Idola Sekolah

2487 Words
Setelah Gadis sudah kembali pulih, mereka memutuskan untuk kembali ke kelas mereka dan mengikuti kegiatan MOS yang sempat tertunda. "Gadis, kamu benar-benar sudah sehat Kan?" tanya Marcell dengan penuh perhatian, ia hanya ingin memastikan jika kondisi Gadis sudah kembali sehat. "Udah kok Kak," balas Gadis sambil menurunkan kakinya, dan dengan sigap Marcell segera membantu Gadis. Teman-teman Gadis hanya diam di sudut ruangan melihat keromantisan teman dan kakak kelasnya itu, tapi mereka juga masih agak takut dengan Gadis. Mereka takut jika yang ada didepan mereka itu bukan Gadis asli, tapi makhluk halus yang merasuki tubuh Gadis.. "Kalian kenapa diem aja?" tanya Gadis kepada teman-temannya yang hanya diam mematung sambil memandang kearahnya. "Gadis ini beneran kamu kan?" tanya Dita dengan ekspresi wajah takut. "Lah emang siapa kalo bukan aku Ta, kamu ini lucu deh" balas Gadis lembut sambil tersenyum. "Syukurlah Dis kalo ini emang beneran kamu, kami ikut lega," ucap Ratana yang juga masih takut dengan Gadis. "Kalian kenapa sih, emangnya apa yang terjadi sama aku?" tanya Gadis penasaran dan merasa aneh dengan sikap teman-temannya itu. "Yaudah kita balik ke kelas yuk, pasti yang lain sudah pada nungguin dan ingin tau tentang kabar Gadis," ucap Marcel yang sangat meneduhkan hati Dita dan kawan-kawan. "Tapi aku mau ngomong dulu sama kalian bertiga ya," ucap Marcell yang mendekati Dita dan kawan-kawan yang berada agak jauh dari Gadis, sedangkan Gadis masih duduk ranjang UKS. "Dita, Ratana dan Paramita, nanti setelah pulang sekolah kalian ikut bantu Kakak apa nggak untuk membantu menemukan jasad bayi malang tadi?" tanya Marcell kepada Dita dan kawan-kawan. Kali ini Marcell sudah mulai akrab dengan ketiga teman gadis, sehingga Marcell mulai menyebut nama adik-adik kelasnya ini dengan nama mereka masing-masing. "Tapi aku takut Kak," ucap Dita yang memang sangat penakut itu. "Ta, ikut ajalah kita berdua juga ikut kok, apa kamu nggak kasian sama adik bayi tadi?" ucap Ratana yang mencoba membujuk Dita agar mau ikut, walaupun sebenarnya dia sendiri juga takut. "Tapi Kakak nggak maksa ya, kalo emang kalian nggak berani nggak usah dipaksakan, biar nanti Kakak sendiri yang mencari jasad bahi itu," ucap Marcell yang membuat Mudita, Ratana dan Paramita melotot. "Serius Kak? Kakak sangat pemberani sekali?" ucap Mudita yang merasa kagum dengan keberanian kakak kelasnya itu. "Apa yang perlu ditakutkan Dita, kan Kakak sudah bilang tadi, selama niat kita baik, maka kebaikan pula yang akan selalu menyertai setiap langkah kita, nggak akan ada hal buruk yang akan terjadi pada kita," ucap Marcell yang mulai membuka hati Mudita. "Yaudah deh Kak aku ikut," jawab Dita dengan raut muka sangat lucu, antara takut tapi juga ingin ikut membantu. "Berarti kita semua ikut ya, kalo Gadis kita tanya nanti, kalo dia mau ikut ya biarkan ikut, kalo enggak ya nggakpapa nggak usah dipaksa," ucap Marcell lirih. Gadis yang tak mengerti maksud mereka hanya duduk dan diam saja. "Yaudah yuk kita kembali ke kelas sekarang," ucap Marcell sambil membantu Gadis turun dari ranjang UKS. "Biarkan aku jalan sendiri Kak," ucap Gadis yang merasa sungkan saat Marcell akan memapahnya. "Yaudah Dita kamu bantu papah Gadis ya, badannya masih sedikit lemas," ucap Marcell dengan penuh perhatian. "Iya Kak," jawan Dita dan segera meraih lengan Gadis untuk memapahnya. "Oh iya, kita kan belum pake sepatu, masa mau nyeker gini," ucap Dita yang membuat semua terkekeh. Setelah mereka selesai memakai sepatu, Dita kembali memapah Gadis menuju ke kelas mereka. Karuna, Paramita dan Marcell mengikuti mereka dari belakang. * Setelah berjalan beberapa lama, akhirnya mereka sampai di kelas mereka. "Eh itu Gadis sudah balik," ucap salah satu teman sambil menunjuk kearah Gadis yang baru sampai depan pintu. "Syukurlah, aku ikut seneng," imbuh teman yang juga sangat menghawatirkan kondisi Gadis. Kedatangan mereka disambut baik oleh Kakak pembina dan teman-teman Gadis. "Kamu sudah membaik Dik?" tanya Kakak pembina kepada Gadis yang mulai memasuki pintu kelas dipapah oleh Dita. "Sudah Kak, maaf ya gara-gara aku kegiatannya jadi tertunda," ucap Gadis yang merasa bersalah kepada teman-teman dan kakak pembinanya. "Iya nggakpapa, yang penting sekarang kamu sudah sembuh Dkk," balas Kakak pembina itu sangat pengertian. "Sekarang Adik duduk ya," ucap Kakak pembina yang bernama Wulan itu. "Iya Kak, terimakasih," ucap Gadis sambil berjalan menuju kursinya dibantu oleh Dita sedangkan Ratana dan Paramita mengikutinya di belakang. Setelah Gadis dan ketiga temannya duduk, Wulan segera mengajak Marcell berbicara empat mata di kursi paling depan. Mereka berdua berbicara sangat lirih sehingga tak dapat didengar oleh Gadis dan teman-temannya, namun sepertinya mereka sedang membicarakan hal yang serius yang sifatnya rahasia. "Cell, apa kamu melihat sesuatu saat Adik itu pingsan?" tanya Wulan kepada Marcell dengan wajah serius. "Iya aku melihat sesuatu, sesaat sebelum Gadis pingsan aku melihat bayangan putih yang selalu mengikuti, dan saat bayangan itu masuk kedalam tubuh Gadis seketika itu juga Gadis pingsan," Marcell menjelaskan kejadian yang dilihat dengan serius, namun Marcell tak menceritakan tentang sesosok bayi yang minta tolong kepadanya itu. "Tapi nggakpapa kan, maksudnya nggak akan mengganggu Dik Gadis?" tanya Wulan yang mencemaskan adik kelasnya itu. "Nggakpapa, kamu tenang saja, cahaya putih itu sangat positif tidak akan mebahayakan Gadis selama dimanfaatkan dengan baik," balas Marcell kepada Wulan. Wulan adalah satu-satunya sahabat Marcell, jadi dia tak masalah untuk menceritakan rahasia ini kepada Wulan. Diantara teman-teman Marcell hanya Wulan yang mengetahui jika Marcell adalah seorang indigo. "Apakah sebelumnya Gadis adalah seorang indigo?" tanya Wulan yang penasaran dengan Gadis. "Tidak, namun setelah kejadian tadi dia akan dapat melihat makhluk-makhluk tak kasat mata dan dia akan dapat mengetahui dan mengungkap segalanya," balas Marcell dengan tatapan yang memandang ke arah Gadis yang sedang duduk di bangkunya. "Maksud kamu Cell?" Tanya Wulan yang semakin penasaran. "Dia akan bisa membantu makhluk-makhluk yang menderita dan membutuhkan bantuan, maka aku akan selalu membantunya saat ia membutuhkanku," ucap Marcell dengan tatapan masih terus memandang Gadis. "Baik Cell, aku dukung kamu, semoga indah pada awalnya, indah pertengahannya dan indah pula pada akhirnya ya," ucap Wulan sambil menepuk bahu Marcell. Marcell hanya mengangguk merespon ucapan Wulan. "Sudah sore nih, kita tunggu bel pulang aja ya, lagipula kegiatan untuk hari ini sudah selesai," imbuh Wulan sambil memandangi jam tangannya. "Iya Lan," balas Marcell singkat, mereka berdua akhirnya duduk. "Mumpung masih ada waktu, gimana kalo kita isi dengan tanya jawab aja Cell," ucap Wulan yang mendapatkan ide untuk mengisi waktu kosong yang masih tersisa. "Bagus juga itu Lan," balas Marcell yang setuju dengan usulan dari sahabatnya itu. Wulan berdiri dan mulai mengumumkan apa yang akan mereka lakukan. "Adek-adek mumpung masih ada waktu, bagaimana kalau kita memanfaatkan waktu yang masih tersisa ini untuk melakukan sesi tanya jawab?" Ucap Wulan yang membuat suasana menjadi riuh. Para siswa sangat senang dan antusias sekali karena mereka ingin tau banyak mengenai Marcell, kakak kelas yang menjadi idola di sekolah mereka. "Setuju Kak, Setuju banget," jawab semua siswa yang saling bersautan. Mereka sangat antusias sekali. "Sudah sudah tenang," ucap Wulan yang mencoba menenangkan keriuhan yang ada di kelas itu. Sedangkan Marcell hanya duduk sambil sesekali memandang wajah cantik Gadis yang terlihat sangat anggun dan sejuk , inner beautynya terpancar sangat jelas. Setelah suasana kelas sudah tenang, Wulan memulai sesi tanya jawab itu. "Baiklah, siapa yang akan memberikan pertanyaan terlebih dahulu?" Tanya Wulan kepada semua siswa. "Saya Kak, saya Kak," jawab mereka semua yang saling berebutan untuk memberikan pertanyaan terlebih dahulu. "Baiklah kamu Dik yang suaranya paling kencang dan teriakannya paling heboh," ucap Wulan sambil menunjuk kearah Dita. "Hehe saya ya Kak," jawab Dita yang malu karena suaranya paling keras. "Saya lempar ke Paramita aja deh Kak," imbuh Dita yang ingin memberikan jatahnya untuk Paramita. "Wahh makasih ya Dita, kamu emang besti terbaikku deh," ucap Paramita yang sangat senang karena mendapatkan lemparan jatah pertanyaan dari Mudita. "Yaudah Dik kamu dulu," ucap Wulan kepada Paramita. "Oke Kak, aku mau tanya, Kak Marcell berapa bersaudara ya?" Tanya Paramita yang ditujukan kepada Marcell. Pertanyaan itu membuat Marcell terkejut, karena sebelumnya dia sibuk memandangi wajah Gadis yang tak pernah membosankan di matanya itu. "Oh aku, aku dua bersaudara, aku memiliki seorang Adik seusia kalian, dia baru masuk kesekolah ini juga tapi bukan di kelas ini," jawab Marcell seperlunya saja. "Wah pasti ganteng kayak Kak Marcell ya," ucap Angel, teman Gadis yang sangat mengidolakan Marcell. Marcel hanya merespon dengan senyuman. "Iya, mau dong Kak dikenalin sama Adiknya, nggak dapat Kak Marcell juga nggakpapa, asalkan dapat Adik Kak Marcell," sahut Siswa lain diiringi sorakan semua teman-temannya. "Ayo siapa yang mau tanya lagi?" Ucap Wulan yang memberikan kesempatan untuk adik-adik kelasnya untuk bertanya lagi. "Kak Wulan udah punya pacar belum?" tanya salah satu siswa cowok yang sepertinya mengidolakan Wulan yang berparas cantik itu. "Wah Kakak ya? Kalo menurut kalian Kakak udah punya pacar belum?" tanya Wulan balik kepada adik-adik kelasnya. Mereka semua semakin riuh saling berebut menjawab pertanyaan Wulan kakak kelas yang sangat diidolakan oleh adik-adik kelas cowok. "Ssttt, berisik banget sih kalian," ucap Angel yang sewot karena merasa tersaingi oleh Wulan yang lebih cantik darinya dan menjadi idola teman-teman cowoknya itu. "Alah bilang aja kamu iri kan?" balas salah satu teman cowok yang membuat Angel marah. "Huuu dasar tukang iri, takut kalah saing ni ya," ledek teman cowok yang lain. Angel memiliki sifat yang sombong dan iri kepada temannya yang lebih cantik dan lebih baik atau saat ada yang memuji orang lain. "Iihh siapa juga yang iri, aku cuma merasa terganggu aja sama celotehan kalian yang nggak penting itu," balas Angel sambil menggulung rambutnya yang diikat dua. "Sudah sudah kalian jangan berantem, Kakak jawab ya pertanyaannya, Kakak sudah punya pacar, dia Kakak kelas kits," ucap Wulan membuat suasana menjadi riuh kembali. "Yahhhh hari patah hati satu kelas nih," ucap adik kelas yang bertanya tadi diikuti kekehan semua orang. "Yah, kita sudah tidak ada harapan lagi nih, lawannya Kakak kelas lagi, mending aku mundur aja lah," sahut teman yang lain. "Kalian ada-ada aja sih," balas Wulan yang tertawa mendengar celotehan adik-adik kelasnya itu. "Nah masih tersisa 1 pertanyaan lagi nih, siapa yang mau tanya? Kamu mau bertanya Dik Gadis, dari tadi diem aja," ucap Wulan menawari Gadis yang sedari tadi hanya diam mendengarkan teman-temannya yang saling berebut untuk bertanya. "Enggak Kak, makasih biar temen-teman aja yang tanya," ucap Gadis sambil meleparkan senyuman manisnya ke Wulan. "Ayo Gadis, tanya Kakak sudah punya pacar belum," batin Marcell yang mengharapkan Gadis bertanya tentang statusnya. Sedari tadi Marcell terus memandang wajah cantik Gadis, dan ternyata Ratana dan Paramita memperhatikan pandangan Marcell kepada Gadis. "Eh Mit, lihat tuh dari tadi Kak Marcell ngelihatin Gadis terus ya," bisik Ratana kepada Paramita yang sedang duduk di sampingnya. "Iya dari tadi aku juga menyadarinya kok," balas Paramita. "Kak aku mau tanya," ucap Angel yang membuat semua pandangan tertuju padanya. "Iya Dek silahkan bertanya," balas Wulan ramah kepada Angel. "Kak Marcell sudah punya pacar belum?" Tanya Angel kepada Marcell yang membuat semua siswa menjadi sangat riuh. "Yaampun semoga saja belum punya ya," celoteh salah satu teman Angel. "Ya nggak mungkin lah cowok sekeren dan setampan Kak Marcell nggak punya pacar, pasti sudah punya," sahut yang lain. "Iya paling malah nggak cuma satu, aku aja mau walaupun jadi yang kesepuluh," imbuh yang lain diiringi sorakan satu kelas. "Huu," semua siswa menyoraki yang ingin jadi kesepuluh tadi. "Hehe aku bercanda kok," jawab salah satu siswa yang ingin jadi kesepuluh tadi. Marcell hanya geleng-geleng mendengar celotehan adik-adik kelasnya yang terdengar sangat lucu itu. "Ayo Kak jawab, kita penasaran nih," ucap Angel yang sangat ingin sekali untuk mendapatkan jawaban status Marcell. "Emm iya deh Kakak jawab, untuk saat ini Kakak belum punya pacar," jawab Marcell sambil melirik kearah Gadis. "Wahhh serius Kak, kita ada kesempatan nih buat deketin Kak Marcell," ucap Angel dengan sangat percaya dirinya. "Gimana ada yang mau daftar?" tanya Wulan yang direspon heboh oleh adik-adik kelasnya itu. "Aku Kak, aku Kak," jawab semua adik kelas cewek yang saling bersautan. Tapi Gadis hanya diam mendengarkan keriuhan temannya yang saling memperebutkan Marcell, termasuk juga Mudita, Paramita dan Ratana. Marcell yang melihat Gadis hanya diam tak merespon ucapannya menjadi sedih dan kecewa, padahal dia sangat menginginkan jika Gadis ikut memperebutkan dirinya. "Sudah diam dulu, berikan waktu Kak Marcell satu tahun untuk memilih kalian ya," ucap Wulan membuat semua siswa cewek kecewa. "Yahh lama banget sih Kak," balas salah satu dari mereka. "Kak, kalo aku tanya tentang status Gadis boleh nggak?" tanya adik kelas cowok yang juga menanyakan status Wulan tadi. "Iya boleh, silahkan Dik waktu dan tempat kami persilahkan," balas Wulan sambil bergurau. Mendengar ucapan adik kelasnya itu membuat Marcell terperajat, dia merasa jika akan banyak saingan untuk mendapatkan Gadis. "Gadis, kamu sudah punya pacar belum?" tanya cowok yang sebelumya sudah menanyakan status Wulan. Mendengar pertanyaan itu membuat Marcell deg-degan, dia takut jika jawabannya tidak sesuai dengan keinginannya. Marcell berharap jika Gadis belum memiliki kekasih, dengan begitu dia akan lebih mudah untuk mendekati Gadis. Badan Marcel tiba-tiba panas dingin, wajahnya menjadi pucat. Marcell jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Gadis yang cantik dan anggun itu. Paramita dan Ratana dapat melihat dan menilai ekspresi Marcell yang berubah seketika itu. "Eh Rat, lihat deh Kak Marcell wajahnya pucat gitu, fix no debat kalo dia beneran suka sama Gadis," bisik Paramita kepada Ratana yang sedang melihat ke arah Marcell yang duduk di kursi depan mereka. "Iya loh, sampe segitunya ya, yaampun kecewa deh kita, udah nggak ada kesempatan lagi buat deketin Kak Marcell," ucap Ratana mengiyakan apa yang diucapkan temannya itu. "Ayo Dik Gadis, dijawab dong, semua pada penasaran nih," ucap Wulan kepada Gadis yang sedari tadi belum menjawab pertanyaan adik kelas cowok itu. "Kamu ya Lex, mau jadi playboy kamu, tadi nanyain status Kak Wulan sekarang nanyain status Gadis, kamu mau borong status mereka," jawab Mudita yang membuat semua orang terkekeh. "Hehe, ya kali aja ada kesempatan gitu," balas teman yang ternyata namanya Alex dibalas dengan sorakan dari teman-temannya. Belum sempat Gadis menjawab pertanyaan dari temannya itu bel pulang sudah berbunyi. "Baiklah berhubung waktu kita sudah habis, kalian bisa tanyakan status Gadis di lain waktu ya," ucap Wulan membuat semua kecewa, termasuk juga Marcell. "Yahhh nggak seru nih," protes Alex yang sangat penasaran dengan status Gadis. "Yaudah sekarang kita berdoa sesuai keyakinan masing-masing, berdoa mulai," ucap Wulan yang diikuti semua siswa menundukkan kepalanya dan berdoa sesuai keyakinan masing-masing. "Berdoa selesai," ucap Wulan mengakhiri doa mereka. "Selamat sore semuanya, hati-hati dijalan ya, sampai jumpa besok" ucap Wulan kepada semua adik-adik kelasnya. "Iya Kak, Kakak juga hati-hati ya," balas semua siswa yang mulai beranjak dari kursi. Mereka semua berhambur meninggalkan kelas, sedangkan Mudita, Ratana,Paramita dan Gadis masih ada di dalam kelas bersama Marcell dan Wulan. "Cell aku pulang dulu ya, ada janji nih," ucap Wulan kepada Marcell. "Iya, salam buat cowok kamu ya Lan," balas Marcell yang memang akrab dengan pacar Wulan. "Oke siap, Adik-adik Kakak pulang duluan ya," ucap Wulan kepada Paramita, Mudita dan Ratana yang sedang nimbrung di meja Gadis. "Oke Kak, hati-hati dijalan ya," balas Mudita dan kawan-kawan. Wulan sudah keluar dari kelas mereka. Marcell segera menghampiri Mudita dan teman-temannya yang sedang mengerubungi Gadis yang masih duduk. "Kak gimana nih, kita apa Kakak yang ngomong?" Ucap Mudita yang membuat Gadis kebingungan, ia tak tau apa yang temannya itu bicarakan. "Biar Kakak saja Ta," balas Marcell yang kemudian duduk di kursi kosong disebelah Gadis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD