15

1558 Words
Siang itu, Zara memutuskan untuk melihat kontrakan yang ditunjukkan Daniel setelah lelaki itu berbincang dengan temannya melalui sambungan telepon. Zara memutuskan untuk melihatnya langsung sesuai saran Daniel karena kebetulan ia mempunyai waktu luang hari ini. Lagi pula, ibunya sudah semakin membaik dan akan segera pulang dalam beberapa waktu, jadi ia harus cepat mencari tempat tinggal untuk ibunya nanti. Mereka akhirnya tiba di lokasi kontrakan yang terlihat luas dan strategis. Bangunannya berderet memanjang dan bertingkat dua. Keduanya disambut oleh seorang lelaki seusia Daniel yang merupakan kenalan lama lelaki itu. Mereka kemudian membuka salah satu pintu rumah yang masih kosong. Zara memandang ruangan yang terlihat cukup luas untuk ditempati ibunya dan dirinya. Beberapa furniture sudah tertata rapi dan dilengkapi dengan fasilitas lainnya, seperti pendingin ruangan, air hangat dan WiFi. Zara cukup puas dengan fasilitas itu. Ibunya pasti nyaman dan betah tinggal disini, batin Zara. Dan akhirnya Zara sepakat untuk mengambil kontrakan itu tanpa berpikir panjang. Tak terasa, waktu semakin sore. Zara memutuskan untuk pulang setelah menyelesaikan administrasi biaya sewa kontrakan. Namun sebelum itu, Daniel memaksanya untuk ikut makan di salah satu restoran lokal. Zara mau tak mau mengikuti ajakan Daniel karena ia sendiri sudah lapar. Seharian ini perutnya belum terisi nasi sama sekali. Mereka menghabiskan waktu menyantap-nya dengan Daniel yang asik bercerita menceritakan kehidupan kuliahnya di London. Setelah selesai makan, mereka akhirnya berpisah. Zara memutuskan untuk menjenguk ibunya sebentar sebelum pulang ke apartemen Raffa. Ia merasa sangat lelah hari ini, namun ia rindu ibunya dan ingin melihatnya sejenak. Jika bisa, ia ingin menemani ibunya semalaman di rumah sakit. Namun Tama selalu mewanti-wantinya agar setiap malam ia pulang ke apartemen. Hingga tak terasa, waktu cepat bergulir. Jam sudah menunjuk ke angka 9, dan Zara begitu panik karena ia ketiduran saat menemani ibunya. Ia menatap ibunya yang sudah lelap, lalu beranjak pergi meninggalkan sang ibu sendirian. Zara memasuki apartemen Tama yang masih terang, jantungnya terasa berdetak lebih cepat dari biasanya mengingat beberapa panggilan tak terjawab dari Tama. Siang itu, ponselnya mati kehabisan baterai, dan baru sempat mengisinya ketika di ruang inap ibunya. Dan disaat Zara mencoba menelepon kembali, lelaki itu mengabaikan, bahkan menolaknya di panggilan kedua. 'Apakah lelaki itu marah?' tanya Zara dalam benaknya. Perlahan kakinya memasuki apartemen lebih dalam. Dilihatnya Tama yang tengah sibuk dengan laptop di pangkuannya. Kehadiran Zara sepertinya sengaja Tama hiraukan mengingat kini perempuan itu berdiri canggung di hadapannya. "Dari mana saja?" tanya Tama datar tanpa mengalihkan tatapannya dari layar laptop. Zara terdiam menggigit bibir bawahnya gugup. Aura Tama terasa dingin sekali malam ini. Namun Zara tak memungkiri bahwa Tama nampak s*ksi sekali dengan setelan piyama satin berwarna hitam dengan rambutnya yang basah dan terlihat acak-acakan. Kancing teratasnya nampak dibiarkan terbuka menampilkan d**a bidangnya yang keras dan kokoh. Ah ya, Zara kini menyadari kesalahannya bahwa ia sudah telat pulang dan tidak mengabari Tama sebelumnya. "Aku... Habis cek kontrakan, terus jenguk ibu." cicit Zara ketakutan. "Apa ponselmu bermasalah?" Zara menggelengkan kepala, ponselnya baik-baik saja, tapi kenapa Tama menanyakan hal itu? Benaknya bertanya dengan heran. Tama menggeram kesal, "Kenapa tidak memberitahuku?" tanya-nya masih menahan emosi yang ingin meluap. Sejak sore tadi ia menunggu Zara di dalam apartemen. Berkali-kali ia mencoba menghubungi Zara, namun perempuan itu mengabaikannya. Tadinya ia ingin mengajak Zara untuk maka malam di luar, namun berakhir gagal karena Zara tak ada kabar hingga larut malam. "Maaf..." lirih Zara setelah menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan. Namun Tama mengabaikan ucapannya. Ia menatap Zara yang menunduk seperti seorang anak yang tengah dimarahi ayahnya. "Dengan siapa?" tanya Tama mengintrogasi. Ia merasa, semua kegiatan Zara harus ia ketahui dengan jelas. "Teman." Tama menatapnya dengan alis yang terangkat sebelah, menanti jawaban Zara lebih spesifik. "Laki-laki." "Kenapa harus dia?" tanya Tama menuntut jawaban. "Kamu tidak butuh bantuanku?" tekannya. Zara menggeleng, "A-aku gak mau ganggu pekerjaan om." "Maaf, lain kali aku akan bertanya dulu." Zara kembali berkata. Berharap Tama dapat memaklumi kesalahannya. "Sudahlah..." ujar Tama tak ingin memperpanjang. Setidaknya saat ini Zara pulang dengan keadaan baik-baik saja. Zara terdiam di tempatnya. Tama sepertinya tengah marah besar dan memilih mendiamkannya saat ini. Dan kini Zara berada dalam posisi bingung. Ia tak tahu harus bagaimana. Jika ia pergi meninggalkan Tama , ia takut lelaki itu tambah marah. Jika mendekatinya, Zara takut Tama tidak akan menyukainya. "Om, masih marah?" tanya Zara setelah memberanikan diri mendekati Tama. Kakinya menyentuh lutut Tama yang terbalut kain satin yang licin dan lembut. "Tidak~" ucapan Tama terpotong oleh gerakan Zara yang tak terduga. Perempuan itu berhasil menyingkirkan laptop di pangkuan Tama dan mendudukkan bokongnya sebagai gantinya, bahkan dengan berani Zara mengalungkan lengannya di leher Tama. Tama menatap intens ke arah Zara yang ikut menatapnya. Tanpa sadar jakunnya naik turun melihat mata bulat Zara yang memandangnya terlalu dekat. Bibir cerahnya nampak bergerak-gerak seperti hendak mengatakan sesuatu, membuat Tama tak tahan ingin m*lum*tnya. Namun Tama masih dengan pendiriannya. Ia masih marah sekaligus khawatir karena Zara terlambat pulang dan tak ada kabar sama sekali. "Maafkan aku..." ucapan itu lolos dari bibir Zara. Tama hendak menjawab, namun tenggorokannya terasa kering dan suaranya serak dan dalam, "Lain kali, hubungi aku kalau butuh bantuan sesuatu." ujarnya sebelum melumat b*bir Zara rakus. *** Keesokan harinya, Zara terbangun dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia mengernyit tak nyaman saat menggerakkan badannya, terlebih ruang geraknya yang terbatas karena terhalang sesuatu. Zara mengerjapkan matanya, hawa dingin terasa berhembus di sekitar bahunya yang terbuka. Ia menatap langit-langit yang telah terpapar cahaya matahari. Ia mengingat-ingat kembali kenapa ia bisa tertidur di atas sofa ruang tengah. Dan setelah ingatannya kembali, pipinya bersemu merah seketika. Ah, Tama benar-benar menyiksanya semalam. Terlihat dari efek yang dirasakan Zara sekarang. Perempuan itu pun bangun seraya mencekal ujung selimut yang menutupi tubuhnya. Kepalanya terasa berputar setelah ia berhasil duduk dengan tegak. Matanya mengernyit untuk memperjelas penglihatannya yang sedikit memburam. Jika tak salah, semalam ia bisa tidur saat jam menunjukkan pukul 4 pagi dengan tubuh hangat Tama yang melingkupinya. Dan kini, jam sudah menunjukkan angka 8, Zara kini sendirian di apartemen yang luas itu. Di atas meja, Zara melihat sepiring nasi goreng yang masih mengepulkan uap lengkap dengan omelette di atasnya. Zara menatap heran makanan itu, apa Tama yang menyiapkan sarapan untuknya? Kemudian, suara pintu yang terbuka membuat Zara menoleh dengan cepat untuk melihat sosok yang datang. Dan ternyata sosok itu adalah Tama yang baru saja keluar dari dalam kamar. Penampilan pria itu nampak begitu rapi dengan setelan jas formalnya. Tama berjalan mendekati Zara yang mematung. Ia menatap Tama yang tersenyum manis dan langsung memberikan kecupan singkat di pucuk kepala Zara. "Kupikir kamu akan terus tidur sampai aku pergi ke kantor." ucap Tama membuka sapaan di pagi hari. Zara mengedikkan bahunya, ia terbiasa bangun pagi, namun kali ini ia sedikit terlambat karena matahari sudah menampakkan sinarnya sepenuhnya. "Mungkin aku akan tidur lagi nanti." gumam Zara sembari memandangi pemandangan di luar jendela yang terbuka lebar. Menyuguhkan pemandangan langit biru yang cerah disertai gedung-gedung tinggi yang menjulang. Tama ikut duduk di samping Zara, "Kamu tidak masuk kuliah?" Tama bertanya dengan suara beratnya. Ia menatap Zara yang tengah menatap penampilannya secara terang-terangan. Lalu dengan inisiatif sendiri, Zara memutar bahu Tama agar menghadap ke arahnya. "Hari ini bagian jadwal masuk siang." ucap Zara menjawab pertanyaan Tama. Dilihatnya dasi yang membelit leher Tama yang sedikit miring dengan lipatan kurang rapi, lalu Zara membuka kembali simpulnya dan menyimpulkannya lagi lebih simetris dan rapi. Tama memandang Zara yang tengah sibuk membenarkan dasinya. Ia selalu merasakan ketidakpuasan akan memandang wajah jelita Zara. Ia selalu ingin dan ingin kembali untuk menatapnya secara lekat dan lebih dekat. Bagaimana mata itu berkedip indah, bibir yang tersungging manis kala puas dengan hasil karyanya, Tama selalu merasa haus dan tak ingin melepaskan tatapannya dari wajah itu. Kemudian Tama memandang sepiring nasi goreng buatannya dan mengedikkan bahu agar Zara mencicipinya. "Kuharap rasanya tidak aneh. Tapi menurutku rasanya cukup enak." ujarnya seraya terkekeh. "Om yang buat?" tanya Zara penasaran. Tama hanya menjawabnya dengan anggukkan ringan. Dalam benaknya, Tama merasa tidak percaya diri dengan hasil masakannya. Namun setelah dirasa, rasa masakan itu masih layak untuk dimakan. "Seharusnya tidak perlu repot-repot." ujar Zara sembari mengambil piring dan menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya. Zara mengangguk-anggukkan kepalanya senang, lalu kembali menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya. "Aku ingin membuatmu sedikit terkesan, setelah semalaman mengerjaimu habis-habisan." respon Tama yang sedikit bangga karena masakannya, membuat Zara menghentikan kunyahannya beberapa detik, memandang Tama dengan tatapan memicing. Zara mengerjapkan matanya beberapa kali sembari mengalihkan pandangannya dari Tama yang berseri-seri. Mulutnya kembali mengunyah makanan yang sempat tertunda, "Om sudah sarapan?" tanya-nya mengalihkan suasana percakapan yang terdengar absurd itu. Tama mengangguk, dan berkata, "Sudah." Karena hari semakin beranjak siang, Tama berdiri dan merapikan kembali pakaiannya dan berpamitan kepada Zara. "Aku harus ke kantor sekarang." *** Sepanjang perjalanan, Tama tak bisa menghentikan senyumannya yang lebar. Bahkan ia sesekali bersenandung mengikuti lirik lagu dari pemutar musik yang dinyalakan. Sang sopir yang menyaksikan melalui kaca spion merasa terheran, padahal bos-nya itu tengah kesiangan dan biasanya ia selalu berada dalam perasaan yang buruk. Namun kali ini terasa berbeda, wajahnya terlihat sangat cerah, bahkan terasa menyilaukan saat melihatnya. Hingga tiba di perusahaan, senyum Tama tak pernah pudar menyapa para bawahan yang menyambut dan berpapasan dengannya. Hal itu menimbulkan berbagai pertanyaan di benak mereka, ada apa dengan atasan mereka? Biasanya ia selalu dalam mood yang buruk disaat datang kesiangan seperti itu. Bahkan mereka selalu menjadi sasaran amarah serta kekesalannya. Namun kini Tama terlihat berbeda, sebelum semuanya berubah kala sesosok yang tak ingin dilihatnya berdiri mematung di depan pintu ruang kerjanya dengan arogan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD