Fajar belum juga menyentuh langit, namun Raka telah duduk bersila di pelataran rumah. Nafasnya stabil, tubuhnya menyerap energi roh dengan lebih mudah dari hari sebelumnya. Sistem yang ia pikir hanya akan muncul saat krisis, kini rutin membimbingnya setiap pagi.
Ding!
> [Login Harian Hari ke-4 Berhasil] Hadiah: "Panggilan Darah — 10.000 Kaum Ospurpurra"
Raka membuka mata. Cahaya merah darah menyala di udara, membentuk simbol lingkaran aneh yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
> {Kaum Ospurpurra telah dikunci selama ribuan tahun. Pemanggilan massal ini hanya dapat dilakukan oleh tuan rumah sistem dengan nilai tekad dan keberanian di atas ambang batas.} {Pasukan siap ditempatkan, tetapi hanya bisa dipanggil dalam situasi ekstrim. Perintah darurat berlaku satu kali.}
"Sepuluh ribu…?" Raka nyaris tak percaya. Ini bukan sekadar hadiah. Ini… kepercayaan.
> {Kaum Ospurpurra adalah kaum kuno yang hidup dalam pengasingan roh. Mereka memiliki perasaan, kehormatan, dan ikatan batin terhadap pemanggil yang layak. Mereka tidak tunduk pada sembarang tuan, hanya pada mereka yang dihormati oleh hati mereka.} {Catatan Sistem: Keberadaan sistem harus dirahasiakan. Hanya entitas yang dipanggil melalui sistem yang diperbolehkan mengetahui eksistensinya. Penyebaran informasi sistem kepada pihak luar akan dianggap sebagai pelanggaran tingkat tinggi.}
Raka mengepalkan tinju. Belum sempat ia mencerna makna pemberian itu, suara derap kuda terdengar dari arah jalan desa.
“RAKA WIRATAMA! KELUARLAH!”
Suara berat itu menggema, disertai tawa sinis yang terdengar sangat akrab.
Raka melangkah keluar. Di tengah jalan, berdiri seorang pria berpakaian bangsawan kelam, dengan dua penjaga bertubuh besar di belakangnya. Sorot matanya tajam. Bibirnya menyunggingkan senyum merendahkan.
“Tak kusangka, anak dari cabang utama malah mengemis hidup di desa ini,” katanya.
Raka menyipitkan mata. “Kau… Bima Wiratama.”
Bima tertawa. “Kau masih ingat. Bagus. Sepupumu ini datang membawa kabar dari Kota Utama. Kakek kita, mantan kepala klan… meninggal dua hari lalu.”
Raka terdiam. Ia memang terbuang dari cabang utama sejak kecil, tapi ia tak pernah mengira—
“Kakek meninggalkan warisan besar. Tapi tampaknya ada sesuatu yang tidak bisa kami sentuh… dan kami mendengar kau menyimpan rahasia.”
Raka merasakan hawa tekanan meningkat. Aura Bima perlahan naik.
> [Ancaman Emosional Teridentifikasi] [Hubungan Darah Dikenali — Sepupu Pertama]
“Karena itu,” lanjut Bima, “aku diutus untuk mengambil kembali apa yang seharusnya milik keluarga utama. Entah itu warisan, kekuatan, atau teknik apapun yang kau simpan. Serahkan, atau akan kuambil dengan paksa.”
Ling Bai muncul dari sisi rumah. “Berani juga kau mengancam seorang pemuda di wilayahku.”
Bima menatap Ling Bai. “Dan kau… kultivator pemanggilan ya? Tidak masalah. Aku bawa juru segel khusus.”
Salah satu penjaganya membuka jubah—mengungkap simbol penyegel energi di dadanya.
> {Sistem Mengaktifkan Protokol Darurat.} {Apakah Anda ingin memanggil 10.000 Kaum Ospurpurra? Y/N}
Raka menatap Bima. Sepupunya itu memang selalu memandang rendah keluarga cabang. Bahkan saat kecil, Bima pernah mencambuk Raka hanya karena memakai seragam latihan yang sama.
Kini… dunia telah berubah.
“YA.”
Langit mendadak gelap.
Dari balik bayangan dan celah udara, sosok-sosok tinggi kurus dengan kulit keperakan dan mata merah menyala mulai muncul satu per satu. Tubuh mereka ditutupi zirah hitam pekat, namun sorot mata mereka tenang dan bijak. Dalam sekejap, halaman desa dipenuhi prajurit-prajurit yang berdiri tegak, bukan seperti patung… tapi seperti penjaga setia.
10.000 pasang mata menatap Raka, bukan dengan kekosongan… tapi dengan pengakuan.
> {Panggilan Darah: Kaum Ospurpurra Telah Diaktifkan} {Perintah Pertama Ditunggu...} {Catatan Sistem: Kaum Ospurpurra terikat oleh sumpah roh untuk menjaga rahasia sistem. Mereka tidak dapat berbicara tentang sistem kepada makhluk lain di luar pemanggilan. Pelanggaran akan memicu penghancuran jiwa.}
Raka mengangkat tangan. “Lindungi desa. Hancurkan semua yang mencoba menyentuh rumah ini.”
Dalam satu detik, 500 Ospurpurra melompat ke depan, membentuk formasi pagar tubuh. Sisanya menyebar diam di atap rumah, pagar desa, dan sudut-sudut jalan. Gerakan mereka teratur, penuh kehormatan, seolah setiap langkah mereka adalah sumpah perlindungan.
Bima mundur setengah langkah.
“Mustahil… ini kekuatan… warisan rahasia?”
Ling Bai tersenyum. “Bukan urusanmu. Dan kalau kau tahu apa yang terbaik, sebaiknya pulang dan jangan kembali.”
> [Misi Terpicu: Pertahankan Rahasia dan Wilayahmu — Hadiah Langka Jika Menang Tanpa Korban Sipil]
Raka menatap sepupunya. “Kau bilang aku pengemis? Maka hari ini, kau akan merasakan bagaimana rasanya ditatap oleh mereka yang rela mati... bukan karena perintah, tapi karena kehendak hati. Dan mereka… tidak akan membocorkan apapun, bahkan saat dunia menuntut.”