Setelah mendapatkan kabar dari orang mansion, Gissila langsung bergegas pulang. Wanita itu akan menenangkan Sean seperti biasanya, agar rencana yang sudah disusun berjalan mulus. Dengan mambawa guci berwarna putih, ia keluar dari mobil. Di tengah perjalanan, wanita itu bertemu dengan seorang pria muda asing. Mereka berdua berpapasan, kemudian berhenti dalam waktu yang cukup lama. Gissila pun angkat bicara karena merasa ada yang janggal. “Siapa kau? Kenapa keluar dari mansionku?” tanyanya dengan sangat arogant dan dingin. Pria yang tak lain adalah Zen itu tersenyum dengan tenang. “Saya adalah teman Sean dari Los Angles.” Ia pun menoleh, membungkuk setengah badan-seperti para iblis yang hormat kepada raja. “... salam kenal, Nyonya Theodor.” Gissila tersentak melihat adat istiadat yang

