Angin memutar dari arah barat. Langit merobek perlahan. Dan dari sana, Arbiter turun—bukan jatuh, bukan terbang, tapi seperti diseret langsung oleh hukum tertua yang diciptakan oleh sistem itu sendiri.
Raka berdiri diam. Mata merah-ungu itu memantulkan cahaya kehancuran. Ia tahu... apa pun yang ia lakukan sekarang akan memulai sesuatu yang tak bisa dihentikan lagi.
> [ARBITER DITERJUNKAN]
[Status: Eksekusi Tanpa Dialog. Jalur Ketiga Adalah Anomali Utama.]
Sosok itu mendarat. Tanpa wajah. Tanpa suara. Tapi langkahnya... mengandung niat untuk menghapus seluruh eksistensi Raka.
---
Kael langsung di depan. "Kau tidak akan menyentuh dia sebelum lewat dariku."
Arbiter mengangkat tangannya. Udara membeku. Kael terpental puluhan meter, menabrak dinding reruntuhan dan tak bergerak.
"KAEL!!" Raka berteriak, hendak mendekat.
Tapi Arbiter sudah di hadapannya. Jubahnya bergoyang tanpa angin, dan dari balik lengannya—keluar tombak energi murni, terbuat dari ingatan-ingatan sistem yang dipadatkan.
"Jika kau benar Jalur Ketiga," ucap suara mekanik dari dalam Arbiter, "buktikan bahwa kamu pantas menghapus sejarah yang ditulis oleh darah."
---
Raka menutup matanya sejenak. Dan dari jantungnya, kekuatan itu muncul.
> [Mode Sinkronisasi Jalur Ketiga: Tahap Dua - AKTIF]
[Kekuatan: Memutar realitas melalui keputusan emosional.]
[Keterbatasan: Setiap penggunaan akan menghapus satu kenangan.]
Raka tahu risikonya.
Tapi ia tak peduli.
---
Pertarungan terjadi bukan di satu tempat—melainkan di seluruh tempat yang pernah menyimpan kenangan Raka. Runtuhan masa kecil, hutan tempat ibunya mengajarkan doa pertama, dan bahkan tempat ia hampir mati saat pertama kali menerima sistem.
Setiap ayunan Arbiter bukan sekadar serangan, tapi seruan kehancuran.
Setiap serangan Raka, bukan untuk menang—tapi untuk mempertahankan pilihan yang tak pernah diizinkan ada.
---
Dalam satu momen, Arbiter menusukkan tombaknya ke d**a Raka.
> [Darah Terlukai. Kenangan tentang Adik Hilang.]
Raka terjerembap. Nafasnya berat.
"Aku... lupa siapa namanya," bisiknya.
Tapi kemudian ia bangkit.
"Aku masih ingat mengapa aku memilih Jalur Ketiga."
Ia menggenggam tombak itu. Mencabutnya. Dan dari luka itu... cahaya ungu menyala.
---
Arbiter mundur untuk pertama kalinya. "Kamu... menyatu dengan luka. Bukan menolaknya."
Raka melangkah maju. Setiap langkahnya membuat dunia di sekelilingnya bergetar.
"Aku bukan sistem. Aku bukan pewaris biasa. Aku adalah kesalahan... yang tumbuh menjadi kebenaran."
Ia melompat.
Tubrukkan terakhir menghantam langit.
> [Tabrakan Tidak Terdeteksi. Realitas Retak.]
[Status: Kehilangan Lokasi Subjek Jalur Ketiga dan Arbiter.]
---
Kael tersadar di sela puing. Ia berusaha bangkit, tubuhnya gemetar.
"Raka...?"
Namun yang ia lihat hanya tanah yang terbelah. Seolah dunia itu sendiri tidak bisa memutuskan: siapa yang harus tetap ada, dan siapa yang harus dilenyapkan.
Langit kembali tenang. Tapi...
Di bawah reruntuhan altar itu—tangan muncul dari kegelapan.
Tapi bukan tangan Raka.
> [Fragmen Baru Terbangun.]
[Identitas: Tidak Dikenal.]
[Tujuan: Tidak Terprogram.]
Dan dari dalam bayangan, sepasang mata terbuka.
Mata itu bukan mata sistem. Bukan juga milik manusia.
Itu... sesuatu yang lebih tua. Sesuatu yang selama ini tidur di bawah jalur darah.
---