Bagian 8

1539 Words
Seorang pria baru saja memasuki rumah dengan aura yang tampak sedikit remang. Di bagian depan terdapat patung-patung yang memiliki tanduk serta wajah yang seram. Pria ini melangkahkan kakinya tanpa kenal rasa takut. Saat berada di dalam, sudah ada sosok bayangan yang telah menunggunya. Tampak seperti seorang pria dengan jubah panjangnya dan membelakangi pria tadi. “Ada perkembangan apa?” tanya pria dengan jubah kebesarannya itu. Matanya masih tertuju pada perapian di rumah tersebut yang berguna menghangatkan ruangan tersebut. “Ada, Tuan. Saya sudah masuk lebih jauh sekarang. Lalu, tinggal menunggu waktu tepat untuk berjalan lebih dalam lagi,” jawab pria yang baru masuk itu. “Bagus. Terus laporkan perkembanganmu dalam menembus pertahanannya.” “Baik, Tuan.” *** Di sore hari Reynart meminta Cila untuk membantunya membawa beberapa barang ke kamar di lantai dua. Wanita itu melakukan tugasnya dengan penuh tangung jawab dan tampak bersemangat juga karena dalam setengah jam lagi pekerjaannya sudah selesai alias dia boleh pulang. “Apa sudah semua, Pak?” tanya wanita ini yang telah meletakkan kardus tadi di lantai. Reynart mengangguk. Di tangannya juga ada sebuah kardus. “Isinya apa ya, Pak?” tanya Cila dengan rasa ingin tahunya. Tak menjawab pertanyaan wanita itu, Reynart mengeluarkan barang yang ada di dalam kardus-kardus tersebut. Cila yang tampak mengenali salah satu barang pun langsung terlonjak terkejut dan buru-buru menghampiri pria tersebut. “Ini … bukannya ini lukisan yang terkenal itu, Pak? Saat masih kuliah, dosen saya pernah menunjukkan beberapa lukisan terkenal dalam presentasinya. Bagaimana Bapak bisa mendapatkan lukisan ini?” tanyanya dengan penuh kegirangan. Seingat Cila lukisan aslinya tidak berada di negara ini. Jika memang Reynart memiliki lukisan asli tersebut, maka ini benar-benar menakjubkan. Reynart menatap wanita itu dengan memicing curiga, kemudian mengambil alih lukisan yang Cila pegang tersebut. “Ini mahal. Jangan coba-coba untuk merusaknya,” semburnya. Cila mendengkus. “Saya hanya bertanya, Pak. Tidak ada niatan mau merusak apalagi mengambilnya kok.” Wanita ini beranjak dari tempatnya. “Apalagi tugas yang harus saya kerjakan sebelum pulang, Pak?” tanyanya. Reynart terdiam sejenak. Kemudian dia melihat kardus-kardus yang belum ia buka. “Keluarkan semua barang yang ada di dalam kardus di sana,” perintah Reynart sembari menunjuk kardus-kardusnya. Cila mengangguk dan langsung mengeluarkan satu per satu isinya. Jika ada lebih dari seorang di dalam ruangan tentu rasanya akan canggung jika tidak ada obrolan bukan? Jadi Cila berinisiatif untuk memulai obrolan di sana. “Bapak benar-benar tinggal sendirian di rumah ini?” tanyanya. “Hmm.” Reynart menjawabnya dengan dehaman saja. “Bukankah rumahnya terlalu besar jika hanya di tinggali satu orang saja, Pak?” “Apa rumahku menjadi urusanmu juga?” kata Reynart yang membuat Cila menjadi tak enak hati karena bertanya. Padahal dia hanya inisiatif mencairkan suasana saja. Pada akhirnya wanita itu pun memilih untuk diam sampai jam kerjanya selesai. Reynart yang tak melihat Cila berbicara lagi pun memilih untuk mulai meletakkan barang-barangnya di dalam ruangan tersebut. Rencanya ruangan ini akan Reynart jadikan tempat kerjanya di rumah. Padahal nih ya dia bisa saja mengambil ruangan di lantai bawah. Tapi menurutnya lantai dua perlu dia gunakan juga. Sebuah panggilan masuk ke ponsel Reynart, itu adalah Elijah. Pria ini pun memilih mengangkat panggilannya di luar ruangan sedangkan Cila berfokus pada tugasnya saja di dalam ruangan tersebut. Wanita ini menata barang-barang untuk di atas meja. Dari sini Cila sudah bisa memprediksi bila ruangan itu akan digunakan untuk tempat kerja. Mengingat masih banyaknya ruangan di dalam rumah ini membuat hati Cila teriris. “Bahkan ruangan ini seukuran seperti kamar dan ruang makan di rumahku. Benar-benar luas. Orang kaya selalu tau cara menghamburkan uang,” gerutunya. Tanpa sengaja saat mengelap meja, Cila membuat tempat pena serta alat menulis lainnya terjatuh dan beberapa ada yang menggelinding sampai ke kolong meja. Karena Reynart sedang tidak ada, jadi wanita ini buru-buru membereskan semuanya. Cila sedikit kesusahan saat mengambil pena yang berada di kolong meja kerja tersebut. Dia pun sedikit menunduk di sana. “Apa yang kau lakukan di sana?” tanya Reynart langsung. Karena terkejut Cila pun reflek mendongak dan kepalanya sedikit terbentur dengan meja tersebut. Wanita ini mengusap kepalanya dengan pelan, Reynart menahan tawa di sana. “Mau ambil pena, Pak,” jawab wanita ini. Reynart mengangguk, kemudian menatap jarum jam di pergelangan tangannya. “Sudah jam pulang kerja. Kau bisa pergi sekarang,” perintahnya. Cila mengangguk dan meletakkan kembali peralatan yang ia jatuhkan tadi. “Saya permisi pulang ya, Pak,” pamitnya. Reynart mengangguk, namun matanya salah fokus dengan benda yang ada di leher wanita itu. Cila yang mengira sang atasanya mulai kembali mesumm pun dengan segera menutupi bagian depan tubuhnya. “Apa yang Bapak lakukan?!” pekiknya. Reynart sedikit terlonjak di sana, namun dengan segera menetralkan ekspresinya itu. “Tidak ada. Kau bisa pergi sekarang,” jawab Reynart. Cila pun berlari kecil dan merasa takut bila sang atasan malah melakukan tindakan tak senonoh kepadanya. Diam-diam Reynart menatap kepergian bawahannya itu melalui jendela di ruangan tersebut. Sebenarnya yang Reynart lihat adalah liontin dari kalung yang Cila kenakan. Pria ini tampak tak asing dengan benda itu. Tapi … Reynart merasa tak memiliki petunjuk lain. Dia memutuskan untuk memikirkannya nanti saja sembari memikirkan laporan dari Elijah barusan. “Halo, ada apa, El?” tanya Reynart yang mengangkat panggilan dari temannya itu. “Cila masih berada di sana?” tanyanya. “Ya. Dia membantuku menata ruangan di lantai dua. Aku memutuskan untuk memakai salah satu ruangan untuk tempat kerjaku. Ada apa?” “Aku ingin memberikan informasi penting dari salah satu orang kita, Rey. Kau pernah tau bukan kalau ada sebuah perkumpulan di luar dunia immortal yang berniat untuk menghancurkan dunia kita. Kalau tidak salah mereka menamai dunia mereka Dunia Bayangan?” tanyanya. Reynart mengernyit, tapi dia mengangguk. “Entah, mungkin aku lupa, tapi sepertinya ada. Memang kenapa?” “Sepertinya perkumpulan itu mulai bergerak di dunia manusia ini, Rey. Salah satu orang kita menemukan bukti kecil, tapi aku sudah memintanya mencari bukti yang lebih.” “Untuk apa kira-kira mereka ke dunia manusia? Bukankah manusia adalah makhluk lemah? Apa sebegitu rendahnya mereka sehingga ingin menyerang para manusia ini?” kata Reynart. “Itulah yang sedang aku coba selidiki. Aku hanya bisa memprediksi tujuan mereka bukanlah para manusia, melainkan makhluk dari dunia immortal seperti kita ini, Rey.” “Untuk apa mereka mencari kita?” “Mungkin mereka ingin mencari celah untuk bisa menghancurkan dunia immortal. Entahlah, ini hanya prediksiku sebagai seorang wizard. Aku memberitahumu hanya untuk berjaga-jaga saja. Jika nantinya aku mendapat informasi lebih, maka aku akan segera menghubungiku lagi.” “Baiklah.” “Oke. Oh iya, jangan lupa jika sebentar lagi sudah memasuki jam pulang kerja, Cila harus pulang juga ke rumahnya.” “Ya, ya aku tau, kau cerewet sekali.” Reynart menutup panggilan itu secara sepihak. Kemudian dia terdiam untuk memikirkan perkataan Elijah tersebut. Perkumpulan apa yang sebenarnya temannya itu maksud? *** Seorang wanita memasuki area gang rumahnya. Hari sudah semakin gelap, kalau saja dia tak dimintai tolong oleh sang ibu untuk membeli garam di warung, maka wanita ini tak akan keluar rumah. Masalahnya warung dekat rumahnya sudah tutup. Ada satu warung yang masih buka, yakni di sebelah gang di mana biasanya jika malam akan ada banyak bapak-bapak yang duduk di sana untuk menjaga keamanan sekitar. “Ini mudah, Cila. Kamu pasti bisa.” Wanita itu adalah Cila. Dia terus berdoa agar tidak terjadi hal buruk yang tiba-tiba menimpanya. Bukannya apa-apa. Beberapa hari ini dia sering melihat berita di televisi mengenai pembunuhhan yang begitu sadis yang tak memandang umur. Cila juga diminta waspada oleh sang ibu. Tiba-tiba saja wanita ini merasakan ada yang mengikutinya dari arah belakang. Cila berhenti dan reflek menoleh, namun tidak ada siapa pun. Dia pun kembali melanjutkan jalannya. Kemudian angin berhembus dengan cukup kencang, membuat beberapa anak rambut Cila berantakan. Wanita ini dengan segera kembali mempercepat langkahnya sebelum pada akhirnya dia tersungkur ke tanah akibat kakinya yang tampak mengenai sesuatu. Cila berusaha untuk bangkit meskipun dia merasakan sedikit perih di kakinya. Mungkin kakinya sedikit lecet. Akan tetapi, baru saja dia hendak berdiri, tubuhnya tiba-tiba seperti melayang dengan bayangan hitam menyudutkannya ke area dinding. Cila pun memberontak, dia juga tak bisa melihat pasti siapa yang ada di depannya. “Lepaskan!” teriak wanita ini. Bayang itu mendekati wajah Cila. “Kau begitu harum, Nona,” ucapnya. Cila melotot dan kembali memberontak. “Dasar bodohh. Apa kau tuli? Aku bilang lepaskan!” Dengan berani Cila pun mengumpati bayangan itu. Ajaibnya si bayangan pun melepaskannya. “Aku tidak ingin menyakitimu,” katanya. “Tindakanmu ini terlihat seperti ingin menyakitiku. Siapa kau?” sembur Cila kemudian. “Sesuatu yang tak bisa kau jelaskan, Nona. Sesuatu yang bisa saja menjadi sumber kekuatanmu, tapi bisa jadi sumber kelemahanmu juga.” Wanita ini mengernyit bingung. Aneh memang perkataan dari bayangan yang sama sekali tak bisa ia lihat wajahnya. “Jangan bicara bertele-tele. Tidak bisakah kau langsung pada intinya?” sahut Cila tak sabaran. “Baiklah. Aku akan jelaskan hanya dengan satu kalimat. Dengarkan baik-baik. Sebentar lagi takdir akan berubah. Hal besar akan terjadi dan ini bisa jadi kekuatan dan kelemahanmu juga. Kau harus bisa memilih atau kau akan kehilangan segalanya.” Cila tertegun di tempatnya, lebih kepada bingung. Selagi Cila terbengong, bayangan itu ternyata sudah menghilang dan meninggalkan tanda tanya besar di kepala wanita itu. “Apa yang dia maksud?” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD