12

962 Words
Di salah satu ruangan di rumah sakit, Zara menatap ibunya yang sadar dan tengah terbaring. Di sampingnya terdapat seorang dokter dan juga perawat yang tengah memeriksa perkembangan kondisi ibunya. Sedari tadi ia memperhatikan dalam diam bagaimana dokter dan perawat itu bekerja, ia tak mau mengganggu kinerja mereka karena kehadirannya itu. "Bagaimana keadaan ibu saya dok?" tanya Zara setelah mereka dirasa selesai memeriksa ibunya. "Sudah cukup membaik. Mungkin dua atau tiga hari lagi sudah bisa pulang jika grafik perkembangan kesehatannya naik, terutama tekanan darahnya." Zara tersenyum senang, perasaannya amat bersyukur mendengar kondisi ibunya semakin membaik. "Terima kasih, dok." "Oh ya... Pukul 9 nanti ibu anda bisa dialihkan ke ruangan vvip no 11. Nanti ada petugas yang membantu." "Zara, kenapa ibu dipindahin? Kamar vip pula?" tanya Ajeng hera, dari mana sang anak memiliki uang untuk menempatkannya di ruang vip ini. "Ehm... Biar ibu nyaman aja." ujarnya beralasan. "Gak usah Zara, ibu disini aja. Lagi pula kata dokter sebentar lagi ibu bisa pulang." kata sang ibu yang tak enak hati jika ia kembali menyusahkan sang anak hanya karena demi kenyamanannya. "Nanti Zara pertimbangkan lagi ya?" Pukul sepuluh, Zara keluar dari ruangan baru ibunya. Sebuah ruangan exclusive dengan fasilitas mewah bak hotel bintang 5. Zara akan pergi ke kampus untuk menghadiri mata kuliah pukul 11 nanti. Namun sebelum itu, Zara mendatangi sebuah poli KB untuk melakukan perintah Tama tadi pagi. Zara menunggu sambil berharap antriannya tidak terlalu lama agat ia tak terlalu lama berada di tempat itu. Ia tak mau ada orang yang mengenalinya, meskipun saat ini ia memakai masker yang menutupi wajahnya. Hingga beberapa saat menunggu, nama Zara dipanggil, ia kemudian beranjak memasuki ruangan tanpa sadar seorang perempuan dari dalam ruangan berjalan tergesa tanpa memperhatikan sekitar. Mereka bertabrakan secara tak sengaja membuat si perempuan tadi sedikit terhempas ke belakang dan sebuah kertas terjatuh dari tangannya. Zara pun segera mengambil kertas itu dan menyerahkannya sembari meminta maaf. Perempuan yang masih terlihat muda yang terlihat modis itu nampak begitu terkejut dengan situasi, lalu ikut meminta maaf dan mengambil kertas tersebut seraya pergi meninggalkan Zara yang termenung. Ia merasa mengenali perempuan tadi, namun ia lupa siapa perempuan itu. Dan ia sedikit terkejut kenapa wanita hamil sepertinya berada di ruangan yang bertujuan untuk mencegah kehamilan. Namun Zara tak ambil pusing, ia segera memasuki ruangan dan menyelesaikan tugasnya. **** Di kampus, Zara bertemu dengan Inara yang nampak casual dengan hoodie hitam kebesaran yang dipadukan dengan celana cargo berwarna dark brown dengan sneakers hitam sebagai pemanis. Inara memang agak sedikit tomboy, terlihat dari cara berpakaiannya. Belum pernah Zara melihat temannya itu memakai rok atau memakai pakaian dengan motif bunga-bunga yang cerah. Inara cenderung memakai pakaian polos dan santai yang berwarna gelap. Inara duduk di samping Zara yang tengah mencatat materi minggu lalu dari salah satu temannya. "Zaraaa... Semalem lo tidur dimana? Gue nemenin ibu lo semaleman tau!" tanya Inara akan keberadaan temannya semalam. Zara terkejut, ia tak tahu itu karena semalaman ia tak memegang ponselnya. Baru tadi pagi Tama memberikan ponselnya dan belum sempat ia buka sama sekali sampai saat ini. Zara menghentikan tulisannya, "Beneran?" tanya Zara memastikan. Inara mengangguk, "Iya... Lo lembur lagi?" Zara kembali menulis dan mengangguk, ia terpaksa berbohong dan menjadikan pekerjaannya sebagai alasan. "Makasih ya udah nemenin ibu. Gue traktir deh." ujar Zara yang kini tak merasa kesusahan uang. Tadi pagi sebelum pergi, Tama memberinya beberapa nominal uang yang masuk ke dalam akun rekeningnya. Dan Zara ingin memanfaatkan uang itu sebaik mungkin. Meskipun dalam hati ia berasa berdosa karena uang tersebut bukan karena hasil kerja kerasnya. 'Kemrin malam juga kamu sudah kerja keras, Zara!' ujar benaknya sambil tersenyum devil membuat Zara menggeleng-gelengkan kepala sambil tertunduk malu. Sial, kepalanya kini tanpa malu mengingat sekilas bayangan kejadian tadi malam bersama Tama. "Eh gak usah... Lo simpen aja buat kebutuhan lo sama ibu lo." tolak Inara yang merasa iba karena Zara begitu kerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup serta perawatan ibunya. "Santai, gue ada uang sisa ko." Inara terdiam memperhatikan Zara yang sibuk menulis, lalu ia teringat akan informasi yang tadi disampaikan di grup wa. "Nanti jam 2 katanya ada rapat, lo ikut?" tanya-nya. Zara berpikir sejenak, lalu mengangguk, "Ikut." Sebagai wakil BEM, tak mungkin ia mengabaikan setiap rapat yang dilakukan secara rutin itu. "Ok, nanti kita barengan aja ya." ajak Inara yang dianggukki Zara. "Na... Sebelum pergi rapat, gue mau curhat dulu sama lo." ujar Zara hendak memberitahu temannya sesuatu. "Ada apa?" tanya Inara penasaran. "Gue mau ngundurin diri dari wakil BEM. Bisa jadi juga, gue bakal keluar dari organisasi." "Hah? Kenapa? Kok mendadak gitu sih?" tanya Inara yang terkejut dengan keputusan Zara yang tiba-tiba itu. Padahal selama menjabat wakil BEM, Zara sangat kompeten dan bahkan sempat beraksi dalam massa di depan gedung rektor beberapa waktu lalu. "Gak mendadak, dari kemarin-kemarin udah dipikirin." jelas Zara. "Kenapa alasannya? Apa Pak Gunawan ngancem lagi?" Zara menggeleng, "Enggak, bukan itu alasannya." Sejauh ini, kepala rektor itu tidak melakukan tindakan ancaman lagi terhadapnya. Dan mengenai kejadian beberapa malam yang lalu, Gunawan tidak menyelidikinya lagi. Berarti identitas dirinya tak ketahuan saat itu. "Terus apa?" "Lo tau kan kondisi gue sekarang gimana. Gue harus kerja disamping gue harus kuliah. Dan jadi pengurus BEM bakal nyita waktu gue banget. Gue gak mau kinerja gue jadi buruk karena tugas gue yang bercabang." Inara mengangguk mengerti, beban Zara terlalu berat saat ini. "Gue ngerti keadaan lo. Anak-anak juga lagi ada inisiatif buat bantu ngeringanin biaya rumah sakit ibu lo. Dan kalau itu keputusan terbaik lo, gue dukung apapun itu. Yang penting lo jangan putus kuliah, ok?" "Makasih udah dengerin curhatan gue." ucap Zara terharu, ia memiliki teman yang mengerti dan mau mendengar semua keluh kesahnya setiap hari. Inara menatap Zara iba, ada kesedihan di dalam maniknya kala mendengar setiap curhatan Zara mengenai kehidupannya, "Iya, moga kehidupan lo selanjutnya bakal lebih baik lagi." "Ya, semoga." balas Zara penuh harapan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD