Roma

2190 Words
Cello masih tertidur saat jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Dengan malas dia membalik badannya dan merasakan ada sesuatu yang aneh di tempat tidurnya. Cello berusaha meraba apa yang aneh di ranjangnya, dan betapa kagetnya Cello saat membuka matanya dan mendapati Miranda berbaring sambil memeluk dirinya tanpa sehelai benangpun. Bukan hanya Miranda yang tanpa pakaian, Cello-pun tidak mengenakan pakaian apapun. Cello berusaha mengingat apa yang terjadi, tapi kepalanya benar-benar sakit, dan yang dia ingat hanya saat mereka masih di restoran, dan kemudian mendatangi sebuah club yang biasa didatangi Cello kalau sedang stress. Apa yang sebenarnya sudah terjadi?Miranda memang memenuhi janjinya dengan mengatakan apa yang dia tahu tentang Rilla, tapi kenapa kami bisa begini?bathin Cello frustasi. Cello melihat kalau celana panjang yang dikenakannya semalam tersampir di kursi di sebelah ranjangnya, dengan hati-hati Cello turun dari tempat tidur dan mengenakan kembali celananya sebelum berjalan ke kamar mandi. Cello membasuh mukanya dan menatap dalam ke dalam matanya yang terpantul di cermin. Miranda mengatakan kalau Rilla bukan menghilang, dia pergi ke Italy. Hanya saja Miranda sama sekali tidak mengetahui tujuan mereka yang sebenarnya. Aku ingat kalau aku kecewa karena Rilla lebih memilih untuk melarikan diri dari masalah kami dengan pergi bersama Theo daripada menyelesaikan masalah denganku. Dan kemudian kami pergi ke Nine CE… Terus… “Ya Tuhan!! Aku ingat! Aku terlalu banyak minum dan mabuk. Miranda membawaku pulang dan…”ucap Theo lirih,”Sial! Aku menganggap Miranda itu Rilla.”gumamnya sambil meninju cermin di atas westafel. “Cello?”panggil Miranda lembut dari kamar tidur. Cello langsung mencuci lukanya dan membalutnya dengan perban sebelum kembali ke kamar tidurnya. “Ada yang ingin aku bicarakan…”ujar Cello dingin sambil duduk di sofa tunggal di bawah jendela kamarnya. Miranda menggeleng pelan,”Jangan bersikap dingin, sayang. Setelah apa yang terjadi semalam kau masih bersikap dingin padaku? Berarti tubuhmu jauh lebih jujur ya?”ucap Miranda lembut. “Cukup, Miranda! Aku minta kita sama-sama melupakan apa yang sudah terjadi. Aku sama sekali tidak berniat melakukan hal itu denganmu.” Miranda langsung menegakkan tubuhnya, membiarkan bagian depan tubuhnya terbuka,”Apa kau bilang? Sejak kapan kau menjadi pengecut seperti ini Marcello Seirios? Bagaimana kalau aku hamil? Apa kau yakin kalau kau mengenakan pengaman semalam?”tanya Miranda emosi. “Aku akan bersikap seperti seorang pengecut kalau dengan begitu aku tidak kehilangan Rilla. Aku tidak sanggup kalau harus kehilangan dia. Aku tidak boleh kehilangan dia.” “Lalu apa jawabanmu atas pertanyaanku tadi? Apa kau tidak mau bertanggung jawab kalau aku sampai hamil?” Cello terdiam. Kemungkinan Miranda hamil tidak terpikirkan olehnya sebelum ini. Namun setelah Miranda mengatakannya dengan lantang, Cello akhirnya sadar. “Kalau itu memang terjadi, Miranda… Kau menang. Kau berhak memilikiku. Ragaku. Hanya tubuhku. Karena aku tidak akan sanggup hidup tanpa Rilla. Hatiku akan selalu menjadi miliknya. Dan jawaban atas pertanyaanmu adalah, kalau kau sampai hamil, aku akan bertanggung jawab dengan menikahimu, tapi kalau itu tidak terjadi aku mohon pergilah lagi dari kehidupanku dan jangan kembali. Aku tidak ingin melukai Rilla. Dia malaikat untukku. Dia terlalu baik untuk aku sakiti.” “Kau pengecut, Marcello! Tapi aku akan menerima syarat itu. Tenang saja, aku akan menghilang lagi, seperti dulu, kalau ternyata aku memang tidak hamil. Aku bersumpah.”ujar Miranda dingin sambil turun dari tempat tidur dan memunguti pakaiannya sebelum masuk ke kamar mandi, meninggalkan Cello dengan hati yang hancur. *** “Theo! Matheo ayo bangun! Ini sudah jam 9! Ayo kita jalan-jalan!!”teriak Rilla sambil membuka tirai kamar Theo sehingga cahaya matahari yang masuk langsung mengenai mata Theo. “Tutup tirainya, Carilla.”gumam Theo pelan dengan suaranya yang parau dan seksi. Rilla tersenyum dan kemudian melompat ke atas tempat tidur Theo lalu menyibakkan selimut yang dipakai Theo,”Ayo bangun pemal… AUW!!!!” Rilla langsung menutup selimut Theo kembali setelah melihat kalau Theo ternyata tidur hanya dengan mengenakan celana dalamnya tanpa satupun pakaian lain. “Theo bangun! Dan cepat berpakaian, dasar m***m! Kamu sudah membuatku kena sial pagi-pagi.”teriak Rilla sebal. Theo membuka matanya dan kemudian tersenyum sebelum duduk dan menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur,”Kenapa? Siapa yang suruh langsung membuka selimut orang begitu saja. Untung aku masih memakai celana pendek. Coba kalau tidak, kamu terpaksa harus menikahiku karena sudah melakukan pelecehan seksual.”goda Theo. “Jangan macam-macam Theo!”sergah Rilla kesal,”Ayo cepat mandi dan kita segera sarapan sebelum mengelilingi Roma! Ayo cepat.”desak Rilla sambil menarik Theo. “Iya iya…”sahut pasrah Theo sambil melangkah turun dari ranjang. “Kenakan celana panjangmu!”teriak Rilla sambil menutup kedua matanya. Theo langsung tertawa melihat reaksi Rilla dan segera meraih piyama-nya sebelum masuk ke kamar mandi. Walaupun Theo sama sekali tidak berniat menggoda gadis itu, tapi Theo menikmati wajah Rilla yang merona saat melihat tubuh Theo. *** “Carilla… Mau berapa jam lagi kamu memandangi tempat ini?”tanya Theo malas karena sudah lebih dari dua jam mereka hanya memandangi Menara Pisa. “Hati aku sekarang mirip banget sama menara ini. Miring, dan mungkin walau menara ini tidak akan jatuh, tapi hati aku sebentar lagi pasti akan jatuh dan hancur.”gumam Rilla lirih. “Cukup! Setelah dari tadi kamu yang memimpin tour kita, sekarang aku yang akan memerintah. Cukup melihat menaranya, dan kita harus segera mencari makan malam sebelum aku menyeretmu masuk ke restoran terdekat. Setelah itu baru kita lanjutkan jalan-jalan malamnya, terserah kamu mau kemana. Setuju?”tanya Theo sedikit mendesak. Rilla tersenyum memandang Theo,”Kamu memang tidak pernah bisa menahan lapar, ya?”goda Rilla sambil mengikuti Theo berjalan ke mobil sewaan mereka dan segera mencari restoran terdekat. “Theo… Apa kamu tidak pernah menjenguk Caren sejak dia menikah lagi?”tanya Rilla tiba-tiba sebelum pesanan mereka datang. “Tidak. Tapi rencananya akhir bulan ini aku akan mengunjunginya. Apa kamu mau ikut?”tanya Theo. Rilla menatap Theo tidak percaya. Dengan bersemangat dianggukkannya kepalanya berkali-kali. “Mau sekali. Aku sama sekali belum pernah ke Indonesia. Tapi apa aku tidak mengganggumu?” “Tidak pernah. Dan jangan pernah berpikir kalau kamu menganggu atau merepotkanku. Oh ya, mungkin aku juga akan mengajak Ana. Apa kamu tidak keberatan?” “Tentu saja tidak. Aku juga sudah lama tidak bertemu Ana. Dimana dia sekarang?”tanya Rilla antusias. Theo tersenyum,”Mungkin saat ini dia sedang marah besar karena aku meninggalkan kantor tanpa menjelaskan alasannya. Tapi aku yakin Mommy pasti sudah menjelaskannya. Ana selalu bisa kupercaya dalam mengurus perusahaan. Makanya aku bisa santai kalau meninggalkan kantor.”jelas Theo. “Oh ya, apa Ana tidak ingin menikah?” Theo langsung menatap Rilla bingung,”Apa Caroline tidak menyampaikan undangannya? Ana sudah menikah musim panas yang lalu dengan salah satu klien kami. Bahkan saat ini suaminya itu juga tinggal di lantai 55 kantor kami bersama seorang keponakan laki-lakinya.” “Ah!! Aku ingat. Mom pernah bilang ada undangan untukku, tapi karena hari itu Cello baru tiba jadi aku sama sekali tidak melihat undangan itu. Aku menyesal… Ana pasti marah padaku.”bisik Rilla tiba-tiba merasa bersalah. “Tentu saja! Dia sudah menganggapmu adiknya, dan kamu tidak datang di pesta pernikahannya.” “Oh, Theo… Aku mohon, bagaimana cara supaya Anas tidak marah padaku?” “Hanya ada satu cara.” “Apa?” “Temani Ana shopping sehari penuh.” “Oh tidak! Aku paling tidak sanggup kalau harus menemani Ana shopping seharian. Dia ratunya belanja. Dan dia akan terus belanja sampai tidak ada lagi toko yang belum didatanginya. Walaupun barang-barang yang dibelinya hanya akan berakhir di tangan orang lain.” “Ha ha ha ha ha! Tenang saja. Ana tidak akan marah. Kamu tidak percaya?”tanya Theo memastikan. Rilla menggeleng pelan,”Tidak.” “Oke. Kalau begitu kita telpon Anas dan tanya sendiri.”putus Theo sambil menekan nomor ponsel Ana dari ponselnya. “Hallo?”sahut suara di seberang. “Ana… Ini aku Theo. Carilla ingin bicara denganmu.” “Oh ya? Mana dia? Aku ingin memarahinya karena tidak datang di pernikahanku yang sengaja aku selenggarakan di Manhattan.”omel Ana dari seberang. Theo langsung menyerahkan ponselnya pada Rilla,”Hati-hati ya…”ujar Theo memperingatkan. Dahi Rilla langsung berkerut dan dengan enggan dia menerima ponsel Theo,”Hallo?” “Bagus! Mau menunggu pernikahanku yang keberapa kau baru mau menghadirinya, Carilla?”tanya Ana tiba-tiba. Rilla menjauhkan ponsel dari telinganya begitu mendengar teriakan Ana. Rilla yakin kalau telinganya akan berdenging selama beberapa waktu setelah mendengar teriakan nyaring Ana. “Aku mohon maafkan aku. Aku punya alasan kenapa aku sampai tidak menghadiri pesta pernikahanmu.” “Oh ya? Kalau begitu tolong katakan.” Rilla menatap Theo meminta bantuan, tapi Theo dengan santai terus melanjutkan menghabiskan makan malamnya yang hanya berupa hamburger tanpa memperdulikan tatapan penuh memohon dari Rilla, ”Hari itu, saat Mom mengatakan ada undangan untukku, Cello datang. Sudah lebih dari 4 bulan dia tidak datang dan hari itu dia kembali. Aku terlalu senang akan kedatangannya, dan aku menghabiskan hari itu untuk bersama dengannya sehingga aku lupa sama sekali tentang undangan itu.”ujar Rilla membela diri. “Apa kau tahu, Rilla? Pesta itu kuselenggarakan di Manhattan. Karena aku sangat ingin kau bisa menghadirinya. Semuanya demi kamu.”ujar Ana pelan,”Dan apakah Cello yang kau maksud itu kekasihmu?”tanya Ana kemudian. “Ya. Aku benar-benar menyesal, Ana.” “Kalau begitu dia memang tepat mencari Theo kemarin.”tukas Ana cepat mengabaikan ucapan Rilla sebelumnya. “Apa kamu bilang?”tanya Rilla seolah Ana salah bicara. “Kemarin… Tuan Muda keluarga Seirios itu datang mencari Theo untuk mengetahui keberadaan kekasihnya. Aku sama sekali tidak menyangka kalau gadis yang dimaksudnya itu kau. Padahal seharusnya aku sudah bisa menebak hal itu. Theo tidak pernah dekat dengan gadis lain selain dirimu. Dan kalau ada seorang pemuda yang mencari Theo untuk mengetahui keberadaan kekasihnya, pastinya gadis itu kau. Tapi aku sama sekali tidak berpikir sampai kesana.” “Sudahlah. Lupakan saja kalau Cello pernah datang mencariku. Dan kalau dia datang lagi mencariku, katakan saja kalau kalian tidak tahu aku berada dimana, dan Theo sama sekali tidak ada hubungannya. Seminggu ini aku hanya ingin berlibur dan bersenang-senang… Dan apa kamu tahu, Ana? Aku sudah tidak terlalu takut untuk naik mobil! Aku merasa aman kalau Theo yang menyetir. Theo menyetir selama disini dan aku baik-baik saja!”seru Rilla benar-benar bangga dengan kemajuan yang dialaminya. “Baguslah! Jadi suatu saat nanti, kita bisa berlibur dengan mengendarai mobil…” “Oke!” “Ah… Aku hampir lupa. Sebagai hukuman karena tidak datang ke pernikahanku, aku minta kau membawakanku koleksi Dior yang terbaru. Dan itu harus pilihanmu, bukan pilihan petugas yang bekerja disana. Mengerti, Sayang?”tanya Ana lembut. “Ya. Aku mengerti, Anastasya. Dan apa kamu mau bicara dengan Theo lagi?”tanya Rilla sambil melirik Theo yang masih sibuk dengan makanannya. “Boleh. Masih ada yang ingin aku tanyakan padanya.”sahut Ana cepat. “Theo!”panggil Rilla sambil mengoyang-goyangkan ponsel Theo di udara,”Ana mau bicara…” Theo terlihat bingung, tapi dia tetap mengambil ponsel di tangan Rilla,”Ada apa?”tanya Theo malas. “Dimana tepatnya kalian berada?” “Apa ada masalah?”tanya Theo tanpa menghiraukan pertanyaan Ana. “Tidak ada yang penting. Tapi seperti yang kau tahu, Matheo. Apa yang harus aku lakukan kalau Seirios Junior itu datang lagi?” “Hei! Baru kali ini kau menanyakan pendapatku. Ana, please. Kau itu konsultan. Dan kau juga hampir menyelesaikan S3 hukum. Masa hanya menjawab pertanyaan seorang Seirios muda saja masih bertanya.” “Bukan hanya itu saja masalahnya, Theo. Dia bahkan hampir menerobos masuk ke kantor kalau saat itu Mark tidak mencegahnya. Jadi jangan menambah masalah Matheo Alexandre Venatici! Dan cepat kembali!”kecam Ana benar-benar kesal dengan sikap Theo yang lebih sering menganggap suatu masalah hanya hal kecil yang bisa dibereskan kapan saja, dan sayangnya, Ana paling enggan mengakui kalau semua masalah akan terlihat sangat mudah kalau Theo yang menanganinya. “Iya, Ana, aku tahu. Hari Minggu aku kembali, oke? Kamu senang?”tanya Theo malas. “Bagus… Salam sayang buat Rilla.” KLIK! Theo memasukkan ponselnya ke dalam saku celana dan kemudian melanjutkan menghabiskan minumannya sementara Rilla baru mulai memakan hamburgernya. *** Seminggu kemudian… “Theo!”teriak Rilla dari atas pohon.”Kita dalam masalah besar!”lanjutnya sambil menuruni pohon pelan-pelan. “Masalah besar? Masalah apa?”tanya Theo bingung sambil berdiri dan membersihkan bagian celana-nya yang kotor karena baru saja duduk di tanah. “HUP!!”ucap Rilla pelan sambil melompat saat dia merasa jarak antara tempatnya berpijak dengan tanah tidak begitu jauh,”Cecil akan menikah besok! Dan kita belum membeli apapun untuk hadiah! Dan yang paling parah apa kita sempat menghadiri pestanya?”tanya Rilla heboh sendiri. Theo terlihat berpikir keras setelah mendengar ucapan Rilla, dan kemudian dia tersenyum puas. “Jangan hanya diam dan tersenyum-senyum seperti itu!”tegur Rilla mendadak kesal melihat Theo yang sangat santai. “Ayolah, pikirkan sesuatu.” ”Tenang saja…”ujarnya sambil tersenyum penuh misteri. Dan entah kenapa Rilla yakin kalau pria itu akan melakukan hal-hal yang luar biasa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD