10

1361 Words
Zara membuka mata, cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah gorden, menyilaukan. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba membiasakan diri dengan cahaya. Ingatan semalam masih begitu jelas, setiap sentuhan, setiap bisikan, setiap janji yang diucapkan ketika merasakan euforia-euforia yang kini terasa hampa dan menyakitkan. Tubuhnya terasa remuk, bukan hanya lelah fisik, tetapi juga lelah batin yang menghancurkan. Sentuhan Utama tadi malam, bukan sentuhan cinta, melainkan transaksi yang memalukan. Setiap sentuhan terasa seperti luka bakar yang tak akan pernah sembuh. Air mata mengalir deras, membasahi bantal yang masih berbau parfum Utama—parfum yang kini menjadi simbol pengkhianatan dirinya sendiri. Ia telah kehilangan sesuatu yang tak ternilai harganya, sesuatu yang takkan pernah bisa kembali. "Ya Tuhan..." gumamnya masih tak menyangka. Berharap ia kini berada di dalam semua mimpi yang tak akan pernah selesai. Ia takut untuk kembali sadar akan realita kehidupannya. Hingga beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Tama yang begitu segar dalam balitan jubah mandi berwarna putih. Zara memandang lelaki itu dengan gamang, tubuhnya bergetar kala Utama berjalan menghampirinya. "Sudah bangun?" tanya-nya lembut. Matanya tak bisa menyembunyikan binar kepuasan yang telah ia dapat semalaman. Dengan keberanian yang tersisa, Zara memandang Tama dan bertanya akan keteguhannya dalam menjaga moralitas yang kemarin ia bicarakan, "Om! Om janji nggak akan melanggar prinsip moral Om sendiri. Apa yang terjadi semalam? Kenapa om~" Zara tak mampu melanjutkan kata-katanya. Rasanya begitu sakit dan menyesakkan dadanya. Tama duduk di samping Zara, tangannya terulur mengusap air mata yang kembali mengalir. "Sayang, kamu salah paham. Ini bukan soal melanggar moral. Ini soal… kesepakatan bisnis yang harus dipenuhi." Nadanya terdengar lembut, tapi terdengar palsu. "Kamu tidak berhak marah, Zara. Sekarang kamu berada di bawah kendali saya. Dan jangan menyesal dengan apa yang sudah terjadi." ucapnya dingin dan tajam kemudian. Seperti belati yang menusuk dadanya dengan keras. "Apa milikmu masih sakit?" tanyanya kembali perhatian. Hal yang membuat Zara sedikit tidak nyaman akan perubahan sikap lelaki itu yang selalu cepat berubah-ubah. "Ayo mandi, setelah itu sarapan. Aku sudah memesan makanannya." Zara hanya terdiam, menuruti semua perkataan Tama yang bergerak membantunya. Zara memasuki kamar mandi yang terasa nyaman. Lebih nyaman dari tempat tidur yang terdapat sosok Tama disana. "Sebanyak ini?" Zara menatap pantulan tubuhnya di cermin. Tama memberinya banyak jejak yang membekas di beberapa bagian tubuhnya. Dan ia merasa jijik sekaligus malu seakan jejak-jejak itu mencemoohnya dari pantulan ceriman di depannya. Dalam kesendiriannya, Zara bingung akan kelanjutan hubungannya dengan Tama. Akankan pria itu mau melepaskannya begitu saja setelah malam kemarin? Atau Tama akan semakin mengukung Zara dengan segala kekuasaannya? "Kenapa lama sekali?" tanya Tama di balik pintu, membuyarkan lamunan Zara. "Sebentar lagi." jawab Zara cepat. Dengan menahan nyeri di tubuhnya, ia mulai beranjak ke dalam bilik kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai membersihkan diri, Zara keluar menggunakan jubah mandi yang sama seperti Tama, namun dengan ukuran yang lebih kecil dan terasa pas di tubuhnya. Sepertinya kamar hotel itu didesain untuk sepasang kekasih, melihat semua peralatan yang disediakan semuanya berpasang-pasangan. Tama yang tengah duduk membaca sebuah majalah teralihkan atensinya dan menatap penampilan Zara dari atas ke bawah. Senyum tipis tersungging di bibirnya membuat benak Zara bertanya-tanya. 'Kenapa? "Padahal saya ingin melihat kamu tlnj*ng." gumamnya datar, namun mengandung makna yang dalam. Zara mendengus, lalu tersentak dan spontan menangkap benda yang dilempar oleh Tama. "Pakai itu." titahnya kemudian. Zara tersenyum canggung menatap pelayan yang tengah menata hidangan di atas meja. Apa Tama tidak memiliki rasa malu sama sekali? Ia ingin sekali membungkam mulut itu dengan sesuatu! Dengan canggung, Zara kembali memasuki kamar mandi dan mengenakan dress yang dilempar Tama tadi. Setelah merapikan penampilannya, ia kembali keluar dan kini hanya ada Utama disana. Di hadapannya, berderet berbagai piring yang berisi menu sarapan yang terlihat menggugah selera. "Makanlah, kamu pasti lapar." ujar Tama melihat Zara hanya diam berdiri dengan tatapan lapar. Dengan menghilangkan rasa canggungnya, Zara duduk di sofa seberang, segera mencicipi setiap hidangan yang ada. "Gaun itu terlihat sangat cocok untukmu." Zara menunduk untuk mengamati gaun yang tengah dipakainya itu. Sebuah gaun peach berlengan pendek dengan panjang sedikit di bawah lutut yang terdapat beberapa aksen pernik yang mengkilap di bagian kerahnya. Zara tidak memungkiri bahwa gaun itu begitu cantik dan pas di tubuhnya. Dan ia menyukainya. Entah bagaimana caranya lelaki itu bisa mendapatkan potongan baju yang sesuai ukuran tubuhnya. Sementara Tama sendiri, ia memakai setelan kemeja hitam yang nampak begitu elegan dengan aura yang menyimpan kesan mahal. "Tapi aku lebih suka ketimbang saat kamu tidak memakai pakaian sama sekali." lanjut Tama dengan nada tersirat membuat Zara tersedak oleh makanannya. Uhukk... Uhukkk... Tama segera berdiri menghampiri Zara dan menyodorkan segelas air yang langsung diterima Zara. "Kamu baik-baik saja?" tanya-nya dengan nada panik yang tidak dapat disembunyikan. Tangannya mengusap pelan punggung Zara guna menenangkan wanita itu. "Sedikit perih." lirih Zara menyakitkan, hidungnya terasa perih menyengat. "Perhatikan cara makan kamu." ujar Tama sebelum kembali duduk di sofa semula. Zara hanya mengangguk tak lagi merespon. Ia sudah kehilangan selera makannya akibat kata-kata yang merujuk pada penampilannya semalam. Tama kemudian mengambil sarapannya, merapikan kembali majalah yang tadi ia baca. "Kenapa tidak dihabiskan?" Zara menggeleng pelan, kembali menyendok makanan yang masih tersisa. Dalam diam, benaknya berpikir. Apakah hubungan ini hanya terjadi semalam? Tidak ada malam-malam lainnya kan? Zara menyelesaikan sarapannya dalam diam, dan setelah selesai, ia menatap Tama yang tengah menghabiskan sarapannya sendiri. "A-apa setelah ini aku bebas?" tanya Zara memberanikan diri. Menatap Tama yang mematung sesaat. Tama terdiam beberapa saat, menghentikan kunyahannya. "Kamu ingin pergi begitu saja setelah aktivitas malam tadi?" tanyanya menusuk, membuat Zara tak nyaman dan mengalihkan tatapannya. "S*x kemarin belum pantas untuk menutupi uang semalam, Zara." ujarnya tajam, menusuk bagai belati yang tertancap ke dalam hati. Zara membenarkan dalam hati, ya... Dirinya tak seberharga itu untuk dihargai seharga 1 miliyar lebih. Satu malam saja tak cukup untuk melunasi uang yang banyak itu. "Kita buat perjanjian. Kita sama-sama tidak ingin rugi, bukan?" putus Tama kemudian, mengakhiri kegiatan sarapan paginya dengan secangkir kopi yang tersisa. Tama mengelap sisa makanan di sekelilingnya menggunakan lap, terlihat elegan dan berkelas, sementara Zara hanya bisa terdiam mengikuti alur yang dibuat oleh Tana. "Nanti kita bahas perjanjian itu. Dan sebelum itu, saya ingin melakukan apa yang ada dipikiran saya sejak tadi." Tama berdiri, mendekat ke arah Zara, lalu dengan gerakan tak terduga, Tama menarik tengkuk Zara lalu melmt bibir Zara yang tak siap. Begitu panas dan menggebu, membuat Zara kewalahan menerimanya. Tama menghentikan sejenak aktivitasnya, menatap Zara yang terengah dengan bibir merah yang membengkak. Tama tersenyun puas menatapnya. Ibu jarinya mengelus halus sudut bibir yang mengeluarkan saliva sisa cmb*nnya. Tama merasa benar-benar gila, penampilan Zara yang acak-acakkan kembali memancing hsrtnya. "Aku benar-benar ketagihan, Zara... Kamu candu!" ujarnya sebelum kembali menyatukan bib*r mereka. Setelah cmb*n singkat yang Tama lakukan, seorang pria terlihat mendatangi kamar hotel yang ditempati mereka. Tama menatap Juan yang berdiri di ambang pintu menelusuri seisi ruangan, dan tatapan nya berubah kala menatap ranjang yang masih berantakan. "Masuklah." titah Tama kemudian. Zara menatap lelaki yang semalam berada di klub yang sama dengan Tama. Tatapannya entah kenapa terlihat begitu intens apalagi saat menelusuri keseluruhan dirinya. Juan duduk di sofa tengah, menatap Zara yang masih duduk tegang. "Semalam kita belum sempat berkenalan, aku Juan, teman sekaligus asisten pribadi Utama." Tama mengulurkan tangannya lalu menjabat tangan Zara yang halus. "Zara." ucap Zara singkat. Segera melepaskan jabatan itu setelah dirasa cukup untuk berkenalan. Kemudian Tama berdehem menginterupsi keduanya, ia menatap Juan dan Zara di seberangnya. "Langsung saja pada intinya. Juan, aku ingin membuat perjanjian dengan Zara. Dan kamu bertugas untuk mencatat semua poin-poin yang kami sepakati." Juan terlihat berpikir, mencermati ucapan Tama barusan. "Kau mau main api heh? Aku pikir kemarin hanya kesepakatan jangka semalam." Raut wajahnya terlihat menunjukkan sedikit rasa tak sukanya. Temannya itu sedang mencari masalah sendiri dengan menjadikan wanita di depannya sebagai simpanannya. "Aku berubah pikiran." ujar Tama singkat. Tatapannya selalu tertuju kepada Zara yang hanya terdiam menyimak. "Kau tahu, ini sangat beresiko." gumam Juan mengingat perjanjian ini ilegal, dan Tama sendiri sudah mempunyai keluarga. "Aku tahu." "Ini adalah langkah terekstrim yang pernah kau buat, kau tahu?" ujar Juan, memperingatkan. "Aku menyukai tantangan." Juan tak menyangka, Tama yang biasanya hidup lurus dan terarah, tanpa bersinggungan dengan wanita asing, kini mengambil keputusan yang berbeda. Meskipun tak dipungkiri bahwa wanita di sampingnya itu begitu memukau dan menggoda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD