13

1089 Words
Sore hari, Zara keluar dari area kampus selepas rapat. Kali ini ia pulang sendirian karena Inara masih berada di ruang BEM bersama beberapa anggota lainnya. Di tengah perjalanan, ia dipanggil oleh seseorang membuat ia berhenti dan berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya. "Zara!" "Kak Imran? Ada apa kak?" Imran, sang ketua BEM nampak mendekati Zara. Mereka akhirnya berjalan berdampingan di lorong yang nampak sepi itu. "Sebenarnya gue berat banget kalau lo keluar, Ra." ujar Imran berat hati. "Mau gimana lagi kak, hidup gue lagi sibuk-sibuknya nyari duit." "Lo partner terbaik gue di BEM. Harus siapa lagi gue milih orang yang sekompeten kaya lo." keluhnya. Zara tersenyum simpul menanggapinya. "Banyak kok kak, cuma belum kelihatan aja. Semoga gantinya ada yang lebih baik ya." Mereka akhirnya sampai di halaman depan, Imran menatap Zara lekat, "Pulang bareng mau?" tawar Imran, berharap Zara menerima ajakannya. Namun Zara menggeleng menolaknya. Tama sudah berjanji akan menjemputnya sore ini. Dan ia tak bisa menolaknya. "Enggak kak, udah pesen taksi online." Imran menghela nafas sedih. Ia kehilangan kesempatan lagi untuk mendekati adik kelasnya itu. "Gue tungguin deh." Zara agak panik, orang-orang tidak boleh mengetahui huhungannya dengan Tama. Zara pun kembali menolak saran Imran. "Gak usah kak, duluan aja." "Sore-sore gini tuh waktu yang rawan. Gue tungguin lo sampai naik." ujar Imran kekeuh. Tak lama, ponsel Zara bergetar. Ia menatap pesan dari Tama yang mengatakan keberadaannya. 'Aku sudah di depan. Kamu dimana?' 'Aku kesana sekarang om.' balas Zara kemudian. Zara menatap Imran, ia kemudian berpamitan dan berjalan ke depan gerbang. "Duluan kak." "Oh, udah sampai taksinya?" tanya Imran penasaran. "Ya, di depan." ujar Zara sembari pergi. Diam-diam Imran mengikuti Zara, ia merasa khawatir dengan gadis itu. Terlebih karena Zara adalah perempuan yang tengah ia sukai saat ini. Di depan sana, Imran menatap heran melihat mobil yang ditumpangi Zara barusan, "Gak salah itu taksi? Mewah bener mobilnya." **** Malam telah tiba, Zara kembali menghabiskan malamnya di unit apartemen mewah milik Tama. Ia masih berdecak kagum akan interior yang dimiliki apartemen itu. Semuanya nampak mewah dan mahal. Dan Zara tak pernah membayangkan akan berada di tempat seperti sekarang ini. Setelah makan malam usai, keduanya disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Zara saat ini tengah menyelesaikan tugas kampusnya yang padat. Beruntung saat ini ia mempunyai waktu luang setelah tidak lagi bekerja paruh waktu. Saat ini ruang perpustakaan tempatnya mengerjakan tugas nampak sunyi meski di hadapannya terdapat Tama yang tengah menyelesaikan pekerjaannya. Diam-diam Zara memperhatikan Tama yang nampak serius dengan kacamata bacanya tengah memperhatikan laptop di hadapannya. 'Tidak mungkin Om Tama hanya ingin memelukku.' celetuk Zara dalam benaknya. Ia merasa kalut, hubungannya dengan Tama masih terasa tabu baginya. Bagaimana jika nanti hubungan mereka terbongkar, mengingat Tama sendiri mempunyai keluarga? Zara tidak mampu membayangkan kejadian itu. Ia takut... "Kenapa melamun? Apa tugasnya sulit?" Suara Tama memutus lamunan Zara. Ia menatap lelaki yang tengah menutup laptop dan berjalan menghampirinya. "Ah? I-iya..." jawab Zara gugup. Ia kemudian menggeser duduknya kala Tama ikut duduk di sampingnya. Tama memandang beberapa buku sumber yang menjadi acuan Zara mengerjakan tugasnya. Buku itu hasil ia meminjam di perpustakaan kampus. "Coba kulihat." ujar Tama mengambil buku tugasnya. "Om sudah selesai kerjanya?" Tama mengangguk seraya mengambil buku catatan Zara. "Tidak terlalu sulit, aku bantu kamu selesaikan malam ini." Kemudian Tama mengambil alih bolpoin Zara dan mulai menuliskan beberapa inti jawaban untuk Zara salin kembali nanti. "Kenapa terus memperhatikanku? Terpesona?" tanya-nya melihat Zara yang hanya terdiam menatapnya. "E-enggak!" elak Zara meski dalam hatinya ia sempat mengagumi paras Tama yang tampan. Wajah lelaki itu terpahat dengan sempurna dengan sentuhan khas lelaki mediteran yang mempesona. Karena Tama mengakui kalau dirinya mempunyai sebagian darah keturunan italia dari pihak ibunya. "Benarkah? Orang-orang bilang, meskipun aku sudah berumur, tapi wajahku masih bisa bersaing dengan laki-laki seusia kamu." ucap Tama pongah, namun Zara merasa Tama pantas membanggakan ketampanannya diusianya yang sekarang sudah menyentuh angka 4 itu. "Om pasti treatment mahal." celetuk Zara tanpa sadar mengatakan prasangkanya. Tama terkekeh, "Aku gak sempat buat perawatan seperti itu, Zara." Zara menatap Tama dengan muka penasaran, tanpa sadar ada banyak hal yang ingin ia ketahui lebih dalam tentang pria itu. "Terus ini?" tanya Zara dengan telunjuk yang menyentuh otot lengan yang nampak timbul di balik kain kaos yang dikenakan Tama. Sentuhan itu nampak begitu berpengaruh terlihat dari tatapan Tama kepada Zara saat ini. Tatapannya begitu tajam namun penuh dengan kabut sarat akan g*ir*h yang menggoda. "Kamu menggodaku?" tanya Tama serak, ia tak bisa abai akan sentuhan Zara. Namun Zara menatap Tama dengan tatapan polosnya. Ia tidak ada niatan untuk menggoda sama sekali. Ia hanya, penasaran. "Enggak. Badan om bagus, om juga kelihatan awet muda." ujar Zara jujur membuat Tama sedikit menyunggingkan senyumnya. "Kebetulan suka nge-gym dan sedikit nerapin pola hidup sehat." Kini Zara menatap dengan tatapan menyelidik, "Berarti pergi ke bar, minum minuman alkohol, termasuk hidup sehat?" Tama meresponnya dengan kekehan, tangannya menyugar surainya yang hitam. "Sekali-kali, Zara. Aku butuh penyegaran yang beda." Tatapan Zara masih sama, tatapan menyelidik untuk memastikan Tama tengah membual atau tidak. "Sekali-kali atau berkali-kali?" tanya Zara seolah menantang. Tama merasa gemas dengan Zara yang kini banyak bicara. Dengan gerakan cepat tubuhnya mendekat kepada Zara dan memberikan kecupan singkat di ujung bibir Zara yang sedikit terbuka. Tama tersenyum melihat respon Zara yang terperanjat dan mengerjapkan mata berulang kali untuk mencerna apa yang barusan terjadi. Perhatian Tama kini teralihkan sepenuhnya kepada Zara. Di lepasnya kertas serta bolpoin yang ia pegang tadi. Tangannya lalu mengusap surai rambut Zara yang terurai panjang. Hidungnya mencium wangi shampo yang sama dengannya memicu lonjakan h*sr*t yang sedari tadi ia pendam. Tatapannya menatap lekat pada wanita muda yang memandangnya dengan tatapan penuh tanda tanya. "Sekali-kali... Waktu di bar pertama kali kita bertemu, Juan memaksaku untuk ikut minum setelah menang tender. But, berakhir gagal setelah ketemu kamu." jelas Tama perihal kejadian waktu pertama kali mereka bertemu. "Om nyesel?" tanya Zara yang kini menopang dagunya dengan tangan di atas meja. "Enggak, karena gak terlalu penting." "Terus pas waktu di bar kemarin? Kenapa om bisa ada disana?" tanya Zara mengingat pertemuan malam yang menjadi awal hubungan mereka saat ini. Setelah dipikir-pikir, entah kenapa perasaannya kini merasa sedikit lebih tenang mengingat Tama yang kembali terlibat dalam masalahnya. Tama terdiam sejenak, lalu menjawab, "Karena ada urusan penting? Makanya aku bisa menemukanmu." Yah, malam itu ia sangat marah sekaligus iba pada wanita di hadapannya ini. Namun di balik itu semua, ia merasa beruntung karena kembali bertemu dengan waktu yang tepat untuk menyelamatkan Zara dari p********n kehidupan malam yang mengerikan. "Om gak ngikutin aku?" tanya Zara hati-hati, takut menyinggung perasaan lelaki itu. Tama menggeleng, matanya menatap Zara lekat, "Enggak, takdir yang menentukan kita kembali bertemu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD