Kedua pria itu bersulang kecil dengan segelas minuman yang sudah terisi dengan cairan keemasan, "aku pulang Roger," Ken menepuk pundak Roger seperti biasa, "jangan pulang dulu Ken, bukankah kau ingin membuat dia menangis," Roger menahan pundak Ken sebentar.
Pete yang hampir kewalahan menahan tubuh Grace yang selalu merontah kembali berjalan mendekatkan gadis itu pada Ken, "Ken mau kau apakan istrimu ini, aku sudah tidak sanggup menahan nya lagi," ucap Pete melepaskan tubuh Grace berganti Ken yang mengunci tangannya, "kau lelaki b******k Ken, kau m***m, kau menjijikan, lepaskan aku," teriak Grace masih dalam dekapan Ken.
"Kita lihat siapa yang lebih menjijikan nantinya," Ken mendorong tubuh Grace tepat di arah Roger, "oohh rileks lah sejenak gadisku," sahut Roger yang menangkap tubuh Grace dan mencolek dagu Grace, "jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotor mu itu bodoh," dengan berani gadis itu meludahi wajah Roger.
Hal itu membuat emosi Roger kian memuncak, "dengar, malam ini kau akan menjadi milikku," Roger menarik kasar lengan Grace untuk menaiki anak tangga menuju sebuah kamar di atas.
"Lepaaaasssss!" teriak Grace hingga benar-benar menghilang dari hadapan Ken dan Pete.
"Ken apa yang kau lakukan?" Pete tak tega melihat itu semua.
"Aku menyuruh Roger menidurinya," balas Ken enteng seolah-olah itu bukan masalah.
"Apaaa? Apa kau gila Ken? Membiarkan istrimu diperlakukan kasar seperti itu?" Pete hendak mengejar Roger yang mungkin sudah berada di atas namun di cegah oleh Ken, "jangan ikut campur Pete, aku menjadikannya istri hanya untuk balas dendam,"
Pete tak habis fikir, entah makhluk seperti apa temanya itu membiarkan semua itu terjadi di depan mata nya sendiri. Bahkan Ken yang menyuruh sendiri, "kau gila Ken," Pete serasa terbawa emosi dengan tingkah biadab temanya itu.
Ken melirik tajam ke arah Pete sesaat, "jangan pernah ikut campur urusan ku, aku peringatkan itu Pete," Ken menepuk pundaknya dan pergi meninggalkan tempat itu.
Di sisi lain
Roger berhasil membawa Grace di sebuah kamar walau dengan cara memaksa, ia melempar tubuh Grace di atas kasur, "rupanya kau ingin bermain-main denganku hah," Roger menjambak rambut Grace sedikit kencang, "aahhww pria b******k lepaskan aku," mungkin hanya sebuah rintihan itulah yang mampu keluar dari bibir Grace.
Pria itu membuka baju dalam hitungan detik, sedangkan Grace yang berada di depan Roger mencoba berdiri untuk melarikan diri, "kau mau kemana Grace? ayolah puaskan aku dahulu," Roger menangkap dan mencium lehernya dengan rakus.
"Lepas, aku tidak ingin tidur dengan pria semacam kau," kedua tangan Grace terus mencoba memukul sebisa mungkin, namun semua itu tak sebanding dengan kekuatan Roger yang jauh lebih kuat dari dirinya.
"Kau meludahi ku, sekarang terimalah ini Grace," Roger mendorong tubuh Grace hingga terbentur tembok.
Seperti seseorang yang haus dan lapar, itulah yang menggambarkan sosok Roger saat ini, pria itu membuka resleting celana tanpa memiliki rasa malu di depan Grace, "kau harus mencicipi ini terlebih dahulu Grace," terlihat tubuh Grace yang sudah bergetar hebat, keringat yang membasahi seluruh tubuhnya.
Jangankan untuk tidur dengan pria asing , tidur dengan suaminya saja Grace sama sekali tidak ingin melakukan itu, "tidak, bagaimana bisa aku menyerahkan mahkota ku dengan pria asing dan lebih asing dari Ken. Tidak, aku tidak menginginkan itu," batin Grace.
Entah apa jadinya jika Mario mengerti bahwa ia sudah tidak perawan saat menikah dengan Mario.
"Mariooo tolong aku," teriak Grace.
Mendengar nama itu Roger tertawa lucu, "Mario? Kau memanggil Mario? Kau harus dengar ini Grace, tak ada yang menolong mu karena Ken lah yang menyuruh ku untuk memperkosa mu," mungkin Grace mengerti bahwa pria yang kini berstatus suami itu akan menghancurkan hidupnya, namun Grace sungguh tak menyangka bahwa Ken sejahat itu menyuruh pria lain untuk tidur dengannya. Seakan itu adalah sebuah petir yang menyambar hati Grace, tak bisakah pria bernama Ken sedikit lebih baik daripada ini? Sehina ini kah arti dirinya dimata Ken?
Roger mengangkat tubuh Grace di atas kasur, tangan pria itu dengan kasar meremas kedua payudaranya hingga Grace sedikit merintih merasakan rasa sakit, "aaahh," ia mencoba melawan namun semua itu hanya sia-sia
Terlihat mata Grace mulai berkaca-kaca, ia mencintai Mario namun ia menikahi Ken, dan sekarang? Sekarang yang akan merenggut mahkotanya adalah Roger, "tidak, aku tidak akan selemah itu," batin Grace di tengah-tengah kesedihan.
"Lepaaasskaann akuuu!" Grace berusaha menonjok wajah Roger namun tak sampai, ia meraba sebuah botol gelas bir yang ada di depan meja dan memecahkannya di kepala Roger "s**t," teriak Roger.
Terlihat kening Roger mulai mengeluarkan darah segar, "bug," Grace menendang alat vital pria itu cukup keras, "b***h, you b***h, fuck... s**t," Roger yang mulai merasakan sakit berlipat ganda.
Segera Grace menjatuhkan tubuh Roger dan berlari membuka kunci pintu, namun entah mengapa kunci itu serasa sangat sulit untuk terbuka, mungkin karena Grace terlalu takut dan terburu-buru benar begitu?
"Help me," Grace hampir frustasi karena pintu itu tak juga terbuka, ia pun menggedor pintu sebisa mungkin berharap seseorang menolong nya.
Roger pun dengan cepat menangkap tubuh Grace, "mau kemana kau jalang?" Roger Menghimpit tubuh Grace tak bisa bergerak.
"Aaaahhhwww," Grace meringis kesakitan saat sebuah tangan menjambak rambutnya kuat-kuat.
"Kau ingin kabur hah? Setelah kau meludahi ku? Setelah kau membuat kening ku berdarah? Dan setelah kau menendang penisku? Apakah kau bisa lari b***h?" Teriak Roger begitu keras dan semakin erat menjambak rambut Grace.
"Akh- sa-sakit," jika tadi hanya mata yang berkaca-kaca berbeda dengan kaki ini, mata Grace sudah benar-benar bercucuran air mata.
PLAK!
Tamparan itu sangat keras, membuat sudut bibir Grace mengeluarkan darah dan terjatuh ambruk di bawah "bangunlah, ayo bangunlah," teriak Roger melihat gadis di depannya mulai merungsut ke bawah.
Grace mencoba perlahan menjauh dari hadapan Roger, kali ini Grace sungguh berfikir bahwa Ken dan Roger adalah adik kakak yang memiliki sifat sama yaitu Pshyco.
Terlihat mimik Grace semakin melemah, Roger menarik bajunya danmelempara di atas kasur, "rasakan ini wanita arogan," mencium kasar bibir Grace dengan kasar. Hal itu menambah rasa nyeri yang terdapat di bibirnya.
"Tidak Grace, kau harus bisa menyelamatkan harga dirimu sendiri," batin Grace dengan sisa kekuatan yang masih ada pada dirinya .
Grace membutuhkan beberapa menit untuk mengumpulkan sedikit tenaganya yang masih tersisa, ia membiarkan Roger mengigit lehernya dan meremas payudaranya beberapa saat. Rasa sakit dan panas akibat tamparan itu sungguh masih membekas begitu sakit.
Tangan Roger mulai menyelinap di dalam rok nya ia tidak hanya menyentuh alat kewanitaan Grace, namun ia memang sengaja sedikit mencengkeram nya agar Grace merasakan rasa sakit, "eeehhkk," Grace tersadar bahwa semakin ia lemah maka cepat atau lambat keperawanan yang ia miliki akan hilang dalam sekejap.
Ia mengigit kuat-kuat leher Roger membuat Roger berteriak sangat kencang, "aaaaahhh," Roger berdiri dan melihat lehernya berdarah.
Grace mengambil sebuah high heels miliknya lalu ia pukulkan tepat di kepala Roger berulang kali, dan Roger pun pingsan untuk sesaat. Grace mulai berjalan pelan dengan memegang pipinya yang nyeri .
Grace telah berhasil membuka pintu itu, ia kembali turun ke bawah segera ingin pergi dari tempat terkutuk itu, namun saat Grace berada di bawah ia bertemu dengan Pete, "Aku tidak tahu namamu, tapi kau teman dari Ken bukan? Kumohon jangan cegah aku untuk pergi dari sini," Grace menangis di depan Pete, sedangkan Pete memandang sedih dan mengandeng tangannya mengantarkan gadis itu kembali.
____________******___________
"Turunlah, aku tak bisa membantumu lebih," Pete berhenti tepat di rumah Ken. Grace turun dari mobil yang baru saja ia tumpangi dan membiarkan Pete pergi begitu saja.
"Keterlaluan kau Ken, kau sungguh keterlaluan," di sepanjang perjalanan ia selalu menangis dan menangis.
Ia berhenti sejenak untuk mengusap air matanya, "kau lebih jahat dari yang aku bayangkan," ia mencoba mengusap air mata itu namun tetesan itu terjatuh lagi dan lagi.
Tetapi saat ini Grace harus berpura-pura tegar, ia takkan membiarkan Ken puas dengan rencananya. Tapi di dalam hati Grace sungguh teriris perih.
Grace mulai memasuki ruang tamu dengan pelan namun di depan sofa sudah ada pria yang duduk sambil menonton televisi, "sudah pulang? Bagaimana malam mu jalang?" Ejek Ken berdiri dan mendekat.
Gadis itu masih bisa berpura-pura tersenyum walau bibir yang sakit dan hatinya yang bisa dikatakan rapuh, "aku sungguh menikmati malam itu Ken, aku merasa nikmat yang takkan pernah kau rasakan," tentu saja itu adalah sebuah kebohongan.
Ken semakin memandang rendah harga diri Grace, "dasar w************n, aku sungguh tak menyangka kau seperti itu,"
Matanya menatap sudut bibir Grace yang mengeluarkan darah, "senikmat itu hingga kau berdarah? Dasar jalang,"
"Tentu saja aku menikmatinya, mengapa tidak?" Sungguh ia ingin menangis sekarang, ia ingin Ken mengerti bagaimana ia berjuang melawan Roger saat itu. Namun semua itu percuma takkan merubah apapun yang ada pada diri Ken.
"Masuklah, kau sangat menjijikan," Ken mengeluarkan segepok uang dan melempar di wajah Grace, "ini gajimu malam ini, kau pasti membutuhkan itu," Grace hanya diam saat Ken melakukan itu.
Grace tak memungut sama sekali uang yang berjatuhan di bawah, ia menuju kamarnya dan ingin segera mandi. Ia merasakan benar-benar kotor dengan hal yang baru saja ia alami.
"Kau menjijikan," teriak Ken namun diabaikan oleh Grace.
"Bagus Grace, ini belum seberapa," Ucap Ken merasa puas dengan semua yang ia lakukan. Ia merasa bahagia setelah melihat Grace seperti itu.
_____________________________________