“Ana.” Suara mama memanggil dari luar. Setelah Alex mengantarku pulang aku hanya mengurung diri di kamar. Aku butuh sendiri menenangkan perasaanku. Pertemuan dengan Alex hanya membuat luka baru. Bulir-bulir air mata terus membasahi pipi seakan tidak ada habisnya. Pintu terbuka dengan cepat kuhapus air mataku. Mama mendekatiku yang sedang duduk dekat jendela menatap ke luar. Mama menyentuh pundakku. “Ana,” panggilnya lagi. Mama duduk di sampingku lalu menarik daguku agar menatapnya. “Kamu baik-baik saja?” Aku coba untuk tersenyum walau sulit. “Ana gak apa-apa,” ujarku dengan suara bergetar. Air mata kembali menggenang di pelupuk mata. Mama memelukku membuat tangisanku tak terbendung lagi. “Kamu bisa cerita sama mama. Apa kamu masih mencintai Alex?” Mama mengusap punggungku mencob

