11

1535 Words
Butuh waktu 30 menit waktu yang diperlukan dalam menyelesaikan kontrak perjanjian. Dan selama itu, Zara hanya terdiam, matanya menatap kosong jendela besar yang menghadirkan cahaya hangat di pagi hari.Pikirannya berkecamuk membayangkan kejadian-kejadian yang akan dialaminya di masa depan. Tinta hitam pada lembaran perjanjian itu masih basah, menandakan ikatan yang baru saja terjalin—ikatan yang mengikat Zara pada rahasia kelam bersama Tama. Zara menatap Tama yang menatap puas pada lembaran asli di tangannya,- sementara Zara hanya menerima salinannya.- Isi dari kontrak tersebut benar-benar membuatnya seperti b***k saja. b***k yang harus memenuhi segala perintah majikannya. Setidaknya ada poin yang menguntungkan Zara dimana selama perjanjian, Tama akan menanggung semua finansial yang dibutuhkan Zara, berapapun itu. "Apa sudah selesai?" tanya Zara memandang Utama datar. Ia perlu udara segar di luar setelah merasa bahwa udara di kamar hotel itu terasa menyesakkan d**a. Tama menatap Zara yang terlihat tidak nyaman, kemudian menoleh ke arah Juan yang terlihat tengah menatap Zara. Sebuah deheman memutus tatapan Juan, lelaki itu menatap sosok yang telah menimbulkan suara deheman keras tadi. Matanya menatap tanya ke arah Tama, 'Ada apa?' "Kau boleh pergi, Juan." ujar Tama sebelum berdiri, menatap jam di pergelangan tangannya. Kemudian Tama menatap Zara yang masih duduk terdiam. "Dan kamu, pulang bersamaku." putusnya kemudian. Zara akhirnya ikut berdiri, memandang Tama ragu, "Aku mau ke rumah sakit." gumamnya. Ada rasa tidak percaya diri ketika mengatakan keinginannya mengingat seluruh kebebasannya kini sudah terikat. Namun ternyata Tama mau mendengar ucapannya, pria itu mengangguk lalu berjalan ke arah pintu, menunggu Zara yang bergegas membawa tasnya. Di dalam mobil, keduanya sama-sama terdiam. Memandang suasana jalanan ibu kota yang padat. Orang-orang berlomba menerobos kemacetan untuk segera sampai di tempat kerja. Namun Tama sendiri terlihat santai dan sesekali bersenandung mengkuti lagu santai yang diputar di radio mobil. Zara menghela nafas kasar, ia lupa jika Tama adalah bos-nya. Keterlambatan mungkin bukan hal yang tak perlu diresahkan baginya. Beberapa saat kemudian, Tama mulai bertanya melihat Zara yang selalu terdiam sejak tadi. "Ada apa?" tanya Tama menatap ke samping dimana Zara tengah duduk dan melamun. Namun Tama dapat melihat binar kesedihan di mata itu. Dan Tama tidak menyukainya. "Jangan bersedih." "Kamu menyesal karena aku yang berhasil mengambil k*p*r*w*n*nmu?" Tama berusaha bertanya umtuk mendapatkan respon dari Zara, namun wanita itu masih saja bergeming. "Kamu tahu, mungkin saja pria lain akan bersikap brutal kepadamu." "Para pria selalu memandang rendah wanita yang menjual dirinya disana. Mereka tidak ada harga dirinya." "Tapi aku tidak, Zara. Hanya kepadamu. Kamu berbeda dengan semua wanita yang ada disana. Dan aku ingin kembali membantumu, meski harus dengan cara seperti ini." Zara menatap Tama tak mengerti. Apa yang ingin dibantu Tama setelah berhasil merusak tubuh serta kehormatannya? "Jadi, jangan menyesali semuanya." Zara masih diam, namun kepalanya mengangguk, terpaksa membenarkan kenyataan yang Tama ucapkan. "Sampai di rumah sakit nanti, jangan lupa untuk pasang alat kontrasepsi. Pilih yang paling aman dan tidak menimbulkan resiko berat ke depannya." Zara kembali mengangguk meng-iya kan. Karena sepertinya Tama memang tidak berniat mengakhiri hubungan perjanjian ini dalam waktu dekat. Tanpa sadar, jemari Tama hinggap di tangan kanannya, menggenggamnya lalu meremasnya kuat. Matanya beralih sejenak menatap Zara yang terheran. "Kamu tahu? Sangat tidak nyaman ketika menggunakan benda sialan itu." 'Sial!' umpat Zara bersamaan dengan pipinya yang bersemu merah. **** Beberapa menit kemudian, mereka sampai di halaman rumah sakit. Zara menatap Tama yang masih menggenggam tangan kanannya. Ia ingin mengutarakan rasa ketidak nyamanannya, namun ia tak berani dan takut akan perubahan suasana hati Tama yang tengah cerah saat ini. "Aku pergi dulu, om." ucap Zara setelah satu menit menunggu dan Tama hanya terdiam tanpa melepaskan tautan jemarinya. Dengan perasaan tak rela, Tama melepaskan genggaman tangannya itu lalu membenarkan kacamata hitamnya secara spontan. "Zara, aku minta maaf kalau ucapanku sedikit kasar tadi." ujar Tama tak ingin Zara pergi terlalu cepat. "Aku gak berhak protes kan?" Tama menelan ludah kasar, merasa tertohok dengan pertanyaan itu. "Bukan seperti itu.. ah ya, aku memang sedikit kasar, aku minta maaf." "Dan kamu boleh menyuarakan pendapat kamu semau kamu. Jangan terlalu sungkan kepadaku." Zara mengangguk, tak ingin memperpanjang percakapan mereka. Ia merasa begitu lelah dan ingin segera menemui ibunya. Merasa sudah selesai, Zara pun membuka pintu mobil hendak turun. Namun Tama kembali menahan dengan perkataannya, "Sepulang kerja nanti aku jemput kamu." Zara menggeleng, "Aku mau jaga ibu disini." Dan Tama ikut menggeleng, menolak keinginan Zara. "Tidak, aku masih mau tidur sambil memelukmu malam ini." Zara mencebik, baru saja Tama menyuarakan kebebasannya dalam berpendapat, dan kini lelaki itu sudah melanggarnya dengan tak mendengarkan keinginannya itu. "Ekhem... Kamu mungkin butuh penyesuaian dengan hubungan baru kita. Jadi, sepertinya lebih baik kamu menginap di apartemenku malam ini." ralatnya. "Terserah om! Aku mau turun, udah kan?" Zara memadang ke depan dengan muak. Tama terlalu mengulur waktunya untuk menghilang dari pandangannya. Dan dengan polosnya lelaki itu terkekeh seraya menarik Zara mendekat, mengusap tengkuknya pelan sehingga menimbulkan gelenyar asing yang kembali dirasakan seperti semalam. Tama tersenyum menatap Zara yang terbuai akan sentuhannya. Matanya menelusuri wajah sayu yang masih menyimpan sedikit keteguhan. "Kasih aku kecupan perpisahan sebelum kamu pergi." gumam Tama sebelum menyatukan b*b*rnya dengan milik Zara yang menggoda. Melumatnya penuh intens dan dalam, membuat Zara selalu kewalahan disetiap invasi Tama terhadap bibirnya. Meskipun begitu, perlahan Zara terbuai dan menikmati cumbuan Tama. Lengannya melingkar erat leher Tama sambil sesekali meremas surai hitam lelaki itu. Hingga saat Zara mulai kehabisan nafas, Tama melepaskan pagutannya dan tersenyum puas menatap Zara yang terengah-engah. Bibirnya yang merah dan bengkak membuat Tama ingin kembali melumat bibir manis itu. Namun gerakan Zara yang menghindar membuat Tama gagal mencium kembali bibir Zara. "Ehmm... Itu bukan kecupan om!" pekik Zara kesal, menatap garang pada Tama yang hanya terkekeh seraya mengusap bibirnya yang basah. Tama meraih bibir Zara dan menyeka saliva di permukaan bibirnya. Matanya memandang intens mulut mungil yang baru saja ia lahap. "Tapi kamu suka kan?" Zara mendengus, lalu memundurkan tubuhnya untuk menciptakan jarak dengan Tama. Ia kemudian membuka lebih lebar pintu yang telah terbuka tadi dan pergi meninggalkan Tama yang terdiam memperhatikan. **** Sepulang mengantar Zara, Tama melajukan mobilnya menuju apartemennya. Ia harus berganti pakaian dan membawa beberapa berkas untuk dibawa ke kantor. Sepanjang perjalanan, Tama tak berhenti tersenyum, binar matanya begitu terang menyiratkan rasa kebahagiaan serta kepuasan yang masih dirasakannya. 'Ah ya... Daun mudah memang tak pernah gagal.' Tama mendengus, ia bukannya maniak s*x, s*x bukanlah suatu kebutuhan utama yang harus dipenuhinya. Kehidupannya hanya berporos pada pekerjaan yang selalu setia menanti dirinya, akan tetapi tadi malam, ia benar-benar berubah lepas kendali. Zara sudah mengubahnya menjadi pria matang yang dengan buas menjerat kelinci kecil yang ketakutan untuk masuk ke dalam permainan beringasnya. Dan kelinci itu tak akan keluar dari perangkapnya sampai kapanpun. Tama bersiul riang saat keluar dari pintu lift. Sebelah tangannya memainkan kunci mobil yang mengkilap seraya menelusuri lorong menuju apartemennya. Hingga setelah sampai, ia pun masuk dengan ringan sebelum kewaspadaan menyertainya. Derap langkahnya memelan sembari terus memasuki ruang apartemennya lebih dalam. Hingga sebuah suara dari arah dapur membuat Tama berjalan menghampirinya. Tubuhnya mematung kala menatap sosok ramping yang terlihat mengobrak-abrik isi lemari dinginnya. "Kenapa kamu kesini?" tanya Tama memperhatikan. Annastasya, sang istri tertegun sejenak menatap Tama yang menyorot tajam seolah ia adalah penyusup yang hendak mencuri sesuatu. Namun Anna mampu mengendalikan dirinya dan tersenyum manis menatap Tama yang bergeming menunggu jawaban. "Mas, kamu gak tidur disini semalam? Tidur dimana?" tanya Anna lembut, meski di dalam hati ia sedikit geram akan sikap dingin suaminya. Tama mendengus tak suka, "Bukan urusan kamu." Garis senyum Anna memudar mendengar jawaban ketus sang suami. Sedari dulu, Tama memang bersikap dingin dan ketus padanya. Entah kapan Tama akan berubah hangat dan menyayangi dirinya dan sang anak layaknya keluarga harmonis lainnya. "Makanan ini, kamu yang buat?" tanya Anna hati-hati, takut menyinggung perasaan Tama. Matanya menatap penasaran ke dalam plastik yang berisi olahan makanan buatan yang entah sejak kapan Tama memilikinya. Meskipun rumah tangganya kurang harmonis, namun Ana tahu kebiasaan Tama apalagi terhadap makanan. Lelaki itu jarang menyentuh dapur dan tak mau repot-repot memasak. Tama juga tidak pernah mengizinkan orang lain untuk sembangan masuk ke dalam apartemen pribadinya. Ia lebih memilih membersihkan apartemennya menggunakan alat-alat berteknologi canggih yang membantunya. Dan Anna semakin curiga ketika matanya tak sengaja melihat sampah dapur dan plastik bekas aktivitas di dapur yang terlihat baru. "Sejak kapan kamu cerewet?" Tama bertanya kembali dengan sedikit tekanan. Ana menghela nafas, memutuskan untuk mengalah melihat watak Tama yang keras. "Aku hanya mau bilang, Davin kangen ayahnya." ucap Anna memberitahu kedatangannya yang tiba-tiba di pagi hari ini. "Saya akan pulang akhir pekan nanti, kalau sempat." jawab Tama dingin sembari membalikkan badan dan berjalan keluar dari area dapur. Namun perkataan Anna membuat dirinya mematung. Lengan kanannya mengepal erat hingga buku jarinya memutih. "Harus mas! Davin anak kamu, kalau kamu lupa!" Dengan wajah menahan amarah, Tama berbalik lalu menatap Ana tajam, "Saya akan pergi kerja, silahkan kamu keluar terlebih dahulu. Dan tolong jangan sembarangan masuk ke dalam apartemen apalagi sampai mengacak-acak area privasi saya!" "Keterlaluan kamu, mas!" Anna berteriak tak terima, suaminya menganggapnya orang asing yang diusir bagaikan sampah. "Itu bukan masakan kamu kan? Kamu gak akan repot-repot masak atau bayar orang buat masak disini kan? Kamu selingkuh kan mas?" cercanya tak lagi bisa menyembunyikan kegundahan hatinya. "Bukan urusan kamu. Dan jangan pernah ikut campur urusan saya! Ingat perjanjian kita!" ujar Tama sebelum berjalan meninggalkan Anna yang berkaca-kaca.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD