Episode 82

1187 Words

Sean berdiri di depan gundukan tanah yang masih tampak basah. Air matanya terus saja menetes tanpa henti, mengingat kebersamaannya bersama Gissila. Banyak penyesalan yang tumbuh karena mengambil jalan sepintas. Zen berdiri di belakang Sean, sambil terus menatap punggung yang sedikit membungkuk itu. Pikiran Zen tak menyangka bahwa pria yang berstatus temannya telah membunuh Gissila. Haruskah ia menyalahkan Sean, tentu saja tidak. Di dunia ini, siapa yang mau dibunuh oleh ibunya sendiri untuk di jadikan tumbal. Sean tidak ada hubungannya dengan para iblis. Dia tak berhak membayar perjanjian leluhurnya dengan penguasa kegelapan. “Kita kembali sekarang, Sean,” ajak Zen sambil menyentuh pundak pria itu. “Seharusnya, aku tak menusuk Mom dengan pisau, Zen.” Tubuh Sean bergetar hebat, penuh

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD