Bab 6

1195 Words
Ken keluar dari kamar Grace membanting keras pintu itu dan berjalan menuju kamar, setiba ia di kamar terlihat laptop yang sudah berada di atas kasur, ia duduk di atas kasur dan membuka laptopnya, "dasar jalang, paras mu memang cantik Grace justru itu aku takkan menyia-nyiakan kecantikan mu,"  Drt .. drt ..  Dering ponsel Ken bergetar, ia melihat di depan layar tertulis nama ibunya ia pun mengangkat telepon itu "ada apa ibu?"  "Ken aku melihat Grace bukanlah wanita yang buruk,"  "Ibu kuharap jangan ikut campur, kumohon,"  "Baiklah Ken terserah padamu tapi jangan pernah menyesal di kemudian hari, ibu takkan mengurusi hidupmu tapi ibu hanya mengingatkan,"  "Baiklah ibu terimakasih,"  Ken mematikan pembicaraan singkat itu, membuang kasar ponsel itu di kasur, " jalang sialan, bagaimana ibu bisa menyukai gadis itu setelah aku bercerita semuanya,"  "Kau lihat Grace, sampai kapan kau bisa bertahan," umpat Ken yang mulai memainkan laptop di depan. Keesokan hari... Grace menguap kecil di atas kasur karena baru saja terbangun di alam mimpi, "oh jadi seperti ini rasanya menjadi orang kaya," biasanya jam seperti ini ia masih di apartemen, namun berbeda dengan sekarang yang bisa dikatakan itu adalah rumahnya. Entah itu benar atau salah anggap saja itu benar karena di otak Grace kini ia telah berstatus istri sah dari Kenzo Jordanio. Ia memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, membutuhkan waktu satu jam bagi Grace hingga ia merasa benar-benar bersih. Usai itu ia menuju meja rias dan berdandan kecil di depan kaca, "aku akan bertemu Mario, aku merindukan Mario," ucap Grace dengan memakai kan lipstik di bibir. Ia mengambil beberapa lembar uang yang Ken berikan padanya waktu di rumah sakit, ia juga membawa ATM nya sekaligus, "baiklah Grace mari kita bersenang-senang," Grace melangkah pergi dari rumah barunya dan menunggu taksi di depan. Grace memberitahu pada Mario bahwa hari ini ia akan datang di sebuah tempat makan yang menjadi hari bahagianya, dimana mereka merayakan hari Valentine bersama dulu. Sesampai di tempat makan tersebut Grace melihat Mario yang sudah duduk sendirian seperti menunggu seseorang, dan ya memang benar Mario telah menunggu dirinya, "astaga Mario, dia sudah menunggu ku," Grace merapikan rambut dan segera mendekati Mario. "Mario," ucap Grace tiba-tiba di depan nya, "Grace kukira kau tak akan datang," Mario berdiri dan mencium kening Grace. "Kau mencium ku Mario, kuharap kau tak mengerti tentang apa yang terjadi," Grace menyesal karena membohongi Mario, tapi ia lebih menyesal jika tak dapat menolong Chris. "Kenapa kau diam? Seperti aku adalah orang asing yang baru saja mencium mu Grace?" tanya Mario bercanda. Grace duduk di depan Mario dan tersenyum, "tidak, bagaimana mungkin aku merasa kau adalah orang asing,"  Terlihat di depan meja sudah terisi dengan dua piring pancake dan hot chocolate, "aku memesan makanan kesukaan mu Grace," Mario terlihat begitu semangat saat bersama Grace. Gadis itu mulai memakan sedikit potongan pancake di mulutnya dengan ice cream vanilla di atas, "Sabarlah Grace aku akan pergi beberapa Minggu lagi untuk mengumpulkan uang, dan kita bisa menikah secepatnya," Ucap Mario sembari mencolek pipi Grace. "Uhuk .. uhuk," Grace terbatuk mendengar hal itu, "beberapa Minggu lagi Mario?" Tanya Grace. "Iyah, dan aku berjanji akan membawa uang yang banyak untukmu, kau lupa bahkan kita sudah menghitung biaya pernikahan kita, aku hanya ingin yang terbaik Grace untuk dirimu," ucap Mario menatap mata Grace yang sedang memikirkan sesuatu, "Ada apa dengan mu Grace, kau keberatan dengan pernikahan kita?" "Aku tak keberatan Mario, bolehkah aku bertanya"  "Apa Grace?" Grace terlihat mencari sebuah kata-kata yang pas untuk pembicaraan nya, "oh ya Mario, kemarin aku melihat sebuah film dan di film itu menceritakan bahwa seorang gadis meninggalkan sang kekasih karena sebuah alasan, tapi pria itu tak mengetahuinya Mario. Bagaimana menurutmu film itu?" Grace mengisahkan dirinya sendiri dengan sebuah film berharap Mario tak mengerti dengan situasi saat ini. "Entahlah Grace itu rumit, tapi jika itu terjadi padamu lihat saja. Aku akan sangat marah padamu Grace," Grace memang merasa bahwa posisi nya benar-benar salah. Grace terbengong sesaat dan membuang pandangan nya di sebuah persimpangan jalan namun seketika mata Grace terbulat sempurna melihat sosok Ken yang sudah tersender di sebuah tiang lampu merah dengan tangan bersendekap d**a, "Ken," ucap Grace syok. "Ken? Siapa itu Grace?" Kini Mario mulai penasaran dengan tingkah laku aneh Grace yang tak biasa. Tak ada waktu menjelaskan itu semua, Grace berdiri dan meninggalkan Mario, "pulanglah Mario, akan ku ceritakan nanti padamu tapi tidak sekarang. I love you," Mario benar-benar tak mengerti sama sekali apa yang terjadi dengan Grace. Gadis itu terus berlari berusaha menjauh dari Mario, ia memasuki sebuah mall sebagai tempat persembunyian sementara, "sial, pria itu mengikuti ku,"  "Awwhh," sesosok pria berjaket hitam dengan kacamata hitam telah menabrak pundak Grace, "hai kau! apakah kau tidak punya mata?" kesal Grace dengan lantang. "Tentu aku punya mata Grace, jika aku tidak punya mata aku takkan bisa melihat mu dengan pria itu," pria itu membuka kacamata yang ia pakai. "Ken?" Grace memundurkan langkah namun tangan Ken telah berhasil menahan lengannya, "berani sekali kau keluar tanpa izin padaku terlebih dahulu," Ken menarik kasar lengan Grace, tak perduli sesakit apa yang di rasakan Grace, "lepaskan aku!" Ken tetap acuh dengan ucapan Grace dan beberapa orang kini yang mulai melihat. Dengan langkah cepat Ken menarik lengan Grace agar semakin menjauh dari keramaian, "sakit Ken, lepas!" teriak Grace terus berjalan . Bruuggg  Pria itu melemparkan tubuh Grace di sebuah tembok sepi dan hanya ada beberapa tong sampah kosong, "kau kira siapa dirimu? Ratu? Permaisuri? Seenaknya saja kau keluar tanpa izin padaku,"  Gadis itu mencoba bangkit dan mengelus pinggangnya yang sakit, "aku tidak perlu pamit padamu, kau tidak berhak mengatur ku," "Di dunia ini tidak ada yang gratis Grace," tawa Ken bak iblis. "Lal.... maksud mu?" Tanya Grace. Ken tak menjawab pertanyaan Grace, ia menarik kembali lengan itu dengan kasar, "sini kau! biar ku tunjukkan sesuatu," Ken terus mendekati mobilnya dan melemparkan tubuh Grace dengan kasar, "diam kau, kubawa kau ke suatu tempat," ___***___ Ternyata Ken telah membawa Grace di sebuah Bar, seperti biasa di dalam pasti sudah ada Roger dan Pete yang menunggu disana, "untuk apa kau membawaku kemari dasar b******k,"  Sreeeggg Ken menarik rok Grace hingga robek dan hanya tertinggal beberapa bagian di atas lutut, "diam kau,"  "Tidak, brengsek.. lepaskan aku!" Ken memasuki ruangan kelap-kelip mencari Roger dan Pete, ia mendekati mereka berdua saat menemukan Roger sedang tertawa dengan Pete. Pria itu mendorong kecil tubuh Grace hingga menabrak Roger yang sedang duduk, "aww," "Ken," ucap Roger dan Pete bersamaan. "Ken apa yang kau lakukan?" tanya Pete membantu Grace berdiri. "Aku ingin bicara dengan Roger, Pete bawalah dia sebentar ke sana," Ken menunjuk sebuah sofa merah panjang. Dan Pete menuruti perkataan Ken, "lepaskan aku!" teriak Grace namun lagi-lagi tak ada yang perduli. Ken duduk di samping Roger yang sedari tadi menatap Grace dengan tatapan nafsu, "aku menyuruhmu memperkosanya, akan ku bayar berapa pun yang kau mau. bagaimana? apakah kau tertarik?" Ucapan itu membuat Roger beralih pandang melihat Ken, "kau tidak bercanda Ken?" "Aku hanya suka melihat dia menangis, anggap saja itu mainan bagiku," Ken menatap Grace yang sedang bersama Pete. "Apakah dia Virgin?" Tanya Roger. "Aku tidak tahu, aku belum menyentuh dia," Roger tertawa menatap temannya, "kuharap kau tak menyesal dengan ini Ken, oh ya, kau tak perlu membayar ku, akan aku lakukan sesuai apa yang kau katakan,"  _____________________________________
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD