Pagi belum sepenuhnya datang. Asap tipis dari rumah-rumah desa masih membumbung, dan aroma tanah lembab setelah angin malam menyelimuti udara. Namun desa tak lagi tenang. Pasukan Kaum Ospurpurra yang dipanggil semalam masih berdiri berjaga. Tidak bersuara, tidak bergerak, tapi kehadiran mereka menekan seperti bayangan perang yang belum usai.
Raka berdiri di tengah halaman. Sisa-sisa aura pertarungan masih terasa. Bima dan para penjaganya telah kabur semalam, membawa kekalahan dan dendam pulang ke Kota Utama. Tapi bukan kemenangan yang Raka pikirkan sekarang—melainkan konsekuensinya.
> {Protokol Pembersihan Aktif: Kaum Ospurpurra akan kembali ke Segel Darah.} {Total: 9.999 unit akan disegel kembali dalam 30 detik.}
Satu per satu, para prajurit dari suku legendaris itu mulai lenyap dalam bayangan, tubuh mereka menyatu kembali dengan darah dan sistem. Tanpa suara. Tanpa keluhan. Mereka kembali… seolah tak pernah ada.
Kecuali satu orang.
Raka mengerutkan dahi ketika sosok tinggi bersenjata tombak berhenti di depannya. Matanya tak lagi merah menyala seperti yang lain. Mereka teduh. Dalam. Seolah memiliki rasa… dan kesadaran berbeda.
> {Satu unit Kaum Ospurpurra telah menolak penyegelan. Alasan: Misi Penjaga Pribadi. Nama: Kael.}
Raka menatapnya. “Kau… tak kembali bersama mereka?”
Kael menjatuhkan lutut di hadapannya. “Aku Kael, roh penjaga dari garis penjaga terdalam Ospurpurra. Aku telah memilih untuk tidak kembali… demi tugas dan hati nuraniku.”
> {Peringatan Sistem: Keputusan ini bersifat final. Kael akan menjadi entitas permanen di dunia nyata, terikat pada tubuh dan kehendak tuan rumah.}
Raka perlahan mengangguk. Ia merasa aneh… tapi tidak takut. Keberadaan Kael seperti bagian yang hilang dalam dirinya. Seolah seseorang memang harus selalu berada di sisinya… sejak awal.
“Mulai sekarang… kita bertarung bersama,” ujar Raka.
Kael hanya mengangguk. “Dan aku akan menyembuhkan setiap luka sebelum kau sempat menyadarinya.”
---
Di malam yang sama, jauh dari desa…
Dalam ruang gelap tak bernama, sebuah simbol kuno menyala di udara. Seseorang bertudung hitam membaca mantra dari kitab yang tertulis dengan darah.
> {Pelanggaran Terpantau} {Aktivasi Sistem Kepala Keluarga terdeteksi} {Pengawasan akan dikirim. Jika informasi bocor, aktivasi Protokol Pemburuan berlaku otomatis.}
Sosok bertudung itu menutup kitab. Di balik kerudungnya, tak ada wajah. Hanya suara yang merambat dingin.
“Raka Wiratama… kau telah dipilih. Tapi ingat… sistem bukan anugerah. Ia ujian.”
---
Keesokan paginya, Raka berdiri di tepi sungai desa, Kael di belakangnya, senyap.
“Apakah aku… benar-benar siap untuk ini?” gumamnya.
Kael menjawab tenang, “Yang siap, bukan mereka yang yakin akan menang. Tapi mereka yang tahu… tak boleh kalah.”
Angin bertiup. Pepohonan bergoyang pelan. Cahaya pagi menyibak kabut pelan-pelan. Tapi Raka tahu — kedamaian ini hanyalah tenang sebelum gelombang besar.
> Langit boleh tenang, tapi badai mulai menunggu di balik bayangan. Sampai jumpa hari Selasa. Cerita ini… baru saja memanggil takdirnya sendiri.