Sinar matahari pagi menyibak kabut terakhir dari malam yang penuh tanda tanya. Di depan rumah tua milik keluarga Wiratama, Raka berdiri diam memandang desa dari kejauhan. Tangan kanannya memegang erat liontin kayu pemberian ibunya—satu-satunya peninggalan masa kecil sebelum semua berubah.
Di belakangnya, Kael berdiri seperti bayangan yang setia. Tidak bergerak, tidak bersuara. Tapi siap bertarung kapan pun dunia kembali menantang.
"Kael," ucap Raka tanpa menoleh, "Menara Warisan itu... apakah nyata?"
Kael menjawab dengan suara dalam, tenang. "Ya. Tapi ia bukan hanya menara. Ia adalah pintu. Jika terbuka… maka semua darah yang membawa warisan akan diuji. Dan yang gagal… akan hilang dari sejarah."
"Termasuk aku?"
"Termasuk kau."
---
Di sisi lain dunia, dalam kuil tua tersembunyi oleh hutan purba, Aluna sedang membaca fragmen naskah peninggalan leluhur. Kata-katanya dalam bahasa kuno, tapi jiwanya meresapi setiap maknanya.
> "Warisan darah bukanlah kekuatan. Ia adalah pengingat. Tentang rasa sakit. Tentang tanggung jawab."
Gadis itu menutup mata. Lambang di dadanya menyala samar. Ia telah bersiap, bahkan sebelum dipanggil.
"Kak Raka... aku akan segera menyusulmu."
---
Di aula dalam Kota Utama, Bima duduk bersama para bangsawan pengikutnya. Di tengah ruangan, sebuah peta kuno terbentang—penuh goresan simbol dan segel.
"Menara akan bangkit di tempat darah tertua ditumpahkan," ujar Bima. "Kita harus lebih dulu sampai ke sana... atau semua pengaruh kita akan hancur."
Seorang wanita berjubah biru—salah satu penyihir kerajaan—menyela, "Dan bagaimana jika Raka sampai lebih dulu?"
Bima tersenyum tipis. "Maka kita kirim sesuatu yang tidak bisa dia abaikan."
---
Sore harinya, Kael memandangi langit dari tepi sawah. Ia bisa merasakan getaran di udara. Aura yang tidak biasa.
"Raka, ada yang datang. Tapi bukan dari tanah ini."
Raka sudah siap. "Kita sambut mereka."
Dari arah utara, kabut mendadak menggulung. Lima sosok berjubah muncul perlahan, seolah berjalan dari celah antara dunia. Di tangan mereka, masing-masing membawa senjata pusaka dari zaman lama.
"Kami adalah Lima Penjaga Gerbang Menara. Kami datang bukan untuk perang... tapi untuk memperingatkan."
Raka maju satu langkah. "Peringatan apa?"
Salah satu dari mereka membuka tudungnya. Seorang pria tua, dengan mata perak dan luka membelah wajah.
"Menara tidak akan membuka bagi mereka yang hanya ingin berkuasa. Tapi juga tidak akan menunggu mereka yang terlalu lambat. Kau, Raka Wiratama, dipanggil. Dalam tujuh hari, kau harus berada di Kaki Menara. Atau warisanmu... akan dianggap gugur."
"Dan jika aku datang?"
"Maka bersiaplah. Sebab ujianmu... bukan sekadar bertahan hidup. Tapi mempertahankan siapa dirimu di tengah darah, pengkhianatan, dan pilihan yang tak bisa ditarik kembali."
---
Malam itu, Raka duduk sendiri di beranda.
"Aku cuma anak desa. Tapi sekarang, semua orang memperhatikanku seperti aku raja."
Kael menjawab lembut, "Mereka tak melihatmu sebagai raja. Mereka melihatmu sebagai ancaman. Dan itu lebih berbahaya."
Raka tertawa kecil, lalu menatap langit. Jauh di balik bintang, ia merasa ada sesuatu yang terus mengawasinya.
"Baiklah, Menara. Tujuh hari. Aku akan datang."
Tapi di bawah rumah itu, sesuatu mulai berdenyut. Lambat. Dalam. Seolah darah warisan yang lama tertidur… akhirnya menyadari bahwa pemilik sejatinya telah bangkit.
> [Protokol Warisan Level 2: Terkunci. Kunci hanya muncul saat pengorbanan dilakukan.]
Cerita belum selesai. Justru baru dimulai. Sebab dalam darah yang diwariskan… tersimpan rahasia yang bahkan pemiliknya belum tahu.
---