Di dalam kamar yang luas itu, Zara telihat sedang menangisi takdirnya yang merasa dipermainkan. Matanya menatap Tama dengan benci. Ia tak menyangka akan dipermainkan oleh pria dewasa yang baru ia temui. "Lalu, apa maksud om membawaku masuk ke tempat tinggal Om Tama? Tidak mungkin kan hanya sekedar meminta dipijat?" tanyanya tergugu. Air mata masih mengalir diiringi isak tangis yang terdengar menyayat hati.
Tama menghembuskan nafas kasar, ia tak menyangka akan berakhir secara dramatis seperti ini. Dirinya masih terdiam beberapa saat menunggu tangis gadis itu mereda. Namun yang ada Zara malah bertanya dengan nada keras. Membuat egonya merasa tersinggung.
"Ternyata benar, kamu begitu naif. Kamu selalu berprasangka seolah saya begitu buruk. Padahal saya yang membantumu kemarin." ucap Tama membela diri.
Sialan, seharusnya ia tak ragu dengan keputusannya tadi. Namun karena rasa iba yang mendominasi, ia menahan hasratnya serta mengurungkan niatnya untuk menyentuh Zara. Karena sejatinya ia seperti kebanyakan lelaki, yang akan langsung tergoda begitu seorang gadis menawarkan sesuatu yang menyenangkan.
"Atau, kamu memang berharap saya menyentuhmu?" tanya Tama provokatif dengan intonasi yang relatif konstan, memberikan kesan menantang.
"Enggak!" elak Zara keras. Kepalanya bergerak menggeleng kuat mengelak tuduhan Tama. Ia sama sekali tidak ingin berakhir menjadi p*****r murahan. Masa depan yang cerah masih menunggunya. Ia harus menjadi kebanggaan ibunya, satu-satunya yang ia miliki saat ini.
Tama terdiam, nafas beratnya ia hembuskan cepat dan kembali menatap Zara intens.
"Kemarin saya murni ingin membantumu. Tapi entah untuk kesempatan lain." ucapnya dengan pikiran menerawang, seolah bisa melihat masa depan.
Zara tak mengerti apa maksud pria itu. Ucapan Tama seperti teka-teki yang sulit ia pecahkan.
"Maksud om?" Zara memberanikan diri bertanya. Membalas tatapan Tama yang begitu melekat. Mereka terdiam beberapa saat, masing-masing mencerna jawaban melewati tatapan mata lawannya.
Dalam benaknya, perasaan ingin memiliki itu masih ada. Namun Tama memilih mengabaikannya.
"Lupakan!" desis Tama sarat akan frustasi.
Lelaki itu memilih bangkit Dan berjalan ke ruangan lain di dalam kamar. Kemudian Tama keluar mengenakan pakaian santainya. Lelaki itu nampak tak acuh akan kehadiran Zara. Sebelum keluar, Tama berbalik dan menatap Zara di ambang pintu, tatapan dan cara bicaranya begitu dingin dan menusuk.
"Sekarang, buatkan aku kopi, dan simpan di ruang kerjaku!" ucapnya memberi perintah.
Dengan gugup, Zara mengangguk, tangannya menyeka air mata di pipinya. "Baik, om." jawabnya serak. Zara menghembuskan nafas lega. Kali ini ia kembali selamat dari cengkraman buas pria-pria yang arogan.
Zara memutuskan bangkit dan segera melaksanakan perintah Tama. Ia tak mau membuat pria itu marah dan kembali menekannya.
Ia berjalan ke arah dapur terbuka yang berada di bagian barat dari ruang utama. Kemudian ia mengambil sebuah cangkir dan mencari-cari serbuk kopi yang diinginkan Tama.
Akhirnya Zara menemukan sebuah toples yang berisi serbuk kopi. Wanginya begitu semerbak kala Zara membuka tutupnya, menandakan bahwa kopi itu berkualitas tinggi.
Ia pun menuangkan bubuk kopi itu dan ditambah gula sesuai takaran yang biasa ia buat untuk dirinya. Zara berharap Tama menyukai kopi buatannya.
Zara pun menyeduh serbuk kopi itu dengan air panas dari dispenser. Lalu ia mengaduknya perlahan hingga kopi beserta gula larut dengan air panas.
Zara membuat kopi itu sepenuh hati. Anggap saja ia tengah membalas budi terhadap semua kebaikan Tama, meskipun ia masih kesal akan sikapnya yang sudah membuatnya ketakutan.
Setelah selesai, Zara membawa cangkir itu ke ruangan kerja milik Tama yang telah diberitahukan sebelumnya. Zara mengetuk pintu yang sedikit terbuka, menyisakan celah. Lalu berjalan memasuki ruangan itu dengan pelan.
Zara dapat melihat sosok Tama sedang fokus di depan layar komputer. Ia duduk dengan gagah di kursi kerja dengan meja kayu yang nampak kokoh dan mengkilap.
Pandangannya tak teralihkan , namun Zara merasa bahwa Tama mengetahui keberadaannya. Dan pria itu memilih mengabaikannya.
Kemudian Zara menaruh cangkir kopinya di dekat Tama, dan pria itu masih mengabaikannya. Ia hanya menatap sekilas cangkir kopi yang masih mengepulkan uap panas dan kembali fokus ke layar komputernya.
Zara mendengus kesal, lalu pandangannya beralih menelusuri isi ruangan. Disana terdapat banyak rak-rak tinggi berisi buku dan catatan berkas. Penyimpanannya begitu tertata membuat Zara betah memandangnya.
Sekilas, Zara melihat deretan buku novel terjemahan klasik yang mengusik jiwanya yang haus membaca. Namun Zara masih tahu diri dan batasan. Buku itu milik pribadi Tama yang tidak sembarang dipinjamkan.
Di samping paling sudut rak buku, ia bisa melihat deretan pajangan miniatur pesawat dari berbagai zaman, hingga yang pertama kali diciptakan hingga yang paling modern saat ini.
"Sudah melihat-lihatnya?" tanya Tama saat Zara kembali berputar menghadap ke arah meja pria itu. Kali ini Tama membiarkan komputernya dan memilih menatap Zara yang begitu terpukau melihat ruangan kerjanya. Tatapannya begitu fokus, menciptakan suasana tegang diantara keduanya.
Sedikit senyuman tipis tercipta di bibirnya menatap mata yang berbinar penuh minat itu.
Zara tersenyum meringis merasa ketahuan akan tingkah konyolnya tadi. Ia pun berdehem untuk mengalihkan kegugupannya.
"Apa aku boleh pulang sekarang?" tanya-nya kemudian.
Tama menggeleng, "Belum saatnya."