Azam menekankan ruas pertama pada jari kelingking ke alat pemindai yang menyerupai persegi panjang. Setelah komputer merespon dengan sign gembok yang terbuka, dia menundukkan kepalanya untuk melakukan tes pemindaian retina. Menyejajarkan matanya dengan alat berbentuk bulan separuh yang muncul dari tengah kotak seperti teropong bintang paling mutakhir, alat itu memiliki bling-bling di tengah serta jalur hijau menjalin sisi-sisinya. Titik fokus merah menyerang, sebuah cahaya menyilaukan ditembakkan ke mata pemuda itu.
Butuh waktu lima detik bagi alat dengan teknologi super canggih itu untuk memproses data dirinya. Tertera nama Khairul Azam, nomor tugas beserta foto di layar. Lalu saat bunyi klik di pintu baja terdengar, tanpa basa-basi dia masuk ke dalam ruangan dengan pencahayaan redup. Aroma steril ruang utama di sana membuat Azam ingat akan rumah sakit.
“Khairul, duduklah barang sebentar.”
Azam menghentikan langkah, pegangan di gagang pintu itu terlepas.
“Ya?” suara seraknya malas-malasan.
Azam berbalik, matanya lurus menembus sosok pria berkumis melintang yang duduk menyilangkan kaki di atas kursi putarnya. Empat buah bintang mengerlip angkuh dari setelan dinasnya.
“Kemari dan duduklah.”
Dagunya yang diapit rahang kokoh mengedik ke tempat duduk menganggur di seberang meja. Benda persegi panjang berpelitur mengilap itu penuh dengan berkas-berkas menumpuk, wadah pistol berukir hewan-hewan buas, dan sebuah kotak elektronik berisi proyektor.
Azam menatap datar sebotol Vodka beserta dua gelas ramping yang terhidang bersama senyum tipis seorang Giri Harimun Pamungkas di belakangnya. Seringai yang irit muncul di sudut bibir pria itu ketika Azam menghempaskan bokongnya di kursi.
“Nah, kau mau minum?”
Sorot mata Azam sekeras batu. “Apa yang ingin kau bicarakan?”
Senyum maklum menyedihkan menghiasi wajah Giri, yang meski telah memasuki kepala 5, tetap meyisakan sebagian besar ketampanannya di masa muda.
Giri mendapatkan penolakan kasar untuk kesekian kali dari Khairul Azam. Satu orang yang diizinkannya untuk tidak perlu repot-repot memberikan salam, hormat, serta embel-embel lainnya antara Komandan besar dengan bawahan. Dan hal yang membuat dia menyenangi Azam adalah sikap responsif pemuda itu yang cuek, natural serta tidak menjilat.
“Well, aku melupakan fakta yang satu itu tentang dirimu,” Giri menyandarkan punggung tegapnya, matanya bersinar geli. Aura yang berputar-putar di sekitar mereka selalu terasa membekukan. “selamat atas keberhasilanmu membekuk sindikat perdagangan narkoba. Double untuk penangkapan produsennya dan triple point dengan menyeret serta Ayahnya ke balik jeruji. Kau sempurna dalam permainan bola basket yang kau ciptakan. Aku benar-benar tidak salah memilihmu untuk menjalankan tugas itu.”
Penilaian yang cukup untuk membuat rekannya minta naik jabatan, atau lencana bintang kalau-kalau mereka mendapatkan kesempatan langka tersebut.
“Kau berhasil membuatku nampak tolol.” Seloroh Azam, memandang jengkel pada pakaiannya sendiri. Tidak memerdulikan seberapa banyak Giri melempar puji.
Giri mati-matian menahan tawa. “Apa yang salah atas pakaian itu? Kau tampan dan jauh lebih muda daripada 25 tahun usiamu.”
Azam mengangkat sebelah alis. “Begitukah? Akan kuterima kalau Komandan Besar puas dengan penampilan anak buahnya.” Suaranya terasa dalam mengancam, serak mencekat, serta sarkasnya yang membuat telinga ngilu.
Kedutan jenaka di keriput Giri mampu ditangkap Azam. Sepasang mata hitam pemuda itu setajam elang, dan menyeramkan dalam keadaan tak sepenuhnya terang. Giri menarik kursi lebih dekat, mengulas senyum selama 2 detik.
“Well, yeah—sebaiknya aku memulai diskusi ringan kita malam ini.“ Giri membereskan beberapa kertas yang tersusun acak dari map-map bersampul kulit.
“Apa kau pernah berhubungan dengan kesatuan TNI di Kalimantan?” Giri menekan tombol seukuran kancing mantel di atas kotak poyektor, layar hologram langsung muncul di atas meja. Tangan itu cekatan menyingkirkan botol arak dan sepasang gelas. Telunjuknya menyapu ringan ikon peta seluruh Indonesia, lantas menyapu gambar pulau Kalimantan. Masuk ke lingkaran merah bernama Perigi, lalu layar itu menampilkan banyak lagi pilihan. Giri mengusap gambar Desa Semuntai, Kecamatan Long Ikis, Kabupaten Paser.
“Tidak.” Azam memerhatikan setiap perubahan di layar hologram.
Tangan kanan Giri sibuk bermain di meja, memilih opsi, menyentuh gambar, memperbesar daerah perbatasan di hutan. Tangan kirinya cekatan mengeluarkan I-Pad dari brankas berpengamanan tinggi yang hanya bisa dibuka oleh sentuhan Giri seorang. Setelah mencari beberapa saat, Giri menunjukkan layar benda persegi itu pada Azam.
“Laporan yang masuk hari ini dari Mayor Jenderal Bunaya Abbas di korps AD—“ kedua tangan Giri bersatu di bawah dagunya, “daerah itu terkenal dengan cendana dan bunga anggrek. Hutannya masih perawan namun sayang sekali masuk zona merah dalam identifikasi pengamanan nasional. Banyak kasus pembunuhan yang tidak terusut dan mayat yang ditemukan kebanyakan langsung dikebumikan oleh warga setempat.”
Azam mendengarkan seksama, jalan di antara kedua alisnya menyatu dan berkerut curiga. Pembunuhan yang terjadi di sana terlalu dilegakan.
Giri mengusap-usap dagunya. “Aku sendiri heran mengapa warga di sana tak ada yang mengajukan proposal pengalihan hutan menjadi cagar alam, hutan lindung untuk wilayah mereka.”
Azam mengangkat wajah, nampak muram. “Justru di situlah letak masalahnya,” giliran pemuda itu menyenderkan punggung. Matanya serius membaca laporan-laporan yang masuk ke dalam benda itu secara berkala. “pembunuhan bisa terjadi beberapa kali dalam seminggu. Hal itu karena pembegalan, perampokan dan pemerkosaan. Mayat-mayat korban dibuang ke hutan dan dibiarkan membusuk sampai warga pencari damar menemukannya. Tapi ada satu yang terlihat aneh dalam kasus ini, menurut Mayjen Abbas para pencari damar dari waktu ke waktu semakin jarang menginjakkan kaki ke hutan, dan kasus penebangan liar semakin lama semakin meningkat.”
Penjelasan Azam seperti jarum yang ditusuk ke sebuah gelembung.
“Jadi maksudmu, semua itu ada kaitannya? Tapi bagaimana caranya kita bisa menyambungkannya sehingga menemukan satu titik terang?“
“Segulung benang kusut memiliki kedua ujung yang berbeda, serumit apapun jalinan itu saling mengikat, dengan kejelian kedua ujungnya pasti akan bertemu jua di dalam lubang jarum.” Azam menarik selembar kertas, membuat pola rumit bergulung-gulung di sana. Tetapi bagaimanapun memusingkannya gambar abstrak itu, ujung yang memulai garis lingkar dan yang mengakhirinya selalu terletak di bagian luar dan dalam. Titik pusat yang selalu terlihat berbeda, sebab kedua ujung itulah pondasi utama dari gambar tersebut.
Giri Harimun memandang Azam lama, menyatukan jalan pikiran mereka dalam diam. Dan ketika Azam balas memandangnya, satu kesepakatan tersirat itu memantapkan pilihannya. Lelaki paruh baya itu menghela napas.
“Pemikiran orang tua sudah agak lamban dan kau juaranya soal itu, Khairul.” Giri meraih ponsel pintar berlogo buah apel tergigit, mendial nomor yang sudah terdapat di sana. “Ya, Sersan, sampaikan pesanku pada Mayor Jenderal Bunaya Abbas bahwa dalam waktu dekat korpsnya kedatangan tamu dari kesatuanku. Ya, mungkin kalian perlu kerangkeng, koleksiku yang satu ini agak berbahaya.“ Giri menatap Azam tanpa senyum, dibalas hal serupa, kalah tajam, tentu saja. Kharisma di mata senjanya tak sekuat dulu. “Hanya bercanda, Khairul. Tentu saja untuk orang-orang yang bakal dikirim anak buahku ke meja hijau atau—beberapa mungkin di tendang ke neraka.”
Ponsel itu tergeletak setelah dimatikan. “Besok akan kusiapkan private room untuk semua anggota divisi, kau bisa membentuk tim yang kau inginkan, orang-orang yang cukup pintar untuk mendapatkan kepercayaanmu.” Giri tahu laki-laki macam apa Azam, pemuda itu harus selalu dipaksa memilih, rasa percayanya seret sekali seperti air sumur di musim kemarau.
“Dan kau harus melaporkan segala rencanamu tanpa terkecuali, mendata barang apa saja yang kau bawa dari gudang. Tanpa terkecuali, Khairul.” Ingatkan Giri. Ekspresi pemuda itu sedatar ponsel pintar milik Giri. Dengan kode wajah penjagal zaman jahiliyah itu, sang pimpinan tahu betul bahwa dia harus mengetatkan pengawasannya atas pergerakan Azam. “Kalau begitu istirahatlah selagi bisa, kau akan sibuk dengan banyak hal.”
Azam bangun dari kursi.
“Selamat beristirahat, Khairul. Oh ya, atau mungkin kau sendiri yang membutuhkan kerangkeng itu?”
Azam menyipitkan mata, melemparkan ancaman tak tersirat pada Giri yang melirik tajam lewat bahu sebelum melangkah memasuki ruangan di mana seharusnya dia berada.
Ruangan itu besar, dindingnya berwarna putih dan penuh oleh peta daerah rawan perang, senjata-senjata tradisional daerah seperti kujang dan badik, hingga samurai bersarung kayu ukir jepara. Satu set sofa merah juga ikut melengkapi. Almari berisi senjata api dan kotak-kotak granat menghiasi setiap sudut, satu yang paling istimewa adalah almari hitam berhiaskan sebilah mandau asli dari Kalimantan, dibuat oleh seorang pengrajin setempat berusia lebih dari seabad. Almari itu diisi oleh barang-barang berharga buatan Samananjung Galuh, yang sosoknya muncul dari balik mini bar, aroma cafein langsung menguar ke udara.
“Wah, Mermaid Man sudah kembali rupanya.”
Azam mendengus meski matanya terpejam. Si kolokan penggemar kartun Spongebob Squarpants itu memang i***t nomor satu paling menjijikan di dunia.
“Pahlawan Bikini Bottom kita yang budiman berhasil tangkap pelahap maut lagi, eh?” mungkin IQ seorang Samananjung Galuh yang melebihi Isac Newton hanya mitos semata, atau hasil psikotesnya tidak akurat.
“Otakmu memang harus diperiksa dengan ilmu sihir,” Gumam Azam dengan dingin, menimbulkan gelak tawa dari rekan-rekan yang lain tak terkecuali Samananjung sendiri.
“Takkan menyesal kalau kutinggal pergi ke rumah sakit sihir? Sebab, sebuah sandal tak bisa berguna jika pasangannya hilang, saudaraku.”
Mata hitamnya terbuka, menatap datar pada sosok Samananjung. Pemuda itu terlihat santai mengenakan kemeja biru, jas putih tersampir di lengannya yang digulung sampai siku, khas pekerja lab. Cukup mengesankan tanpa adanya kacamata minus di sana.
Manahande, junior Azam yang telah aktif bertugas setahun lalu menimpali. “Tak usahlah kau dengar kicauannya, Bang. Daeng Tanjung ini terlalu pusing mengurusi gelas beaker dan buret bersama gadih cantiak di labolatoriumnya.” Pemuda asli Sumatera Barat itu menyeringai pada Samananjung. Dihadiahi Sam kepalan tinju yang tak bakal berani dilayangkan pada Mande. Sebab Samananjung adalah pria dengan rasa kemanusiaan paling tinggi dalam ruangan itu, cinta perdamaian.
Menjadi bagian dari badan intelijen tidak serta merta membuat mereka berkomunikasi secara formal. Ruangan itu, meski terdapat di kedalaman tanah yang dingin dan gelap namun selalu tercipta gelak tawa akibat candaan segar para penghuninya. Mereka juga perlu rilex, mereka butuh melemaskan otot-otot dan otak yang jernih ketika bertukar pikiran. Ada saatnya bercengkerama dan ada saat di mana mereka berlaku serius kepada satu dan yang lainnya. Tetapi konsepsi teman-temannya tak ada dalam kamus Azam. Dia satu-satunya manusia individual yang sulit sekali diajak berkomunikasi verbal. Patung zirah berjalan yang amat kaku, terlalu pendiam dan irit omong.
“Libur 3 hari yang bos beri aku manfaatkan dengan baik.“ Sam berjalan menuju almarinya, mengeluarkan beberapa kotak dari dalam laci, masih baru. “Barang bagus buat kalian, bos mengucurkan anggaran yang fantastis untuk membiayai pekerjaanku. Beberapa masih dalam tahap uji coba.”
Azam membuka lemari es, menenggak habis sekaleng minuman sambil mencengkeramnya seperti orang frustasi. Kaleng itu berkelontang memasuki keranjang sampah. Azam menyambar minuman lain dan menyender di bar sambil memperhatikan atraksi si jenius Sam, sesekali mendengus keras-keras ketika pemuda itu mengalihkan perhatian padanya.
“Aku menciptakannya khusus untukmu, Mermaid Man.” Sam mengulas senyum tipis, menunjukkan sebuah kacamata hitam keren kemudian memakainya sembari menyeringai. “Modelnya sudah aku sesuaikan dengan garis wajahmu yang kaku.” Sam melepasnya lagi dan langsung bertatapan dengan wajah datar si patung zirah.
Azam tidak berkomentar, posisi berdirinya selurus pohon pinang. “Aku hanya bercanda sobat—“ Sam berjalan mendekat dan menepuk pundak Azam, mantap. “yang pasti sih kau bakal membutuhkannya. Kacamata ini tidak hanya berfungsi melindungimu dari sengatan matahari. Di bagian samping terdapat kamera yang bisa mengambil foto sampai resolusi 1,3 megapixels, mini hidden camera. Kubuat serta remote control untuk mengambil foto agar tidak terlihat mencurigakan.” Ketegangan di wajah Azam perlahan mengendur. “Dan ini adalah Video Camera Analog Watch New Version. Tulang kita yang budiman membantuku membuatkannya.”
Raihan Harahap bergabung ke ruangan segi empat itu, ia duduk di samping Manahande dan Darris sambil menyesap cairan dari gelas ramping milik Giri. “Mister Samananjung ini perhatian sekali padamu, Azam,” pria berlogat Batak itu mengangkat winenya ke udara. “dia bersikeras mendesainnya sesuai seleramu, modern serta tidak menggelikan kalau kau pakai.”
Lagi-lagi Azam diam, meresapi minumannya yang menyengat lidah. Bahkan sahabat dekat Giri Harimun macam Raihan pun tidak mampu membuat ia bersikap normal.
“Hm, thanks.” Akhirnya, Azam mengangkat kaleng ke arah pria berusia 40 tahun itu, dibalas dengan hal yang sama. Sepenuhnya mengacuhkan Sam yang maklum.
“Zayanara kubekali Fake Generic Lighter Spy Camera Camcorder—“ Sam menunjukkan benda yang ia maksud, ternyata itu sebuah spy camera dan video dalam bentuk korek api gas yang umum digunakan orang. “lubang kecil yang ada di bagian barcode bisa merekam video hingga resolusi 640 kali 480 pixels dan mengambil gambar sampai 1280 kali 1024 pixels. Cukup gunakan sebagaimana kau mau merokok saja.” Sam menyengir. “Tapi sayang sekali kapasitas memorinya hanya 8GB. Sebab aku membuatnya separuh-separuh dengan korek api gas betulan.” Samananjung mengerutkan dahi, nampak tidak begitu puas dengan karyanya.
Dari balik dispenser, Zayanara yang sedang membuat kopi tubruk menaikkan alis. “So, kalau tiba-tiba mati ketika sedang merekam bagaimana?”
Wajah Sam berbinar seperti ditaburi manik-manik.
“Dan untung ada alternatif lainnya yang tak kalah hebat. Untuk baterai, aku menggunakan Lithium Ion yang bisa diisi ulang langsung melalui koneksi USB yang ada di bagian atas. Ketika aku habis akal, sepupuku yang super cantik dan baik hati menyarankan ide brilian itu.”
Percakapan selanjutnya tidak bisa ditangkap Azam lagi. Meski dia tidak pernah benar-benar larut dalam situasi santai, pria itu selalu menjadi orang paling peka sekaligus waspada mengamati sekelilingnya. Tapi hari ini jelas-jelas berbeda, kupingnya tuli dan isi otaknya entah meloncat ke mana. Nasib baik membawanya selamat dari penggrebegan beberapa jam lalu. Azam menyipit menatap luka di lengan kanan, timah panas yang menyerempet panjang itu hampir menembus ke dalam dagingnya saat mengamankan lokasi.
Dan ini semua gara-gara gadis itu. Yang membuat konsentrasinya pecah dua.
***