Bab 7 : Penyampaian Rasa yang Tak Sempurna

1869 Words
Azam ingin pulang ke apartemen dan membersihkan diri setelah seharian penuh berada di dalam labolatorium rahasia milik GPN45. Dia dan Samananjung bekerja sama menyetel ulang alat-alat pengintai untuk persiapan menuju Kalimantan Timur beberapa hari lagi. Badannya gerah dan otaknya macet, paket komplit untuk membuatnya sepanjang perjalanan pulang menekuk wajah. Muram maksimal. “Kau lebih atraktif merakit daripada aku, kenapa tidak isi pos logistik saja sih? Kita bisa jadi partner paling hebat sedunia dengan menciptakan zat anti-materi kontra udara.” Samananjung mulai berkicau, bahkan sejak mereka bekerja dalam lubang besi lelaki itu selalu mengajaknya ngobrol. Sedang Azam bukan jenis yang bekerja dengan mulut. “Aku jadi penasaran level IQmu ada di tingkat yang mana. Kenapa tidak kau coba bedah saja kepalamu seperti Einstein, dan biarkan orang lain menelitinya. Siapa tahu lipatan otakmu istimewa, Mermaid Man.” Dan untuk itu Azam harus mati dulu, Sam memang benar-benar berada dalam persimpangan jalan di antara jenius dan i***t. “Kenapa tidak kau coba diam?” kata Azam, matanya lurus ke jalanan tapi kepalanya terasa berdentam ditabuh balok, dia butuh sebutir pil aspirin seperti biasa untuk meredakannya. “Oke, tapi tolong berhenti dulu sebentar di toko bunga.” Lewat kaca spion, Sam bisa melihat Azam menaikkan alis. Refleks ia memutar bola mata, alien macam apa yang diturukan Allah ke muka bumi ini. “Aku mau membeli sebuket bunga mawar untuk sepupuku, dia ikut pameran para fisikawan nasional. Dan kau wahai, Mermaid Man, harus menemaniku berkunjung ke sana.” “NO!” Azam hampir banting kemudi ke pembatas jalan. Si i***t Sam ini sungguh menggelikan. Membeli buket bunga tidak masalah, tinggalkan saja dia di dalam sana dan biarkan cari taksi sendiri. Tapi, Mermaid Man dan menemani serta ke pameran terkutuk tempat orang-orang hilir mudik? Lain kali Azam akan menyusun rencana meledakkan kepala Samananjung dengan bom molotov tanpa harus masuk penjara. Sam menemukan ide licik. “Kalau begitu pistol Glock-17 yang tertinggal di dalam labolatoriumku tak akan pernah aku kembalikan padamu, mengerti?” Samananjung memang amatiran dalam mengancam orang. Lelaki itu cari mati. Tak ada seorang pun yang berani menunjukkan mimik pongah pada mata Azam yang membeliak garang. “Tak akan kukembalikan, catat itu.” Samananjung meraih ponsel di dalam saku jas putihnya, “lihat nih! Aku akan telepon Profesor Hannan supaya pistol itu disiram air raksa, kalau kau tega membiarkan aku pergi sendirian ke pameran itu.” Keras kepala, harusnya Sam yang dicelupkan ke dalam air raksa. “Demi Allah, man! Aku akan terlambat kalau harus pakai angkutan umum.” “Pakai taksi apa susahnya.” Desisan itu muncul dari celah bibir Azam yang menipis. Seperti ancang-ancang untuk menurunkan Sam di pinggir jalan, atau melemparnya keluar jendela. “Mubadzir uangnya, Mermaid Man. Lebih baik 200 ribunya buat shadaqah, lebih bermanfaat kan? Guru agamamu pasti juga akan bilang begitu.” Teori ketuhanan itu lagi-lagi dijadikan senjata, Azam menggerung marah. Mudah mereka memasukkan doktrin agama ke dalam otak, pemuda itu menarik napas. Well, akan ia lakukan kalau begitu, daripada disebut orang kufur dan fasik. Tidak enak juga dapat stigma negatif dari Sam sebab bagaimanapun, lelaki itu penganut ajaran Muhammad yang taat. “Lagi pula hanya sebentar—“ “Turun!” Samananjung membuka mulut, tapi keburu dipotong Azam. “Sepuluh menit, tidak lebih.” Kening Samananjung berkerut, namun senyuman lebar menghiasi wajahnya ketika melihat toko bunga tepat berada di samping kanan mobil. “Oke. Kau yang terbaik, Mermaid Man.” *** Sam berjalan menuju stand milik Asha, tersenyum sambil geleng-geleng kepala ketika melihat sepasang animasi dua buah kentang bermata, punya satu hidung yang lucu, mulut yang imut, kaki serta tangan yang dinamai Gemini, nangkring di atas spanduk yang melintangi daerah teritori gadis itu. Oh, sepupunya memang manis sekali. “Hm, jadi bagaimana perasaanmu hari ini Miss Gemini?” Asha yang tengah menjelaskan penemuannya kepada para pengunjung pameran mendongak, matanya berbinar melihat Samananjung membawa sebuket bunga mawar merah. Asha langsung menyambarnya. “Wah terimakasih Galuh, mawarnya cantik sekali.” Indah, kala gadis itu menghirup aroma mawar dengan mata terpejam, persis seperti lukisan mahal yang bersisian dengan karya Galileo di galeri Italia sana. Di antara nyata dan maya, Asha seolah menjelma menjadi objek paling mempesona dalam gedung itu. “Apa yang kau buat ini?” Gadis itu meletakkan mawarnya dengan hati-hati di atas meja, dan menjawab, “Baterai kentang.” Ada yang tidak beres. “Bukankah kau sudah menyelesaikan rangkaian listrik statis, Sha? Kenapa dirubah lagi? Padahal kincirmu bagus sekali, loh.” Tentu Samananjung tidak mengerti. Asha bukan jenis orang yang mudah meninggalkan satu hal terencana ke hal lainnya. Cahaya di wajah Asha perlahan menghilang seperti matahari terbenam. “Listrik statisku hancur. Berantakan dan tidak bisa diperbaiki lagi.” Samananjung mengangkat sebelah alis, meminta penjelasan lebih. Asha menghela napas. “Ada seseorang yang menabrakku di kedai kopi. Kotak kayunya jatuh dan kincir lampu yang sudah aku pasang hancur berantakan. Aku tidak bisa membuat ulang dalam waktu singkat, Galuh. Tidak bisa, ini semua menyangkut deadline.” Gadis itu mendesah pasrah, menyesali kejadian tempo hari di Starbuck. “Semua ini gara-gara pemuda sombong itu! Aku benci dia, sombong sialan!” Seumur hidup Samananjung hampir tidak pernah mendengar Asha memaki, gadis kecilnya ini benar-benar terrundung amarah rupanya. “Pemuda? Siapa?” Asha mengedik, jengah kalau harus ingat-ingat lagi tampang dingin pemuda menyebalkan itu yang sok. “Aku tidak tahu, aku baru pertama kali lihat wajahnya yang sekaku besi itu. Ugh, dasar tidak tahu sopan santun. Dia bahkan tak mau minta maaf padaku, Galuh!” tanpa sadar kedua kakinya menghentak-hentak lantai. Samananjung berusaha menghibur sepupunya. “Aku tahu dalam kepalamu tersimpan banyak sekali kemarahan akibat peristiwa itu—“ Samananjung mengetuk sekali kepala Asha dengan telunjuk, tersenyum, lalu mengusap lembut kerudung yang dikenakannya. Kemudian dengan lembut, menyentuh dadanya sendiri. “namun aku juga mengetahui kalau di dalam sini, kau menyimpan lebih banyak lagi keikhlasan untuk memaafkan kesalahan orang lain.” Sam adalah bagian dari keluarga Hartanto yang paling normal setelah Mama, Asha menilai. Tingkah Sam benar-benar menunjukkan kalau dia mempunyai hati yang baik dan welas asih. Serta bermulut manis seperti buah kurma, setiap apapun yang diucapkannya selalu nikmat untuk ditelan. “Anggap kejadian yang menimpamu itu adalah sebuah ujian dari Allah untuk mengukur kerja kerasmu melalui kesabaran. Lupakan saja, toh kau telah menemukan alternatif lain. Sama hebatnya dengan yang pertama sebab kau gadis hebat yang bisa membuat apapun terlihat hebat.” Kilau di mata Asha berbinar kembali, perempuan memang selalu suka pujian. Oh, Samananjung Galuh adalah pria terbaik. “Nah sister, lebih baik kau jelaskan apa saja yang harus aku sediakan kalau listrik di rumahku mati?” Asha tersenyum lebar, semangatnya naik. “Kau hanya membutuhkan beberapa buah kentang, lampu LED atau bohlam kecil, kabel, penjepit buaya, lempengan tembaga, dan lempengan seng. Untuk pengganti tembaga juga seng ini, dapat digunakan isi dalam baterai yang biasanya berwarna hitam.” Asha menjelaskan, sementara Sam asyik melihat-lihat bahan baku yang tersedia di atas meja. Sam mengamati contoh jadinya. Bohlam kecil itu bersinar terang oleh tiga buah kentang yang masing-masing ujungnya diisi lempengan tembaga dan seng dalam kawat mentah. “Lampunya menyala karena ada arus listrik yang mengalir di dalamnya. Seperti halnya baterai pada lampu senter, kentang dan semua lempengan-lempengan itu menghasilkan arus listrik walaupun sangat lemah. Getah kentang sendiri mempengaruhi logam-logam itu secara kimiawi layaknya larutan elektrolit dalam aki. Maka dari itu susunan seperti ini disebut elemen galvani.” Kepala pemuda itu mengangguk-angguk. “Dari mana kau mendapatkan inspirasi ini?” Asha menyeringai. “Waktu bantu Mama masak prekedel kentang. Idenya mengalir begitu saja, Mama sampai bingung waktu aku bongkar laci Papa dan merusak kentang yang mau direbus.” Samananjung tertawa, menjawil hidung mancung Asha dengan gemas. “Gadis nakal, dari dulu tidak pernah berubah, selalu merusak.” Deheman keras mengalihkan perhatian mereka berdua. Samananjung menepuk jidat, bagaimana dia sampai tega melupakan Khairul Azam? Untung saja gunung api itu belum memuntahkan lahar panas. “Masha Allah, maafkan aku sobat. Aku hampir lupa kalau ke mari bersamamu—“ Sam merangkul bahu rekannya mendekat, menggiring pemuda itu tiga kaki tepat ke hadapan Asha. “Nah Sha, kenalkan ini temanku yang paling aneh, Khairul Azam namanya.” Dari belakang punggung Azam, Sam mengerutkan kening. Cara bediri Azam yang kaku sama sekali bukan masalah, itu memang khas dirinya. Namun, suasana yang mendadak sepi terasa begitu tak benar. Samananjung dengan keyakinan, memindahkan tubuh ke samping Azam. Melirik bergantian pada temannya lalu sepupunya. Dua pasang mata itu sedang saling pandang. Dan api permusuhan menguar dari tubuh keduanya. *** Setelah dipaksa meninggalkan stand pamerannya untuk makan siang, akhirnya Asha bernasib dengan duduk lesehan di sebuah rumah makan khas Sunda. Dengan dalih hasil penilaiannya telah keluar dan ia mendapatkan poin bagus, Samananjung Galuh bersikeras membuat perayaan kecil-kecilan sebagai sambutan bagi Asha untuk melangkah memasuki jenjang S2. “Masha Allah, aku lupa memberitahu kalau kau alergi kacang.” Samananjung menepuk jidat, “tunggu sebentar, aku cek dapur dulu.” Rumah makan itu memang milik Samananjung Galuh. Kolam ikan gurame mengurung seluruh area ini dan menjadikannya nampak unik dibangun di atas air. Dan makanan yang paling populer di antara semuanya adalah gurame bakar saus kacang. Asha memandang punggung sepupu lelakinya yang semakin menjauh dengan sendu. Sebetulnya ia tidak masalah, lebih baik alergi kacang daripada kena alergi karena ditinggalkan berdua dengan pemuda berwajah besi itu. Sejak pertama kali menjatuhkan pandangan kepada pemuda itu di pameran, Asha menekan keinginan kuat-kuat untuk tidak berteriak marah di depan wajahnya. Lagi, moodnya harus terjun bebas. Laki-laki itu telah menghancurkan harinya yang luar biasa penuh dengan semangat dua kali berturut-turut. Siapa nama b*****h itu? Ya, Azam. Samananjung bilang namanya Azam. Tidak saling berjabat tangan, mereka jelas saling membenci dan menyimpan kemarahan. Tetapi apa yang membuat pemuda itu membencinya? Hei, seharusnya Asha dong yang marah. Asha wajar marah dan laki-laki itu wajib meminta maaf. “Sombong dan tidak tahu sopan santun. Itukah yang ada di kepalamu?” Apa? Kenapa dia harus bertanya, kenapa pemuda itu harus membuka pembicaraan dengannya? Oh Ya Allah, Asha ingin menutup wajahnya rapat-rapat dengan buku menu saja kalau begitu. Tapi tidak, kenapa harus takut? Asha akan menunjukkan siapa sebenarnya di antara mereka yang berbuat salah. Gadis itu mengangkat dagu dengan berani. “Selain sombong dan tak tahu sopan santun, ternyata kau juga penguping ulung.” Pupil pemuda itu mengecil mengerikan setelah mendengar ucapannya. Asha menelan ludah. Oh, dingin sekali tatapan itu. Mata itu mencoba mengintimidasi. Asha berdoa semoga Samananjung cepat kembali. “Begitu?” pemuda itu berbisik, suara berat dengan aksen serak diseret itu membuat pundak Asha meremang. “Kenapa? Kau keberatan dengan penilaianku Mister Headstone?” Tantang Asha pura-pura berani. Sebab sudah terlanjur basah, sekalian nyebur kan tak jadi masalah. Lelaki itu menyipitkan mata, pandangannya tertuju pada bagian wajahnya yang buru-buru ia kulum dengan kegugupan setengah mati. “Mulutmu tajam seperti duri dalam mawar yang kau cium. Hati-hati, akan jadi sangat berbahaya untuk dirimu.“ Di sela pandangan Azam yang sedingin musim di Swiss, Asha mencoba tegar. “Apa maksudmu?” gadis itu merasakan kedua tangannya bergetar hebat. Lama sekali pemuda itu mengamati Asha yang duduk gelisah. Lalu Azam mengusap bibirnya sendiri dengan sensual. “Bibirmu, kalau kucium, apakah durinya akan melukaiku juga?” Momentum tidak mengenakkan itu terjadi begitu saja, ketika satu tangan Asha mendarat keras di sisi wajah seorang Khairul Azam. Kurang ajar melengkapi kesimpulan Asha tentang lelaki itu. Sementara tubuh Azam menegang. Hell, dia butuh pelampiasan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD