Theo sudah mempersiapkan segalanya. Dia sudah menyiapkan tempat untuk tanggal 16 Februari. Theo sudah mengundang semua orang yang dikenalnya. Bahkan Theo juga sudah mempersiapkan sebuah jet khusus untuk menjemput orang-orang istimewa. Tidak ada seorangpun yang tahu apa yang akan dilakukan oleh Theo dengan semua persiapannya ini. Theo bahkan tidak melibatkan Ana, Stefan, Matt, ataupun Dee dan Mark dalam rencana rahasianya ini.
“Apa semuanya persiapan sudah selesai?”tanya seorang wanita yang sangat menawan saat makan malam bersama Theo.
Theo tersenyum puas, ”Tentu saja, Diane. Aku tidak tahu harus mengatakan apa untuk semua yang kamu lakukan untukku. Aku berutang sangat banyak padamu.”ucap Theo tulus.
“Apa yang aku lakukan belum setimpal dengan apa yang sudah kau lakukan, Theo. Aku berani bertaruh kalau bukan hanya aku yang berani melakukan sebanyak ini untukmu. Ini tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan apa yang sudah kau lakukan untuk anakku.”
“Terserahlah. Yang pasti aku sangat berterima kasih. Dan tolong ingat ini, anak yang kau bilang itu adalah seorang Venatici. Mau tidak mau, kau harus mengakuinya, Diane. Cepat atau lambat, dunia akan tau tentang ini.”ujar Theo sambil mengangkat gelasnya dan bersulang untuk rencana rahasia mereka.
***
Jam sudah menunjukkan larut malam saat Theo menelpon seseorang. Suara wanita menyambut telpon Theo di seberang.
“Bagaimana keadaan mereka?”tanya Theo langsung.
“Sehat seperti biasa Tuan Muda… Ah, maafkan saya, Tuan Besar.”
“Sudahlah. Jangan panggil aku seperti itu lagi. Panggil saja aku seperti kau dulu memanggilku saat Mom masih disini, Suzie.”
“Baiklah, Matheo. Ada lagi yang ingin kamu tanyakan?”
Theo menggeleng pelan,”Tidak. Mengetahui mereka sehat-sehat saja sudah cukup untukku. Setidaknya, kalau mereka sehat, maka aku bisa melanjutkan hidupku. Dan jangan lupa. Jaga mereka untukku, sampai aku kembali bersama mereka. Ini sudah waktunya, bukan?”
“Ya. Kamu benar, Matheo. Jangan menunda lebih lama lagi. Ini hanya akan memperburuk keadaan.”
“Aku tahu. Selamat malam, Suzie.”ujar Theo lalu langsung mengembalikan telpon ke tempatnya.
***
16 Februari
Rilla melakukan kegiatannya seperti biasa. Setelah jogging pagi, Rilla akan membeli sarapan untuk dia dan Susan sebelum kembali ke apartement-nya. Tapi yang didapati Rilla di rumah bukanlah hal yang biasa. Susan dan Ceres tidak ada di rumah. Rilla sudah mencari mereka ke sekeliling apartemen tapi tetap tidak menemukan mereka. Rilla benar-benar bingung harus mencari keduanya dimana. Dengan terburu-buru Rilla menelpon ke ponsel Susan. Dan Rilla nyaris pingsan saat mendengar siapa yang menjawab telponnya.
“Apa kabar, Carilla?”sapa orang itu.
Hanya ada satu orang yang memanggilnya Carilla. Hanya satu orang yang bisa membuat Rilla gemetar hanya dengan mendengar namanya diucapkan oleh orang itu. Hanya satu orang yang bisa membuat jantung Rilla berdetak lebih cepat hanya dengan mendengar suaranya. Hanya seorang Theo yang bisa membuat Rilla menjadi tidak rasional seperti ini.
“Ba,bagaimana mungkin ponsel Susan ada padamu, Theo?”tanya Rilla setelah mengumpulkan keberaniannya.
“Kamu masih mengenal suaraku rupanya. Aku senang.”ujar Theo.”Susan ya? Aku dulu selalu memanggilnya Suzie. Bibi Suzianne, atau kadang dapat dibaca Susan.”
“Susan bibimu?”ulang Rilla tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Ada masalah? Dia saudara dari pihak Mom yang masih bertahan.”tanya Theo tenang.
“Aku benar-benar tidak percaya. Lalu dimana mereka sekarang!? Dimana Ceres? Dimana anakku?”serbu Rilla.
“Anakmu? Bukankah Ceres juga anakku? Jangan mencoba berbohong, manis. Kamu tahu dengan pasti kalau kamu sangat tidak pandai berbohong.”tanya Theo tenang.
“Bagaimana kalau aku bilang tidak?”tanya Rilla cepat mengalihkan perhatian.
“Itu tidak ada gunanya. Sejak kamu memutuskan untuk menetap di Manhattan sampai kamu melahirkan, aku sudah mengetahui keberadaanmu. Sejak kamu memutuskan untuk memeriksakan kandungan di rumah sakit tempat Alex bekerja, aku tau kalau itu anakku…”jelas Theo dengan intonasi yang membuat Rilla bergidik.
“Bagaimana mungkin kamu masih berhubungan dengan rumah sakit itu? Kamu bahkan membenci rumah sakit itu sejak aku keluar dari sana.”
“Aku merasa kalau ada untungnya menjalin ulang hubungan bisnis dengan pemimpin rumah sakit. Dan aku mendapati kalau ternyata Alex tidak seburuk yang aku kira, dan_mungkin ini akan mengejutkanmu_Miranda tidak selicik yang aku duga.”
Tentu saja. Mana ada orang di dunia ini yang bisa mengalahkan segala kelicikan dan keegoisanmu dalam melakukan sesuatu, Theo…bathin Rilla cepat.
“Aku mohon, jangan rebut Ceres dariku. Hanya dia yang kumiliki.”
“Dia di Fantasy Green Park. Datanglah kesana kalau kamu ingin menemui Ceres.”ujar Theo tepat sebelum mematikan telpon.
Fantasy Green Park… Taman hiburan itu…bathin Rilla yang sesaat kemudian langsung meluncur dengan mobilnya menuju Green Garden. Taman hiburan yang selalu didatanginya bersama Theo.
Sesampainya di Green Garden, Rilla menemukan Theo sedang berdiri di samping mobilnya. Dan pria itu benar-benar terlihat sangat menawan dalam balutan pakaian casual. “Dimana Ceres?”sembur Rilla begitu keluar dari mobil.
Bukan jawaban yang didapat Rilla. Theo langsung menarik tangannya dan mendorong Rilla masuk ke dalam mobil. “Mau kemana kita?!”tanya Rilla gusar.
“Kamu ingin bertemu dengan Ceres bukan? Jadi, tolong kerjasamanya.”tanya Theo sambil menghidupkan mesin mobilnya dan mengemudikan mobilnya menjauhi Green Garden.
Rilla hanya bisa terdiam. Dia akan melakukan apapun untuk dapat bertemu dengan anaknya. Theo terus mengemudikan mobilnya hingga ke sebuah rumah besar yang sangat indah dengan taman bunga yang sangat luas. Rilla tidak pernah tau kalau Theo memiliki rumah yang sangat indah seperti itu. Theo turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Rilla. Rilla mengikuti Theo masuk ke dalam rumah mewah itu.
“Aku membeli rumah ini setahun yang lalu. Sejak sebelum kamu pergi meninggalkan aku begitu saja. Aku membeli rumah ini dengan harapan bisa aku tempati bersama keluargaku.”
“Lalu kenapa sampai sekarang itu tidak terjadi juga?”tanya Rilla masih mengagumi rumah itu. ”Bukankah kamu sedang dekat dengan artis terkenal itu? Kamu bahkan membawanya makan di restoran tempat kita sering makan bersama.”
“Kau cemburu? Lebih baik jangan. Diane hanya temanku, rekanku, dan juga ibu tiriku. Dia artis yang berada di bawah naungan CMC. Dia teman yang sangat memperhatikanku saat aku benar-benar hancur. Dia ibu Matt, yang berarti juga kakak Stefan. Aku tidak pernah mengharapkan apapun darinya. Aku hanya mengharapkan wanita yang kucintailah yang menjadi istriku untuk selamanya dan memberikanku anak.
Aku hampir bunuh diri di hari kamu meninggalkan aku. Tapi aku punya orang-orang yang memberiku semangat. Dan aku berhasil bertahan untuk mencari tahu apa alasan hingga kamu bisa meninggalkanku. Dan akhirnya sebelum meninggal Dad mengatakan semuanya. Tapi aku sudah mengetahui kebenarannya jauh sebelum itu. Aku tidak pernah mempercayai apapun yang Dad lakukan. Aku selalu meletakkan cctv di semua ruangan tempat Dad beraktivitas. Aku bahkan hampir meledakkan ruang keamanan bandara saat ingin mendapatkan rekaman yang merekam pembicaraanmu dan Dad. Setelah mendapatkannya, aku langsung mencari orang yang pandai membaca gerak bibir. Dan aku bersumpah, aku bersyukur karena dengan begitu aku mengetahui apa yang kalian bicarakan.
Tinggalkan Theo. Kamu masih muda, masih banyak yang laki-laki yang akan membuatmu bahagia. Usia kalian cukup jauh untuk menjalin hubungan…ucap Theo mengulangi ucapan ayahnya.
“Dan yang paling tidak bisa kupercaya adalah apa yang kamu katakan pada Dad di bandara. Kenapa kamu bisa membuat keputusan bodoh seperti itu!? Kenapa kamu berpikir kalau dengan meninggalkan aku adalah yang terbaik untuk kita? Sayangnya aku sangat mengenal kamu. Kalau aku berniat melakukan sesuatu mengenai perjanjian yang kalian sepakati, aku yakin, kau akan terus membuangku hingga aku benar-benar tidak dapat bangkit lagi.
Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku hanya bisa menghubungi semua orang yang bekerja di bawah CMC yang sedang tersebar di seluruh penjuru dunia untuk mencarimu sejak saat itu, dua bulan setelah kamu meninggalkan aku. Dan aku sangat beruntung mengetahui kamu memutuskan untuk mengontrol kehamilanmu di rumah sakit tempat Alex bekerja. Dia memberitahuku bahwa kamu sedang mengandung anakku. Mungkin kamu menganggap bahwa aku tidak akan berhubungan dengan rumah sakit itu. Tapi, sejak kamu meninggalkan aku, aku bahkan sudah lupa siapa saja yang harus aku hancurkan. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan. Aku menghubungi keluargaku yang tersisa yang bisa kupercaya untuk mendekatimu. Untuk menjagamu, menggantikan aku. Dan Suzie bersedia. Aku mulai menjalin hubungan dengan banyak wanita yang semuanya adalah artis CMC, untuk membantuku menyiapkan ini semua. Mendekor ulang rumah yang sempat kutelantarkan dan mengatur segala-galanya.
Aku tidak menikah dan tidak akan menikah bahkan sampai Dad meninggal karena aku hanya ingin kamu yang menjadi pengantinku dan menjadi ibu dari anak-anakku. Aku bersyukur saat melihatmu menghadiri pemakaman Dad, setidaknya aku benar-benar mengetahui keadaanmu dengan mata kepalaku sendiri. Mungkin kamu mengira kalau aku tidak menyadari kehadiranmu. Tapi kamu salah kalau berpikir seperti itu. Sosokmu adalah sesuatu yang nyata dalam pikiranku dan saat sosok itu hadir, aku akan merasakannya. Dad sudah meninggal, Carilla. Kamu tidak punya janji apa-apa yang harus kamu penuhi. Aku sudah bicara dengan Caroline, James, dan Rissa. Mereka merestui kita. Aku bahkan mengirim jet pribadiku untuk menjemput mereka di Mesir dan Irlandia hanya untuk menghadiri hari ini. Hari dimana aku mempertaruhkan sisa umurku dalam kehidupan ini. Carilla Anabell Marlock-Houston, mari kita lupakan masa lalu yang memisahkan kita, yang membuatmu meninggalkanku, dan memulai masa yang baru bagiku, kamu, dan anak kita, Ceres. Maukah kamu menikah denganku, Carilla? Setahun ini seperti neraka tanpa dirimu disisiku.”
“Terima dia, saying.”ujar Susan yang entah muncul darimana.
“Sudah cukup semua penderitaan ini, Rilla.”ujar Rissa.
“Kami ingin melihatmu bahagia. Cukup sudah airmata yang kau keluarkan anakku.”sambung Caroline lembut.
Rilla benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Semua orang yang disayanginya ada disana. Satu per satu mereka muncul. Ana dan Stefan, Matt dan Dee, Cecil dan Dennis, Miranda dan Alex, lalu yang terakhir adalah Cello.
“Jangan berbuat kesalahan sepertiku, Rilla. Kalau kau tidak ingin menyesalinya sepanjang sisa hidupmu.”ujar Cello lembut yang sudah mulai melupakan Rilla.
Airmata langsung merebak di mata Rilla. Dia tidak kuasa menahan tangisnya. Dan saat sepasang lengan merengkuhnya, tangis Rilla benar-benar pecah. Dalam sela isak tangisnya, Rilla mengatakan betapa dia sangat mencintai Theo dan sangat tersiksa dengan semua yang terjadi. Dan Rilla bersedia menikah dengan Theo.
Yang lebih mengejutkan Rilla adalah kenyataan bahwa semua persiapan pernikahan juga sudah selesai. Mereka hanya perlu mengucapkan janji setia seumur hidup. Dan tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-20, Rilla mengubah nama belakangnya menjadi Venatici.