Farewell

2644 Words
“Aku hamil.”ucap Miranda pelan saat dirinya dan Cello sedang makan malam diluar. Cello terdiam. Selama ini dia sangat berharap tidak mendengar kalimat itu keluar dari mulut Miranda. Tapi selama ini semua harapannya sia-sia. Miranda terbukti hamil dan sekarang Miranda menaruh amplop putih ke atas meja. ”Ini hasil pemeriksaannya.”lanjut Miranda yang kemudian ikut berdiam diri karena Cello sama sekali tidak memberi respon sedikitpun. “Aku hanya ingin kau tahu kalau anak ini ada, Cello. Sudah cukup aku melihatmu seperti ini. Kau lebih buruk daripada mayat hidup. Aku tidak akan menagih janji yang pernah kau ucapkan. Aku akan merawat dan membesarkan anak ini sendirian. Aku yakin kalau aku sanggup melakukannya, dan aku juga tidak akan melarangmu untuk menemui Rilla karena aku tahu kalau kau sangat mencintainya.” Cello mengambil amplop putih itu dan menaruhnya di atas tangan Miranda, ”Aku tidak ingin anakku lahir tanpa mengetahui siapa ayahnya. Aku akan menepati janjiku padamu, dan aku juga tidak akan menemui Rilla lagi karena aku sama sekali tidak ingin menyakiti siapapun diantara kalian. Aku akan bertanggung jawab.”ucap Cello pelan, tanpa bisa menyembunyikan kepedihan yang dirasakannya saat mengatakan akan berhenti menemui Rilla, cintanya. Miranda mengerjap tidak percaya. “Apa aku bisa mempercayainya?”tanya Miranda lirih karena dia benar-benar tidak menyangka kalau Cello tetap akan memilih dirinya dan anak yang sedang dikandungnya daripada kesempatan untuk bersama dengan gadis yang sangat dicintainya. Cello mengangguk pelan. Sekarang keputusan akhir sudah dijatuhkan. Dia sama sekali tidak bisa membuat alasan apapun untuk menemui Rilla betapapun dia sangat merindukan gadis itu. *** Rilla masih belum selesai membaca catatannya tentang materi yang akan diujiankan besok saat Theo tiba-tiba masuk ke kamarnya tanpa permisi terlebih dahulu. ”Carilla cepat bereskan baju-baju sekolahmu sekarang juga.”ujar Theo cepat sambil berjalan kearah lemari pakaian Rilla dan langsung membuka pintunya sebelum mulai mengeluarkan pakaian-pakaian Rilla dari dalam lemari. “Apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan, Theo? Ada apa ini?”tanya Rilla benar-benar shock melihat tingkah Theo. Apa yang terjadi? Dia mau mengusirku?bathin Rilla bingung. Theo membalik badannya, ”Aku harus ke Sydney dengan pesawat malam ini, dan itu artinya kamu hanya tinggal sendirian disini, itu sama saja berniat membuatku gila. Jadi keputusan terbaik yang bisa kuambil untuk saat ini adalah memindahkanmu ke apartement-ku di Silver Peak, setidaknya disana ada Ana yang bisa menjaga atau minimal bisa melihatmu disaat senggangnya. Atau mungkin Matt bisa menjadi temanmu selama disana.”jelas Theo sangat cepat, ”Sebenarnya aku ingin membawamu ke Sydney, tapi itu jelas keputusan bodoh karena kamu besok harus midtest. Aku hanya akan merusak masa depanmu dengan membawamu ke Sydney. Jadi kali ini aku harus meninggalkanmu.” Rilla terdiam mendengar semua penjelasan Theo yang menurutnya sangat aneh. Kenapa Theo bisa gila hanya dengan meninggalkannya tinggal sendirian di rumah yang notabene milik Theo. ”Theo. Kenapa kamu menjadi mudah panik begini?” “Mudah panik?”tanya Theo bingung sambil menelengkan kepalanya sedikit. Karena dia sebenarnya tidak panik sama sekali. Kalau Theo panik, saat ini mereka pasti sudah berada di Silver Peak dan bukannya berkemas seperti ini. “Entah ini cuma perasaanku saja atau memang benar, sejak Cello menjauh, kamu menjadi orang yang aneh. Reaksimu terhadap sesuatu pasti berlebihan.” Theo tersenyum, dia menyadari apa yang yang dimaksud Rilla, dan Theo tahu kalau itu semua benar.Aku hanya akan bereaksi secara berlebihan kalau itu menyangkut dirimu. ”Apa itu penting dibahas sekarang? Aku berjanji akan menjelaskannya suatu saat nanti. Tapi itu tidak sekarang karena aku benar-benar harus segera ke bandara.” *** “Dengar, aku akan pergi lima hari, dan selama itu kamu akan tinggal disini, di lantai 57 Silver Peak. Kamu bisa tenang disini karena baik lantai 56 ini atau 57, keduanya adalah suite milikku. Ana dan Stefan tinggal di lantai 55. Lantai 48 sampai 53 itu dihuni dewan Venatici Group yang lain. Gym ada di lantai 54 begitu juga dengan kolam renang. Dan lantai 47 ke bawah adalah kantorku. Kalau kamu mau turun, kamu bisa naik lift yang tadi kita gunakan. Karena kalau memakai lift di seberangnya, kamu akan langsung turun di dalam kantorku.”jelas Theo lalu tersenyum lembut. Rilla berusaha mencerna semua penjelasan Theo tentang struktur bangunan pencakar langit ini. Namun yang bisa diingatnya hanyalah lantai tempat tinggal Theo dan Ana. “Apa ini berarti aku akan berangkat kesekolah sendiri?”tanya Rilla cepat dan sangat berharap kalau Theo meng-iya-kan pertanyaannya. Theo tersenyum lembut sambil menarik tangan Rilla untuk masuk ke dalam apartement-nya, ”Kamu tidak berharap kalau aku akan membiarkanmu pergi sekolah sendiri tanpa aku kan? Kamu akan diantar jemput oleh Ana atau Stefan. Atau mungkin kalau Matt menerima pemberian mobilku, kamu bisa pergi bersama Matt. Dan kalau semua orang itu sok sibuk dan tidak bisa mengantarmu, akan ada supir yang selalu siap sedia untukmu.”ujar Theo menjelaskan semua pengaturan hidup Rilla. *** “Matt… Acara ini tidak mungkin dilaksanakan di rumahku, rumah Justin, ataupun rumah Fabian dan Angela. Kami mohon. Apa salahnya kalau acara ini kita adakan di apartement-mu? Kami janji tidak akan mengacau dan pulang tepat jam 10. Aku rasa Stefan dan Anas tidak masalah.”ujar seorang gadis begitu memelas. Pemuda bernama Matt itu terdiam, dan sesaat kemudian menatap semua teman-temannya, ”Ana dan Stefan akan melakukan apa saja untukku. Aku yakin itu. Aku juga tidak ada masalah kalau hanya meminta izin dengan mereka. Tapi yang jadi masalah disini adalah, apapun keputusan Ana dan Stefan, mereka pasti akan menyuruhku untuk meminta izin dari Theo. Itu masalah terbesarku. Aku tidak mungki memberatkan Theo dengan semua masalah ini.”jelas Matt pelan, ”Kita masih bisa menyewa tempat kan? Terserah kalian mau menyewa tempat atau apartemen untuk hari itu, aku yang akan membayar semuanya. Bagaimana?”tanya Matt kemudian dengan saran yang cukup mengejutkan. *** Rilla masih merasa asing dengan tempat tinggal barunya walau hanya sementara. Baginya, tempat ini jauh lebih mewah dari rumah manapun yang pernah dia datangi. Yang membuat Rilla semakin bingung adalah, jam makan malam sudah tiba tapi di rumah sama sekali tidak ada makanan. Rilla tidak yakin apakah mencari makan malam di luar juga masuk kategori memerlukan pengawasan. Jadi dengan malas Rilla berjalan keluar menuju lift. Dia ingin ke rumah Ana. Sebentar saja Rilla sudah sampai di rumah Ana, gadis itu langsung menekan bel yang ada di dinding. CKLEK “Siapa kamu?”tanya si pembuka pintu bingung melihat wajah baru di Silver Peak. Rilla mengerjap bingung. “Ini apartemen Ana, kan? Atau aku salah lantai??”tanya Rilla balik dan mencari tanda kalau lantai ini memang lantai 55. Matt menyandar pada daun pintu di belakangnya,”Ini memang apartement Ana. Tapi siapa kamu? Aku belum pernah melihatmu disini.” “Aku Rilla. Aku tinggal di lan…” “Cukup! Aku tahu.”tukas Matt sebelum Rilla sempat menjelaskan siapa dirinya,”Theo sudah memberitahu pada semua penghuni Silver Peak kalau akan ada orang baru disini. Maafkan aku kalau tidak mengenalimu. Dan apa kamu ada perlu dengan Ana?” Rilla mengangguk pelan,”Ya. Aku ingin mengajaknya makan malam. Apa Ana ada di rumah?” “Sayangnya Ana tidak ada. Dia sedang pergi bersama Stefan menghadiri perjamuan makan untuk urusan bisnis.”jelas Matt datar, ”Apa kamu akan mendapat masalah kalau aku yang menemanimu?”tanya Matt kemudian. “Tentu tidak. Apa itu tidak mengganggumu?”ujar Rilla balik bertanya karena dia tidak menyangka kalau pemuda asing ini malah menawarkan diri untuk menemaninya pergi makan malam. Matt berjalan memasuki apartement sambil diikuti Rilla, ”Sebenarnya aku juga baru akan pergi keluar untuk mencari makan malam saat kamu datang. Tunggu sebentar, aku harus menelpon Theo.”ucap Matt cepat yang ternyata berjalan menuju meja telpon di ruang tengah. Dengan cepat Matt menekan nomor telpon Theo dan menunggu beberapa saat sebelum suara di seberang menjawabnya. “Theo, ini aku Matt. Aku akan pergi makan malam bersama Rilla, karena itu aku minta izinmu untuk memakai mobil yang kau berikan padaku minggu lalu.” “Kenapa harus minta izin padaku? Itu mobilmu. Hadiah ulang tahunmu. Jadi kau berhak penuh atas mobil itu. Dan katakan pada Carilla untuk menjaga kesehatannya.” “Tentu. Dan terimakasih.”ucap Matt sebelum memutuskan sambungan telpon. “Hei… Aku belum tahu siapa namamu.”tegur Rilla tepat saat Matt meletakkan gagang telpon kembali ke tempatnya. “Matthew. Tapi orang lebih sering memanggilku Matt.”sahut Matt cepat, ”Jadi, kita akan pergi kemana untuk makan malam?”tanya Matt setelah mengeluarkan sebuah kunci dari laci meja telpon. “Terserah. Aku tidak pilih-pilih makanan.”jawab Rilla sambil mengikuti Matt berjalan ke luar. Rilla dan Matt masuk ke dalam lift khusus apartement untuk turun ke lantai dasar. Tepat saat lift tiba di lantai 53, pintu lift terbuka. Mark melangkah masuk ke dalam lift dan dia baru sadar kalau bukan hanya Matt yang ada di dalam lift saat pintu lift sudah tertutup. “Hai, Matt. Kekasihmu?”tanya Mark sambil tersenyum ramah. “Jangan macam-macam, Mark. Dia Rilla, gadis yang tinggal di tempat Theo untuk sementara.”tegur Matt cepat sebelum berpaling pada Rilla, ”Aku masih bingung, sebenarnya apa hubunganmu dengan Theo? Apa kau kekasihnya?”tanya Matt pelan nyaris berbisik. Rilla terdiam. Dia sama sekali tidak tahu harus menjawab apa. Selama ini dia selalu berpikir kalau Theo adalah teman masa kecilnya yang sudah seperi kakak laki-laki bagi Rilla. Tapi sejak semua peristiwa yang terjadi belakangan ini, Rilla bingung dengan status hubungannya dengan Theo. Masa iya aku harus bilang ‘Theo itu dulu tetanggaku dan kami bermain bersama bersama Cecil dan Rissa. Namun sekarang entah kenapa aku dan Theo menjadi dekat seperti ini.’ Yang benar saja!pikir Rilla. ”Entahlah. Mungkin seperti teman masa kecil.” Tiba-tiba Matt tertawa lepas, dan di sela-sela tawanya, Matt sempat mengucapkan sebuah kalimat yang membuat Rilla menyadari kalau_mungkin_perasaan Theo padanya berbeda dengan perasaannya pada Theo. “Yang benar saja… Teman masa kecil kamu bilang?Theo itu hampir tiga puluh tahun. Dan kamu? Mungkin baru 18 tahun. Beda umur kalian terlalu jauh untuk menjadi teman masa kecil. Apa Theo memang menganggapmu teman masa kecil atau lebih dari itu?” Ucapan Matt masih terngiang-ngiang di kepala Rilla saat lift berhenti di lantai 23. “Sampai bertemu kembali, Matt.”pamit Mark sebelum keluar dari lift. Dan setelah itu, lift terus turun hingga ke lantai dasar. “Hei! Apa yang sedang kamu pikirkan?”tanya Matt saat mereka berjalan menuju parkiran mobil. Rilla menggeleng cepat,”Tidak ada. Aku hanya sedang berpikir apa hubunganmu dengan Ana dan Stefan.” “Oh itu. Bisa dibilang aku adalah keponakan dari Stefan. Ibuku adalah kakak dari Stef.”sahut Matt cepat, ”Itu mobilku. Apa kamu tidak masalah rambutmu sedikit rusak karena angin?”tanya Matt sambil menunjuk sebuah mobil convertible. Mercedez F400 Carving warna silver. “Tidak masalah.”jawab Rilla sambil menaiki mobil setelah dibukakan pintu oleh Matt. Mereka berkendara hingga ke sebuah restoran yang tergolong menengah di pusat kota. Dan Matt dengan cepat sudah mendapatkan tempat untuk memarkirkan mobilnya di ujung barisan. Ternyata itu adalah restoran yang biasa didatangi Rilla dan Rissa saat mereka masih tinggal berdua. Restoran itu juga tempat langganan Matt saat ia ingin makan diluar. Matt dan Rilla memilih tempat duduk di dekat dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan malam Manhattan yang sibuk. Dan Rilla sama sekali tidak menduga kalau dia akan bertemu dengan Dee disana. “Dee!”panggil Rilla saat melihat Dee masuk ke restoran itu dengan beberapa teman sekelas mereka. Dee yang merasa ada yang memanggil namanya langsung menoleh ke sumber suara,”Rilla!”ucapnya tidak percaya dan langsung berlari ke tempat Rilla dan Matt duduk, ”Aku sudah menelpon ke ponselmu, tapi tidak juga kau angkat, dan saat aku menelpon ke rumah Theo, tidak ada yang menjawab telponku. Aku ingin mengajakmu makan malam bersama kami.”ujar Dee cepat sambil menunjuk beberapa teman sekelas mereka yang sedang menuju ke tempat Rilla. “Maaf. Ponselku ketinggalan di rumah Theo. Aku sekarang tinggal di apartement Theo untuk sementara.”ujar Rilla menjelaskan,”Oh ya, ini Matt keponakan Ana. Dan kalau kalian tidak keberatan, bagaimana kalau kalian gabung bersama kami? Bagaimana Matt? Apa kamu keberatan?” Tidak ada jawaban dari Matt. Rilla langsung menatap Matt dan mendapati Matt sedang memandang Dee tanpa kedip.”Matt!”tegur Rilla sambil memukul punggung tangan Matt pelan. “Ya, ada apa?”tanya Matt otomatis. Rilla menatap Matt penuh arti sambil berusaha menahan senyumnya. ”Apa kau keberatan kalau kita gabung bersama teman-temanku?”tanya Rilla pelan. “Tentu saja tidak. Lagipula aku senang bisa berkenalan dengan gadis sepertinya.”ujar Matt tanpa malu-malu. Dan dalam sekejap mereka sudah pindah tempat ke meja yang lebih besar. Matt mengambil tempat duduk di antara Rilla dan Dee. Matt benar-benar terpesona dengan Dee yang malam itu hanya mengenakan pakaian casual. Padahal bukan sedikit gadis-gadis di sekolahnya yang ingin menjadi kekasih Matt, tapi tidak satupun yang dianggap Matt menarik. “Hei… Sebenarnya berapa usiamu, Matt?”tanya Laura, salah satu teman Dee dan Rilla sambil mengamati laki-laki dihadapannya. “Lima belas.”sahut Matt datar. Baginya siapapun yang bertanya tidak penting asal mereka bukan Dee. Tiba-tiba ponsel Matt bergetar. Matt segera melihat siapa yang menelponnya dan langsung menjawab telpon itu begitu melihat nama Anas tertera di layar. “Dimana kamu?”tanya Ana cepat. “Aku sedang makan malam. Ada apa?” “Apa Rilla bersamamu?” “Ya. Apa kau ingin bicara dengannya?” “Tidak perlu. Aku hanya cemas saat tahu di rumah Theo tidak ada orang dan ponsel Rilla tidak diangkat.” Entah kenapa sesaat Matt merasa kalau seluruh orang yang dikenalnya sangat mencemaskan Rilla, ”Tenang saja. Dia bersamaku. Dan tidak akan terjadi apa-apa padanya.” “Baiklah. Aku percaya padamu. Tapi kalian jangan pulang terlalu lama. Besok kalian masih harus masuk sekolah.” “Iya, Ana. Aku akan membawa Rilla pulang sebelum jam 11. Bagaimana?” “Oke. Setidaknya kalau Theo menelpon dan menanyakan dimana Rilla aku tidak harus berbohong.” Matt langsung menghela nafas panjang saat Ana menyebut nama Theo. Semua orang yang dikenalnya tidak hanya mencemaskan Rilla tapi semua orang yang dikenal Matt juga sangat takut pada Theo.”Ana… Harus berapa kali kukatakan tolong tenang saja. Aku sudah bilang pada Theo kalau aku akan keluar dengan Rilla untuk makan malam. Karena itu aku membawa mobil yang diberi Theo sewaktu aku ulang tahun. Jadi apa kau sudah bisa tenang sekarang?”tanya Matt. “Kau memang bisa diandalkan Kalau begitu selamat menikmati makan malam kalian.” Matt memasukkan kembali ponselnya setelah Ana memutuskan sambungan telpon. Dan ternyata selama Matt menelpon, semua teman-teman Rilla sudah memesan makanan, hanya Rilla dan Matt yang belum memesan makanan. “Jadi, Matt… Apa yang ingin kau pesan?”tanya Rilla sambil menyodorkan daftar menu pada Matt. Matt membaca menu sebentar, ”One Cafe Au Lait dan one Baked Swiss steak, ” “Uhm… One Chocolate Mint Coffe, one Beef Barley Stew, one Alaska Paella, dan one Alu Curry.”ujar Rilla sambil menyerahkan daftar menu itu pada pelayan yang menunggu di samping meja. Jumlah pesanan Rilla berhasil membuat Matt membelalakkan matanya. Akhirnya mereka semua makan malam dengan tenang, walaupun ada beberapa teman Rilla yang benar-benar terpesona dengan sosok Matt. Dan tepat saat jam menunjukkan pukul sembilan malam, mereka membubarkan diri dari restoran itu. Matt dan Rilla pun langsung pulang ke apartemen mereka. Ana sudah menunggu Matt di ruang tamu apartementnya di lantai 55 saat Matt membuka pintu apartemen-nya. “Ada yang ingin kubicarakan.”ujar Ana pelan tanpa menunggu Matt duduk terlebih dahulu. Matt berjalan memasuki apartemen-nya dan kemudian duduk di hadapan Ana, ”Apa yang ingin kau bicarakan?” “Rilla… Bagaimana dia menurutmu?” “Apa maksudnya?” “Apakah Rilla menarik bagimu?” “Tentu saja. Dia gadis paling menarik yang pernah kulihat. Dia sangat cantik. Hanya laki-laki gila yang tidak mengakui kalau Rilla menarik.” “Apa kau tertarik padanya?”tanya Ana harap-harap cemas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD