, Wira merasakannya.
Langkah yang terlalu teratur di belakangnya. Tatapan yang terlalu cepat menghilang.Sriwijaya mulai bergerak.
Bukan dengan teriakan.
Bukan dengan penangkapan terbuka.
Tetapi dengan sesuatu yang lebih halus, mereka mulai menghitung balik, menyusun jaring, menebak langkah sebelum ia diambil. Semuanya disusun dengan rapi.
Di Sisi Lain
Di sebuah rumah kayu besar yang menghadap sungai, ayah Ratnaprabha kembali membaca surat bersigel.
Perintah dari pusat.
Dari seorang yang namanya mulai bergaung seperti bayangan kematian, Mahāmantrin Anantapāla.
Isinya singkat, namun berat, segera menghadap, jelaskan perihal tawanan She Po, buktikan kesetiaan mu.
Ia tahu apa artinya semua ini. Permainan yang selama ini berjalan di pelabuhan…
telah naik ke tingkat yang lebih tinggi.
Ia melipat surat itu perlahan.
Lalu mulai bersiap.