Malaikat Jatuh
"Hitam tidak selalu hitam, dan putih tidak selalu putih."
Kalimat itu tertanam di benakku seperti paku karatan. Ibuku membisikkannya setiap malam, tepat sebelum dia membacakan dongeng pengantar tidur yang tak lazim: kisah tentang kejatuhan Iblis.
Ibu bilang, Iblis dulunya adalah malaikat paling agung. Namun, kesombongan membuatnya menolak bersujud pada manusia, hingga Tuhan mengusirnya dari surga. Tetapi iblis tidak patuh begitu saja. Begitu menyadari tidak ada jalan kembali baginya ke surga, ia mengajukan satu permohonan kepada tuhan. Keabadian hingga hari kiamat.
Dendam mengubah malaikat itu menjadi monster yang haus akan kesesatan.
ia kecil selalu bertanya-tanya, apakah Ibu sedang menceritakan dongeng, atau sebenarnya sedang menceritakan dirinya sendiri? Ibu mencintai Ayah dengan cara yang tak masuk akal. Dia memuja pria itu layaknya malaikat, meski Ayah selalu memperlakukannya buruk.
Aku ingat sore itu, di usiaku yang ke-12. Aku bersembunyi di balik sudut dinding lorong rumah yang lembab, menyaksikan Ayah mengamuk.
Suara kaca pecah menghantam lantai, beradu dengan teriakan histeris Ibu. Sebuah gelas dilempar, mendarat tepat di dahi Ibu. Darah merah segar merembes, kontras dengan wajah Ibu yang pucat pasi.
Penyebabnya klasik: Ayah punya wanita lain.
Ibu yang sanggup menerima setiap pukulan selama bertahun-tahun, mendadak hancur saat menyadari cinta butanya dikhianati. Ayah pergi dengan deru mobil yang kasar, meninggalkan rumah dan Ibu yang luruh di lantai di antara pecahan kaca.
Aku mendekat, menepuk bahunya pelan. Ibu mendongak, matanya yang sembab dan dikelilingi lebam biru menatapku. Dia tersenyum—sebuah senyum yang dipaksakan.
"Semua akan baik-baik saja," bisiknya sambil mencium dahiku.
Malam itu, Ibu masuk ke kamarku. Dia membacakan dongeng Iblis itu sama seperti malam-malam sebelumnya. Tapi ada yang berbeda. Suaranya tenang, sangat tenang, seolah semua badai di kepalanya telah reda. Aku tertidur lelap dalam dekapannya, tanpa tahu bahwa itu adalah pelukan perpisahan.
Pagi harinya, rumah terasa sangat hening. Tidak ada aroma roti panggang atau suara denting piring di dapur. Aku turun dari ranjang, melewati lorong sepi menuju halaman depan.
Di sana, di pohon cherry tempatku biasa bermain ayunan, aku menemukan Ibu.
Dia tidak lagi menangis. Dia tergantung kaku dengan tali yang melilit leher ringkihnya. Tubuhnya terombang-ambing pelan ditiup angin pagi, pakaiannya bewarna putih bergerak pelan seakan-akan terbang seperti malaikat.
Aku tidak berteriak. Aku hanya diam, menatap ujung kaki Ibu yang tak lagi menyentuh tanah. Pikiranku mendadak bising oleh ribuan pertanyaan "Bagaimana jika?". Bagaimana jika aku tidak menutup mata atas lukanya selama ini? Apakah dia akan tetap hidup?
Namun, aku yang berusia dua belas tahun hanya bisa terpaku sampai suara jeritan Bibi Jocelyn, tetangga kami, memecah keheningan. Orang-orang berdatangan, polisi memenuhi halaman, dan mereka menatapku dengan tatapan iba yang memuakkan.
Ayah kembali setengah hari kemudian dalam keadaan mabuk. Dia mencoba melawan polisi, berguling di tanah seperti orang gila sebelum akhirnya diborgol. Tapi keadilan adalah lelucon di dunia ini. Ayah hanya mendapat hukuman percobaan dan denda ringan atas tuduhan KDRT. Dan aku? Aku dikembalikan ke tangan pria yang sama yang telah membunuh jiwa Ibuku.
Tahun-tahun berikutnya, rumah ini seperti neraka yang sunyi. Ayah terus berjudi dan mabuk, hingga kanker merenggut nyawanya saat aku berusia tujuh belas tahun. Di pemakamannya yang basah oleh hujan, dihadiri oleh beberapa pelayat yang tidak ku kenal, aku hanya berdiri tanpa ekspresi. Tidak ada air mata, hanya mengutuk dalam hati semoga dia jatuh ke neraka paling dalam.
Aku menetap di rumah mati itu sampai usiaku dua puluh tahun, sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi sejauh mungkin. Aku mengemas trauma ini ke dalam koper, meninggalkan kota kecil itu, dan menuju Manhattan.
Aku pikir aku bisa lari. Namun, aku lupa bahwa bayangan masa lalu tidak pernah tertinggal di belakang—ia selalu ikut berjalan di sampingmu
***
Manhattan tidak seindah di dalam film. Bagiku, kota ini hanyalah kumpulan beton pencakar langit yang mencoba menyembunyikan kebusukan di bawahnya.
Aku berdiri di trotoar yang padat, membiarkan bahuku ditabrak oleh orang-orang yang terburu-buru. Aku menatap email di ponselku. Sebuah email dengan dengan subjek huruf kapital mencolok mata: PENGUMUMAN RESTRUKTURISASI INTERNAL.
Mataku terdiam membaca setiap baris kalimat kaku khas korporat itu. Aku di demosi. Bukan karena aku tidak kompeten, tapi karena aku tidak punya "koneksi". Aku hanyalah gadis yatim piatu tanpa nama besar yang dengan mudah disingkirkan oleh anak pemilik perusahaan yang ingin memasukkan temannya.
Duniaku sedang runtuh, persis seperti saat Ayah menghancurkan gelas di kepala Ibu. Rasa tidak berdaya itu kembali mencekik leherku.
"b******k," desis ku pelan.
Aku berjalan tanpa arah, berusaha meredam kebisingan di kepalaku yang mulai menyalahkan diriku sendiri lagi. Langkahku terhenti di depan sebuah lampu merah. Di sana, di atas kotak sampah yang bersih, tergeletak sebuah brosur mewah dengan tinta emas yang mencolok.
"The Grand Virelux Hotel: Malam Perayaan Eksklusif."
Dari luar, bentuknya lebih mirip map tipis daripada brosur biasa, dengan lipatan dua sisi seperti pintu lemari.
Kertasnya tebal, bertekstur halus di ujung jari— tidak kaku seperti kertas karton, tapi juga tidak selembut kertas biasa. Lentur, namun terasa berat.
Warnanya putih gading dengan garis emas tipis di pinggirannya. Tidak banyak tulisan di bagian depan. Hanya nama hotel yang tercetak rapi di atas, dan dibawahnya, sebuah tulisan kecil :
Open me.
Ditengahnya terdapat logo hotel berupa phoenix di sisi kiri lipatan dan serpent di sisi kanan. Kedua lipatan ini terhubung oleh stempel kecil berwarna merah pekat sebagai penghubung phoenix dan serpent, membentuk lingkaran.
Perlahan, ku buka lipatannya.
Bagian dalamnya terbagi rapi— seperti lemari kecil dengan beberapa kompartemen. Setiap sisi ada bagiannya tersendiri.
Di sebelah kiri, membahas tentang hotel serta pengalaman menginap dari para tamu. Di bagian tengah terdapat fasilitas hotel yang dapat dimanfaatkan tamu. Sedangkan di kanan, terdapat denah hotel bagian dalam.
Semua tulisan-tulisannya dicetak rapi, bahkan terlalu rapi. Tidak ada cacat hampir seperti tidak dicetak, melainkan digores langsung dengan sempurna.
Di bawahnya tertera tulisan kecil: Undian terbatas untuk tamu undangan yang terpilih. Pengalaman menginap yang akan mengubah hidup Anda selamanya.
Dibelakangnya tertera alamat hotel yang terletak di bagian paling eksklusif di Upper East Side. Aku tahu tempat itu. Itu adalah tempat dimana orang-orang sepertiku dilarang masuk bahkan untuk sekedar berdiri di lobi.
Aku menyimpan brosur itu. Biasanya, aku tidak percaya pada keberuntungan. Bagiku, keberuntungan hanyalah kata lain dari jebakan. Namun, saat itu, aku melihat sebuah kesempatan gratis untuk pelarianku.
Mungkin ini adalah cara semesta mengejekku. Atau mungkin, ini adalah pintu pelarian untuk menghibur diri dari tekanan.
Pikiranku kembali pada dongeng Ibu. Iblis mendapatkan perpanjangan usia karena dia meminta satu kesempatan pada Tuhan. Dan di depanku, pamflet ini terasa seperti tawaran serupa. Aku tidak punya uang, posisiku baru saja diambil orang lain, dan hampir tidak punya alasan untuk bertahan di apartemen sempitku.
Aku menatap pamflet itu cukup lama. Teksturnya mahal, sangat kontras dengan telapak tanganku yang kasar. Jika aku pergi ke hotel ini, setidaknya aku bisa merasakan hidup sebagai "malaikat" sebelum benar-benar kembali jatuh ke kerak kemiskinan Manhattan.
Aku menyimpan brosur itu di saku mantel. Malam ini, aku akan mendaftar.
Tanpa kusadari, di sudut jalan, sebuah mobil hitam dengan kaca gelap memperhatikanku. Seseorang di dalam sana sedang mencatat namaku. Perburuan itu sebenarnya sudah dimulai, bahkan sebelum aku menginjakkan kaki di sana.