Zara tertunduk lesu, kali ini apa lagi yang diinginkan pria itu? "Lalu aku harus apa sekarang?" tanyanya bingung. Berharap pra itu segera melepaskannya.
"Buatkan saya makan malam." titahnya kemudian. Zara pun menatap jam analog di dinding ruangan. Ia menatap protes kepada Tama yang masih terdiam menunggu respon gadis itu.
"Ini masih siang, om!" pekik Zara kesal. Waktu masih menunjukkan pukul 3, dan lelaki itu sudah menyuruhnya untuk membuatkan makan malam!
"Siapa tahu kamu masaknya butuh waktu 5 jam, cukup untuk menunggu makan malam tiba." ucap Tama terkekeh, membayangkan jika Zara memasak hingga 5 jam lamanya.
"Aku emang gak terlalu pintar masak, tapi aku masak gak selama itu." dengus Zara. Hatinya sedikit tersentil mendengar Tama seolah meremehkannya.
"Syukurlah kalau begitu."
"Ck... Om mau makan apa nanti?" tanya Zara malas, menunggu Tama yang berpikir sejenak. Ia akan menuruti perintah Tama untuk yang terakhir kalinya. Ingat itu!
Tama memikirkan menu apa yang hendak ia santap untuk makan malam. Namun lelaki itu terlihat begitu lama berpikir membuat Zara kehabisan rasa sabar.
"Makanan utamanya apa om?" tanyanya kembali.
"Kamu." jawab Tama spontan, tak sadar mulutnya berkata demikian.
Zara terhenyak menatap Tama penuh antisipasi. Ia menyilangkan tangannya di depan, menunggu Tama kembali berkata, meralat perkataanya yang terdengar ambigu.
Tama berdehem keras, tenggorokannya terasa kering. Ia pun lantas menyeruput kopinya yang mulai menghangat. Aroma dan rasanya yang membuatnya tenang membuat Tama kembali fokus pada lawan bicaranya. "Ekhm.. masak yang simpel aja, sebisa kamu." jawab Tama santai. Tatapannya kembali ke layar komputer yang masih menyala, mengabaikan Zara yang masih terdiam mencermati.
"O-oke, aku masak dulu." ujar Zara kemudian. Ia akhirnya meninggalkan ruangan kerja dan menyisakan Tama yang diam-diam bernafas lega.
Sudah satu jam lamanya Zara berkutat di dalam dapur. Ia begitu bersemangat mengolah semua bahan-bahan yang telah ia keluarkan dari dalam kulkas. Perasaan sedih dan kesalnya kepada Tama seolah sirna kala dihadapkan dengan berbagai peralatan memasak yang begitu lengkap dan mengkilap. Jangan lupakan isi kulkas yang penuh akan bahan masakan membuat Zara berpikir kembali masakan apa yang hendak ia buat. Hingga akhirnya ia memilih ayam sebagai bahan utama masakannya.
Zara begitu cekatan dan terampil dalam kegiatan memasaknya. Ayam Cordon Bleu yang disajikan dengan kentang tumbuk dan saus krim nampak sudah tertata rapi di atas piring. Ia menyajikannya sepiring untuk dicoba oleh Tama. Sisanya ia simpan di freezer dalam sebuah plastik zipper.
Dan nampaknya insting Tama begitu kuat melihat ia yang menghampiri Zara begitu masakannya sudah selesai.
"Om... Masakanku sudah selesai. Aku buat stok frozen food supaya om gampang, tinggal menggorengnya." ujar Zara memberitahu. Nada bangga tak bisa disembunyikan dari cara Zara berbicara.
Tama tersenyum tipis menanggapinya. Gadis ini begitu bahagia dengan hal-hal sekecil ini.
"Sekarang aku boleh pulang ya?" pinta Zara sembari melepas tali apron yang melingkar di pinggangnya. Namun Zara nampak kesulitan, tali tersebut terikat kuat sehingga apron itu belum terlepas.
Tama yang melihat Zara kesulitan, berinisiatif membantunya. Ia menyingkirkan tangan Zara dan mengganti dengan kedua tangannya.
Tubuh jangkung Tama sedikit membungkuk dengan helaan nafas yang terasa di pundak Zara. Hal itu membuat tubuh Zara menegang karena kedekatan itu. Tangannya dengan gelisah saling bertaut, berharap tali apronnya cepat terbuka.
"Lain kali jangan ditali mati." ucap Tama mengingatkan setelah tali tersebut terlepas.
Zara yang terdiam mengangguk meng-iyakan. Ia berjalan beberapa langkah ke depan, menyisakan jarak yang begitu nyata.
Perhatian Tama teralihkan ke arah meja makan dimana ada sebuah piring yang berisi hasil masakan Zara. Tak tunggu lama, Tama mengambil pisau dan garpu lalu memotong ayam yang digoreng dan dibaluri tepung panir itu.
Tama membawa potongan ayam dengan kentang tumbuk yang diolesi saus krim itu ke dalam mulutnya. Merasakan cita rasa yang bercampur menciptakan rasa yang komplit.
Tama mengunyah perlahan, menikmati tekstur ayam yang renyah di luar dan lembut di dalam. Potongan ham yang gurih dan keju yang meleleh di lidahnya menciptakan harmoni rasa yang sempurna. Kentang tumbuk yang lembut dan creamy berpadu dengan saus krim yang ringan, melengkapi cita rasa gurih dari ayam tersebut.
Setetes saus krim yang tersisa di sudut bibir Tama diusap menggunakan punggung tangan.
Diam-diam Zara memperhatikan dan menunggu respon Tama akan hasil masakannya. Perasaannya tak menentu, takut jika masakannya tak disukai Tama. Padahal itu adalah masakan termewah yang selalu ia buat bersama ibunya jika sedang banyak uang.
Tama tersenyum senang, masakan Zara begitu luar biasa. Ia tak menyangka perempuan itu mau repot membuat olahan ayam yang menurutnya sedikit rumit.
Hal itu membuat Zara ikut tersenyum, senang karena masakannya tidak mengecewakan.
"Hmm not bad." ucap Tama datar, namun Zara tak peduli penilaian dari ucapan Tama. Ia sudah melihat reaksi senang saat pertama kali Tama mencicipinya. Apalagi kini Tama terlihat kembali menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya. Dan itu cukup membuatnya bangga.
Melihat Tama yang tengah menikmati makanannya, Zara kemudian berpamitan untuk pulang. "Kalau begitu, aku pulang om."
"Kenapa terburu-buru?" tanya Tama melihat Zara yang sudah bersiap menenteng tas kecilnya.
'Takut dimakan!' teriak Zara yang hanya bisa didengar benaknya.
"Aku harus jaga ibu." jawab Zara cepat.
"Tidak mau makan dulu?" Zara menggeleng menolak tawaran Tama. Ia terlalu segan untuk berlama-lama lagi di tempat ini.
Tama mengangguk membenarkan, "Kamu benar, sebentar, saya panggil supir saya dulu." Ia pun mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Namun Zara segera menyela dan menolak usulan Tama.
"Gak usah dianter, om. Aku mau naik bus aja."
Tama terdiam sebentar, tengah mempertimbangkan usulan Zara yang dirasa kurang tepat. Namun ia tak bisa terus memaksa gadis itu untuk menurutinya. Sekali lagi, ia hanya orang asing yang entah kenapa begitu mengkhawatirkan gadis di sampingnya itu.
"Ok." putus Tama pada akhirnya.
Zara tersenyum senang, ia pun berbalik untuk pergi dari dalam apartemen tersebut. Namun tak disangka, Tama mengikuti langkah Zara di belakangnya. Hingga saat di depan pintu, Zara berbalik badan dan menatap Tama untuk terakhir kalinya. Bibirnya melengkung lebar menunjukkan senyum manis yang begitu mempesona di mata Tama.
"Zara..." gumam Tama sebelum Zara benar-benar keluar dari pintu apartemennya.
"Ya?" jawab Zara dengan senyumnya yang tak lepas.
Ada tatapan tak rela jika Zara menghilang dari pandangannya. Entahlah, Tama masih ingin merasakan kedekatannya dengan Zara.
"Tolong jaga diri kamu baik-baik." ucap Tama tulus. Berharap kehidupan Zara akan semakin baik esok hari.
"Janji tidak akan datang ke klub itu lagi?!" ucapnya penuh penekanan, menolak Zara untuk mengabaikan ucapannya itu.
Zara mengangguk, perasaannya begitu terharu mendengar ucapan penuh perhatian itu. Tama adalah orang asing yang begitu peduli padanya, meskipun ada momen dimana ia merasa takut dan resah jika berhadapan dengannya. "Iya om... Terima kasih udah nyelamatin aku. Jika ada kesempatan lain, aku akan membalas semua kebaikan Om Tama, meskipun tidak secara langsung."
"Sampai jumpa lagi, Zara." gumam Tama dengan harapan penuh.
Zara duduk termenung di bangku bus yang terisi banyak penumpang. Sore hari adalah waktunya bagi orang-orang untuk kembali pulang ke rumah setelah seharian penuh menjalani aktivitas pekerjaan. Namun tidak dengan Zara, ia tak mempunyai tempat untuk pulang. Tidak ada rumah yang menaunginya dengan rasa aman dan nyaman.
Zara merasa sedih akan hidupnya saat ini. Setelah ayahnya meninggal dunia, hidupnya seakan dilanda musibah yang berlarut-larut.
Padahal di kehidupan sebelumnya, ia hidup berkecukupan dengan kondisi keluarga yang harmonis. Ayahnya seorang teknisi komputer di salah satu kampus swasta ternama. Sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga biasa.
Meskipun hidup sederhana, ia tak pernah kekurangan uang dan kasih sayang. Orang tuanya begitu melimpahkan kasih sayangnya secara keseluruhan itun.
Namun, semenjak ayahnya tiada, satu persatu masalah muncul ke permukaan. Ayahnya tertuduh sebagai terdakwa pidana karena menerima sejumlah uang dari pidana praktik korupsi di dalam instansi kampus tempatnya bekerja dalam proyek pengadaan perangkat lunak. Akibat perbuatan itu, pihak kampus mengalami kerugian keuangan sehingga pihak ahli waris dibebankan untuk mengganti rugi uang yang telah di korupsi senilai 2 miliyar.
Dan karena sang ibu tidak mampu menanggung beban ganti rugi, ia meminjam sejumlah uang kepada rentenir dan menjual seluruh aset peninggalan ayahnya untuk menutupi kerugian tersebut.
Kehilangan sosok ayah yang dicintainya, ditambah beban hutang yang tak terbayangkan, membuat Zara terpuruk. Namun, yang lebih mengusik hatinya adalah kematian ayahnya yang dinilai janggal. Kecelakaan tunggal yang merenggut nyawa ayahnya terasa terlalu kebetulan, terutama mengingat tekanan yang begitu besar yang dihadapi almarhum menjelang kematiannya.
Ia begitu ingat raut wajah ayahnya yang selalu gelisah dan sering menyendiri sewaktu pulang bekerja. Hal yang begitu asing, dimana biasanya sang ayah akan keluar menghampiri istrinya untuk bantu memasak atau hanya sekedar berbincang-bincang.
Zara menduga ada pihak-pihak yang sengaja menutupi kebenaran di balik kematian ayahnya, sebuah konspirasi yang mungkin terkait dengan kasus korupsi yang menjerat sang ayah. Pertanyaan-pertanyaan menggantung di benaknya, apakah kematian ayahnya murni kecelakaan? Atau ada pihak yang sengaja menghilangkan jejak dan menutup mulut.
Namun, bayang-bayang keputusasaan mulai menyelimuti Zara. Sebagai mahasiswi biasa, tanpa koneksi dan sumber daya yang memadai, ia merasa kecil dan tak berdaya di tengah pusaran kasus korupsi dan misteri kematian ayahnya yang rumit. Mengungkap kebenaran di balik kematian ayahnya dan membersihkan nama baik almarhum terasa seperti melawan arus deras.
Rasa pesimis menggerogoti semangatnya, mengingatkannya akan keterbatasannya sebagai seseorang yang kecil dan lemah.
Ia hanya berharap keadilan akan segera menghampirinya. Entah dari manapun asalnya.