"Ahh.. ehmm... Ya, seperti itu." Tama mengerang disela aktivitasnya. Ia nampak begitu menikmati setiap gerakan yang dilakukan Zara ke atas tubuhnya.
Wangi aroma terapi nampak menguar di udara bercampur dengan minyak pelumas yang sedikit beraroma menyengat.
Mata lelaki itu tertutup rapat meresapi setiap gerakan tangan lentik milik Zara di tubuhnya. Namun beberapa kali meringis setiap tangan itu menyentuh titik-titik yang terasa sensitif di tubuhnya. "Tekan yang kuat... Kamu luar biasa argghh." erang Tama saat merasakan sakit di bagian yang Zara sentuh.
Suara tulang yang bergemeletuk membuat Tama mengerang kuat karena sensasi sakit namun ringan setelahnya ia rasakan. Seluruh ototnya melemas karena pijatan yang dilakukan Zara di pundaknya yang keras.
"Tanganmu ternyata lihai juga. Kamu pernah melakukannya bersama orang lain hmm?" puji Tama membuat Zara merasa senang. Ia menambah tenaganya lebih kuat lagi.
"Tidak juga, baru kali ini saya melakukannya sama bapak." jawab Zara jujur. Sebelumnya ia belum pernah memijat orang lain. Dan ia tak pernah membayangkan akan memijat Tama setelah semua bayang-bayang pikiran buruk akan tindakan Tama kepadanya menghantuinya sejak tadi.
"Sedikit ke bawah, disana rasanya begitu kaku." perintah Tama yang langsung dituruti oleh Zara.
Punggung Tama begitu liat dan kokoh sehingga perempuan itu harus mengeluarkan tenaga ekstra dalam setiap pijatannya.
Zara menghembuskan nafas penat, tangannya begitu pegal karena sudah hampir satu jam ia memijat punggung Tama yang liat. Benaknya terus mengeluh lelah, namun otaknya berkata untuk tidak mengeluh dan mensyukuri hal ini karena Tama lelaki yang baik dan tidak bertindak sebagaimana yang telah ditakutinya.
Zara mendesah lega, setidaknya ia masih dalam keadaan suci sampai saat ini.
"Apa disini masih pegal?" tanya Zara dengan tangan yang menyentuh bagian tulang belikat kanan.
Tama berdehem dalam posisi tengkurapnya. "Ya.. nyaman sekali di sana." ucap Tama merasakan pijatan yang kini terasa lembut disana.
Beberapa menit kemudian, Zara semakin kehilangan tenaganya, tangannya begitu lemas dan sulit digerakkan. Ia meringis sebelum akhirnya menyerah.
"Aku lelah om. Tanganku kebas rasanya." keluhnya seraya mengarahkan telapak tangannya yang memerah dan kaku ke depan mata Tama.
Tama yang melihatnya hanya terkekeh ringan seraya membalikkan tubuhnya dan tidur menyamping. Menatap Zara yang meringis sembari meniup-niup telapak tangannya.
"Istirahatlah dulu."
Zara mengangguk lega. Kedua tangannya ia gerak-gerakkan guna menghilangkan rasa pegalnya. Ia begitu fokus dengan kedua tangannya meskipun ia sadar bahwa Tama sedang memperhatikannya sedari tadi.
Zara yang tidak tahan ditatap sedemikian rupa akhirnya menyerah. Ia balas menatap Tama dan dengan berani bertanya akan kerisauan yang melanda hatinya sejak tadi.
"O-om.. tidak akan menyentuhku kan?" cicit Zara pelan. Takut jika pria itu berubah pikiran.
"Kamu berpikir saya akan menyentuhmu?" kata Tama bertanya secara retoris. Zara terlalu berpikir berlebihan akan dirinya, pikirnya.
Meskipun jauh di dalam lubuk hatinya ia ingin, namun benteng pertahanan Tama masih kokoh dan bisa menahan semua godaan yang datang. Meski Zara tidak secara langsung menggodanya, namun situasi dan kondisi mereka begitu sangat memungkinkan, jika Tama sendiri sengaja mengeluarkan sisi liarnya.
Namun ternyata tidak. Ia memilih menjaga gadis itu.
Entah kenapa, setiap kali melihat Zara membuatnya merasa memiliki kepemilikan yang posesif untuk menjaga dan melindunginya. Mungkin rasa kasihan membuat Tama masih mempertahankan moralitasnya.
"Tidak, saya tidak mau mengkhianati istri saya." Tama kembali melanjutkan perkataannya dengan tatapan kosong.
"Tapi kenapa om berbicara seakan mau menyentuhku dan mengancamku tadi?!" tanya Zara geram. Ia merasa dipermainkan oleh pria itu. Tama tertawa melihat wajah yang hampir menangis lega setelah dihadapkan suasana mencekam.
"Hanya ingin melihat reaksimu saja." jawabnya sembari terkekeh.
Tama bangkit dari pembaringannya. Ia menatap Zara yang kini menangis tersedu-sedu. Tangannya memegang lembut dagu Zara sehingga ia bisa memperhatikan lebih intens wajah yang mengkilat basah itu.
"Dan kamu terlihat sangat pias dan juga ketakutan. Apakah saya begitu menakutkan di matamu?" tanyanya pelan. Matanya masih terpaku menatap Zara yang semakin terisak. Entah kenapa, ia bisa merasakan pedih yang tengah dirasakan Zara.