Darah merah tua mengalir di ujung belati wanita itu, namun anehnya—tidak menetes. Ia seolah tertahan oleh sesuatu yang lebih kuat dari gravitasi: kutukan. Kutukan dari mereka yang tahu terlalu banyak.
Raka memandangi belati itu dengan tajam.
"Apa kau akan menyerangku?" tanyanya datar.
Wanita itu tersenyum tipis. "Kalau aku ingin membunuhmu, kau sudah menjadi kenangan. Tapi tidak. Aku di sini… untuk membuka mata."
Ia menoleh pada dinding reruntuhan. Dan dengan ujung belati itu, ia menggoreskan satu simbol kuno yang langsung menyala merah darah. Dinding itu bergeser, membuka ruang rahasia.
"Selamat datang… di Ruang Penghapus Warisan."
---
Kael mengangkat senjatanya. "Ruang apa ini?"
Wanita itu melangkah pelan. "Di sinilah semua pewaris 'cacat' dihapus dari sejarah. Sistem tidak sempurna, dan kadang ia melahirkan mereka yang… terlalu kuat. Terlalu bebas. Terlalu tak bisa dikendalikan."
Raka berjalan ke tengah ruangan. Dindingnya dipenuhi cap tangan yang terbakar separuh.
> [Fragmen Memori Tidak Terdaftar: Dipulihkan.]
[Status: Pewaris Non-Arsip Ditemukan.]
"Ini semua... pewaris?" gumamnya.
"Ya. Mereka yang tak masuk dalam catatan. Mereka yang pernah membawa cahaya—dan ditelan gelap."
---
Tiba-tiba, lantai ruangan itu berdenyut. Seperti jantung dunia itu sendiri sedang bereaksi.
> [Anomali Jalur Ketiga Terdeteksi.]
[Sistem akan mengirim Penyeimbang.]
Wanita itu menoleh dengan tajam. "Kita tidak punya banyak waktu. Begitu sistem tahu kamu benar-benar aktifkan Jalur Ketiga, dia akan kirim Arbiter—penjaga yang tak mengenal belas kasihan."
"Berapa waktu yang kita punya?"
"Kurang dari dua jam."
---
Di tempat lain, jauh di dalam inti Sistem, sebuah bilik kosong terbuka.
Dari sana, muncul sosok tanpa wajah, berjubah hitam dengan urat-urat cahaya biru menyelimuti tubuhnya.
> [ARBITER AKTIF]
[Target: Pewaris Anomali Raka Wiratama]
[Protokol Pemurnian: Eliminasi Total Tanpa Sisa]
---
Kembali ke reruntuhan...
"Jadi... Jalur Ketiga bukan kekuatan, tapi…?" tanya Kael.
Wanita itu mengangguk. "Bukan kekuatan. Tapi kesadaran. Kesadaran untuk melawan cerita yang sudah ditulis. Kau akan jadi musuh semua pihak. Termasuk darahmu sendiri."
Raka mengepalkan tangan. "Aku sudah kehilangan segalanya. Aku tak akan kehilangan kebenaran juga."
> [Jalur Ketiga: Sinkronisasi Tahap Dua Dimulai.]
[Status: Tubuh dan Pikiran Memasuki Mode Ganda.]
---
Saat langit di luar berubah warna menjadi ungu kelam, tanda bahwa Arbiter mulai mendekat, wanita itu mengeluarkan kristal kecil dari balik jubahnya.
"Ini... sisa ingatan dari Pewaris Pertama Jalur Ketiga. Gunakan ini untuk tahu siapa musuhmu… dan siapa dirimu yang sebenarnya."
Kristal itu menyatu di d**a Raka.
Dan tiba-tiba...
Ia melihat masa lalu yang bukan miliknya.
Pohon-pohon terbakar. Anak-anak menangis. Dan di tengah api—seseorang berdiri memegang simbol Jalur Ketiga… dengan wajah yang sama persis seperti dirinya.
---
> [Memori Sinkron: Sukses]
[Raka = Reinkarnasi Pewaris Pertama. Identitas Awal: Direset.]
[Konflik Utama: Sistem vs Jalur Ketiga Akan Dimulai.]
Kael terdiam. Wanita itu pun membisu.
"Jadi... aku bukan hanya pewaris ganda."
Raka membuka matanya yang kini memancarkan dua warna—merah darah dan ungu cahaya.
"Aku adalah pengulang sejarah yang tak boleh diulang."
---
Dan dari atas langit, Arbiter jatuh bagai meteor.
Tanah bergetar. Dunia mendesis.