Bab 28 : Barisan Desersi Sunyi

3706 Words

Bumi memandang Matahari lewat kelopaknya yang teduh. Lantas Bumi berujar, “Hanya kau yang senantiasa membuatku hangat, Matahari.” Matahari menjawab sanjungan itu, “Dan hanya kau pula yang memberiku ruang kosong untukku tetap hidup dan menyinari semesta.” “Lalu?” Bumi bertanya tak lama berselang. Matahari tak buru-buru jawab, membiarkan dirinya merasakan haru sejenak. Sebab ia tahu dengan menangis tersedu-sedu hanya akan membuat Bumi bersedih lebih dari pada awan kehilangan hujan. Karena itu ia tetap tersenyum, menyebarkan hangat ke seluruh penjuru. Agar tak ada yang tahu bahwa ia sedang berkorban perasaan demi para pencinta Bumi. “Lalu, apa?” Si Matahari balik bertanya. “Mengapa kau tidak memperbolehkanku mendekat?” Matahari berpikir, “Bumi, biarkan hal ini menjadi rahasia di antara

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD