Cecil yang mendengar suara Rilla langsung menyela,”Cello, kamu bilang? Jadi ini yang namanya Cello?”tanya Cecil memecah kebekuan suasana sambil mengamati Cello dengan tatapan seolah dia sedang menilai pria itu apakah layak atau tidak untuk Rilla..
“Lho Cello? Kebetulan sekali. Apa kamu baru datang atau sudah lama?”tanya Theo berusaha meredakan ketegangan yang ada,”Ah… Wanita itu pasti rekan bisnismu kan? Ternyata, kau memang semangat sekali bekerja, ya?”lanjut Theo yang pertama kali menyadari kalau Cello sedang bersama seorang wanita.
“Oh… Ini yang namanya Cello. Jadi ini yang kamu akui pacarmu. Benar, Rilla?”tanya Cecil lagi sambil terus mengamati Cello dengan cermat hingga membuat Cello gelisah.
Rilla mengangguk pelan,”Ya. Dia Cello. Tidak masalah kan?”tanya Rilla sambil melirik Cecil.
Cecil terdiam, dia kembali mengamati Cello perlahan tapi pasti.”Aku mungkin jadi orang pertama yang dengan tegas mengatakan kalau aku tidak setuju, Rilla. Terserah Rissa atau Theo mau setuju atau tidak, atau bahkan Caroline dan James menyukainya. Yang pasti kali ini aku tidak menyukainya, Princess.”ucap Cecil pelan sambil menyebutkan panggilan sayangnya untuk Rilla.
“Apa maksudnya ini?”tanya Cello bingung.
Theo langsung berdiri,”Maaf karena ketidaksopanan ini. Ini Cecil teman masa kecil kami dan tunangannya Dennis, kami kebetulan bertemu mereka tadi setelah sekian lama. Dan Cecil, seperti yang kamu ketahui, ini Cello, pacar Rilla, dan…”Theo menghentikan ucapannya saat matanya memandang ke arah Miranda,”Kalau boleh tahu, siapa nama wanita cantik disana agar kami semua bisa mengenalnya.”lanjut Theo ramah.
Dennis mendekatkan bibirnya ke telinga Cecil,”Itu Miranda Volans, dan bohong besar kalau Theo mengatakan dia tidak mengenal wanita itu. Aku berani bersumpah kalau mereka sudah pernah bertemu lebih dari sekali di acara rumah lelang.”bisik Dennis benar-benar pelan sehingga yang dapat mendengarnya hanya Cecil seorang.
“Dia Miranda Volans… Klienku.”jelas Cello enggan sambil melirik Miranda yang tersenyum anggun, sekaligus mantan kekasihku…lanjut Cello dalam hati. Dan Cello sama sekali tidak berniat memberitahukan fakta itu pada Rilla di depan banyak orang.
Rilla memandang Miranda dengan tatapan menyelidik, Wanita yang terlalu cantik dan dia benar-benar menarik. Aku yakin kalau Cello pasti tertarik padanya…bisik hati kecil Rilla.
“Permisi…”ujar seorang pelayan yang ternyata mengantarkan makanan untuk Miranda dan Cello.
“Kamu belum makan?”tanya Rilla lembut pada Cello yang kini berdiri di hadapannya.
Cello menggeleng pelan,”Belum.”
“Makanlah… Kami juga akan segera pergi. Maaf sudah mengganggu makan malam kalian.”ujar Cecil datar.
“Tunggu!”tukas Cello sambil menarik tangan Rilla,”Bisakah kalian tinggal sebentar lagi?”tanya Cello yang lebih ditujukan pada Rilla.
“Begini saja… Apa semua pekerjaanmu sudah selesai?”tanya Theo cepat.
“Sudah. Kenapa?”ujar Cello balik bertanya.
Theo tersenyum, senyuman yang sanggup melelehkan gunung es sekalipun,”Kau dan Rilla pergi saja. Terserah kalian mau kemana. Urusan Miranda aku yang akan menanganinya. Aku yakin wanita cantik ini tidak akan keberatan kalau malam ini dia harus menghabiskan waktu bersamaku. Bagaimana?”usul Theo dengan kepercayaan diri begitu hebat. Dan itu memang sudah terbukti, tidak ada wanita yang menolak diajak Theo makan malam.
Cello melirik Miranda,”Sekali ini saja. Apa kau bisa?”tanya Cello sedikit memohon.
Miranda tersenyum pada Theo,”Tidak masalah. Lagipula siapa sih yang tidak bersedia diantar pulang oleh laki-laki setampan dia.”sahut Miranda ramah.
Rilla langsung berdiri,”Apa-apaan kalian? Kalian membuat keputusan seolah ini sama sekali tidak ada kaitannya denganku. Kenapa tidak satupun dari kalian yang bertanya apa yang aku inginkan?”tanya Rilla sambil menahan tinggi suaranya.
“Maaf. Kalau begitu apa yang kamu inginkan, sweety?”tanya Theo lembut. Sesaat Theo lupa dengan keberadaan Cello hingga dia menggunakan panggilan sayang itu pada Rilla.
Rilla melirik Cecil minta dukungan, dan Cecil menangkap arti pandangan Rilla,”Aku rasa dia sama sekali tidak ingin ada seorangpun yang membuat keputusan untuknya.”ujar Cecil lembut.
“Aku ingin pulang dengan Theo. Lebih baik kamu menyelesaikan pekerjaanmu sampai selesai. Bersikaplah gentleman, Cello… Kalau kamu yang menjemputnya, harus kamu yang mengantarnya.”ujar Rilla benar-benar membuat Cello dan Theo kaget.
Theo langsung berbalik menatap Rilla, dia seakan mendengar Rilla mengatakan kalau dia akan meledakkan rumahnya,”Kamu serius?”tanya Theo ingin memastikan.
“Apa yang membuatmu berpikir kalau aku tidak serius?”ujar Rilla balik bertanya dengan tatapan bingung.
“Yang benar saja. Kamu selama ini tidak pernah melewatkan kesempatan sekecil apapun untuk bersama dengan Cello. Lalu kenapa sekarang kamu bersikap seperti ini?”tanya Theo benar-benar heran melihat sikap Rilla yang berubah cukup drastis.
Dia marah. Aku tahu kalau dia marah. Dia pasti marah karena aku selalu membatalkan janji selama dua hari ini…bathin Cello pasrah.
“Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin dia bersikap gentle dan menyelesaikan semua tugasnya dengan baik.”sahut Rilla datar.
“Oke. Cukup berdebatnya. Kalau kamu memang tidak ingin pulang bersama Cello, apa kita bisa pulang sekarang?”tukas Dennis tiba-tiba.
“Tentu saja bisa.”sahut Rilla cepat.
“Rilla?”panggil Cello pelan tapi cukup untuk dapat di dengar oleh Rilla.
Rilla menggeleng pelan,”Aku tidak marah. Dan jangan berpikir kalau aku sedang marah. Aku melakukan ini untuk kebaikan kita berdua.”ucap Rilla nyaris bergumam. Karena semakin lama aku melihatmu bersamanya, aku akan benar-benar marah.
Cello hanya bisa menatap kepergian Rilla begitu saja tanpa bisa menahan gadis itu agar bisa lebih lama berada di sisinya. Dalam diam Cello menghabiskan makanan yang sudah mereka pesan. Bahkan Cello masih tetap diam saat mereka sudah sampai di depan hotel tempat Miranda menginap selama kunjungannya.
“Ternyata gadis itu bisa mencari penggantimu dengan begitu cepat.”ucap Miranda saat mereka berdua di dalam lift menuju lantai 7, tempat Miranda menginap.
“Theo bukan penggantiku! Mereka hanya teman. Dan jangan mencoba untuk membuat suasana hatiku lebih buruk dari ini, Miranda. Hari ini sudah cukup berat bagiku.”ujar Cello kasar.
Miranda tersenyum,”Kau marah karena kau menyadari kalau Theo punya kesempatan untuk mengambil Rilla dari sisimu. Sebaiknya kau lepas saja dia dan kembali padaku. Aku akan menerimamu kembali kapan saja.”
“Tidak. Aku tidak akan kembali padamu. Kalau kau memang begitu ingin bersamaku, kenapa dulu kau pergi meninggalkanku?”
“Yang jelas, saat itu aku meninggalkanmu untuk mendapatkan kesempatan agar bisa lebih lama lagi bersamamu. Aku bukannya meninggalkanmu dengan sengaja atau tanpa alasan.”
“Percuma. Bagiku sekarang yang terpenting hanya Rilla. Aku akan pergi ke rumahnya dan minta maaf padanya.”
“Aku harap dia masih punya segudang maaf untukmu. Karena setiap manusia punya batas kesabaran, Cello. Bahkan untuk gadis manis sepertinya.”
Cello terdiam. Dia baru sadar saat Miranda mengatakan hal ini padanya. Cello baru sadar kalau selama ini sudah terlalu banyak ‘maaf’ yang diberikan Rilla padanya untuk semua kesalahan yang sengaja atau tidak sengaja dilakukannya. Dan Cello juga sadar kalau dihitung-hitung, hanya beberapa kali Rilla membuat kesalahan. Itupun bukan kesalahan yang secara langsung dia sebabkan…
Hanya dua kali. Itu pun saat kami jalan bersama dan Rilla di ganggu oleh laki-laki lain. Sebenarnya itu bukan salahnya. Aku tahu… Tapi…bathin Cello.
“Kenapa Cello? Kau juga merasa kalau yang aku katakan ini benar, kan?”tanya Miranda setelah menyadari kalau Cello sibuk dengan pikirannya sendiri.
Cello menatap Miranda dingin,”Dengar, Rilla tidak seperti yang kau pikirkan. Aku akui kalau dia hanya manusia biasa yang juga punya batas kesabaran. Tapi dia orang yang luar biasa. Dia tahu apa yang benar dan baik untuknya.”tegas Cello yang langsung mendorong Miranda keluar dari lift dengan kasar.
“Cello!!”
“Cukup! Terserah kau mau mengancam apa kali ini! Aku tidak peduli! Aku tidak akan meninggalkan Rilla lagi!”sergah Cello tepat sebelum pintu lift tertutup.
Sementara itu di rumah Theo, Rilla mengurung diri di kamar. Theo benar-benar bingung harus berbuat apa.
Tok tok tok
Hening. Sama sekali tidak ada jawaban dari dalam.
“Carilla… Kamu kenapa?”tanya Theo lembut.
Hening…
“Carilla, dengar, kalau kamu tidak membuka pintu agar kita bisa bicara. Aku akan mendobraknya. Lihat saja.”
Hening…
“Jangan tantang aku, sweety.”tegur Cello tanpa membuang nada ancaman dalam suaranya
Hening...
“Baiklah Carilla. Aku hitung sampai tiga.”ancam Theo,”Satu…”
Hening…
“Dua…”
Hening…
“Ti…”
Cklek.
“Apa yang kamu inginkan?”tanya Rilla enggan sambil bersandar di pintu yang sudah di bukanya.
Dia berantakan…bathin Theo.
“Jangan bertanya apa yang aku inginkan. Tapi tanyakanlah apa yang dapat aku lakukan agar kamu tidak seperti ini.”
“Apa maksudnya?”
“Apa yang harus aku lakukan agar kamu tidak berantakan seperti ini? Jangan menyiksa diri, Carilla. Kalau memang ingin menangis, menangislah. Kalau kamu ingin marah dan ingin seseorang mendengar kemarahanmu, aku bersedia. Tapi ayolah… Kamu benar-benar berantakan, Sayang.”
“Aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin sendiri, Theo. Jadi tolong tinggalkan aku…”sahut Rilla datar.
Theo mengulurkan tangannya meraih kepala Rilla dan menariknya ke dalam pelukannya,”Menangislah… Marahlah… Keluarkan semua kekesalan itu. Jangan ditahan, Carilla… Aku akan selalu ada untukmu.”ucap Theo benar-benar lembut.
Rilla menggenggam kaos Theo dengan kedua tangannya lalu menangis histeris. Hampir setengah jam Theo berdiri memeluk Rilla yang masih terisak pelan.
“Sudah lebih lega?”tanya Theo lembut sambil mengelus kepala Rilla penuh kasih sayang.
“Aku selalu mencoba untuk bersabar. Tapi aku juga punya batas kesabaran. Dia selalu membatalkan janji-janji penting kami. Makan malam dengan Mom dan Dad yang paling membuatku terluka. Kamu tahu sendiri kalau dia hanya 3 kali bertemu mereka, dan saat aku ingin mereka lebih sering bertemu agar Mom dan Dad menyukainya, tapi Cello selalu membatalkannya. Dan saat aku benar-benar ingin memaafkan dan melupakan semuanya, dia kembali minta maaf dan membatalkan janji. Berapa banyak lagi ‘maaf’ lagi yang harus aku sediakan kalau dia selalu seperti itu? Berapa banyak waktu yang harus aku berikan agar dia bisa kembali padaku? Berapa banyak, Theo?”
“Dengarkan aku Carilla Anabell Marlock-Houston. Cobalah untuk bersabar. Aku yakin kalau Cello tidak mungkin sengaja ingin membatalkan jalan-jalan kalian… Karena aku paham dengan semua kesibukannya. Dan aku yakin kalau dia juga sangat mencintaimu makanya dia terus merasa bersalah di segala tindakannya yang dia rasa mengecewakanmu.”
Theo marah. Dia tidak akan menyebut namaku selengkap itu kalau dia tidak marah. Terakhir kali Theo menyebut Marlock-Houston adalah saat Mom dan Dad menyatakan kalau mereka ingin membawaku yang masih sekolah tingkat junior ke Mesir untuk melakukan penggalian makam Tutankhamen. Dan saat itu yang disebutnya adalah nama Mom dan Dad…“Kenapa kamu membelanya, Theo? Padahal aku tahu dengan jelas kalau kalian bukan orang yang akan dengan mudah bisa berjabat tangan kalau kepala kalian tidak ditodong dengan senjata.”tanya Rilla curiga.
“Aku akan melakukan apapun yang bisa membuatmu kembali bahagia. Kembali tersenyum. Karena aku yakin kalau Rissa dan Cecil pasti akan melakukan hal yang sama kalau mereka berada di posisiku.”sahut Theo yakin sambil tersenyum tulus.
Rilla terdiam, dipandanginya laki-laki di hadapannya saat ini sesaat sebelum menatap mata,”Bolehkah aku minta sesuatu? Tapi kamu harus janji untuk mengabulkannya. Aku mohon…”
“Baiklah. Apa yang kamu inginkan, Princess?”tanya Theo lembut sambil menangkup wajah Rilla dengan kedua belah tangannya yang besar.
“Aku ingin ke Italia… Besok.”
“Kamu besok sudah harus masuk sekolah.”
“Hanya seminggu. Aku mohon… Kalau kamu tidak bisa menemaniku, aku bisa pergi sendiri. Aku sudah pernah kesana. Aku mohon… Kamu sudah berjanji akan mengabulkannya?”desak Rilla.
Theo terdiam sejenak dan kemudian melepaskan tangannya dari wajah Rilla dan segera menelpon seseorang,”Batalkan semua agendaku minggu ini dan tolong pesankan tiket pesawat ke Roma untuk 2 orang keberangkatan besok pagi…
Aku tidak peduli berapapun harganya. Yang aku mau, besok pagi-pagi sekali tiket itu sudah sampai di rumahku.”ujar Theo sesaat sebelum mematikan ponselnya.
Theo menatap Rilla dengan lembut,”Aku akan menemanimu ke Milan. Kita hanya ke Milan, Roma dan Urbino, tidak lebih. Hanya seminggu untuk 3 kota. Aku ingin setelah seminggu kita kembali kesini dan kamu harus sekolah kembali. Mengerti?”tanya Theo sedikit keras agar terdengar mengancam.
“Oke, Bos!!”sahut Rilla sedikit lebih ceria.
“Bagus. Sekarang kamu tidur. Besok kita akan melakukan perjalanan panjang. Dan aku harap kamu members.”
Belum selesai Theo menyelesaikan kalimatnya, bel pintu rumahnya berbunyi. Theo dan Rilla hanya bisa saling melempar pandangan bingung. Tapi sesaat kemudian keduanya berjalan bersama ke pintu dan Theo membukakan pintu untuk tamu mereka.
“Rilla…”panggil tamu itu begitu mendesak.
Rilla langsung mundur selangkah,”Cello? Apa yang kamu lakukan tengah malam disini?”tanya Rilla tak percaya melihat Cello berdiri di depan pintu rumah Theo dengan keadaan yang hampir sama berantakannya dengan Rilla.
“Aku ingin minta maaf.”ucap Cello serius.
“Maaf kalau menyela pembicaraan kalian. Tapi apa tidak sebaiknya kalian bicara di dalam? Aku akan membuatkan kopi untuk kalian.”ujar Theo menawarkan sambil bersiap meninggalkan Rilla dan Cello berdua.
“Jangan, Theo. Aku rasa Cello hanya ingin menyatakan permintaan maafnya. Jadi seharusnya dia tidak akan lama.”ujar Rilla dingin sambil menarik tangan Theo.
Kali ini giliran Cello yang tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ini pertama kalinya Rilla bicara dingin dan ini juga pertama kalinya Rilla mengusir Cello apapun kesalahan yang sudah diperbuat oleh Theo.”Rilla, aku mohon. Maafkan aku… Aku benar-benar tidak menyangka kalau Miranda ingin bertemu dalam rangka kerja hari ini. Padahal kemarin kami sudah sepakat akan libur satu hari. Aku mohon maafkan aku.”pinta Cello.
“Kalau aku memaafkanmu apa kamu bisa menjamin tidak akan melakukan kesalahan yang sama? Tidak akan bisa Cello. Jadi akan lebih baik kalau kita berdua sama-sama menganggap masalah ini tidak pernah ada sebelumnya. Aku lelah memberi maaf padamu. Karena pada akhirnya kamu akan mengulang kesalahan yang sama.”
“Aku mohon jangan marah padaku…”
“Aku sama sekali tidak ada niat untuk marah padamu. Jadi kamu tidak perlu takut atau cemas. Kalau kamu sudah selesai menyatakan permintaan maafmu, izinkan kami untuk beristirahat karena jam memang sudah menunjukkan waktu untuk istirahat.”ucap Rilla datar.
Cello meraih tangan Rilla dan menggenggamnya,”Jangan marah padaku… Aku berjanji tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Percayalah… Aku mencintaimu...”bujuk Cello pantang menyerah.
Theo sadar kalau masalah ini akan semakin berlarut-larut dan tidak akan ada penyelesaiannya,”Dengar, Carilla… Aku akan mengabulkan permintaanmu kalau kamu berjanji akan menyelesaikan masalah ini. Kalau masalah ini menggantung… Maaf saja. Kali ini aku tidak akan mengabulkan permintaanmu. Bukan hanya itu… Aku akan menghalangi segala sesuatu yang ingin kamu lakukan.”tukas Theo tenang.
Rilla langsung melotot marah pada Theo,”Kamu sudah berjanji, Theo! Dan jangan jadi pembohong!”
“Aku tidak berbohong, Sayangku. Dan tolong sebutkan kapan aku pernah bohong padamu? Aku hanya mencoba mengajukan syarat. Itu wajar, kan?”tanya Theo santai.
Rilla menatap Theo dengan gusar lalu beralih ke Cello,”Dengar, aku tidak marah dan tidak akan marah karena masalah ini. Aku berusaha memahaminya tapi sampai saat ini aku belum bisa melakukannya. Jadi tolong beri aku waktu untuk menjernihkan pikiranku. Jadi kali ini benar-benar tidak ada yang harus dimaafkan darimu.”jelas Rilla cepat.
“Aku tahu kamu marah walaupun kamu menyangkalnya. Tapi setidaknya aku tahu keadaanmu malam ini. Kita akan membicarakan masalah ini lagi besok. Aku akan kesini… Selamat malam.”pamit Cello lalu mencium dahi Rilla dengan lembut sebelum pergi.
Theo menutup pintu dan langsung menguncinya,”Yakin hanya dengan begini masalah selesai? Apa kamu yakin tidak perlu memberitahunya kalau kita akan liburan lagi?”tanya Theo saat Rilla sudah berbalik, bersiap untuk naik ke lantai dua menuju kamarnya.
“Ini sudah lebih dari cukup. Dan jangan memberitahu apapun pada Cello tentang liburan kita. Aku ingin menjernihkan pikiranku.”sahut Rilla sesaat sebelum pergi meninggalkan Theo sendiri di depan pintu.
Anak ini… Selalu mendapatkan apa yang diinginkannya…bathin Theo lalu mengikuti Rilla kembali ke kamarnya yang berada di lantai 1.