"Sepertinya aku memang harus menerima tawaran tersebut. Hah, ayo cepat selesaikan pekerjaanmu Fahira. Setelah itu mari pulang dan susun rencana untuk uang 2,5 milyar itu!" oceh Fahira pada dirinya sendiri.
Saat jam kerjanya telah selesai, Fahira dengan cepat mengemas barang-barangnya dan pergi pulang. Setibanya Fahira di kostannya, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Mata Fahira lurus menatap langit-langit kamarnya yang berukuran kecil tersebut. Terdengar helaan napas berat.
"Dengan uang 2,5 Milyar, gw bisa beli rumah di perum. Bisa buka usaha juga, jadi punya usaha sendiri," guman Fahira. Ia sudah menentukan untuk menerima tawaran yang diberikan oleh Arie. Fahira juga sudah tidak betah tinggal di kamar kost yang kecil dan sesak ini. Fahira juga ingin membahagiakan orang tuanya di kampung. Jika Fahira sudah mempunyai rumah sendiri, ia bisa membawa ibunya yang di kampung ke sini. Fahira juga bisa membeli sebuah ruko di tengah kota untuk membukakan usaha sang Ibu. Karena memang sejak dulu Ibunya bermimpi bisa memiliki sebuah usaha kecil milik sendiri.
Fahira memantapkan hatinya. Ia tau pekerjaan ini cukup beresiko tapi tidak ada jalan lain, Fahira segera meraih ponselnya dari dalam tas dan mencoba menghubungi Arie. Telepon tersambung.
"Iya Fahira, kamu sudah punya jawaban untuk tawaran saya?" tanya Arie.
"Sudah," jawab Fahira mantap.
"Oh, kau terdengar sangat bersemangat. Saya harapan jawaban Anda tidak mengecewakan. Lalu apa jawaban Anda?" tanya Arie.
"Saya akan menerima tawaran Anda," tegas Fahira.
"Kamu sudah pikirkan resikonya? Mereka dari keluarga yang lumayan terpandang loh," ucap Arie.
"Ya, saya sudah membulatkan tekad saya, dan saya mau bertanya satu hal. Apa boleh saya minta uang muka?" tanya Fahira.
"Tentu, kirimkan saja nomor rekeningmu. Akan saya transfer 500 juta, sisanya akan saya berikan jika tugasmu sudah beres. Ada lagi yang mau kamu tanyakan? Jika kamu butuh bantuan silakan hubungi saya," ucap Arie.
"Kalau boleh, berikan saya alamat di mana mereka akan melaksanakan acara pernikahan," pinta Fahira.
Arie sedikit terkejut, ia diam untuk beberapa saat. "Tunggu, untuk apa kau tau itu?"
Fahira terkekeh. "Anda akan tau nanti. Saya akan memberi Anda sebuah kejutan. Selama permintaan Anda beres, cara apa pun tidak masalah bukan?"
"Ya, kalau begitu akan kukirimkan alamat di mana mereka melaksanakan acara," jawab Arie.
"Terima kasih."
"Sudah, itu saja yang kamu minta?" tanya Arie ingin memastikan.
"Ya,"
Tut.
Sambungan telepon langsung terputus. Fahira segera mengecek pesan yang baru saja masuk dari Arie. Dalam pesan itu tertera alamat lengkap.
"Ternyata di hotel. Huh, pasti keamanannya ketat. Akan sulit buat gw nerobos masuk," keluh Fahira. Sebenarnya apa yang Fahira harapkan? Ia berharap pesta pernikahan seorang CEO akan dilaksanakan sederhana, begitu?
"Lu udah sejauh ini. Gak boleh mundur, masih ada waktu buat susun rencana, kalo emang kepepet ya tinggal terobos aja. Para satpam juga gak mungkin bakal mukul gw, palingan ditahan," guman Fahira. Fahira segera mengirimkan nomor rekeningnya kepada Arie. Dalam hitungan menit, saldo sudah masuk ke rekening milik Fahira. Ia tersenyum sumringah saat melihat jumlah saldonya.
Fahira segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Setelah itu ia mengambil handuk yang tergantung di balik pintu dan segera pergi mandi. Perasaan Fahira sangat senang setelah mendapatkan uang muka. Karena bagi Fahira uang adalah moodboster yang paling ampuh. Selelah apa pun dia, jika sudah melihat uang, rasa lelahnya langsung hilang seketika.
Selesai mandi, Fahira menggulung rambutnya yang basah dengan handuk. Ia duduk bersandar pada kasur sambil bermain ponsel. Fahira tengah memikirkan sebuah rencana yang akan ia lakukan dan alasan yang akan ia katakan.
Fahira mencoba untuk berpikir. Ia membayangkan bagaimana sosok pria yang bernama Rendika tersebut. Apakah dia pulang tepat waktu atau larut malam, dan apakah dia masih tinggal dengan orang tuanya atau tidak. Setelah berpikir keras, akhirnya Fahira memutuskan untuk meminta bantuan lagi kepada Arie. Fahira yakin, orang seperti Arie pasti memiliki beberapa orang suruhan. Fahira ingin meminta Arie menyuruh anak buahnya untuk mengawasi pria yang bernama Randika ini. Fahira harap dari hasil pengawasan tersebut, dirinya bisa menemukan celah yang bisa dipakai untuk menjadi sebuah alasan.
"Halo, ada apa lagi Fahira? Uang yang saya transfer sudah masuk 'kan?" tanya Arie.
"Bukan masalah itu. Saya membutuhkan bantuan Anda sedikit," ucap Fahira.
"Oh, apa yang bisa saya bantu lagi?" tanya Fahira.
"Anda memiliki anak buah?"
"Hah, Anda jangan bercanda. Sudah pasti saya memilikinya, memang ada apa?" Arie balik bertanya.
"Ada berapa anak buah Anda?" tanya Fahira lagi.
"Ntahlah, sekitar 40 sampai 50 orang mungkin."
"Bagus, bisakah Anda menyuruh satu atau dua anak buah Anda untuk mengawasi Randika dan mencatat kegiatannya selama dua minggu ke depan. Sampai mendekati hari pernikahan," desak Fahira.
"Untuk apa?" tanya Arie.
"Kau ingin rencanamu berhasil atau tidak?" hardik Fahira.
Arie tersentak. Tunggu dulu, wanita bernama Fahira ini berani berkata seperti itu kepadanya?
Arie menghela napas. "Baiklah,"
"Jangan lupa laporkan kepadaku setiap hari," pinta Fahira.
"Ya, sudah itu saja? Tidak ada lagi 'kan?" tanya Arie untuk memastikan bahwa Fahira tidak membutuhkan hal lain lagi.
"Untuk sekarang itu dulu, jika nanti ada yang saya butuhkan lagi. Saya akan menghubungi Anda," ucap Fahira.
"Ya sudah."
Tut.
Sambungan terputus. Fahira memandang layar ponselnya, apakah Arie kesal dengan dirinya? Namun, yang Fahira lakukan juga untuk keberhasilan misi yang dia berikan.
Fahira mengangkat bahunya acuh tak acuh. Apa pedulinya ia dengan Arie? Mau pria itu kesal atau tidak. Selama permintaan Fahira dituruti, bagi Fahira tidak ada masalah. Fahira melempar ponselnya di atas kasur. Ia beranjak dari kasur dan segera mengeringkan rambutnya. Tiba-tiba saja terbesit dalam benaknya. Jika Randika adalah seorang CEO perusahaan besar dan dari keluarga terpandang. Pasti dia memiliki sosial media atau akun pribadi. Fahira mendumel, kenapa dari tadi ia tidak terpikir hal itu. Fahira bisa sedikit mengetahui tentang Randika dari akun itu. Fahira segera loncat lagi ke atas kasur dan mengambil ponselnya. Ia segera mengetik nama lengkap Randika pada kolom pencarian. Tak lama akun dengan nama tersebut keluar, ada banyak akun bernama Randika. Sehingga Fahira memutuskan untuk menambahkan nama perusahaan milik Randika. Fahira segera mengklik akun tersebut, akan tetapi akun tersebut dikunci. Fahira berdecih.
"Sialan! Kenapa dia harus mengunci akunnya segala?!" kesal Fahira. Ia segera memutuskan untuk mencari akun Rosseta saja.
Setelah menemukan akun milik Rosseta. Fahira segera membuka beranda postingan milik Rosseta. Rupanya gadis itu tidak terlalu aktif di sosial media dan dunia maya. Akan tetapi ada beberapa foto kebersamaan antara Arie dan Rosseta. Fahira jadi berpikir, jika Rosseta memang mencintai Arie, kenapa dia tidak menolak saat dijodohkan? Fahira yakin jika Rosseta menolak kedua orangtuanya tidak akan memaksanya.