Chapter 6: Dua Tipe Orang yang Tersakiti

1474 Words
 -Alex point of view- Long Island, New York, Desember 2017. 'SIAL! Dasar tidak berguna!' Aku menutup mataku seraya menarik nafas ku dalam-dalam dan melepaskan asap putih sekelilingku. Membiarkan senyawa nikotin mengambil alih seluruh indra di tubuhku dan menunggu rasa sakit ini untuk pergi. Aku menyandarkan kepalaku ke dinding di belakangku. Mencoba mengingat kembali cuplikan-cuplikan kejadian memuakkan yang baru saja terjadi. Meski aku benar-benar benci mendapati diriku yang seperti ini, ini bukan salahku. Kalau di ingat baik-baik, aku sudah mengingatkan gadis itu untuk tidak pergi dan berhati-hati. Tapi gadis bodoh itu dengan sengaja menempatkan dirinya dalam masalah. Kalau saja ia tidak melakukan tindakan bodoh semacam itu, aku tidak akan mungkin seperti ini. Iya ini semua salahnya. Aku menghisap puntung rokok yang terbakar di sela-sela jariku sekali lagi. Lambat dan dalam. Aku benar-benar berharap setiap hela nya akan membawa rasa sakit di dadaku ini pergi. Tapi sepertinya benda ini tidak berguna. Heh… Entah sudah berapa batang yang sudah habis terbakar, tapi sedikit sekali rasa sakit yang dibawanya pergi. Aku membuang batang rokok sialan itu ke lantai dan menginjak nya dengan ujung sepatuku. Mataku yang lelah menyapu seluruh ruangan tidur yang sekarang lebih mirip dengan sarang binatang. Semua benda berserakan di lantai. Bercampur dengan pecahan kaca sialan, dan barang-barang tidak berguna lainnya. Sial! Sepertinya aku harus memanggil seorang pelayan untuk membersihkan kekacauan ini besok pagi. Semua gara-gara gadis itu! Ah… Iya, gadis itu… apa yang sedang dia lakukan sekarang? Aku sudah tidak mendengar isakan gadis itu dari balik pintu sejak beberapa waktu lalu. Apa dia tertidur? Bisa-bisanya dia tertidur setelah membuatku menjadi seperti ini? 'Dasar tidak tahu malu!' Meski sepertinya ini bukan ide yang baik, aku tetap tidak bisa menghentikan kakiku yang langkah menuju pintu kayu yang tertutup rapat. Ada bunyi pecahan kaca yang remuk di bawah sepatuku ketika aku melangkah! Aku melangkah ke dalam kegelapan dan kesunyian malam mendapati wanita jalang sialan itu meringkuk diatas sebuah sofa hitam di sebelah jendela kaca yang besar. Lihatlah gadis bodoh ini. Kalau tidur seperti ini, besok dia pasti akan sakit leher dan merasa nyeri di seluruh badannya. Dengan sigap aku mengangkat tubuh kecil berbalut gaun merah ketat yang menggairahkan itu. 'Sialan! Dasar jalang sialan!' Untuk siapa dia berpakaian seperti ini kalau aku tidak ada disana? Apa yang ingin dia tunjukkan dengan berpakaian seperti ini!  Apa dia benar-benar ingin menggoda laki-laki lain saat aku tidak ada? Dasar s****l! Aku menghela nafas dalam-dalam. Mencoba mengalahkan kegeraman yang memenuhi dadaku. Dia pantas diberi pelajaran. Tapi tetap saja, ada bagian lembut di hatiku untuk gadis ini. Setelah semua yang dia lakukan, aku tetap saja mendapati diriku mengkhawatirkan gadis ini. Mengangkatnya dalam dekapan tanganku dan dengan hati-hati membaringkannya di atas tempat tidurku. Lihatlah wajahnya, menyedihkan. Meski matanya tertutup, aku menyadari kantung matanya lebih besar dan mengembung dari pada biasanya. Sepertinya dia tertidur setelah menangis semalaman. Hah… sudahlah… asal dia tahu dia bersalah dan tidak akan mengulangi nya lagi. Aku akan memaafkan nya kali ini. Sekali lagi aku menarik nafas ku dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan. Ini sudah seperti mantera bagiku. 'Kinan… gadis ku yang bodoh'. Aku duduk terdiam di sana untuk sesaat. Mataku tidak bisa lepas dari lekuk badannya yang terlihat jelas di balik kain satin merah yang membungkus tubuhnya itu. Perlahan jari-jariku menyentuh kulit cokelat terang yang membungkus leher gadis ini. Lembut dan kenyal meski sedikit dingin. 'Ah… Daging muda yang segar….' Ada getaran aneh seperti aliran listrik kecil yang mengalir di seluruh tubuhku saat jari-jariku berhenti diatas buah dadanya yang meski tidak besar, tetap menggiurkan. Secara naluri, nafasku memberat. Jariku terus menari-nari, menyusuri potongan kerah gaun nya yang memamerkan seluruh bahu dan belahan dadanya. 'Hah! Gaun macam apa ini?' Kenapa gadis ini memakai gaun semacam ini di bulan desember yang dingin? Apa dia tidak menggigil? Apa dia tahu apa yang akan dipikirkan seorang laki-laki ketika melihatnya berpakaian seperti ini? 'She is really asking for it'. Hah! Dasar jalang! Kamu benar-benar mencari masalah! Aku mendapati tubuhku membungkuk, sejajar dengan gadis ku. Ujung hidungku menempel di lehernya, ada aroma manis yang lembut dari tubuh gadis ku. Seperti aroma musk, mawar dan jejak aroma vanili yang samar. Aroma nya membangkitkan gairah yang berkumpul di bawah pinggang ku. Hal yang berikutnya aku tahu, bibirku mengecup tubuh bagian atasnya dan membiarkan tanganku beristirahat di atas dadanya. Sementara tanganku yang lain menyusuri jenjang nya kaki yang terbungkus oleh kain hitam tipis yang hampir tembus pandang. Tanganku terus menari tidak terkendali. Bibir ku melumat gumpalan daging yang kempal dan meninggalkan jejak merah tua kecil. Kinan… benar ini Kinan ku…! Aku menghirup aroma tubuhnya lebih dalam, lalu… tersentak. Ada aroma asing yang tidak aku kenal dari tubuh gadis ku. Kayu dan tembakau. Bau menjijikkan yang membawa ku kembali pada kesadaranku. 'Akh! Sial! 'Tanganku dengan cepat mencengkeram d**a bagian kiriku, berusaha mengusir rasa sakit yang hadir dengan tiba-tiba. jantungku terasa seperti diremas kuat-kuat oleh tangan yang tidak terlihat. Tanpa berpikir panjang aku menarik tubuhku menjauh dari gadisku. Sial! Apa ini bau laki-laki itu? 'Menjijikkan! ' Bagaimana bisa Kinan ku membawa aroma memuakkan laki-laki lain di tubuhnya. Di atas tempat tidur ku! Aku menatap tubuhnya dalam-dalam sekali lagi. Dengan pikiran yang tidak lagi jernih, aku kembali mendekat ke sisi gadisku yang masih tertidur pulas, mungkin pengaruh alkohol, aku mencium bau alkohol samar dari mulutnya. Melawan seluruh naluriku, aku menarik selimut menutupi tubuhnya yang menggairahkan itu sampai ke leher. Bangkit berdiri dari tempat tidurku dan melangkah menuju ruangan gelap di balik pintu. 'Sungguh sangat disayangkan', aku tidak bisa memanfaatkan wanita yang sedang tertidur. Terlebih dalam keadaan yang seperti ini. Terlebih terhadap Kinan-ku. *** Jam empat-dua-belas. Mataku menatap gelas kaca berisi balok-balok es dan cairan cokelat bening di tanganku dengan perasaan gamang. Kosong, dingin dan gelap seperti jalanan di tengah buta pada malam bersalju. Ada sebuah simpul tipis bercampur dengan kekecewaan di wajah ku. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Tapi jelas, duduk sendirian di tengah malam dengan segelas bir benar-benar terlihat seperti seorang pecundang. Aku seharusnya berbagi kehangatan di atas ranjang dengan gadis ku. Tapi hatiku menolak untuk berbaring di samping seorang wanita s****l. Wanita yang bahkan dengan tidak tahu malu membawa bau pria lain ke atas ranjang ku. Aku menghela nafas, putus asa. Ketika berhadapan dengan rasa sakit, ada dua tipe orang di dunia ini. Yang pertama, adalah orang yang akan duduk dan menangis seperti ini terakhir kalinya mereka menangis. Mereka yang menyimpan rasa sakit itu untuk dirinya sendiri, kemudian memeluk orang yang menyakiti mereka. Melepaskan kata maaf dan mendoakan yang terbaik bagi orang yang telah menyakiti mereka. Bukan agar orang yang menyakiti mereka merasa lebih baik. Tapi dengan begitu mereka bisa melupakan rasa sakit itu dengan melanjutkan hidup mereka tanpa beban. Yang kedua, adalah orang yang mengatasi rasa sakitnya dengan mengembalikan rasa sakit itu. Bukan karena mereka ingin melukai orang lain. Tapi karena inilah satu-satunya cara yang mereka tahu untuk tidak terlihat lemah. Mereka yang kadang pada akhirnya menyakiti orang-orang yang mereka cintai, dengan harapan rasa sakit itu menghilang. Aku jelas tidak termasuk kedalam tipe yang pertama. Aku bukanlah orang yang akan duduk dengan tenang. Melihat orang menyakiti ku dengan penuh kasih, dengan mudah memaafkan, lalu membiarkan mereka pergi begitu saja. Itu bukan gaya ku. Tapi menimbang rasa sakit yang aku rasakan sekarang, karena gadis jalang sialan yang bahkan masih belum genap delapan belas tahun itu. Yang aku lakukan padanya, tidak bisa di bilang mengembalikan rasa sakit yang aku miliki. Rasa sakit yang aku berikan padanya hanyalah se per-sekian dari yang ia berikan. Benar-benar tidak sebanding. Meski gadis itu layak menerima perlakuan ini, dan membawa semua ini atas dirinya sendiri. Aku tetap tidak mampu menyakitinya lebih lagi. Entah mengapa aku begitu lemah jika itu menyangkut perempuan jalang yang menyedihkan itu. Potongan kejadian tadi malam kembali berputar di ingatanku. Bukan ide yang bagus. Seperti membuka jendela di dalam kapal selam yang sedang menyelam. Rasa sakit kembali menyerbu diriku dan dengan cepat mengisi semua ruang kosong yang ada.  'Laki-laki itu! Dasar b******n! Berani-berani nya dia mencoba menyentuh Kinan ku. Berani-berani nya anak yang baru lahir kemarin itu menatap Kinan dengan tatapan yang penuh dengan nafsu binatang?'  Aku tidak sudi anak anjing kelaparan itu mencoba menyentuh gadis ku yang polos. Kinan adalah milikku. Aku tidak akan membiarkan siapapun merusak gadis kecilku. Aku harus menjaga Kinan! Bagaimana pun caranya!  'Benar. Kinan tidak bisa bertahan tanpa ku. Gadis itu nyaris tidak tahu apapun soal hidup. Aku harus mengajarinya. Menjinakkannya.  Aku harus melindungi milikku.' Aku meneguk habis seluruh cairan yang ada di dalam gelas ku. Lalu mengisinya kembali dengan cairan yang lebih kuat. Ada rasa hangat membakar ketika cairan bening ke kuningan itu mengalir di tenggorokanku. 'Ah… begini lebih baik'.  Kepalaku terasa lebih ringan, begitu juga rasa sakit yang ada di dadaku memudar. Bibirku mengembang bercampur dengan seringai kasar, puas. 'Benar, aku harus menjaga Kinan, bagaimana pun caranya! Tidak akan aku biarkan siapapun mengambil atau menyentuh milikku'.  ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD