BAB 1: Rumah yang Terasa Sempit
Rumah itu tidak pernah terasa sesempit malam ini.
Reina Anjani berdiri di depan wastafel dapur, tangan memegang gelas kaca yang sudah mengering sejak sepuluh menit lalu. Air dari keran mengalir pelan, tapi ia tidak bergerak. Pandangannya kosong menatap titik hitam kecil di ubin putih di depannya. Di ruang keluarga, televisi menyala dengan volume rendah, menayangkan berita malam yang tidak ia dengar. Suara tawa dari sofa terdengar samar, bercampur dengan denting sendok di piring.
Arka sedang di sana.
Bersama Celine.
Reina menghela napas pelan, mematikan keran, lalu mengusap tangan ke apron hitam yang dililit di pinggangnya. Apron itu hadiah dari Celine dua tahun lalu, bertuliskan “World’s Okayest Wife” dengan huruf miring yang lucu. Dulu ia tertawa setiap melihatnya. Malam ini, tulisan itu terasa seperti lelucon yang tidak lucu lagi.
Ia menoleh ke arah ruang keluarga.
Arka duduk di ujung sofa, tubuhnya sedikit condong ke depan. Kemeja putihnya sudah digulung sampai siku, memperlihatkan lengan yang masih berbekas debu halus dari gudang. Rambut hitamnya sedikit berantakan, seperti biasa setelah seharian bekerja. Di sebelahnya, Celine duduk dengan kaki dilipat di bawah tubuh, memakai kaos oversized abu-abu yang Reina kenal milik Arka yang biasanya dipakai tidur.
Mereka sedang makan mie instan dari mangkuk yang sama.
“Aku bilang jangan pakai terlalu banyak saus,” suara Arka terdengar rendah, hampir seperti gumaman. “Pedasnya bisa bikin kamu menangis.”
Celine tertawa kecil. “Aku suka menangis karena pedas, bukan karena mantan.” Ia menusuk mie dengan sumpit, lalu menyuapkan ke mulut Arka tanpa diminta. “Coba. Kalau tidak enak, salahkan aku.”
Arka membuka mulut. Ia mengunyah pelan, lalu mengangguk. “Lumayan.”
Reina memalingkan wajah. Dadaanya terasa sesak, seolah ada yang mengikatnya dari dalam. Ia tahu itu hanya kebiasaan lama. Celine selalu seperti itu cerewet, spontan, tidak punya batasan. Dulu Reina menyukainya. Dulu ia bahkan mendorong Celine untuk lebih dekat dengan Arka, supaya sahabatnya tidak merasa sendiri setelah putus dari Darren.
Sekarang, kedekatan itu terasa berbeda.
Ia mengambil tiga gelas dari lemari, mengisi masing-masing dengan air dingin dari kulkas. Langkahnya pelan saat menuju ruang keluarga. Lantai kayu di lorong berderit pelan di bawah kaki telanjangnya, seolah ikut memperingatkan.
“Rei,” Celine menoleh dulu, senyumnya masih melebar. “Ayo sini. Mie-nya masih banyak.”
Arka menoleh belakangan. Matanya bertemu dengan milik Reina selama sedetik. Ada sesuatu di sana bukan rasa bersalah, bukan juga kehangatan yang dulu biasa ia lihat. Hanya kelelahan yang dicampur sesuatu yang tidak bisa Reina sebutkan.
“Sudah makan?” tanya Arka.
“Belum,” jawab Reina singkat. Ia meletakkan gelas di meja kopi. “Kalian lanjut saja. Aku mau mandi dulu.”
Celine mengerucutkan bibir. “Jangan mandi dulu, dong. Nanti aku bosan sendiri kalau Arka tidur duluan.”
“Aku tidak akan tidur,” sahut Arka. Suaranya datar. “Masih ada laporan stok yang harus dicek.”
Reina mengangguk, lalu berbalik. Di perjalanan menuju kamar mandi, ia mendengar Celine berkata pelan, “Kamu kelihatan lelah banget hari ini.”
Arka tidak menjawab.
Air hangat mengalir di tubuh Reina, tapi tidak berhasil menghilangkan rasa dingin di dadanya. Ia menatap bayangannya di cermin yang berembun. Wajahnya terlihat biasa saja kulit sawo matang, mata hitam yang sedikit sembab, bibir yang pucat karena jarang memakai lipstik di rumah. Ia bukan tipe wanita yang mencolok. Celine jauh lebih hidup, lebih berisik, lebih… menarik perhatian tanpa berusaha.
Reina menggosok wajahnya dengan kedua tangan.
Empat tahun menikah.
Dua tahun terakhir terasa seperti menunggu sesuatu yang tidak pernah datang.
Ia mematikan shower, mengenakan piyama biru muda, lalu keluar. Di ruang keluarga, mangkuk mie sudah kosong. Celine sedang menyandarkan kepala di sandaran sofa, sementara Arka duduk di lantai, punggung menempel di kaki sofa, fokus pada laptop di pangkuannya.
“Rei, sini,” Celine mengulurkan tangan. “Aku kangen pelukan sahabat.”
Reina ragu sejenak, lalu duduk di sebelahnya. Celine langsung memeluk pinggangnya, menaruh dagu di bahunya. Bau sampo strawberry Celine bercampur dengan aroma sabun mandi Arka yang masih tertinggal di kaos itu.
“Darren telepon lagi tadi sore,” bisik Celine. “Minta balik. Aku blokir.”
“Bagus,” kata Reina pelan. “Kamu pantas dapat yang lebih baik.”
Celine tersenyum kecil, tapi matanya tidak ikut tersenyum. “Yang lebih baik biasanya sudah punya pemilik.”
Kalimat itu menggantung di udara. Reina merasakan tubuh sahabatnya menegang sesaat, lalu rileks lagi. Di lantai, Arka tidak menoleh. Jari-jarinya terus mengetik, tapi Reina bisa melihat rahangnya mengeras.
Jam menunjukkan pukul sepuluh lewat.
Celine menguap panjang. “Boleh tidur di sini malam ini? Kontrakan basah karena hujan sore tadi. Atapnya bocor lagi.”
Reina menatap Arka. Suaminya akhirnya mengangkat wajah. “Silakan. Kamar tamu sudah siap.”
“Atau aku tidur di sofa saja,” kata Celine sambil tertawa. “Biar tidak merepotkan.”
“Kamar tamu,” tegas Arka. “Sofa tidak nyaman.”
Reina bangkit. “Aku ambilkan selimut tambahan.”
Di lemari kamar, ia berdiri terlalu lama menatap tumpukan selimut. Jantungnya berdetak lebih cepat dari yang seharusnya. Tidak ada yang salah. Celine selalu menginap. Arka selalu mengizinkan. Mereka bertiga selalu seperti ini.
Tapi malam ini, rumah terasa terlalu kecil untuk tiga orang.
Ketika ia kembali, Celine sudah berdiri di depan kamar tamu, mengucek mata. Arka masih di lantai, laptop sudah ditutup. Ia menatap Reina dengan pandangan yang sulit dibaca.
“Selamat malam,” kata Celine, lalu menghilang di balik pintu.
Reina meletakkan selimut di ujung sofa. Arka berdiri, merapikan kemeja yang sudah kusut. Mereka berjalan menuju kamar tidur bersama dalam diam. Pintu ditutup. Lampu dimatikan.
Di kegelapan, Reina mendengar napas suaminya yang teratur. Ia membalikkan badan, memandang langit-langit yang tidak terlihat.
Dari kamar tamu di seberang lorong, terdengar suara kasur yang berderit pelan. Lalu hening.
Reina memejamkan mata.
Rumah itu tidak berubah ukurannya.
Temboknya masih sama. Atapnya masih sama.
Tapi malam ini, untuk pertama kalinya dalam empat tahun, ia merasa tidak ada cukup ruang untuk semuanya.
Tidak cukup ruang untuk tiga napas.
Tidak cukup ruang untuk rahasia yang belum sempat terbentuk.
Dan tidak cukup ruang untuk perasaan yang mulai tumbuh di tempat yang salah.
Di luar, hujan mulai turun lagi.
Pelan, tapi terus-menerus.
Seolah ingin memberitahu bahwa malam ini hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar rumah yang terasa sempit.