BAB 2 — Warisan dari Sumur Terkunci

1077 Words
Cahaya fajar merayap perlahan di sela-sela pegunungan, menyapu desa yang semalam berguncang oleh kekuatan yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Raka berdiri di depan sumur tua di belakang rumahnya. Sumur yang selama ini dianggap mati, dipenuhi bebatuan dan puing-puing. Tapi kini, ia menatapnya dengan pandangan baru—sebuah petunjuk langsung dari sistem. > [Hadiah Kejutan Terbuka: “Kotak Warisan Leluhur Raka” ditemukan di bawah sumur lama.] “Apa benar... ada sesuatu di bawah sana?” gumamnya. “Tidak perlu ragu,” suara Ling Bai terdengar dari atas pohon. Ia tengah duduk santai di dahan tertinggi, seolah dunia tak punya cukup masalah untuk dikhawatirkan. “Jika sistem berkata ada, maka pasti ada. Pertanyaannya... apakah kau cukup kuat untuk mengambilnya?” Raka mengepalkan tinjunya. Semalam telah mengubah hidupnya. Ia tak lagi lelaki lemah yang hanya tahu bertahan. Tapi perubahan sejati... hanya akan datang jika ia sendiri yang bergerak. Tanpa berkata-kata lagi, Raka melepas bajunya dan melompat ke dalam sumur. Dinginnya air menyambutnya, disertai kegelapan yang menggigit. Ia meraba dinding batu, mencari apapun yang bisa membuka jalan. Beberapa meter di bawah, tangannya menyentuh sesuatu—sebuah cekungan aneh. Ia menekan dengan hati-hati. KRAK! Batu bergeser. Sebuah rongga terbuka ke samping. Raka menarik napas dan menyelam masuk. Di dalamnya, cahaya biru samar menyinari ruangan kecil selebar tiga meter. Di tengahnya berdiri sebuah peti kayu tua, diukir dengan lambang keluarga Wiratama: matahari yang dibelah pedang. > [Verifikasi Darah Tuan Rumah Diperlukan.] Raka menusuk jarinya. Setetes darah jatuh ke permukaan peti. > [Verifikasi Berhasil. Membuka Kotak Warisan...] Peti itu terbuka dengan desis halus. Di dalamnya, Raka menemukan tiga benda: Sebilah pedang hitam pendek, ringan namun terasa tajam hingga menusuk jiwa. Sebuah gulungan kuno berwarna merah bata. Dan sebuah liontin perak dengan ukiran kuno berbentuk mata. > [Item Diperoleh: “Pedang Warisan Klan Wiratama (Kelas C)”] [Item Diperoleh: “Gulungan Teknik Nafas Langit Pertama — Level Dasar”] [Item Diperoleh: “Liontin Mata Penilai (Aktif 1x sehari)”] Raka nyaris tak percaya. Benda-benda ini… adalah peninggalan leluhurnya? Kenapa selama ini tersembunyi? Kenapa baru sekarang muncul? > {Sistem memberi jalan, tetapi tak pernah memaksa. Siapa yang berani menggali, akan menemukan kekayaan tak terbayangkan.} Suara sistem kembali muncul, seolah membaca isi hatinya. Setelah memastikan semua aman, ia kembali ke permukaan. --- Beberapa jam kemudian… Ling Bai menatap pedang di tangan Raka dengan ekspresi datar. “Itu hanya pedang kelas C. Tapi untukmu yang baru belajar, cukup.” Raka mengangguk. “Bagaimana aku memulai pelatihan?” Ling Bai menghela napas. “Kau ingin cepat kuat? Maka kau harus membayar dengan darah, keringat, dan rasa sakit. Sistem bisa memberimu alat, tapi jalan menuju kekuatan... tetap harus kau tempuh sendiri.” Ia melempar gulungan pelatihan ke arah Raka. “Mulailah dengan teknik ini. Nafas Langit Pertama—teknik dasar bagi siapa pun yang ingin memasuki ranah kultivasi. Kuasai itu, dan kau akan bisa menyerap energi roh dari alam.” Raka duduk bersila, membuka gulungan, dan mulai membaca. Kalimat demi kalimat, teknik demi teknik—awalnya seperti membaca bahasa asing. Tapi semakin lama ia membaca, semakin dalam pula pemahamannya. Entah karena sistem, atau karena darah Wiratama yang mengalir dalam dirinya… tapi tubuhnya mulai merespons. Ia mengatur napas. Mengikuti pola. Tarik… tahan… hembus… pusatkan pada dantian… Udara di sekitarnya bergetar. Partikel-partikel roh mulai mengalir pelan ke dalam tubuhnya. Tubuh Raka mengejang. Panas. Sakit. Tapi juga… hidup. > [Kultivasi Dimulai.] [Kemajuan: 3%... 12%... 23%...] Setelah satu jam, Raka membuka mata. Peluh mengalir di dahinya, tapi matanya lebih tajam dari sebelumnya. “Aku bisa merasakannya,” bisiknya. “Tenaga… yang nyata.” Ling Bai tersenyum tipis. “Baru permulaan. Tapi kau punya potensi.” --- Hari itu berlalu dengan latihan. Namun malamnya… desa kembali diguncang. Tiga orang asing muncul di gerbang desa. Mereka mengenakan jubah ungu gelap dengan lambang naga patah di d**a. Seorang tetua desa yang menyapa mereka langsung dipukul hingga pingsan. “Kami mencari anak bernama Raka Wiratama,” ujar salah satu dari mereka, bersuara berat. “Klan Gunung Hitam menyewa kami untuk... menuntaskan urusan yang tertunda.” Kabar cepat menyebar. Raka yang sedang berlatih di pekarangan rumah langsung siaga. > [Deteksi Ancaman Tingkat Menengah.] [Rekomendasi: Aktifkan Pil Peledak Energi untuk memperkuat tubuh sementara.] > [Gunakan sekarang? Y/N] Raka menatap langit. Matanya menyala dengan tekad. “YA.” Ia mengambil pil dari jendela sistem. Warnanya merah menyala seperti bara. Begitu ditelan, panas membakar dari dalam. Tubuhnya bergemuruh, ototnya mengencang, penglihatannya tajam seperti elang. > [Kekuatan Fisik +200% selama 30 menit] [Efek Samping: Tubuh lemas selama 1 jam setelah efek berakhir] Raka mencabut pedangnya. “Aku akan melindungi keluarga ini... dengan tanganku sendiri.” Ling Bai berdiri di sampingnya. “Bagus. Aku akan menahan satu dari mereka. Sisanya, serahkan pada sistem dan tekadmu.” --- Pertarungan pun meledak. Tiga musuh dengan kekuatan setara pendekar menengah menghadapi dua orang—Raka yang baru saja mendapat sistem, dan Ling Bai yang belum menggunakan kekuatan penuhnya. Ling Bai langsung mengurung lawan pertama dalam lingkaran ilusi, membiarkannya meracau di tengah bayangan-bayangan api. Dua lainnya mengepung Raka. Pedang terhunus. Serangan beruntun. Tapi tubuh Raka kini bergerak dengan kecepatan yang tak pernah ia miliki. Pedangnya menangkis, menusuk, memutar. Ia menari dalam hujan serangan. Satu serangan lolos—pedang lawan menggores pundaknya. Tapi bukan luka yang membuat Raka berteriak. Itu... membangunkannya. “AKU BUKAN ANAK LEMAH LAGI!” teriaknya. Dengan teriakan itu, ia mengayunkan pedangnya ke bawah—dan memotong tangan musuhnya. Musuh kedua menyerang dari samping. Raka memutar tubuh dan menendang keras ke arah d**a. BRUGH! Tubuh musuh terlempar menabrak pohon. Satu lawan lagi muncul dari bayangan, mencoba menusuk dari belakang. Tapi sebelum bisa menyentuh Raka—Ling Bai sudah muncul di depannya, satu telapak tangan menghantam wajah lawan. “Tak tahu malu,” bisiknya. Musuh itu terlempar sepuluh meter dan tak bangun lagi. --- > [Ancaman Netralisasi.] [XP Bertambah: +2.100] [Level Pemula 1 ➜ Pemula 2] > [Misi: Lindungi Rumah — Sukses!] [Ganjaran: +1.000 Batu Roh, +1 Skill Slot Terbuka] > [Skill Tersedia untuk Pemilihan: A. Tarian Pedang Angin — Teknik gerakan cepat B. Dinding Roh — Pertahanan Energi C. Sentuhan Darah — Menyerap energi lawan dari luka terbuka] Raka menatap daftar itu. Dunia telah berubah... dan ia tak ingin tertinggal lagi. “Pilih: C. Sentuhan Darah.” > [Skill “Sentuhan Darah” Telah Diperoleh.] Ling Bai berdiri di sampingnya. “Selamat. Kau sekarang… benar-benar memasuki dunia kultivator.” Raka menatap langit malam yang kini terbuka lebar. Ia tahu, semua ini baru awal. Tapi satu hal pasti: ia tak akan pernah mundur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD