Layar laptop berpendar di depanku, menjadi satu-satunya sumber cahaya di kamar apartemen yang remang. Setelah membersihkan diri, tubuhku terasa sedikit lebih ringan. Aku duduk di meja belajar dengan handuk masih melilit rambutku yang basah.
Jariku mengetik satu nama yang terus berputar di kepalaku sejak tadi: Hotel Virelux.
Situs resminya muncul di urutan teratas. Aku meng-klik tautan itu. Halaman utama terbuka, menampilkan foto megah gedung hotel di malam hari. Skema warnanya hangat—emas dan merah marun tua—namun entah mengapa, atmosfer fotonya terasa sepi.
Tiba-tiba, embusan angin masuk melalui celah ventilasi, menyentuh kulit leherku yang masih lembab. Aku merinding. Begitu aku meng-klik layar, musik klasik bertempo lambat mengalun lirih, mengiringi teks yang muncul perlahan di tengah layar:
VIRELUX
Where elegance meets eternity
"Sebuah pengalaman menginap yang melampaui kenyamanan dan waktu."
Aku menelusuri menu sejarahnya. Semuanya tampak sempurna. Aku bisa membayangkan betapa kerasnya tim HR dan manajemen mereka bekerja untuk mempertahankan citra bintang tujuh ini. Gaji mereka pasti fantastis.
Rasa penasaranku membawaku ke menu reservasi. Mataku membelalak melihat deretan angka yang tertera. $11,000 hingga $20,000 per malam.
Gila! Aku bersandar di kursi, menganga. Itu bukan sekadar harga kamar; itu harga sebuah martabat. Hanya orang-orang yang memiliki "dunia" di saku mereka yang bisa tidur di sana. Gaji tahunanku saja tidak bisa menutupi biaya kamar. Untuk orang sepertiku, dibutuhkan jalur keberuntungan untuk menginap disana.
Aku beralih ke menu yang kucari: Anniversary Invitation.
Begitu di klik, layar mendadak menggelap. Transisinya lambat, seolah-olah situs ini sedang memindai siapa yang membukanya. Tampilan teksnya berubah minimalis, dengan animasi yang merayap pelan:
An Exclusive Invitation
“Tidak semua orang menemukan jalan ke Virelux. Namun sebagian karena terpilih.”
Dalam rangka perayaan anniversary kami, Virelux membuka kesempatan terbatas bagi individu terpilih untuk merasakan pengalaman menginap eksklusif.
Di bawah kiri halaman, terdapat formulir pendaftaran. Aku meng-kliknya.
FORM PENDAFTARAN UNDIAN
Halo tamu kami yang berharga,
dalam memperingati Anniversary Hotel Virelux yang ke-100, kami memberikan kesempatan terbatas untuk menikmati pengalaman menginap tak terlupakan seumur hidup Anda.
Kalimat berikutnya membuat jemariku terhenti sejenak:
Semua informasi peserta akan kami jaga kerahasiaannya. Kami sangat baik dalam menjaga rahasia tamu.
"Tentu saja," gumamku sinis. "Kerahasiaan adalah yang utama bagi orang kaya."
Aku mulai mengisi kolom yang diminta: Nama Lengkap, Usia, Pekerjaan, Kontak.
Begitu menekan tombol Next, layar menampilkan pertanyaan yang tidak biasa. Aku menaikkan sebelah alis.
Apa yang paling anda inginkan saat ini?
(*Mohon memberikan jawaban jujur, agar kami bisa menyiapkan pengalaman menginap sesuai ekspektasi tamu)
Apakah anda pernah merasa kehilangan sesuatu yang berharga?
[ ] Ya
[ ] Tidak
Jika diberi kesempatan untuk mengubah satu hal dalam hidup anda, apakah anda akan mengambilnya?
[ ] Ya
[ ] Tidak
Aku skeptis. Apa-apaan ini? Jika aku menjawab ingin kaya raya, apa mereka akan menaruh tumpukan uang di bawah bantal hotelku nanti? Namun, mengingat reputasi Virelux, aku berpikir mungkin ini cara mereka melakukan profiling tamu agar pelayanan mereka terasa "personal".
Aku terdiam cukup lama pada kolom pertama. Jemariku menggantung diatas keyboard, ragu. Ini adalah sesuatu yang bahkan tidak ku ucapkan pada siapapun. Sesuatu yang hanya ku kubur dalam-dalam di dasar dadaku.
Perlahan, aku mengetikkan kalimat itu. Setiap huruf yang muncul di layar terasa seperti beban yang terangkat— sekaligus sebuah rahasia yang baru saja ku serahkan kepada orang asing di seberang website.
“Mustahil mereka bisa mewujudkannya,” bisikku getir. Aku tersenyum miring, lalu lanjut ke pertanyaan berikutnya. Layar terakhir muncul. Hanya ada satu pertanyaan.
Seberapa jauh anda bersedia melangkah untuk mendapatkan apa yang anda inginkan?
[ ] Tidak Jauh
[ ] Seperlunya
[ ] Tanpa Batas
Aku terdiam. Kursiku agak sedikit terdorong ke belakang saat aku menyandarkan punggung, menatap langit-langit kamar yang kusam. Seberapa jauh, ya?
Entah karena dorongan iseng atau rasa frustasi akan hidup ku yang stagnan, jariku bergerak pasti. Aku mencentang pilihan terakhir. Tanpa Batas.
Toh, ini hanya survei kepuasan pelanggan, bukan?
Kursorku mencari tombol Submit, tapi yang kutemukan adalah tombol unik bertuliskan: Enter the Experience.
Aku mengedikkan bahu dan meng-kliknya.
Terima kasih telah mendaftar. Kami akan menghubungi Anda pada waktu yang tepat.
***
Terdengar suara tetesan air dari kamar mandi.
Aku yang sedang tidur, sedikit menajamkan pendengaran ku.
Tikk… tik… tik…
Suara itu berasal dari kamar mandi, sulit untuk diabaikan jika suaranya cukup jelas seperti itu. Seingatku, kran air sudah ku tutup selepas mandi. Mataku terbuka pelan. Hal pertama yang menyambutku adalah kegelapan kamar. Setiap tidur aku selalu mematikan lampu, namun gelapnya kamarku malam ini terasa lebih pekat berbeda dari malam biasanya. Tanganku meraba meja disebelah kiri tempat tidur, kuraih ponselku. 02.30. ughhh.. pagi masih lama menyambut.
Aku mengusap wajahku pelan, mencoba mengusir kantuk yang tiba-tiba terasa berat. Dengan enggan, aku bangkit untuk memeriksa kamar mandi. Lantai kamarku terasa dingin saat kaki menyentuhnya— perasaan merinding muncul saat rasa dingin di kaki menjalar ke tubuhku.
Langkahku pelan menuju kamar mandi. Karna pintu kamar mandiku dipasang kaca buram, dapat kulihat sedikit pantulan bayanganku disana. Tapi entah kenapa, rasanya bayangan itu sedikit lebih gelap.
Tikk… tik… tik…
Kembali ku tajamkan pendengaranku, memastikan bahwa suara tetesan air benar berasal dari dalam sana.
Aku menahan napas ketika tanganku menyentuh gagang pintu. Ku buka pelan pintu itu,
krek—
Pintu terbuka. Hening. Tidak ada suara tetesan air, hanya suara detik jam dinding saja yang menggema memenuhi seisi kamar ini. Aku mengernyit. Tanganku meraih keran, memutarnya sedikit, lalu menutupnya lagi. Shower juga kupastikan mati. Tidak ada apa-apa.
“Apa cuma perasaanku..” gumamku pelan.
Tak ingin ambil pusing, aku segera keluar dan menutup pintu. Baru dua langkah berjalan—
Cesss…
Suara air mengalir kembali terdengar. Kali ini suaranya agak deras seperti air mengalir tapi kecil, bukan tetesan lagi.
Tubuhku membeku.
Perlahan aku berbalik. Jantungku mulai berdetak lebih cepat.
Aku kembali membuka pintu, mencoba memeriksa ke dalam. Hening lagi. Nihil. Tidak ada suara apa-apa.
Perasaanku sudah mulai tidak karuan, udara didalam kamar mandi tiba-tiba terasa dingin. Aku menelan ludah.
Tidak ingin berlama-lama disini, aku cepat-cepat keluar menutup pintu.
Selangkah.
Dua langkah.
Tiga langk—
Cesssssss….
Air shower. Kali ini deras. Seperti seseorang yang sedang mandi tepat di balik pintu itu.
Langkahku terhenti. Degupan jantungku begitu keras sampai terasa di telinga. Perlahan… aku berbalik.
Tubuhku seketika terasa lemas, keringat dingin seperti bulir jagung mengalir di tubuhku.
Didepan sana, di balik kaca buram itu ada siluet seorang wanita. Rambutnya panjang, tampak menempel di tubuhnya yang basah. Ia berdiri tepat di bawah shower. Air mengalir membasahi tubuhnya.. tapi anehnya bayangan itu tidak bergerak. Hanya diam, menghadap ke arah pintu. Tepatnya ke arahku.
Nafasku tercekat. Dadaku sesak seperti ditekan sesuatu.
Aku tetap melangkah mendekat. Rasa keingintahuan ini pasti akan membunuhku,
Satu langkah.
Dua langkah.
Tangan kiriku gemetar saat meraih gagang pintu dan tangan kanan meraba saklar.
Satu… dua…
Klik.
Pintu terbuka. Lampu menyala.
Kosong. Tidak ada siapa-siapa. Shower mati tapi lantainya basah. Air masih menetes dari dinding… perlahan turun ke lantai seperti baru saja digunakan.
Aku mundur. Merasa takut, aku langsung berlari ke arah tempat tidur. Namun saat berbalik— aku berhenti mendadak. Aku dikejutkan dengan pantulanku di cermin sudut kamar. Spontan, aku sedikit berteriak sebelum sadar menutup mulutku.
Aku terdiam beberapa detik… lalu tertawa kecil gugup. “hah… cuma aku…”
Aku mendekat. Ku raih selimut tipis diatas kasur untuk menutupi cermin. Tapi saat selimut kutaruh— terjatuh karna pinggir cermin yang licin. Aku menghela napas, sedikit kesal, lalu menunduk mengambilnya lagi.
Detik itu juga… suasana jadi sunyi.
Terlalu sunyi.
Seperti.. suara di kamar menghilang semua.
Perlahan aku mendongakkan kepala.
Mataku bertemu lagi dengan cermin. Dan kali ini— aku tidak langsung menyadarinya.
Butuh satu detik.
Dua detik.
Tiga detik—
Pantulanku…. Masih berdiri. Padahal aku sedang sedikit membungkuk.
Darahku langsung terasa dingin. Aku membeku.
Pantulan itu perlahan… mengangkat kepalanya. Gerakannya tidak mengikuti tubuhku.
Lambat. Patah-patah.
Seperti sesuatu yang sedang belajar menirukan manusia.
Lalu… ia tersenyum.
Bukan senyumanku. Senyum itu terlalu lebar. Terlalu dipaksakan. Sudut bibirnya tertarik sampai hampir menyentuh pipi.
Matanya… kosong.
Menatap lurus ke arahku.
“hellooo…” bisik suara di belakang telingaku.
Belum sempat berteriak— pantulan itu bergerak cepat.
Tangannya menghantam permukaan cermin dari dalam—
BRAKK!!
Retakan menyebar.
Tangannya menembus keluar mencengkram leherku. Dingin. Basah.
Aku menjerit, berusaha melepaskan diri— tapi cengkeramannya semakin kuat. Wajahnya mendekat dari dalam cermin, masih tersenyum lebar—
“‘Matiiii—”
KRIIINNGGGGG!!!
Alarm berbunyi.
Aku tersentak bangun dengan nafas terengah-engah. Kuraba tubuhku terutama leher. Masih aman. Hahh.. aku menghela napas dalam. “Cuma mimpi buruk,”bisikku.
Namun saat melirik kamar mandi, jantungku kembali mencelos. Pintu kamar mandi yang seingatku sudah ku tutup rapat sebelum tidur, kini terbuka sedikit.
Aku mencoba mengabaikannya, “Cuma stres, Liv. Kau butuh liburan.” Gumamku sambil berjalan mengambil laptop.
Saat sedang melihat jadwalku hari ini, ada satu notifikasi email baru.
Dengan jemari gemetar, aku membuka email itu.
Subject: [CONFIRMED] You have been chosen.
From: The Management of Virelux
Halo, Livia Hayes
Selamat. Keinginan Anda telah kami terima. Karena kesediaan Anda untuk melangkah 'Tanpa Batas', Manajemen Hotel Virelux secara eksklusif memilih Anda untuk bergabung dalam perayaan 100th Anniversary kami.
Kami telah menyiapkan segalanya sesuai dengan jawaban jujur yang Anda berikan. Anda tidak perlu membawa banyak beban. Cukup bawa diri Anda, dan biarkan kami mewujudkan apa yang paling Anda inginkan saat ini.
Detail Reservasi:
Room: VIP Suite – Floor 9 (The Eternity Wing)
Check-in: Rabu, pukul 14.00 WIB
Mobil penjemput akan tiba di depan gedung apartemen Anda tepat pukul 13.00 WIB. Mohon konfirmasi kehadiran anda dalam kurun waktu 24 jam.
“Karena di Virelux, kenyamanan Anda adalah bagian dari pelayanan kami.”
Aku terdiam sejenak meresapi setiap kalimat. k****a kembali isi email tersebut memastikan bahwa memang ditujukan padaku.
Aku tersenyum tipis, melihat layar ponselku, kenapa tidak, batinku. Tak ingin menunda aku langsung mengkonfirmasi kehadiranku.
Klik.
Confirm Attendance.