8

1301 Words
30 menit waktu yang ditempuh untuk Zara sampai di rumah sakit tempat ibunya di rawat. Ia turun di halte depan dan harus berjalan beberapa ratus meter untuk sampai di pintu utama rumah sakit. Dalam perjalanannya, Zara menikmati semilir angin yang berhembus menerpa tubuhnya. Matahari kini hanya menyisakan cahaya semu berlangitkan kelabu. Suasana sekitar nampak sepi dan hanya terdengar suara deru kendaraan di jalanan. Zara memperhatikan sebuah mobil hitam yang terparkir di depan pintu depan rumah sakit. Ia memelankan langkahnya disaat pandangannya tertuju pada tiga orang pria berpakaian hitam dengan gerak gerik yang mencurigakan. Mereka nampak memperhatikan suasana sekitar hingga tak lama kemudian dua orang yang berpakaian sama nampak keluar dari dalam gedung rumah sakit menghampiri mereka. Zara mencoba abaik dan berjalan seperti biasa. Ia menundukkan pandangannya kala jarak dengan keberadaan mereka semakin dekat. Entahlah, aura orang-orang tersebut terasa begitu menakutkan. Salah satu diantara mereka melihat layar ponsel dan sosok Zara yang berjalan, memastikan sosok itu sama seperti yang ada di layar ponselnya. "Dia." gumam pria itu bersamaan dengan gerakan mata menunjuk Zara kepada rekan di sebelahnya. Seluruh rekannya langsung sigap mengambil posisi masing-masing. Dua diantaranya segera memasuki mobil dan tiga orang berjalan menghampiri target mereka. Perasaan Zara semakin tidak enak kala tiga orang tersebut berjalan menghampirinya. "Aulia Zara?" tanya dari salah seorang pria itu. Zara mencoba menutupi sikap panik dan takutnya dan menggeleng cepat. Ketiga pria berbadan besar itu nampak menyeramkan dengan raut wajahnya yang keras dengan bekas luka di beberapa bagian wajahnya. Dengan gerakan cepat ketiganya mengurung Zara sehingga gadis itu kesulitan untuk menghindar. "Ayo ikut bersama kami secara baik-baik. Bos kami mempunyai urusan dengan anda." Zara menggeleng menolak, ia tidak mengenal mereka semua. Terlebih ia takut jika keselamatannya kembali terancam. "Saya tidak ada urusan apapun dengan bos kalian!" ucapnya tak gentar. Ia menghalau tangan yang mencoba menyentuh lengannya. "Anda belum membayar utang yang dijanjikan ibu anda sebelumnya." Beritahu pria di depannya. Zara tertegun, lagi-lagi masalah uang kembali menjeratnya. Belum satu jam ia merasakan tenang, ia kembali dikejutkan dengan tagihan orang-orang suruhan rentenir itu. "Anda belum membayar utang yang dijanjikan ibu anda sebelumnya." Beritahu pria di depannya. Zara tertegun, lagi-lagi masalah uang kembali menjeratnya. Belum satu jam ia merasakan kebebasan setelah keluar dari apartemen Tama, ia kembali dikejutkan dengan tagihan orang-orang suruhan rentenir yang selama ini memburunya. Wajahnya memucat, tangannya gemetar, dan di matanya terpancar keputusasaan yang dalam. "Saya minta tempo, saya akan bertanggung jawab. Tolong lepaskan saya." gumamnya meyakinkan. Ia akan berusaha lebih keras lagi untuk mencari uang. Tak apa jika ia tak punya waktu untuk tidur, yang penting ia bisa mendapatkan uang yang selama ini menjadi kebutuhannya. Namun si pria di depannya menggeleng, menolak negosiasi yang diberikan Zara. Zara tahu utang mereka terlalu besar, dan dirinya tak bisa membayar tepat waktu setiap bulannya sehingga bunganya semakin bertambah. "Sudah terlalu lama kalian mengulur waktu! Ikut kami, atau nyawa ibu kamu taruhannya!" ucapnya memberi ancaman, tabgan kasarnya mencengkram lengan Zara kuat, sedikit menyeret Zara yang mencoba memberontak. "Diam, atau kami akan melakukan kekerasan?!" Ancam pria di sampingnya dengan mengeluarkan belati kecil dari saku dalam jaketnya. Zara menggeleng pasrah, air matanya meluncur tanpa bisa dicegah. Entah kenapa halaman rumah sakit terasa begitu sepi. Ia ingin berteriak, namun tusukan halus belati di pinggangnya terasa begitu menakutkan. Bisa saja ia berteriak untuk memanggil perhatian orang lain. Dan jika pun ia terluka, ia bisa segera di tangani oleh dokter melihat dimana posisinya sekarang. Namun Zara tak mau mengambil resiko lain. Orang-orang itu bukan hanya mengancam dirinya, namun juga mengancam keselamatan ibunya. Zara kemudian dimasukkan ke dalam mobil dan diapit oleh dua mereka. Tangan yang tadi dicengkram kuat kini dilepaskan menyisakan rasa pedih dan memar yang mulai begitu kontras di kulit putihnya. Pikiran Zara kalut memikirkan apa yang hendak mereka lakukan kepadanya. Apakah ia akan dijual dan dijadikan p*****r? Ataukah mereka akan mengambil organ dalamnya untuk menebus semua hutangnya? Zara menggeleng, semua prasangka itu membuatnya merasa mual dan lemas. Air mata masih mengalir deras dalam tangisan heningnya. Beberapa saat Zara berada dalam suasana hening yang mencekam. Langit di luar nampak sudah menggelap ketika ia turun dari mobil. Pria tadi kembali mencengkram lengannya di tempat yang sama membuat Zara meringis seraya mengikuti arah langkahnya. Mereka membawa Zara ke dalam sebuah gedung 3 lantai yang merupakan tempat hiburan malam. Dari luar, gedung itu nampak seperti gedung pada umumnya. Namun saat masuk ke dalam, Zara langsung terhenyak melihat pemandangan di depannya. Bau alkohol dan parfum murahan menyengat hidung Zara begitu pintu terbuka. Zara dibawa ke sebuah lorong panjang yang remang-remang. Dindingnya dihiasi lukisan-lukisan surealis yang mengerikan. Suara musik techno berdebar-debar di kejauhan, bercampur dengan tawa, jeritan, dan desahan-desahan yang tak teridentifikasi. Di sepanjang lorong, terlihat pintu-pintu kamar yang sedikit terbuka dengan pencahayaan yang redup, memberikan hawa dingin yang menakutkan. Tiba di ujung lorong, Zara di bawa ke sebuah pintu besi yang tertutup rapat. Ruangan itu nampak luas dengan pencahayaan yang minim. Dinding serta lampu berwarna merah menjadikan ruangan itu seperti menyala dalam kegelapan. Di dalam ruangan itu, terdapat sofa mewah yang berwarna senada dengan tampilan ruangan. Ditambah dengan rak kayu berisi buku dan pajangan-pajangan yang terlihat aneh dan menyeramkan. Patung-patung yang cacat, topeng-topeng yang mengerikan, dan benda-benda yang tak bisa dikenali. Membuat Zara semakin dilanda ketakutan. Zara kemudian mendapati sesosok perempuan paruh baya berpenampilan mencolok dengan riasan tebal tengah duduk di sofa dan menghisap tembakaunya. Matanya begitu tajam dan dingin, menatap Zara dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Zara menundukkan wajahnya menghindari tatapan meneliti dari wanita itu. Tatapannya tajam, menatapnya secara menyeluruh seolah tengah menelanjanginya. Lalu suaranya yang dalam dan serak menggema di dalam ruangan tersebut, "Jadi dia, yang kalian maksud. Dia pantas dibayar dengan harga tertinggi. Salah satu dari mereka akan berjuang keras untuk mendapatkannya." ucapnya senang. Namun itu adalah bencana bagi Zara. Wajah gadis itu terangkat, menatap wanita itu dengan pandangan terkejut. Ia membayangkan hal buruk yang sebentar lagi akan menghampirinya. "Sherly! Bawa dia dan dandani sekarang!" "Tidak... Om Tama... Tolong..." teriak putus asa di dalam benaknya. **** Suasana di dalam klub nampak semakin ramai ketika beberapa gadis berdiri di sebuah panggung. Penampilan mereka sangat vulgar hingga mengundang birahi setiap mata yang memandang. Zara benar-benar tak menyangka akan berada di situasi seperti ini. Diperhatikan orang-orang yang memandangnya c***l. Ia merasa tubuhnya menegang, setiap pori-pori kulitnya seakan-akan merinding diterpa tatapan-tatapan yang terasa panas dan penuh nafsu. Bukan sekadar tatapan biasa, ini adalah tatapan yang merendahkan, yang menilai tubuhnya sebagai objek, bukan sebagai manusia seutuhnya. Ia merasakan setiap hembusan napas orang-orang di sekitarnya, seakan-akan menjadi bukti nyata dari pelecehan yang tak kasat mata ini. Rasa malu membanjiri dirinya, bukan sekadar rasa malu biasa, tetapi rasa malu yang mencabik-cabik harga dirinya hingga berkeping-keping. Air mata kembali mengalir di pipinya yang terhalang oleh topeng wajah. Ia merasa tak ada lagi harapan dengan hidupnya. Seorang pemandu berbicara keras dan riuh. Membicarakan penawaran terhadap gadis-gadis di depan. Membuat penonton semakin berisik dengan suara siulan menggoda dan nada cabulnya. Suara keras dan riuhnya, yang memamerkan tubuh gadis-gadis muda seperti barang dagangan, semakin menambah rasa mual dan jijik di hati Zara. Siulan-siulan dan teriakan-teriakan c***l dari penonton semakin menambah suasana mencekam, menciptakan orkestra ketidak adilan yang menyayat hati. Zara merasakan dirinya semakin tertekan, terhimpit oleh tekanan sosial yang tak bermoral, terperangkap dalam lingkaran setan yang tak tahu kapan akan berakhir. Hingga seorang pria dengan berani menaiki panggung dan berbisik ke telinga sang pemandu, menimbulkan binar senang di matanya yang berkilat. "Wah, sepertinya salah satu 'bidadari' kita sudah berhasil mencuri hati sang dermawan!" seru sang pemandu membuat suasana semakin ramai. Lalu, si pemandu yang berpakaian hampir telnjng itu mendekati Zara dan menyuruh Zara untuk menuruni panggung. Zara bimbang, rasa takut semakin mendominasi. Jika ia menuruni panggung, sama saja ia menuruni jurang terjal yang siap menghancurkan dirinya. "Ayo cepat!" desisnya kala Zara masih terdiam di tempat. Dengan segala kepasrahannya, Zara menuruni panggung dan disambut oleh pengawal pria yang segera membawanya ke sebuah ruangan. 'Tolong aku Tuhan...'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD