Bagian 9

1904 Words
“Liontinnya terlihat tidak asing,” ucap Elijah tatkala melihat sketsa kalung yang Reynart berikan padanya. Keduanya sedang berada di rumah Elijah. Ketika melihat kalung liontin yang Cila kenakan sebanyak dua kali, pria ini merasakan jika kalung tersebut tampak sedikit mengganggu pikirannya. Untuk memastikan satu hal, Reynart pun segera menemui Elijah. Ya meskipun dia hanya memiliki sketsa kalungnya saja. “Itu dia. Aku juga merasakan jika itu tampak tak asing. Dua kali aku melihat kalung itu dikenakan olehnya.” Elijah menoleh kepada temannya tersebut. “Siapa yang kau maksud?” Paham jika dia hampir keceplosan, Reynart langsung merubah ekspresi wajahnya. “Bukan siapa-siapa.” Pria ini mengambil kembali sketsa tersebut. “Ya sudah, El. Aku akan pulang. Nanti aku akan cari tahu mengenai kalung ini.” Reynart berdiri dari duduknya. “Maaf telah mengganggu waktumu bersama keluarga. Sampai jumpa.” Elijah menatap kepergian temannya itu dengan ekspresi bingung. Sedangkan Reynart tidak langsung pulang ke rumahnya, dia memilih untuk berjalan-jalan di luar sembari memikirkan serta mengingat lagi tentang kalung tersebut. *** “Besok tidak perlu ke sini lagi,” perintah pria ini kepada Cila. Wanita yang sedang menyiapkan sarapan untuk sang atasan pun mengernyit bingung. “Langsung saja ke kantor, bekerja seperti biasanya,” lanjut Reynart di sana. Wanita tersebut mengernyit bingung. Pasalnya Reynart baru dua hari pulang, dan dia sudah akan pergi bekerja. Ini tentu tidak bisa dilakukan sebelum dokter mengijinkan pria itu. “Tapi, Pak. Apa Anda sudah berkonsultasi dengan dokter? Apakah luka Anda sudah sembuh?” sahut Cila. Bahkan tadi dia masih membantu pria tersebut mengganti perban di kepalanya. “Aku baik-baik saja,” jawab Reynart singkat. Cila pun tak kembali berbicara. Dia memang tak memiliki hak untuk melarang pria ini pergi bekerja. “Apa acaramu hari ini?” tanya Reynart tiba-tiba sembari menyantap roti buatan wanita itu. Cila refleks menoleh, kemudian terdiam sejenak. Lalu, wanita ini pun duduk di kursi kosong yang ada di sana. “Sebenarnya … ada hal yang ingin saya katakan, Pak. Bisakah saya ijin keluar sebentar?” tanyanya dengan sedikit ragu. Reynart menatap bawahannya itu dengan penuh. “Akan ke mana kau pergi?” tanyanya dengan pandangan penuh intimidasi. Cila tampak ragu untuk mengatakannya, tetapi dia sudah mengatakan kepada sang adik jika akan datang ke pertunjukan bocah laki-laki itu. “Saya mau menghadiri penampilan adik saya di sekolah, Pak. Kebetulan acaranya adalah hari ini, nanti jam sembilan.” Reynart langsung melihat jarum jam di pergelangan tangannya. “Itu satu jam lagi. Acara apa memang?” tanyanya lebih lanjut. “Acara sekolah, Pak. Kebetulan adik saya ikut partisipasi untuk mengisi acaranya. Jika boleh, saya akan ijin sebentar untuk melihatnya, Pak. Saya sudah berjanji kepadanya akan datang nanti,” jawab Cila dengan pandangan penuh harap. Semoga atasannya kali ini masih memiliki belas kasihan kepadanya. Reynart terdiam beberapa saat. Lalu dia teringat dengan kalung yang Cila berikan. Jika dia dan Elijah tak mendapatkan jawaban yang benar, maka satu-satunya jalan adalah bertanya langsung kepada pemiliknya. Tetapi, Reynart terlalu gengsi untuk bertanya kepada wanita ini. “Ya sudah, mari bersiap-siap untuk pergi,” putus Reynart yang mengakhiri perkataannya dengan mengenggak air minum. Cila pun tersenyum bahagia di sana. Lalu, dia kemudian mengernyit ketika menyadari satu hal. “Pak Reynart mau ke mana?” tanyanya langsung. Pria itu menoleh. “Ke sekolah adikmu.” Cila melotot kemudian. “Bapak akan ikut?” tanyanya reflek. Reynart bersedekap di sana. “Tentu saja. Apa kau merasa keberatan?” tanyanya dengan pandangan mengintimidasi. Di pandang seperti ini tentu membuat Cila menjadi tak berkutik di tambah lagi Reynart adalah atasannya. “Tapi di sana ada ibu saya,” ungkap Cila. “Lalu?” Andai saja memukull atasannya sendiri tidak memiliki dampak besar, pasti sudah wanita ini lakukan sejak beberapa menit lalu. Tentu saja kedatangan Reynart bersama dengan Cila akan membuat tanda tanya besar di kepala sang ibu dan juga adiknya nanti. “Tik. Tok. Tik. Tok. Jarum jam akan terus berjalan dan tidak peduli dengan isi pikiranmu saat ini. Jika kau tidak ingin terlambat, maka cepatlah bersiap,” tegur pria tersebut di sana. Cila pun pada akhirnya segera mempersiapkan diri. Tetapi tidak banyak yang ia ubah. Wanita ini hanya menggunakan dress formal yang ia bawa dari rumah. Sengaja itu dia bawa agar nanti bisa berganti pakaian saat menuju ke sekolah Ajil. Reynart juga bersiap dengan pakaian formalnya. Tampak seperti sedang menuju ke kantor. Setelah keluar dari kamar serta kamar mandi, keduanya yang bertemu di area ruang tamu pun tampak saling terkejut satu sama lain. Cila terlihat begitu berbeda dengan pakaiannya saat ini, tampak feminim. Maklum, biasanya dia memakai celana dan pakaian kerjanya yakni office girl.  Sedangkan Cila sendiri merasa aneh ketika melihat perban di kepala pria itu. Pria itu tampak rapi dengan jasnya, namun perban di kepala terlihat sedikit menggelikan di sini. Dan mata Reynart lagi-lagi terpaku pada kalung yang wanita di depannya kenakan. Reynart yang menyadari penampilannya pun terlihat seperti sedang salah tingkah. “Emm, apa kita tidak buka saja perbannya? Apa lukanya masih terbuka lebar?” katanya. “Jangan dibuka, nanti kalau ada apa-apa bagaimana, Pak? Saya lagi yang disalahkan,” balas wanita. “Baiklah, ayo kita pergi sekarang sebelum terlambat. Oh iya, kita naik taksi saja bagaimana, Pak?” “Tidak perlu, pakai mobilku saja,” ungkap pria ini yang berjalan menuju ke arah pintu keluar. Cila pun buru-buru mengikuti atasannya tersebut. “Mobil Bapak kan ada di kantor polisi untuk dijadikan bukti.” Reynart tiba-tiba berhenti, membuat Cila hampir saja menabrak punggung tegap pria di depannya. Lalu pria ini pun berbalik dan memandang bawahannya itu dengan tajam. “Apa kau pikir aku semiskin itu? Masih ada mobil lain yang bisa digunakan,” tuturnya. Reynart kembali berbalik dan berjalan menuju ke pintu keluar. Reynart menuju ke arah garasi mobil. Cila menganga ketika melihat ada dua mobil di sana. Berarti Reynart memiliki total tiga mobil di rumah ini. Untuk apa pria itu menyimpan banyak mobil jika hanya dirinya saja yang tinggal di sini? Pria kaya memang tau cara menghamburkan uang. “Apa kau akan terus berdiri di sana? Masuk,” perintah Reynart yang membuat lamunan Cila terhenti. Wanita tersebut pun memasuki mobil mewah milik Reynart untuk pertama kalinya. Reynart pun mendengkus kesal. Selama di dunia manusia, tidak ada satu pun mobilnya di masuki oleh wanita, dan sekarang malah hal itu terjadi, di tambah lagi Cila hanyalah seorang office girl. “Tunggu, Pak.” Perkataan wanita ini membuat Reynart mengurungkan laju mobilnya. “Bapak mau menyetir dalam keadaan sakit begini?” pekik Cila yang baru menyadari hal tersebut. Reynart memutar bola matanya malas, lalu dia mulai membuat mobil itu berjalan keluar pintu gerbang rumah. Cila berpegangan dengan erat di kursinya. Mungkin bagi Reynart kecelakaan adalah hal biasa, dia memiliki banyak uang. Tapi Cila, untuk makan saja dia tampak kesusahan. Dia tak ingin tiba-tiba mengalami insiden buruk di tengah jalan hanya karena tindakan bodohh dari atasannya ini. “Pak. Sebaiknya saya naik taksi saja bagaimana? Atau kita berdua naik taksi saja, Pak. Saya agak takut jika Pak Rey melakukan tindakan ini,” pinta Cila dengan wajah penuh ketakutan di sana. Reynart tak mempedulikan ocehan wanita di sebelahnya. Mobilnya tetap menembus jalanan ibu kota. Sekitar pukul sembilan tepat, barulah kedua orang ini sampai di sekolah Ajil. Kebetulan sekolah bocah itu sedikit jauh dari rumah Reynartnya. Keadaan parkiran sekolah sudah sangat penuh. Setelah memarkirkan mobilnya, mereka pun turun bersama dari mobil. Cila yang sudah pernah beberapa kali ke acara sekolah di tempat ini pun memimpin jalan lebih dulu, diikuti oleh Reynart yang mengekor di belakangnya. Cila masih ingat tempat biasa acara dilakukan. Namun, karena begitu bersemangat, wanita ini tidak menyadari sekitarnya. Cila hampir saja tertimpa kardus-kardus yang dibawa oleh seseorang. Untung saja Reynart langsung menarik lengan wanita ini dan membuat Cila menjadi terkejut karena keduanya tampak sedikit lebih dekat. “Hati-hati,” kata Reynart dengan suara dingin di sana. Cila mengangguk, dia mencoba memperbaiki penampilannya lebih dulu. Kali ini Cila memilih tak terburu-buru dan berjalan berdampingan bersama Reynart di sana. “Itu tempatnya, Pak.” Cila menunjuk ke arah pintu besar yang terbuka lebar. Di sana juga terdengar begitu ramai. Keduanya pun segera menuju ke sana. Keadaan tempatnya begitu ramai, dan kursi tampak terisi penuh. Acara di depan masih berupa sambutan dari kepala sekolah. Tampaknya acara baru saja dimulai. Cila tampak mencari-cari tempat ibunya. Dia beberapa kali menyipitkan mata, namun banyaknya orang menyusahkan wanita ini menemukan wanita paruh baya tersebut. “Ayo duduk.” Reynart langsung menarik pergelangan tangan Cila saat menemukan beberapa kursi kosong di area belakang. Cila yang mendapatkan skinship demikian pun langsung refleks melepaskan diri. Getaran itu datang lagi di dadanya. Wanita ini kembali terdiam, melihat tidak adanya Cila di sebelahnya membuat Reynart sadar jika wanita itu tak mengikutinya. “Yak, kenapa kau melamun. Cepat,” perintah pria ini. Cila yang mendengar teriakan itu pun langsung berlari kecil mengikuti atasannya. Cila dan Reynart kurang beruntung ketika mendapat tempat yang paling belakang. Cila merasa tak masalah di mana dia berada, yang penting adalah dia bisa melihat penampilan adiknya. Di saat Cila masih mencari-cari sosok sang ibu, tampak Reynart yang masih bergelut dengan pikirannya. Dia memikirkan cara untuk mengetahui liontin kalung yang dipakai oleh wanita di sebelahnya. Pada saat melamun itulah Reynart tiba-tiba mendapat komunikasi dari Wizard Berta. Wizard itu menembus paksa pikiran Reynart yang pada saat itu tidak dalam keadaan berkonsentrasi di karenakan sekitarnya yang ramai. Namun, Reynart yang menyadari panggilan dari wizard pun dengan cepat mencoba untuk mulai berkonsentrasi dan memusatkan pikirannya dalam komunikasi ini. “Ada apa, Wizard?” tanyanya. “Ada di mana kau sekarang?” tanya wizard tersebut. “Di tempat lain. Kenapa?” “Ada berapa orang di sekitarmu?” tanyanya kembali. “Ada banyak orang. Aku sedang berada di suatu acara.” “Cukup sulit. Aku mendapatkan pandangan, mungkin mate mu berada di tempat itu sekarang,” ujar sang wizard. Reynart pun terkejut diikuti oleh tepukan di bahunya yang membuat pria ini refleks membuka mata. Cila sejak tadi kebingungan kenapa tak ada suara di sebelahnya, setelah ia lihat malah Reynart tampak memejamkan mata. “Bapak mengantuk?” tanyanya dengan wajah bingung. Reynart menatap tajam wanita itu. Karena ulah Cila, komunikasinya dengan wizard pun terhenti. Reynart berdiri dari duduknya. “Aku akan jalan-jalan ke sekitar. Kau tetaplah di sini,” perintah pria tersebut. Reynart langsung pergi tanpa menunggu balasan dari Cila. Sedangkan wanita itu tampak mendengkus kesal melihat perilaku Reynart yang begitu menyebalkan di matanya. Reynart berjalan-jalan di sekitar area taman yang cukup sepi. Maklum, semua orang sedang berada di tempat tadi. Reynart kembali memusatkan pikirannya untuk menghubungi Wizard Berta lagi. “Maaf, Wizard. Bisa kita teruskan percakapannya?” tanya Reynart. “Tentu. Jadi, coba kau cari mate mu di tempat yang kau kunjungi hari ini. Jika pada akhirnya kau tidak merasakan apa pun, itu artinya mate mu bukan berasal dari kaum wizard. Dan artinya juga mate mu lah yang akan merasakan kehadiranmu.” Reynart pun mengangguk paham. Lalu dia teringat dengan liontin yang sempat dirinya dan Elijah bicarakan. “Wizard. Ada satu hal yang ingin aku tanyakan. Aku menemukan kalung dengan liontin yang tampak tidak asing. Aku lupa pernah melihatnya di mana. Bisakah kau memberiku informasi? Bentuknya tidak beraturan dan berwarna biru, sepertinya itu akan bersinar dalam keadaan tertentu.” “Siapa yang memakainya?” tanya Wizard lebih lanjut. “Seseorang di sekitarku. Bisakah kau memberiku informasi mengenai ini?” tanya Reynart. “Nanti akan aku carikan. Aku akan hubungi jika sudah menemukannya,” balas wizard. Reynart pun mengangguk setuju. Lalu komunikasi pun terputus. Reynart memutuskan untuk kembali masuk ke dalam. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD