Fahira menghela napas pelan. Untuk apa ia memikirkan hal seperti itu, hal seperti itu tidak ada hubungannya dengan dia. Tugas Fahira sekarang adalah memikirkan cara yang efektif untuk melaksanakan rencana.
"Kira-kira Randika ini orang yang suka membantah atau bisa diajak kerja sama?" guman Fahira. Ia menggelengkan kepala, mana mungkin orang akan mengakui hal yang tidak dilakukan.
Fahira segera meletakkan ponselnya di atas meja kecil, tidak jauh dari kasur. Ia melirik ke arah jarum jam, sudah malam. Ia harus segera tidur karena besok akan bekerja.
***
Pukul 06.00
Seperti biasa, Fahira sudah bangun dari tadi dan ia sudah hampir siap untuk berangkat bekerja. Ia cukup semangat hari ini, karena hari ini anak buah Arie akan mulai mengawasi kegiatan Randika. Ini bisa sedikit dijadikan acuan. Saat ingin keluar kamar, ponselnya tiba-tiba berdering. Fahira menatap layar ponselnya di sana tertera nomor yang tidak dikenal. Fahira segera mengangkat telepon tersebut.
"Selamat pagi, dengan Ibu Fahira?"
Fahira agak terkejut, terdengar suara tegas laki-laki dari telepon.
"Iya, dengan saya sendiri. Anda siapa?"
"Saya Setiawan, anak buah Pak Arie yang akan mengawasi Randika mulai hari ini. Tolong simpan nomor ini, saya akan berikan laporan lagi nanti malam."
"Oh, kamu bekerja sendiri?" tanya Fahira.
"Tentu tidak, saya bersama satu rekan saya,"
"Ya sudah, kerja dengan betul. Amati semua kegiatan beserta jamnya," tegas Fahira.
"Siap!"
Tut.
Fahira menutup sambungan telepon sepihak. Ia mengulas senyum tipis.
"Nice Arie," guman Fahira. Ia tidak menyangka Arie benar-benar melakukan apa yang ia minta. Fahira yakin, Arie pasti sangat ingin Rosseta kembali kepadanya.
Fahira segera memasukkan ponselnya ke dalam tas dan bergegas keluar karena driver ojek online yang ia pesan sudah tiba.
Waktu berjalan dengan cepat dan tak terasa jam kerja Fahira sudah hampir habis. Fahira meregangkan otot-ototnya. Saat ini ia sedang di pantry bersama beberapa karyawan lain.
"Nyeri otot Bu?" ledek salah satu teman Fahira.
"Gak, gw cuma cape aja bolak-balik. Mentang-mentang kita bawahan, para atasan nyuruh pada seenak jidat!" protes Fahira.
"Ya namanya mereka punya pangkat, jelas mereka merasa paling berkuasa," sahut Wati yang merupakan teman Fahira yang lain.
"Andai gw jadi istri CEO, pasti hidup gw udah bahagia dunia akhirat," halu Aya.
Anna menoyor kepala Aya. "Halu trus! Kebanyakan baca novel sih lo!"
"Lu jadi temen support kek! Aamiin gitu!" protes Aya.
"Udah Ay, daripada lu halu trus, mending lu nikah sama gw aja," goda Pras yang tiba-tiba datang ntah darimana.
"Mana mungkin gw mau sama lo! Lu 'kan pelitnya naudzubillah!" sarkas Aya.
"Udah Ay, mending lu sama Pras aja. Mumpung dia ngajakin," timpal Fahira.
"Ogah!" seru Aya.
"Lagian lu ada-ada aja. Pake segala halu nikah sama CEO. Yakali selera CEO cewe kek lu! Pasti yang berkelas dikit! Lu mah gak ada elegannya sama sekali, makan aja kakinya naik satu!" hina Wati.
"Hust, sebagai teman itu gak boleh gitu. Kita harus doain yang baik," ucap Nur.
"Nah bener tu yang diucapin sama Nur,"
"Udah Nur, Aya mah gak perlu didoain. Dia bisa doa sendiri," celetuk Fahira.
"Lain kali gak usah halu ketinggian, lu bisa jadi istrinya Pras aja udah lumayan," seru Fahira.
"Lu sendiri kapan nikah Fah?" tanya Anna. Pertanyaan yang satu ini sangat sering didengar di masyarakat. Fahira sangat tidak menyukai pertanyaan tersebut, bahkan saat ia pulang kampung pun, hampir semua orang di kampungnya menanyakan hal serupa.
"Kapan-kapan," ketus Fahira.
"Iya sih, lagian lu masih muda, tapi minimal calon gak ada samsek?" tanya Anna.
"Gw gak pernah dengar Fahira dekat sama cowok apalagi sampe punya cowok," sahut Wati.
"Ya karena emang gak ada," balas Fahira sekenanya.
"Lagian enakan sendiri, masih mau bebas," sambung Fahira lagi.
"Heem, tapi besok kalo lu nikah jangan lupa undang kita," seru Aya.
Fahira terkekeh. "Yang ada, kalian duluan yang nikah. Bukan gw."
"Jodoh mah gak ada yang tau, semoga aja gw cepet dapet jodoh," ucap Wati.
"Halo gaes!!" suara cempreng tersebut menyeruak di dalam ruangan. Gadis itu bernama Elis, ratu gosip di sini. Jika dia sudah datang, maka sebentar lagi dunia pergibahan akan segera dimulai.
Fahira menutupi kupingnya. Ia masih tidak bisa mentoleransi suara Elis yang sangat keras itu.
"Apaan sih toa masjid! Suasana lagi asik nan hening kayak gini jadi rusak gara-gara suara lu!" hardik Effendy yang sejak tadi diam di pojokan sambil menyimak pembicaraan gadis-gadis.
"Ye! Sewot ae lu kutu aer! Gaes kalian tau gak?"
Fahira memutar bola matanya malas. "Kan kan, mulai lagi kan ngegosip."
"Ini tuh bukan gosip! Tapi fakta yang sangat fenomenal!" heboh Elis.
Fahira memandang Elis dengan malas. Ia tau Elis sering melebih-lebihkan berita. Padahal berita tersebut biasa saja tapi jika Elis yang berbicara seperti sebuah kejadian langka.
"Apaan?" tanya Aya agak antusias.
"CEO perusahaan sebelah mau nikah gaes!" seru Elis.
"Terus urusannya sama lo apaan? Urusannya sama kita juga apaan? Kita diundang? Nggak kan," cerca Pras.
"Ya nggak sih," cicit Elis.
Suasana pantry jadi hening. Semua mata tertuju ke arah Elis.
"Kalian kok liat gw kayak gitu banget sih!" protes Elis.
"Lu kalo mau kasih berita yang berfaedah dikit kek!" seru Anna.
"Betul, kayak berita gaji kita bakal dinaikin! Ini malah ngurusin perusahaan sebelah! b**o kok kebangetan!" hina Wati.
"Gw kira gosip apaan, ternyata cuma murahan," keluh Aya. Ia memasang wajah menyesal tadi sempat antusias.
"Berita gak berguna sama sekali! Udahlah gw mau balik, jam kerjanya juga udah selesai," ucap Fahira sambil bangkit dari kursi.
"Lah, makan bareng aja sama kita di warung bakmi depan!" seru Effendi.
"Lo mau bayarin hah?" tanya Fahira.
"Ya kagak, bayar sendiri-sendiri maksud gw!" elak Effendi.
"Lagian tumben amat lu hari ini sama kemarin buru-buru pulang, ada apa?" tanya Wati.
"Gapapa, gw cuma mau cepet-cepet rebahan di kasur. Gw cape plus kangen sama kasur," ucap Fahira.
"Ye, cantik-cantik sinting! Kangen kok sama kasur. Sama gw kek!" seru Pras.
"Ye, diem lo kadal. Urusin dulu tu peternakan cewe lu di WA! Gak usah sok godain gw! Kagak mempan, gak doyan modelan kek lo!" maki Fahira.
"Makanya ngaca woy! Fahira kan doyannya duit. Lah cowo gak modal kek lu harusnya sadar diri," sindir Wati.
"Ye, yaut bae lu istri Fir'aun!"
"Apa lo bilang barusan hah?!" bentak Wati.
"Ya emang bener,"
"Bener apanya?!"
"Lo istri Fir'aun!"
Pletak!
Dengan kesal Wati menjitak kepala Pras. Fahira hanya tersenyum kecil sambil geleng-geleng melihat tingkah temannya.