4.

1525 Words
" Thaf dua jam lagi lo ada meeting dan abis itu lo___" Ucapan Nizar berhenti ketika melihat siapa yang sedang duduk di kursi Althaf. Ya, dia adalah Nasya. Seketika itu tatapan mereka saling beradu namun setelah sadar bahwa hal ini tidak baik, Nizar langsung mengalihkan pandangannya ke tempat lain. "Maaf saya gak tahu, saya kira Althaf." ucap Nizar dengan masih menundukkan kepalanya. "halah santai aja kali Mas, Mas Nizar cari Mas Althaf ya? Barusan Mas Althaf bilang mau ke ruang meeting Mas. " jawab Nasya sambil berdiri dari tempat duduknya untuk menghampiri lawan bicaranya. "eemm kalo gitu Saya... Saya... Permisi. " ucap Nizar langsung meninggalkan ruangan. "Loh... " ucap Nasya bingung dengan sikap Nizar. Nizar berjalan secepat mungkin untuk kembali ke ruangannya. Entah apa yang ia rasakan sekarang. Belum pernah sebelumnya ia merasakan perasaan yang bisa ia bilang aneh ini. Seumur hidupnya, ia tidak pernah segugup ini saat berbicara dengan seseorang baik itu lelaki maupun wanita baik orang baru maupun orang yang sudah lama ia kenal. Tapi kali ini? Entahlah. Di tengah jalannya yang terburu-buru Nizar bertabrakan dengan Althaf. "astaughfirrullahaladzim, Zar! Lo kenapa sih?! Jalan kayak abis liat apa aja deh! " ucap Althaf dengan nada sedikit tinggi karena terkejut. "aduh sorry-sorry Thaf gue gak liat. Gue duluan yah. " jawab Nizar lalu kembali melanjutkan langkahnya dengan terburu-buru. Sementara Althaf hanya bisa melihat punggung Nizar dengan aneh. Tidak biasanya sahabatnya bersikap seperti itu. Mencoba mengabaikan kelakuan aneh sahabatnya, Althaf juga kembali melanjutkan langkahnya untuk kembali ke ruangannya. Dan betapa terkejutnya ia saat masuk ke ruangannya karena melihat adiknya sedang menangis. "Dek, kamu kenapa? Kok nangis? " ucap Althaf panik langsung merengkuh tubuh mungil Nasya. "hiks... hiks.. hiks... " bukannya menjawab, Nasya malah semakin menangis dalam pelukan kakaknya. "Dek kamu kenapa sih? Jangan buat aku bingung dong. Ngomong dulu baru nanti nangis lagi. " ucap Althaf semakin khawatir karena tangis Nasya tak kunjung berhenti. Setelah beberapa saat akhirnya Nasya mulai tenang walaupun air mata masih menetes di pepuluk matanya. Ia kemudian melepas pelukan kakaknya. "coba ngomong kenapa nangis hm? " tanya Althaf sembari menghapus air mata Nasya yang masih mengalir dengan derasnya. "Mas, emang kenapa sih sama Nasya? Emang Nasya gak baik ya? Emang Nasya gak pantes buat di ajak ngomong? Emang___" "eh eh eh kamu kenapa sih? Kok ngomongnya gitu? Gak boleh ngomong gitu dek. Kamu baik kok. " "terus...terus... Hiks... kenapa Mas Nizar tuh kayaknya gak suka sama Nasya Mas? Hiks.. Setiap ketemu pasti Mas Nizar buru-buru pergi hiks.. hiks.. " "masa sih? Perasaan kamu aja kali dek. Kamu baik kok. Nanti biar aku yang tanyain ke Nizar ya? " ucap Althaf mencoba menenangkan adiknya dengan kembali memeluknya. Sedangkan Nasya hanya menganggukkan kepalanya saja dalam pelukan Althaf. Entah apa yang ia rasakan saat ini. Dia memang tipe orang yang tidak bisa di acuhkan. Dan baru kali ini ia merasa diacuhkan oleh seseorang dan orang itu adalah Nizar. ***** Setelah kepulangan Nasya, Althaf berniat untuk menanyakan masalah yang sampai membuat adiknya menangis kepada Nizar. Tentu saja dia tidak akan tinggal diam melihat adik kesayangannya itu menangis. Althaf memang sangat menyayangi adik sepupunya itu. Bahkan bisa dibilang Althaf lebih menyayangi Nasya daripada adik kandungnya sendiri, Alya. Saat sampai di depan ruangan Nizar lalu membuka pintu dengan sedikit gusar, Althaf tidak menemukan siapapun. Ya, ruangan Nizar sudah tidak berpenghuni. Jadilah Althaf mengurungkan niatnya untuk membicarakan masalah ini kepada sahabatnya. Dan mungkin pembicaraan ini akan ia tunda sampai beberapa hari ke depan karena Nizar akan pergi ke luar kota untuk mengurus perusahaan cabang yang ada di sana. Dan sudah pasti Nizar tidak akan bisa diganggu untuk masalah perusahaan demi masalah pribadi seperti ini. ***** Tiga minggu sudah berlalu, dan hari ini adalah jadwal Nizar kembali ke Jakarta. Pagi ini Althaf sengaja berangkat lebih pagi ke kantor untuk menemui sahabatnya itu. Rasanya ia sudah tidak tahan untuk menanyakan tentang hal yang beberapa minggu lalu membuat adiknya menangis. Dan sekarang di sinilah Althaf, ia sudah duduk manis di ruangan Nizar. Sementara penghuni ruangan kerja tersebut belum sampai ke kantor. Dengan rasa tidak sabar Althaf tetap berusaha tenang menunggu sahabatnya itu. Ckleekk.... Bunyi pintu terdengar, bertanda ada yang membuka pintu. Dan ternyata orang-orang yang ditunggulah yang membuka pintu. Nizar agak terkejut melihat Althaf sudah berada di dalam ruangannya. Pasalnya Althaf tidak pernah datang sepagi ini ke kantor dan berada di ruangannya pula. "Loh Thaf, ngapain lo di sini pagi-pagi? Tumben. " ucap Nizar sambil berjalan menuju kursi kebesarannya. "gue mau nanya sama lo Zar. Masalah lo sama adek gue apa sih?! Lo gak suka sama Nasya atau lo emang gak mau liat dia ke kantor? " tanya Althaf dengan nada mulai meninggi. "apa sih Thaf?! Kok lo tiba-tiba nuduh gue kayak gitu? Siapa yang gak suka sama Nasya?! Hak dia lah mau ke sini, ini kan perusahaan kalian. Hak gue apa sih. " jawab Nizar tidak terima. "terus kenapa lo nyuekin dia? Lo tau gak sih Zar? Di tuh sampe nangis gara-gara lo cuekin. Lo tau kenapa? " ucap Althaf mulai tenang. Sementara Nizar hanya diam tidak menjawab apapun. "itu karna dia tuh gak bisa di acuhin sama orang apalagi sampe dicuekin. Dan lo udah nglakuin itu sama Nasya sampe dia nangis. " lanjut Althaf. "astaga Thaf, ya mana gue tau. Gue gak maksud kayak gitu. Lo kan tau sendiri gimana sikap gue ke cewe Thaf. " jawab Nizar kemudian. Ya, Althaf memang sudah mengetahui bagaimana sifat dan sikap sahabatnya itu. Namun ia tetap saja tidak terima melihat adik kesayangannya menangis walaupun itu disebabkan oleh Nizar yang notabennya memang memiliki sikap yang dingin terhadap perempuan. "iya Zar, gue tau. Tapi gue paling gak bisa liat Nasya nangis, gue gak bisa. " lirih Althaf kembali mendudukkan dirinya ke kursi begitupun dengan Nizar. "Thaf, gue.. gue.. mau ngomong sesuatu sama lo. " ucap Nizar. "ngomong apa? " tanya Althaf. "gue.. gue... engga jadi deh. " jawab Nizar. "lah gimana sih Zar?! Gak jelas banget lo. " "engga gak pa-pa, udah balik ke ruangan lo sana. Masalah kita udah selesai kan. " ucap Nizar terlihat gugup. "lo kenapa sih Zar? Aneh banget sih lo?" "engga pa-pa, udah balik sana lo. " ucap Nizar sambil mendorong tubuh Althaf agar segera keluar dari ruangannya. Apa yang sedang terjadi dengan Nizar? Ya, saat ini ia sedang gugup. Selama ada di luar kota selama hampir tiga minggu, Nizar memikirkan tentang masalah ini. Sejak ia bertemu dengan Nasya dan tidak sengaja bertukar pandang selama sekian detik, sejak itu pula pikiran dan hati Nizar tertuju pada gadis cantik itu. Nizar tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya. Bahkan ia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena bayang-bayang Nasya selalu muncul di pikirannya. Sejak ia bertemu dengan Nasya untuk ke dua kalinya, Nizar memikirkan dengan serius apa yang ia rasakan. Bahkan ia sampai meminta petunjuk kepada Allah lewat doanya di setiap sujudnya. Dan dari situ ia sudah mantap memutuskan untuk menyatakan niat baiknya kepada Althaf yang ditujukan untuk Nasya, yaitu untuk meminang gadis itu. Tapi entah mengapa, Nizar mendadak gugup saat akan berbicara dengan Althaf soal masalah ini. Dan jadilah seperti ini, ia gagal menyatakan tentang niat baiknya. Cukup lama Nizar berdiam diri, merenungkan kembali niatnya dan mencoba membangun kembali keberaniannya, akhirnya Nizar memutuskan untuk benar-benar menyatakan maksud baiknya tersebut. "gue harus berani! " ucap Nizar pada dirinya sendiri. Saat akan beranjak dari kursinya, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka. Dan menampakkan wajah tampan Althaf. "Zar, lo bisa bantu gue gak? " ucap Althaf. "gue.. gue.. Emm.. Bantu apa? " ucap Nizar gugup. Tentu saja ia terkejut dengan kemunculan Althaf. "emm, hari ini ada acara di rumah Umi. Nah niatnya gue mau jemput Nasya, tapi gue harus jemput Zahra juga di rumah mertua. Lo bisa ya jemput Nasya di rumah sakit Zar? " "gue? " tanya Nizar sambil menunjuk dirinya sendiri. "iya Zar, bisa ya Zar? Please lah Zar bantuin gue kali ini aja. Sekalian lo main ke rumah lah. Sejak gue nikah lo kan udah gak pernah main ke rumah Zar. Umi nanyain. " bujuk Althaf. "tapi... tapi... gue sama sepupu lo bukan mahram Thaf. Masa iya gue.. gue... berduaan sama dia? " ucap Nizar terbata-bata karena gugup. Tentu saja ia gugup, belum pernah sekalipun ia memasukkan gadis ke dalam mobilnya. Apalagi gadis itu adalah gadis yang telah memenuhi hati dan pikirannya saat ini. "yaelah Zar, emang kalian mau ngapain sih hah? Ayolah Zar bantuin gue ya? " "tapi gue___" "aduuhh gak ada tapi-tapi lah Zar. Pokoknya lo harus bantuin gue. Jemput Nasya dan gue mau jemput Zahra, kasihan udah lama nunggu gue. Gue tinggal ya, alamat rumah sakit tempat Nasya kerja ntar gue kirim. " putus Althaf secara sepihak kemudian pergi begitu saja dari ruangan Nizar. Tidak perlu ditanya lagi, sekarang ini ia semakin gugup saja. Ia tidak tahu harus bagaimana. Terlebih nanti saat ia harus bertemu dengan Nasya, ia bingung harus berbuat apa. Ia tidak mau membuat gadis itu menangis lagi karena sikapnya yang sebenarnya hanya gugup saja. Saat mendengar perkataan Althaf bahwa Nasya menangis karena ia mengacuhkan gadis itu, Nizar sangat menyesal karena telah membuat gadis itu menitihkan air matanya. Dan apakah ia akan kembali membuat gadis itu menangis? Entahlah. Nizar akhirnya memutuskan untuk benar-benar menjemput Nasya ke tempat kerjanya setelah mendapat pesan masuk dari Althaf yang berisi alamat Nasya bekerja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD