“Tidak tahu,” ujarnya sembari menggelengkan kepalanya. “Si penguntit itu melaporkan tindakanmu itu pada Prama, bersiaplah untuk mengulang kejadian kemarin.” Ardhan menepuk dahinya, ia tidak menyangka jika akan seperti ini jadinya. “Lalu aku harus bagaimana, Kek? Haruskah aku mengatakan tujuanku memotret mbak Kinanthi tadi? Haruskah aku menyeret ayah dan ibuku?” “Persiapkan dirimu, berpikir cepat dan tepat.” Ardhan mengacak rambutnya frustasi, ia benar-benar bingung menghadapi Prama besok hari. Kakek hanya bisa tersenyum melihat pria itu kebingungan. “Kek, bagaimana ini?” “Tidak ada jalan lain, kamu harus hadapi orang itu.” Usai mengatakan hal tersebut, sosok Kakek menghilang entah ke mana. Kini tinggal Ardhan sendiri di kamarnya, ia berpikir cara menjawab pertanyaan Prama besok pagi.

