Sore hari, pihak rumah sakit mengatakan bahwa ibu Zara, Ajeng bisa diperbolehkan pulang. Dengan catatan ia harus melakukan check up kesehatan rutin selama 6 bulan dan menjalankan beberapa sesi terapi.
Akibat dari stroke yang dialami, penglihatan Ajeng menjadi terganggu, cara bicaranya pun sedikit terbata. Bahkan lebih parahnya lagi, cara kerja otaknya kini melambat. Hal membuat Zara bingung untuk meninggalkan ibunya sendirian di tempat tinggal barunya.
Zara berpikir, ia membutuhkan seseorang untuk menjaga dan merawat ibunya sepanjang hari.
Akhirnya, sebelum pulang, ia meminta rekomendasi agensi penyalur perawat home care ke pihak rumah sakit. Tak butuh waktu lama, dokter memberinya pilihan perawat yang tepat sehingga Zara bisa tenang meninggalkan ibunya di kontrakan.
Sebelum pulang, Zara mengirim pesan kepada Tama bahwa ia akan mengantar ibunya pulang ke kontrakan, dan Tama mengizinkannya dengan catatan pulang, tidak lebih dari jam 8 malam.
Sesampainya di kontrakan, ia membantu ibunya berbaring di kasur. Matanya menatap ke atas langit-langit kamar, namun Zara tahu penglihatan ibunya sedikit memburuk.
"Ini dimana, Zara?" tanya-nya penasaran melihat dengan buram tempat yang terasa asing baginya.
"Di kontrakan baru kita, bu. Zara kemarin dapat rekomendasi dari teman, syukurnya tempat ini nyaman dan cocok buat ibu." beritahu Zara mengenai tempat tinggal yang tengah mereka diami saat ini.
"Zara, ibu mau lihat lagi." ucap Ajeng lirih.
Zara mengangguk pedih, "Sabar ya bu, akan Zara usahakan." janji Zara yang akan mengusahakan yang terbaik bagi sang ibu. Tangannya menggenggam tangan sang ibu penuh harapan dan kekuatan.
"Zara minta maaf kalau ibu selalu Zara tinggalkan, Zara harus kerja keras untuk pengobatan ibu. Sekarang ada Mbak Ayu yang bakal jaga dan temani ibu disini." beritahu Zara semakin pedih, meskipun kini ada Ayu yang merupakan perawat yang telah ia sewa selama proses penyembuhan ibunya, namun ia tak tega jika terus berjauhan dengan sang ibu yang tak berdaya.
Namun melihat gadis seusianya itu nampak begitu cekatan membuat ia percaya dan bisa membuatnya menjadi teman bicara ibunya ketika dirinya tak ada.
"Maaf... Ibu sudah menyusahkan kamu. Kalau bisa, ibu mau cepat susul ayah saja." ujar Ajeng terbata. Matanya berkaca-kaca sebelum akhirnya bulir air mata itu keluar dari sudut matanya.
Zara ikut menangis sedih, ia merasa kepedihan selalu menghampiri dirinya dan sang ibu. "Enggak bu, ibu gak boleh bicara seperti itu. Ibu gak menyusahkan Zara. Zara ikhlas melakukan ini semua demi kesehatan ibu, demi kenyamanan ibu." ujar Zara menguatkan. Ia tak ingin ibunya banyak pikiran dan membuat penyakit strokenya kambuh. Karena salah satu pencegahan kambuhnya penyakit stroke adalah tidak banyak beban pikiran yang menjadikan tekanan darahnya meninggi.
Kini Zara semakin terisak. Zara sudah berjuang sejauh ini. Dan ia takut, jika kebohongannya akan terbongkar dan sang ibu tak memaafkannya. "Dan, kalau ibu tahu semuanya, tolong jangan benci Zara." pintanya pedih.
Ajeng mengelus helai rambut Zara lembut, ia menggelengkan kepala. Ia percaya sang anak sepenuhnya.
"Kamu anak baik, ibu gak benci kamu." lirihnya di balik kebohongan demi kebohongan yang Zara sembunyikan, menciptakan sayatan nyata yang semakin terbuka lebar di dadanya.
****
Sore hari, Zara sampai di apartemen dengan lesu. Ia masih mengingat percakapannya dengan sang ibu tadi siang. Entah kenapa perasaan bersalah merayap di hatinya. Ia takut ibunya kecewa.
Di dalam apartemen, Zara disambut Tama yang terlihat masih mengenakan pakaian kantornya. Pakaian lelaki itu nampak kusut, namun aura ketampanan Tama tidak memudar sama sekali.
"Ada apa dengan dirimu?" tanya Tama menghampiri Zara yang mematung di depan pintu.
Matanya kembali berkaca-kaca melohat sosok yang bisa dibilang penyelamat hidupnya. Saat awal perjanjian dilakukan, Zara merasa bahwa Tama kejam dengan memanfaatkan kelemahannya. Namun seiring berjalannya waktu, Zara sadar, tidak ada sesuatu yang gratis di dunia ini. Setidaknya dengan bersama Tama, ia bisa hidup nyaman dan terjamin.
Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika saat itu Tama tak membebaskannya, mungkin ia akan menjadi perempuan penghibur di tempat itu selama-lamanya.
"Enggak apa-apa, om." elak Zara.
Tama tahu Zara berbohong. Dengan inisiatifnya, Tama merengkuh tubuh ramping itu ke dalam pelukannya. Tama dapat merasakan hangat yang tersalurkan, selain isakan yang semakin kencang terdengar.
"Menangis saja, keluarkan semua beban dan kesedihan kamu." ucap Tama berharap Zara dapat mengeluarkan perasaan dan emosinya. Tangannya mengusap lembut punggung yang terlihat bergetar itu.
"Aku-aku gak tega lihat kondisi ibu, apalagi aku jarang menemaninya saat ini." lirih Zara disela isakannya.
"Cuma ibu yang aku punya saat ini."
Spontan Tama mengeratkan pelukannya, ia merasa perkataan Zara tak sesuai. "Shhh... Ada aku juga disini, aku akan menemanimu dan memberikan semua yang kamu mau." ucapnya menenangkan. Entah kenapa, setelag mengenal lebih dalam perempuan ini, Tama merasakan dorongan untuk terus merengkuhnya, memberinya rasa aman dan nyaman, dan melindunginya dari sesuatu yang berbahaya.
Kemudian Zara meregangkan pelukannya. Dilihatnya Tama dengan mata basahnya.
"Apa termasuk lepas dari perjanjian itu?" tanya Zara penuh harap.
Tatapan Tama menajam tak suka, benaknya menggeram marah mendengar permintaan konyol itu. "Tidak! Apapun keinginanmu, akan ku kabulkan, asalkan jangan permintaan itu." ujarnya tegas, tak menerima penolakan.
Zara terdiam, menatap wajah Tama yang menegang, "Apa suatu saat om akan melepaskanku?" tanya Zara. Jemarinya dengan lembut menyentuh wajah Tama, mengusap kerutan di keningnya yang masih menegang. Tama terdiam, matanya terpejam menikmati sentuhan itu.
Namun pikirannya terasa kalut memikirkan pertanyaan Zara barusan. Untuk saat ini, Tama ingin memiliki Zara seutuhnya hanya untuknya. Zara adalah miliknya yang tak boleh tersentuh orang lain.
Namun mau sampai kapan? Apakah perasaan menggebu ini hanya sementara? Ataukah selamanya?
"Bagaimana jika aku tidak ingin lepas saat om ingin membuangku?" tanya Zara kembali menyadarkan. Tama membuka matanya dan menatap Zara lekat. Dan dengan pasti, menggeleng menyangkalnya.
"Itu tidak akan terjadi."
Air mata Zara kembali meleleh dalam ketidak pastian. Perkataan Tama bermakna ganda dan membingungkan. Apakah kalimat Tama itu janji atau peringatan? Apakah dia tidak akan pernah membiarkannya pergi, atau apakah Zara sendiri yang tidak bisa melepaskan diri dari perjanjian mereka? Tatapan mata Tama tidak memberikan jawaban yang jelas.