16

1180 Words
Di atas kursi kerjanya, Tama duduk menatap tajam sosok anggun yang berdiri menjulang dengan wajah memerah menahan amarah. Berkali-kali ia menahan geram kala Tama terlalu abai dan selalu menjawab perkataannya secara singkat. "Perempuan mana yang berhasil buat kamu ngelarangku masuk ke apartemen, mas?" ujarnya geram. Tangan putihnya yang mengepal terlihat memerah pertanda kuatnya kepalan tangan tersebut. Tama menatap Anna dengan jari tangan yang memainkan bolpoin kesayangannya, "Kau bahkan menyuruh orang untuk menahanku di lobi!!" pekik Anna yang tak bisa lagi menahan kekesalannya. Tadi pagi ia berusaha mengunjungi apartemen suaminya, namun begitu sampai di lobi depan, seorang lelaki dengan pakaian hitamnya mencegat pergerakannya dan menyuruhnya untuk menunggu di lobi. Ia sama sekali tidak diizinkan masuk ke dalam unit apartemen tersebut. Ia sudah berusaha mencoba menghubungi pihak keamanan, namun mereka juga ikut menjegalnya dengan alasan menjaga privasi penghuni apartemen. Tama tersenyum miring, ia memang sengaja memerintah seseorang dan keamanan tempat huniannya agar melarang seseorang memasuki kawasan pribadinya. Ia tak mau ada orang yang mengetahui dan mengganggu kehidupannya bersama Zara. "Sudahlah, berhenti menemui saya dan ikut campur dengan urusan saya. Kita punya kehidupan masing-masing." ujar Tama jengah. Sedari dulu hal itulah yang diinginkan Anna. Status pernikahan yang mereka miliki hanyalah pertanda formalitas yang dipublikasikan tanpa mengetahui isi sebenarnya dari kehidupan pernikahan itu sendiri. "Tapi tidak dengan selingkuh mas! Aku gak rela~" ucap Anna tertahan, tak sanggup lagi melihat tatapan Tama yang abai akan perkataannya. Anna menghembuskan nafas kasar, mencoba mengendalikan dirinya, "Aku ingin hubungan kita membaik. Ada Davin yang semakin dewasa dan membutuhkan figure orang tua yang harmonis." lirihnya penuh permohonan. Ia sadar, semakin hari, anaknya semakin dewasa dan mengerti akan makna kehidupan. Dan oleh karena itu, ia ingin berusaha untuk memperbaiki hubungan rumah tangganya bersama Tama. Dari dulu mereka tidak pernah berselisih, tidak pernah terjadi perdebatan apapun dalam kehidupan rumah tangga mereka, mereka hanya terlalu abai, terlalu masing-masing, dan saling tak mau mencampuri kehidupan pribadi. Mereka berjalan di atas jalur yang berbeda, dan kini terlalu jauh untuk memutar balik untuk kembali ke jalur dan tujuan yang sama. Itu yang Tama rasakan saat ini. "Akan saya pikirkan nanti. Sekarang kamu pergi dari sini. Saya sudah terlalu terlambat untuk menunda pekerjaan lagi." ujar Tama final, tak lagi ingin mendengar ocehan Anna yang akhir-akhir ini terdengar sangat berisik. **** Di apartemen, Zara kembali tertidur setelah menghabiskan sarapan dan membersihkan diri. Bukannya merasa segar setelah mandi, matanya malah tak kuat lagi menahan kantuk sehingga begitu tubuhnya terbenam di atas kasur, ia langsung tertidur pulas. Zara benar-benar menghabiskan pagi itu dengan istirahat guna mengisi kembali tenaga yang terkuras habis semalaman. Hingga pukul 10, Zara kembali bangun dan mulai bersiap untuk pergi ke kampus. Ia menggunakan turtle neck yang dipadukan kardigan motif floral warna senada sebagai atasannya yang dipadukan dengan jeans belelnya. Zara keluar dengan perasaan sedikit tidak nyaman. Hunian mewah itu masih terasa begitu asing. Beberapa kali ia berpapasan dengan orang-orang, dan mereka menatapnya seperti keheranan. Apakah aura simpanannya terasa kuat? batin Zara bertanya-tanya. Zara menggeleng, pemikirannya terlalu buruk hingga menimbulkan kecemasan yang berlebihan. Zara memilih mengabaikannya dan kembali fokus pada tujuannya. Ia menaiki taksi dan mengunjungi sebuah kafetaria dekat kampus. Ia sudah memiliki janji dengan Daniel pagi tadi untuk membahas masalah mengenai kejadian masa lalu. Zara memasuki kafe yang cukup ramai pengunjung seraya mengedarkan pandangannya. Di ujung pojok sana, ia melihat Daniel tengah melambaikan tangan menunjukkan kehadirannya disana. Zara pun berjalan menghampirinya. Zara duduk di hadapan Daniel. Ia memperhatikan meja yang telah penuh oleh barang bawaan Daniel. Ada laptop, beberapa buku catatan, dan segelas espresso yang terlihat mulai mendingin. "Mau pesan makanan dulu?" tanya Daniel memecah kesunyian. Zara menggeleng, perutnya masih kenyang setelah terisi oleh nasi goreng buatan Tama tadi. "Langsung aja kak. Aku udah mikirin ini secara matang. Dan aku mau kasus yang menyeret nama ayahku kembali dibuka." Zara kini yakin, ia bisa membuka kebenaran atas kasus yang menimpa ayahnya. Dulu, ia tidak punya apa-apa, namun sekarang ia punya uang yang siap membantunya mengungkap kebenaran. "Santai, Zara. Kebetulan aku belum sarapan, dan aku menunggumu untuk sarapan bersama." ujar Daniel seraya memanggil pelayan kafe. Zara menggeleng menolak untuk memesan makanan, "Aku sudah sarapan." beritahunya. "Mau pesan minuman?" tanya Daniel setelah pelayan datang dan memberikan buku menunya. Namun Zara menggelengkan kepala lagi. Ia membawa air mineral sendiri di dalam botol tumblernya. Zara memperhatikan Daniel yang terlihat begitu santai, dan Zara tidak mempunyai waktu lama untuk membahas masalah itu lebih lama. Ia harus menghadiri kelasnya di kampus. "Apa akan memakan waktu lama? Aku harus pergi ke kelas jam 11 nanti." tanya Zara seolah tengah diburu waktu. Daniel nampak berpikir sejenak, lalu menjawab, "Satu jam mungkin cukup, jika tidak, kita bisa cari waktu tambahan di hari lain." Kemudian Zara mengambil map yang berisi lembaran kertas berisi runtutan kejadian yang dialami ayahnya beberapa tahun lalu. Zara berhasil mengumpulkan foto, kartu identitas, dan bukti transaksi yang masuk ke dalam rekening milik ayahnya. Selain itu, ia menemukan selembar catatan pribadi milik ayahnya yang menuliskan angka-angka secara acak, dan Zara merasa janggal akan hal itu. Sebelum mulai, pelayan datang menyajikan pesanan Daniel. Lelaki itu hanya memperhatikan dan mengangguk ramah saat pelayan itu hendak pergi. Kini fokusnya kembali ke sosok di hadapannya. "Bisakah kamu ceritakan lebih detail tentang kasus ayahmu?" pinta Daniel yang bersiap dengan jari jemarinya di atas keyboard. Zara mengangguk paham, "Ya, ayahku meninggal dalam kecelakaan usai, lalu ia dituduh menggelapkan dana pengadaan komputer di kampus tempatnya bekerja beberapa pekan sebelum beliau mengalami kecelakaan. Aku yakin ayahku tidak bersalah dan aku ingin membersihkan nama baik keluarga serta ganti rugi semua yang telah kami keluarkan untuk masalah tersebut." papar Zara secara runtut. "Aku paham. Bisakah kamu memberikan kepadaku dokumen-dokumen yang terkait dengan kasus tersebut, seperti putusan pengadilan, berita acara pemeriksaan, dan dokumen lainnya?" tanya Daniel profesional, dan Zara menggeleng sebagai jawaban. Ia hanya baru mendapatkan beberapa barang bukti yang terikat secara langsung dengan ayahnya waktu itu. "Untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut tentang kasus ini, bisakah kamu memberikan nama-nama saksi yang mungkin dapat membantu kasus ini?" "Ya, ada beberapa orang yang mungkin dapat membantu. Ada Pak Rektor yang saat itu menjabat sebagai Wakil Rektor, dan ada juga beberapa staf di bagian keuangan yang mungkin tahu tentang transaksi dana pengadaan komputer." "Baik, aku akan mencoba menghubungi mereka. Selain itu, aku juga perlu dokumen-dokumen lain seperti laporan keuangan, dokumen pengadaan, dan dokumen lainnya yang terkait dengan kasus ini. Dan untuk itu, biarkan aku yang melakukan cara untuk mendapatkannya, kamu tunggu saja hasil perkembangannya dariku." Zara mengangguk setuju. Ia tidak tahu menahu soal dokumen-dokumen itu dan harus kemana mencarinya. Dan Daniel dengan kebaikan hatinya mau membantunya semaksimal mungkin membuat Zara merasa terenyuh. "Aku perlu berkas ini untuk dipelajari lebih lanjut di rumah." ujar Daniel seraya membawa map yang dibawa Zara tadi dan menyimpannya ke dalam tas. Zara mengangguk memperbolehkan, ia kemudian mengambil tasnya dan bersiap untuk pergi ke kampus. Sebelum beranjak, Daniel kembali berbicara, "Untuk pertemuan selanjutnya, nanti aku kabari lagi, bagaimana?" Zara terdiam sejenak, "Aku ingin menyesuaikan juga dengan jadwal luangku." pintanya. "Nanti ku atur." Mereka akhirnya berjabat tangan formal, Zara menjabat dengan perasaan teguh dan penuh harap. "Senang bekerja sama denganmu." kata Zara dengan senyum simpul dan binar harapan di maniknya. "Senang menjadi klien pertamamu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD