BAB 3 — Hari Baru, Hadiah Baru

905 Words
Udara pagi di Desa Awan Luruh menyimpan ketenangan semu, seperti genangan air sebelum badai tiba. Namun di rumah tua yang kini jadi pusat perhatian seluruh desa, seorang pemuda duduk bersila dengan wajah tenang dan nafas teratur. Raka Wiratama—pemuda yang seminggu lalu hanyalah petani miskin, kini menjadi pusat keanehan, kekuatan, dan harapan yang belum pernah disaksikan di desa kecil itu. Tubuhnya dikelilingi semburat tipis energi alam. Ia sedang mengulangi teknik Nafas Langit Pertama, menyerap energi roh dari lingkungan sekitar dan menyalurkannya ke dantiannya. Peluh mengalir, tapi senyum puas menyelinap di sudut bibirnya. > [Kultivasi Hari ke-3 Berhasil.] [Kekuatan Dasar Meningkat +3.] [Energi Tubuh Distabilkan.] Tiba-tiba... Ding! > {Sistem Mengaktifkan Fitur Baru: Login Harian} {Mulai hari ini, tuan rumah akan menerima 1 hadiah setiap hari saat melakukan kultivasi pagi.} > [Login Hari Pertama: Anda mendapatkan “Paket Pemula Roh”] Isi: 5 Pil Energi Ringan, 1 Pil Pemulih Luka, 500 Batu Roh Raka membelalak. "Login harian? Jadi sistem ini seperti... memberikan hadiah setiap aku terus bertahan?" > {Benar. Semakin konsisten, semakin baik hadiahnya. Tuan rumah yang rajin... akan dijadikan prioritas sistem.} Ia membuka "Paket Pemula Roh", dan seketika muncul cahaya putih di tangannya. Lima pil bundar transparan, satu pil merah darah, dan tumpukan kecil batu roh menyebar dalam kotak cahaya. "Ini… luar biasa." Dari kejauhan, suara langkah kaki cepat terdengar. “RAKA! RAKA!!” teriak adiknya, Lina Wiratama, gadis dua belas tahun dengan mata bulat dan wajah polos. “Kak, kamu harus lihat ini! Penduduk desa... mereka semua ngumpul di depan rumah!” Raka berdiri. “Ada apa?” Lina menarik tangannya. “Mereka… ingin bertemu sama kakak. Mereka bilang, kakak penyelamat desa!” --- Beberapa saat kemudian, Raka berdiri di depan rumahnya, dikelilingi puluhan warga desa. Para tetua membawa persembahan sederhana—beras, sayuran, bahkan sepasang ayam. Seorang tetua kurus dengan jenggot putih maju ke depan. Namanya Pak Gerim, orang tertua di desa. “Raka… selama bertahun-tahun, kami hidup dalam ketakutan. Klan Gunung Hitam menindas, memeras, bahkan membunuh. Tapi kau… kau melawan mereka dan menang. Tidak dengan pasukan, tapi dengan keberanian.” Raka nyaris tak tahu harus berkata apa. Ia bukan pahlawan. Ia hanya... tidak ingin kehilangan satu-satunya warisan keluarga. Namun tetua itu menekuk lutut. Diikuti oleh semua warga desa. “Kami mengangkatmu sebagai pelindung desa ini. Bukan karena kekuatanmu, tapi karena hatimu.” Raka menggertakkan rahang. Hatinya bergetar. Ia menatap langit—dan tahu, keputusan sudah dibuat. --- Beberapa hari berlalu. Raka mengatur ulang rumahnya. Membuat ruang latihan sederhana. Mengajari Lina dan adiknya yang bungsu, Janu, cara dasar membaca teknik kultivasi. Ling Bai sesekali membantu, tapi lebih sering duduk di atap sambil bermeditasi, atau… tidur. Namun pagi itu, saat Raka bangun, sistem berbunyi lagi. Ding! > [Login Harian Hari ke-2] Hadiah: “Peta Mini Area Terlarang (Wilayah Sekitar Desa)” Peta bercahaya muncul di udara, memperlihatkan wilayah seluas 10 km dari rumah Raka. Ada titik merah kecil di bagian utara, di dekat tebing hutan. > {Lokasi Bahaya Teridentifikasi: Gua Kelabu — Sarang Binatang Roh Tingkat Rendah} > [Misi Baru Tersedia: “Eksplorasi Gua Kelabu”] Tujuan: Investigasi sumber energi di dalam gua Ganjaran: Hadiah acak + 1 Skill Unik Raka membaca keterangan sistem, lalu menggenggam pedangnya. “Sepertinya sudah waktunya melangkah lebih jauh.” Ling Bai, yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya, tertawa kecil. “Akhirnya kau bosan di rumah juga?” --- Di Dalam Hutan Langkah Raka cepat tapi hati-hati. Ia berjalan bersama Ling Bai yang dengan santai menguap sambil bersiul. Peta sistem menuntun mereka ke sebuah celah batu yang tersembunyi di balik semak belukar. Raka menyibak dedaunan dan menemukan sebuah pintu batu yang separuh tertimbun. > [Pintu Gua Ditemukan.] [Menggunakan Peta Mini untuk membuka akses…] Gemeretak terdengar. Batu-batu bergeser, membuka jalan masuk. Di dalamnya, udara dingin menggigit. Bau tanah basah dan aura tekanan spiritual memenuhi ruang. > [Deteksi: Ada 3 Binatang Roh Tingkat Rendah.] [Kemampuan Bertarung Disarankan: Menengah.] Raka mencabut pedangnya. “Aku akan mencoba sendiri. Kau… jaga jarak dan awasi.” Ling Bai mengangkat alis, tapi tak menolak. “Baik. Tapi kalau kau hampir mati… aku akan tertawa dulu sebelum menolong.” --- Pertarungan dimulai. Tiga sosok menyerupai serigala bayangan muncul dari sudut gua. Mata mereka menyala merah. Tubuh mereka seperti kabut, tapi bergerak secepat kilat. Raka mengatur napas. Ia sudah berlatih, dan kini saatnya membuktikan hasilnya. Swip! Pedangnya menebas ke depan, menghantam bayangan pertama. Luka kecil terbuka, dan saat darah keluar— > [Skill “Sentuhan Darah” Aktif] [Menyerap Energi: +15] Tubuh Raka terasa lebih ringan. Ia menari, menghindar, menebas. Satu demi satu serangan lawan dibalas dengan tebasan terarah. Luka demi luka menyembuhkan kelelahan tubuhnya sendiri. Setelah lima menit sengit, tiga serigala bayangan roboh dan lenyap menjadi asap gelap. > [Misi: “Eksplorasi Gua Kelabu” — Berhasil] [Ganjaran: 1 Skill Acak — Mendapatkan “Tombak Bayangan”] [Tambahan: Batu Inti Binatang Roh x3, Kristal Gelap x1] Raka jatuh terduduk. Tubuhnya lelah, tapi semangatnya membara. Ling Bai masuk, bertepuk tangan. “Bagus. Kau bisa bertarung sendiri sekarang. Tapi jangan besar kepala—itu baru level dasar.” --- Malam itu, Raka kembali ke rumah dengan punggung sakit dan kantong penuh hadiah. Tapi hatinya ringan. Sistem kembali berbunyi saat ia mulai latihan malam. Ding! > {Peringatan: Ada energi asing mendekati desa.} {Dugaan: Mata-mata dari Klan Gunung Hitam.} > [Misi Darurat: Tangkap atau Lenyapkan Mata-Mata] [Waktu Tersisa: 6 Jam] [Hadiah: Hadiah Misterius Langka] Raka berdiri dan menggenggam pedangnya. “Sepertinya hari ini belum selesai…”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD