BAB 1 Pandangan disumur pagi
Jejaka Naksir Gadis Kampung
Bab 1: Pandangan di Sumur Pagi
Pagi itu kabut masih menggantung tipis di atas sawah ketika Bondan melangkah keluar rumah sambil menenteng ember plastik. Sudah jadi kebiasaannya sejak kecil, mengambil air di sumur umum sebelum matahari benar-benar terbit, sebelum ibu-ibu kampung ramai antre dan gosip pagi dimulai.
Tapi pagi ini berbeda. Di dekat sumur, seorang perempuan sedang berjongkok mencuci pakaian, rambutnya diikat asal-asalan, lengan baju digulung sampai siku. Bondan menghentikan langkah sejenak.
Kartika. Tetangga dua rumah dari tempatnya, anak Pak Marto yang jualan bibit di pasar. Bondan tahu namanya sejak kecil, tapi entah kenapa pagi ini rasanya berbeda memandangnya. Mungkin karena sudah lama ia tidak benar-benar memperhatikan, atau mungkin karena belakangan ini ia mulai sadar, usianya sendiri sudah dua puluh tahun, dan gadis di depannya genap dua puluh lima, belum juga menikah, sering jadi bahan omongan ibu-ibu kampung di warung.
"Loh, Dan. Pagi-pagi udah ke sumur?" Kartika menoleh, tersenyum ringan, tangannya masih sibuk memeras kain.
"I-iya, Mbak Tika. Biasa, keburu panas kalau siang," jawab Bondan, sedikit gelagapan. Ia menaruh embernya di pinggir sumur, berusaha terlihat biasa saja, padahal jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.
"Kamu sekarang udah gede ya. Dulu masih ingusan minta digendong ke sekolah," Kartika terkekeh, mengingat masa kecil mereka.
Bondan tersenyum kikuk. "Mbak Tika juga nggak berubah. Masih rajin kayak dulu."
Ada jeda sebentar. Kartika menimba air, menuangkannya ke ember, lalu menatap Bondan dengan pandangan yang sedikit menggoda. "Kamu ini kenapa akhir-akhir ini suka lewat sini pagi-pagi? Biasanya kan kamu ambil air sore."
Wajah Bondan langsung memerah. Ia tidak menyangka kebiasaannya yang diam-diam diubah demi bisa bertemu Kartika di pagi hari ternyata sudah disadari.
"Nggak... nggak kenapa-kenapa, Mbak. Cuma... pengen aja," jawabnya asal, sambil buru-buru menimba air, berusaha menyembunyikan kegugupannya.
Kartika hanya tersenyum kecil, tidak melanjutkan godaannya. Ia berdiri, mengangkat ember cuciannya yang sudah penuh. "Ya udah, aku duluan ya. Hati-hati, embermu jangan sampai numpah kayak tadi."
Bondan baru sadar sebagian air di embernya memang tumpah karena tangannya sendiri gemetar. Ia hanya bisa mengangguk, menatap punggung Kartika yang berjalan menjauh menyusuri jalan setapak menuju rumahnya.
Malam harinya, Bondan duduk di teras rumah bersama Pak Slamet, tetangganya yang sudah tua, sambil menyeruput kopi.
"Kamu kenapa akhir-akhir ini melamun terus, Dan?" tanya Pak Slamet sambil mengisap rokok kreteknya.
Bondan tergagap. "Nggak apa-apa, Pak. Cuma capek."
Pak Slamet tertawa kecil, matanya menyipit penuh arti. "Capek atau kepikiran anak gadis Pak Marto?"
Bondan tersedak kopinya sendiri. "Pak Slamet ini kok tau?"
"Namanya juga kampung, Le. Apa-apa cepat ketahuan," Pak Slamet menepuk pundak Bondan. "Tapi kamu harus hati-hati. Tika itu anaknya baik, cuma... umurnya lebih tua darimu. Orang kampung suka usil kalau ada yang beda umur begitu."
Bondan terdiam. Ia sendiri sebenarnya belum berani berpikir jauh, tapi mendengar nama Kartika disebut membuat dadanya terasa hangat sekaligus berat. Ia tahu risiko jadi omongan, tapi entah kenapa, setiap kali membayangkan senyum Kartika di dekat sumur pagi tadi, semua kekhawatiran itu terasa kecil.
"Saya cuma... kagum aja sama Mbak Tika, Pak. Belum tentu juga dia mau lihat saya," gumam Bondan pelan, menunduk menatap gelas kopinya.
Pak Slamet menepuk pundaknya lagi, kali ini lebih hangat. "Kalau memang niatnya baik, jangan takut, Le. Yang penting kamu tunjukkan lewat sikap, bukan cuma diam-diam mencuri pandang di sumur."
Kata-kata itu terngiang di kepala Bondan sepanjang malam. Ia menatap langit yang penuh bintang, mencoba meyakinkan dirinya sendiri, bahwa besok pagi, ia akan mencoba lebih berani dari sekadar mengambil air.
Catatan penulis: Bab ini membuka kisah Bondan, pemuda kampung berusia dua puluh tahun yang mulai menaruh hati pada Kartika, tetangganya yang lebih tua lima tahun. Bab selanjutnya akan mengembangkan interaksi mereka lebih jauh, termasuk tantangan dari omongan tetangga dan keraguan Bondan sendiri untuk menyatakan perasaannya.