Flash back on
New York City, New York, Oktober 2015.
“Halo! Silahkan masuk”
Sapa seorang perempuan dengan rambut berkepang dia yang menjuntai di dadanya. Usianya mungkin sekitar delapan-belas tahunan, atau mungkin dua-puluh-lima tahunan. Entahlah, ia memakai riasan wajah tebal dan pemerah bibir yang mencolok yang membuatnya terlihat tua. Sangat tidak cocok dengan gaya rambutnya dan tubuhnya yang kekanak-kanakan. Anak perempuan jaman sekarang banyak yang tumbuh dewasa sebelum waktunya. Menyedihkan.
“Namaku Barbara….” Katanya bersemangat sambil mengulurkan tangannya padaku dengan senyum lebar yang dibuat-buat.
“Oh, hai Barbara…” kataku acuh. Aku tidak tertarik pada perempuan semacam ini. Perempuan itu terlihat sedikit kecewa lalu menurunkan tangannya. Malu. “Tolong tuliskan namamu di sini, dan pilih bendera dari negara asalmu atau Bahasa yang bisa anda tuturkan.” Lanjutnya.
“Maaf…” Apa yang jalang ini sedang bicarakan?
“Ah, apa anda tidak mengerti bahasa Inggris?”
“Apa….” Okay, ini semakin tidak masuk akal… Dasar perempuan gila! Aku hanya datang ke sini untuk membeli makan malam. Bukan omong kosong semacam ini.
“Spanyol….? Prancis….?”
Hah… Baiklah… aku tidak ada waktu untuk hal ini. Tapi laki-laki manapun tidak akan sampai hati mengabaikan seorang perempuan t***l yang menyapanya dengan bersemangat di depan pintu. Aku tidak ingin membuatnya malu, terlebih perempuan gila ini mungkin keterbelakangan. Aku tersenyum. Seperti yang ku duga, perempuan gila ini tersipu dan terus menatapku dengan tatapan bodoh.
“Maaf, tapi aku tidak mengerti apa yang sedang anda katakan. Aku datang ke sini untuk makan malam. Kenapa aku harus menuliskan nama dan memilih bendera, untuk makan malam?”
Wajah perempuan gila itu memerah, kemudian ia menjawabku dengan gugup dan mata yang terus menatap ujung ibu jarinya yang membuat lingkaran-lingkaran kecil satu sama lain. Gugup.
“Ah maaf, aku kira anda datang ke sini untuk acara language exchanges… silahkan masuk dan nikmati makan malam anda….”
“Pertukaran Bahasa….?” Aku mengangkat satu alisku. Bingung.
“Iya, ini adalah acara yang terbuka untuk umum, seminggu sekali kami mengadakan pertemuan dan mengumpulkan orang-orang yang tertarik untuk mempelajari Bahasa asing. Mungkin anda tertarik....” Jelasnya. Aku menatap ruangan di sekelilingku. Ada anak-anak muda berusia sekitar belasan hingga awal dua puluhan duduk bergerombol dan berbincang dengan lantang. Ah… pantas saja, tempat ini penuh sekali hari ini. Sial! Dari semua hari yang ada dan dari semua tempat yang ada di New York City, mereka harus memilih tempat ini, pada hari ini!
Aku mengangkat pergelangan tanganku. Tujuh-tiga-puluh. Well… Apa boleh buat. Tempat ini menyediakan Ale[1] dan Cheese-burger terbaik di kota. Dan aku benar-benar lapar. “Terima kasih, Barbara. Aku di sini hanya untuk makan malam.” Aku tersenyum sekali lagi pada perempuan gila itu, lalu berjalan ke arah bar dan duduk di ujung meja panjang itu.
Aku memesan dua sebuah cheese burger dengan tambahan daging asap dan segelas Ale. Aku tidak bisa minum terlalu banyak hari ini karena aku harus mengemudi. Jika tidak aku pasti sudah memanjakan diriku dengan berbotol-botol ale. Setelah seorang pelayan berpakaian ketat dengan potongan d**a rendah mengambil pesananku. Aku tidak begitu ingat dengan wajahnya. Tapi dia memiliki d**a yang kempal dan penuh. Tidak buruk. Sekarang aku harus menunggu. Ini bagian paling menyebalkan ketika seseorang makan di luar sendirian. Aku harus duduk sendirian dan menyibukkan diriku sambil menunggu pesananku tiba. Karena tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Handphone-ku kehabisan baterai dan aku tidak memiliki teman bicara. Jadi aku memutuskan untuk sekedar melihat-lihat, memperhatikan orang-orang di sekitarku. Mungkin saja ada beberapa wanita jalang kelaparan yang bisa menemaniku untuk segelas minuman. Atau kalau aku cukup berselera hari ini, aku mungkin bisa sedikit 'bersenang-senang'.
Hah! Pertukaran Bahasa apanya? Daripada sebuah acara pertukaran Bahasa, acara ini lebih terlihat seperti sebuah ajang berburu. Bar ini penuh dengan gerombolan anak-anak muda yang tampak sibuk dengan urusan mereka sendiri. Bimbo-bimbo[2] dengan pakaian minim yang memamerkan belahan d**a mereka sebagai alat promosi. Tertawa ala wanita penghibur di antara kelompok para laki-laki muda. Berbicara dengan manja dan menggoda untuk mendapatkan minuman gratis. Dasar jalang lapar!
Di pojok ruangan ada sepasang anak muda yang mungkin baru menginjak 21 tahun. Mereka lebih sibuk berkomunikasi. Tapi daripada menggunakan mulut mereka untuk berbicara, mereka lebih memilih melumat bibir satu sama lain. Ada beberapa orang yang mungkin memang di sini hanya untuk mencari lawan bicara. Tapi tidak banyak.
Tidak jauh dari tempatku duduk aku bisa mendengar dengan jelas percakapan antara beberapa pria Amerika dan mungkin satu atau dua wanita asing. Dari logatnya mungkin mereka dari China, atau Asia. Entahlah… tapi pria-pria itu terdengar seperti sedang menggoda dan memaksa gadis itu melakukan sesuatu. Ada suara tawa mengejek sesekali setiap kali gadis itu menolak. Huh… sudahlah. Bukan urusanku. Aku di sini hanya untuk makan malam. Seorang pelayan datang kepadaku dan meletakkan sepiring cheese burger dan segelas Ale.
“Ini pesanan anda, maaf membuat anda menunggu lama. Hari ini kami sedang ramai sekali” katanya ramah. Seramah belahan dadanya, yang dengan berani menyapaku ketika pelayan itu membungkukkan badannya untuk meletakkan sepasang pisau dan garpu di samping piringku. Well, tidak ada yang benar-menang menggunakan pisau dan garpu ketika melahap sebuah burger. Tapi karena aku bisa mendapat pemandangan yang menyegarkan, aku tidak mengeluh.
“Tidak apa-apa. Aku mengerti. Ah… apakah acara seperti ini rutin diadakan di sini? Sepertinya ada beberapa anak yang masih di bawah umur.” Kataku sambil melahap tentang goreng panas yang renyah.
“Ehm… Mereka pelanggan tetap di sini dan membawa banyak bisnis untuk kami. Kebanyakan dari mereka sudah cukup umur. Satu atau dua anak ‘hampir legal’, tapi itu bukanlah masalah. Lagi pula… Apa yang bisa ku katakan. Aku hanya seorang pelayan.” Katanya sambil mengangkat bahunya. Benar juga. Bukan tempatnya untuk mengusir anak-anak ini jika pemilik tempat ini membiarkan mereka masuk.
“Silakan menikmati makan malam anda.” Katanya kemudian pergi.
Well, aku ingin sekali menikmati makan malam ku dengan tenang. Mengabaikan suara-suara yang mengganggu di belakangku dan melahap cheese burger-ku. Aku benar-benar lapar. Tapi sebagian dalam diriku tidak membiarkanku melakukannya. Suara-suara itu terlalu mengganggu. Hah... Membuatku sakit kepala saja...
“Tidak, hentikan… aku tidak bisa minum.”
“Hahaha… jangan malu-malu… hanya sedikit saja….”
“Tidak, aku baik-baik saja.”
“Ayo, jangan menjadi seperti pecundang.”
“Aku bilang aku tidak mau.”
“Dasar wanita membosankan. Kamu benar-benar merusak suasana.”
“Terserah…. Aku akan duduk di tempat lain.”
“Hei…Mau ke mana? Hahaha… Duduklah bersama kami di sini.”
Hah…. Biasanya aku tidak akan ikut campur urusan orang lain. Tapi gadis itu terdengar sedang dalam masalah. Dan orang dewasa manapun pasti akan membantu gadis muda yang sedang dalam kesulitan. Aku membalikkan badanku. Benar saja, satu meja di belakangku ada dua orang gadis asing yang terlihat ketakutan. Mereka sedang berusaha untuk keluar dari tengah gerombolan laki-laki kelaparan. Seperti dua ekor kelinci di tengah kerumunan serigala kelaparan. Anehnya tidak ada seorangpun dari kelompok pertukaran Bahasa atau apalah itu, datang membantu mereka.
Aku rasa masing-masing sedang sibuk dengan urusan mereka sendiri. Ada beberapa orang dewasa yang turut memperhatikan mereka, tapi tidak seorang pun mengatakan apa pun. Sialan! Aku tidak punya pilihan lain!
“Hei! Tinggalkan mereka sendiri. Bisa?” teriakku lantang. Gerombolan laki-laki muda itu terdiam dan menoleh ke arahku dengan tatapan menantang.
“Hah! Jangan ikut campur urusan orang.” Seorang anak laki-laki yang terlihat tidak lebih dari 20 tahun mencoba memperingatiku. Matanya menatapku dengan berani. Aku kira bola matanya hampir jatuh dari rongga nya. Hah… Sok berani. Apa yang bisa dilakukan bocah kemarin seperti kamu.
“Urus saja urusanmu sendiri!” lanjutnya.
“Maaf jika aku tidak sopan, tapi gadis-gadis itu terlihat tidak nyaman. Dan aku tidak bisa membiarkannya begitu saja.”
“Lalu apa maumu? HAH?!” Hah… anak muda jaman sekarang tidak tahu bagaimana caranya mengontrol emosi. Juga tidak tahu cara memilih lawan. Aku berdiri dari kursi tinggiku. Dan berjalan ke arah gerombolan laki-laki itu.
Aku menatap anak itu tepat di matanya dengan tatapan berani dan kuat. Meski tetap berusaha terlihat tangguh. Keberanian di mata anak itu mulai menciut.
“Hei, aku tidak ingin membesar-besarkan masalah. Tapi gadis-gadis itu mungkin paling tua berusia enam-belas tahun. Memaksa anak di bawah umur untuk minum adalah sebuah pelanggaran hukum.” Aku bisa melihat wajah gerombolan laki-laki itu berubah dari menantang menjadi khawatir.
“Belum lagi perlakuan kalian cukup tidak menyenangkan.” Lanjut ku sambil menoleh ke arah laki-laki lain yang sedang menggenggam pergelangan tangan gadis Asia itu. Laki-laki itu dengan sontak melepaskan genggamannya. “Jika kalian tidak mau bekerja sama dan meninggalkan gadis-gadis itu sendiri. Aku akan menelpon polisi.” Anak laki-laki yang tadinya sok pemberani itu sekarang terlihat kebingungan. bertatapan satu sama lain sambil mencari jalan keluar.
"Ini tidak ada hubungannya denganmu. Kami hanya berteman, tidak ada yang berlaku tidak menyenangkan." Sanggah salah satu dari mereka.
Hah... aku bukan orang yang suka mengulangi perkataanku atau banyak berbicara. Laki-laki memang sudah seharusnya berbicara dengan tindakan. Aku meraih Handphone dan mulai mengetuk-ketuk layarnya yang sudah mati sejak beberapa waktu lalu. Anak yang tadi menyanggah ku kini terlihat ketakutan.
“Sialan!” gumamnya.
“Jadi…?” tanyaku puas.
“Whatever[3] mereka tidak secantik itu…” katanya sambil kembali ke tempat duduknya. Gadis-gadis itu menatapku dengan tatapan tidak berdaya. Hah… sial… baiklah, karena sudah begini aku tidak bisa membiarkan mereka begitu saja.
“Girls… kalian boleh duduk bersamaku jika kalian mau." Seperti yang sudah kuduga. Gadis-gadis malang itu dengan cepat meninggalkan gerombolan pria itu dan mengikutiku ke sebuah meja panjang di bar.
“Terima kasih…” bisik seorang gadis asia berkulit kecokelat. Gadis lainnya yang terlihat seperti keturunan China, hanya mengikuti gadis berkulit cokelat itu tanpa kata-kata. Tangannya menggenggam tangan gadis cokelat itu erat, dan matanya terus memandang lantai-lantai. Kasihan. Dia pasti sangat ketakutan.
“Tidak perlu dipikirkan. Duduklah dan pesan lah sesuatu. Aku akan mentraktir kalian.”
“Tidak perlu… kami baik-baik saja.” Kata gadis cokelat itu ragu.
“Duduklah, aku tidak akan memaksa kalian melakukan apapun. Jika kalian ingin makan atau minum sesuatu pesan lah. Jika tidak, tidak ada paksaan.”
Dua gadis itu masih saja berdiri mematung di samping ku. “Duduklah… aku tidak suka harus mengulang perkataanku lagi. Kecuali kalian mau kembali duduk bersama k*****t itu.” Lanjutku sambil mengangkat gelasku ke arah gerombolan berandal tadi. Dua gadis itu berpandangan satu sama lain kemudian akhirnya duduk di sampingku. Pilihan yang tepat.
Aku memanggil seorang pelayan dan memesan dua buah cheese burger dan dua kaleng diet coke. Aku sengaja memesan soda kaleng dan bukan dalam gelas agar mereka merasa nyaman. Dari apa yang aku dengar mereka tidak minum.
“Jadi… sedang apa kalian di sini?”
“Kami di sini untuk pertukaran Bahasa, tapi ini tidak seperti yang kami bayangkan….”
Jawab gadis cokelat itu cepat.
“Seperti yang kalian bayangkan?” Aku mengangkat satu alisku. Sambil memiringkan kepalaku sedikit.
“Iya, kami pikir ini hanya acara perkumpulan biasa… bukan acara minum-minum...” sambungnya. Okay, sepertinya mereka baru di sini. Orang-orang seperti ini benar-benar sasaran empuk. Entah bagaimana nasib gadis- gadis bodoh ini jika aku tidak turun tangan.
"Apa kalian serius? Kumpul-kumpul biasa di dalam bar?" Gadis cokelat itu menatapku dengan tatapan bingung, seolah-olah tidak menyadari ada yang salah dari kalimatnya. Aku menggelengkan kepalaku, tidak percaya ada orang 'sepolos' atau lebih tepatnya sebodoh ini.
“Kalian harus berhati-hati di sini. Terutama kepada laki-laki.” Kataku acuh sambil melahap cheese burger ku yang sudah dingin. Pelayan tadi datang dan meletakkan dua piring cheese burger dan dua kaleng soda untuk gadis-gadis itu. “Makanlah…” kataku.
“Bukankah aku harus berhati-hati pada laki-laki…” jawab gadis itu lagi. Hah! Aku suka gadis ini. Meski bodoh, setidaknya dia cepat tanggap.
“Hah! Benar, kamu memang harus berhati-hati. Tapi aku orang yang baru saja menolongmu. Dan itu minuman kaleng. hampir mustahil untuk memasukkan sesuatu. Jadi tenanglah sedikit, dan minumlah...” Dengan sedikit ragu gadis itu membuka minuman kaleng di hadapannya dan menyesapnya sedikit. Selanjutnya ia melahap burger di depannya dengan cepat dan lahap. Matanya berbinar, kekanak-kanakan. Ia tersenyum padaku dan menatapku dengan mata hitamnya yang bulat. Ehm… menarik.
“Jadi, siapa namamu?”
Aku baru sadar aku tidak tahu nama gadis ini dan terus memanggilnya ‘kamu’.
“Kinan.” Katanya dengan mulut penuh. “Dan ini Sunny.” Ah yeah… aku lupa dengan gadis kuning langsat itu. Dia sangat pendiam sampai-sampai aku lupa keberadaannya. Seperti bayangan.
“Hai. Aku Alex.”
“Terima kasih, Alex…” kata gadis bernama Kinan itu. “Untuk bantuannya, mengusir gerombolan laki-laki itu…. Dan untuk makanannya. Ini benar-benar enak sekali.” Katanya sambil terus melahap burger-nya. Teman kuning langsat nya mulai mencicipi burger-nya dengan malu-malu.
“Kinan, berapa umurmu?”
“Aku enam-belas tahun.” Damn, you sick! she is barely legal!
Flash back off
[1] Sejenis minuman beralkohol. Terbuat dari buah.
[2] Wanita cantik dengan tubuh yang menggugah selera laki-laki tapi tidak berotak.
[3] Terserah. Kerap diucapkan untuk menunjukan ketidaksukaan dan ketidakpedulian terhadap seseorang atau sesuatu.